Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 11


__ADS_3

"Pagi, Nenek." sapa Vian pada neneknya.


"Pagi,Vian. Cucu nenek yang tampan." sahut nenek sambil menikmati bubur yang ada di mangkuknya.


"Pagi sayang, masak apa hari ini?" Vian tak lupa untuk bersandiwara agar tampak romantis di hadapan neneknya.


"Selamat pagi juga, Sayangku. Aku memasak makanan favoritmu, nasi goreng spesial." Putri berusaha menjawab seraya tersenyum manis ke arah Vian, meskipun sebenarnya ia tidak senang melakukan ini.


"Mau aku bantu, Sayang?" Vian sengaja menggoda Putri. Ia tahu, gadis itu pasti sangat kesal.


"Ti-tidak perlu, Sayang. Aku bisa melakukannya sendiri." pikiran Putri kacau, ia justru terbayang adegan memasak seperti di drama-drama favoritnya.


Pasti Vian sengaja bicara seperti itu di depan nenek supaya aku kesal. Aku harus sabar, tetap terlihat sebagai istri yang manis di depan nenek.


"Baiklah, aku menunggu masakanmu, Sayang. Pasti nikmat sekali, sarapan hasil masakan istriku tercinta." Vian berkata dengan nada lembut, jauh dari kesehariannya saat hanya berdua dengan Putri yang selalu mereka isi dengan perdebatan.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi makanannya siap." Putri mengimbangi Vian, ia juga tidak kalah lembut menanggapi ucapan suaminya, meskipun ia sebenarnya kesal harus seperti itu dengan orang yang selalu berdebat dengannya. Diam-diam, nenek Vian tersenyum melihat tingkah mereka yang menurutnya sangat manis.


"Sarapan sudah siap, Sayang." Putri meletakkan mangkuk kaca besar berisi nasi goreng buatannya yang harumnya sudah tercium oleh Vian. Pria itu sudah bisa membayangkan rasa masakan Putri pasti lezat.

__ADS_1


Putri berinisiatif mengisi piring Vian, pria itu tidak menyangka istri pura-puranya ini akan melayaninya juga. Sebenarnya, ada rasa senang yang hinggap di hatinya. Kalau saja, ia menikah dengan gadis yang ia cintai, mungkin kenyataannya akan benar-benar indah.


Sayangnya, neneknya tercinta tidak menyetujuinya menikah dengan pacar-pacar pilihannya. Wanita itu justru memilih putri sebagai pendampingnya, meskipun hanya pura-pura. Sementara, Vian tidak bisa membenci atau menjauhi neneknya karena ia sangat mencintai neneknya itu.


Ia sadar, sejak kecil ia sudah menyusahkan wanita tua itu. Sekarang adalah saatnya membahagiakannya, meskipun dengan cara yang tidak ia sukai. Membuat wanita itu tersenyum adalah hal yang menjadi tujuan hidupnya sekarang.


"Vian, mulai hari ini, Putri juga harus bekerja di kantormu. Nenek sudah mengurus semuanya, dia menjadi sekertarismu sekarang." pernyataan nenek membuat Putri dan Vian yang tengah sarapan menghentikan aktivitasnya dan saling pandang sekilas.


"Tapi, Nek. Putri kan masih kuliah. Lagipula dia pasti masih lelah karena pesta kemarin. Aku juga sudah memiliki sekertaris." Vian berusaha menolak dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin melukai hati neneknya.


"Nenek sudah memecat sekertaris lamamu dan memindahkan dia ke bagian staf yang lain. Putri tampak baik-baik saja, dan kamu memang harus di dampingi dia mulai sekarang. Satu lagi, kamu dan Putri tidak boleh pindah dari rumah ini sebelum istrimu ini hamil." ujar nenek tegas. Ia sengaja melarang Vian membawa Putri pergi karena nenek takut Vian akan membuat hidup putri tidak menyenangkan. Bagaimanapun, wanita tua itu sudah menyayangi Putri seperti cucunya sendiri.


"Uhuk! (Vian tersedak saat minum karena kaget) Apa Nek? Ha-hamil? Kenapa harus menunggu Putri hamil, Nek? Bagaimana kalau lama? Aku tidak ingin merepotkan Nenek." Vian coba protes, karena sampai kapanpun, Putri tidak akan pernah hamil. Mereka sudah sepakat untuk tidak saling menyentuh satu sama lain.


"Nenek, maafkan Vian, Nek. Baiklah, Vian akan tetap tinggal di sini sampai Putri hamil. Vian dan Putri akan menemani nenek. Putri juga akan jadi sekertaris Vian, Nenek jangan sedih lagi. Ya..." Vian merayu neneknya. Melihat wanita itu sedih, Vian jadi tidak tega melihatnya.


"Kamu memang cucuku yang terbaik. Terima kasih, Sayang. Putri juga tidak keberatan, Kan?" nenek melemparkan pertanyaan pada Putri yang tampak bimbang.


"Tentu saja, tidak, Nek. Aku akan senang hati tinggal disini bersama dengan Nenek. Kalau begitu, aku mau siap-siap untuk ikut Vian ke kantor." Putri segera membereskan peralatan makan mereka dan mencucinya lalu bergegas ke kamarnya untuk mandi dan bersiap.

__ADS_1


"Ada bagusnya aku tetap tinggal di rumah nenek Vian, karena dengan ini, Vian pasti tidak akan memperlakukan aku seenaknya. Tapi, kalau aku harus hamil, aku harus beralasan apa? Aku tidak mungkin melakukan itu dengan Vian. Aku juga ingin menikah dengan Raihan di masa depan." gumam Putri seorang diri. Ia benar-benar di landa kebingungan. Guyuran air hangat dari shower sedikit membuatnya tenang. Tapi itu tidak bisa membuatnya melupakan semua permasalahan yang ia hadapi. Semuanya tidak semudah yang ia bayangkan.


Acara mandinya selesai, ia segera membalut tubuhnya dengan kimono. Putri segera keluar dari kamar mandi, lalu membuka lemari baju yang telah di sediakan untuknya. Ia terkejut melihat jejeran baju mahal yang tergantung di dalamnya.


"Nenek menyiapkan semua ini untukku? Rasanya aku jadi semakin berdosa membohongi wanita itu. Ia menyayangiku dengan tulus. Seharusnya aku tidak membantu Vian membohongi nenek. Maafkan aku, Nek." lagi-lagi Putri bicara seorang diri. Ia sangat terharu dengan perhatian yang di berikan oleh nenek Vian.


Putri teringat harus segera ikut Vian ke kantornya. gadis itu memilih baju, memakainya dan berdandan sesempurna mungkin. Ia tidak ingin mempermalukan Vian, bagaimanapun, ia adalah suaminya sekarang, meskipun hanya pura-pura.


Tok...tok...


"Put, kamu sudah pakai baju belum? Aku mau ambil berkas." suara Vian dari luar ruangan terdengar.


"Masuk saja, Vian. Aku sudah siap, kok." Putri mempersilakan lelaki itu untuk masuk.


Vian segera menarik gagang pintu dan masuk ke dalam kamarnya. Rasanya masih aneh, karena di.kamarnya ada orang asing dan harus berbagi tempat dengannya.


Vian terpana saat Putri berbalik ke arahnya. Setelan blazer pink bergaris yang di pakainya benar-benar membuat wanita itu semakin cantik. Beberapa saat, ia memandang istri pura-puranya itu sampai tidak berkedip.


"Vian.. kamu kenapa?" Putri menyadarkan Vian dari keterpanaannya.

__ADS_1


"Oh, nggak. Maaf, aku mau cari mapku dulu. Kamu tunggu aku di mobil, ya. Eh, jangan. Kita harus barengan, nanti nenek curiga. Tunggu aku sebentar." Vian segera mencari mapnya untuk menyembunyikan kegugupannya. Putri hanya tersenyum karena menangkap hal yang tidak beres. Ia tahu, Vian terpesona padanya, sama saat ia akan mengunjungi nenek waktu itu.


Sssst... sepertinya Vian mulai ada rasa 😉.


__ADS_2