
Vian dan Putri tengah berada di perjalanan menuju bandara. Mereka pergi ke Paris untuk bulan madu rekayasa. Putri hanya pasrah, ia sudah lega
karena ia telah mengirimkan sejumlah uang ke keluarganya. Sekarang saatnya ia bekerja dengan baik. Acara liburan ini, tidak membuat Putri bahagia. Hatinya begitu hampa, berharap ada Raihan di sampingnya, meskipun ia sadar itu hanya
mimpi belaka.
Putri menatap Vian yang tengah serius menatap layar
ponselnya. Putri mengakui, Vian begitu mempesona, sebagian wanita tentu akan sangat beruntung ketika berada di sisinya, tetapi tidak dengan dirinya. Sebagai istri kontrak, Putri tidak merasa spesial dapat berada di samping Vian, meskipun mereka tidur dalam satu kasur yang sama.
“Di Bandara, Vanessa sudah menungguku, aku sudah mengatur agar tempat dudukku bisa bersebelahan dengannya. Kamu, duduk dimanapun jaga dirimu sendiri baik-baik. Jangan lupa menghubungiku jika kamu butuh sesuatu. Kita bertemu lagi di Bandara tujuan. Aku harap, kamu
juga bisa menaga sikapmu dengan baik di hadapan Vanessa.” Vian memperingatkan Putri, bagaimanapun, gadis itu menjadi tanggung jawabnya, neneknya pasti akan marah besar kalau sampai terjadi sesuatu dengan Putri.
“Tuan Vian tidak perlu mengkhawatirkan aku, meskipun aku gadis desa, aku bisa di andalkan. Aku juga bukan anak kecil. Masalah bersikap
baik, bukankah aku selalu menjaga sikapku? Lebih baik jaga pacarmu itu dengan baik, aku tidak mau di terkam lagi olehnya.” Putri mengacuhkan Vian. Ia merasa sedikit kesal, Vian berpesan begitu, seolah selama ini ia tidak dapat di andalkan dan selalu berulah.
“Ada apa denganmu? Kenapa mendadak kau begitu sensitif? Apa karena kamu cemburu, aku akan liburan berdua dengan Vanessa?” Vian kembali meledek Putri seperti biasanya.
“Hah, lucu sekali. Aku tidak mungkin cemburu padamu. Untuk apa? Lagipula, aku ini memangnya siapa? Aku tidak ada hak untuk cemburu padamu. Bukankah di antara kita hanya karyawan dan bos?” kali ini Putri menatap Vian, pria itu juga menatap ke arah Putri, mata mereka bertemu. Vian segera membuang pandangannya ke arah lain, begitu pula dengan Putri.
“Kau bnar. Gadis tidak berperasaan sepertimu mana mungkin akan terpengaruh, meskipun ada pangeran berkuda putih di sampingmu, hatimu tidak akan goyah. Seperti manekin saja.” Vian memelankan suaranya pada kalimat terakhir, tetapi Putri tentu saja dapat mendengarnya dengan baik.
“Apa yang kamu katakan? Aku orang yang tidak berperasaan? Manekin? Hei, aku jelas saja tidak seburuk itu. Aku tidak akan sembarangan jatuh cinta, dan aku hanya akan memberikan hatiku pada orang yang tepat.” Putri menunjukkan wajah
kesal dan menyilangkan kedua tangannya. Ia
sedikit kesal karena Vian seenaknya berkata seperti itu.
“Baiklah, aku mengerti,kamu tidak akan mudah jatuh cinta. Aku tidak akan mengungkit lagi. Jangan marah lagi.” Vian mengalah, ia tidak ingin
berdebat dengan Putri terlalu panjang. Ia lebih memilih untuk fokus memeriksa beberapa e-mail yang masuk.
Biasanya dia selalu berdebat panjang denganku, kenapa tiba-tiba dia mengalah begitu saja? Apa ini
juga sama, efek dia sedang bahagia? Benar-benar lelaki yang misterius. Aneh. Seperti
bukan dia yang biasanya. Hmm... tapi buat apa aku memikirkannya? Toh, dia bukan
__ADS_1
siapa-siapaku. Batin Putri, ia justru merasa aneh dengan sikap Vian yang tiba-tiba melembut.
Mereka tiba di bandara setelah beberapa puluh menit melewati jalan dengan saling diam. Keduanya tenggelam dalam pemikirannya masing-masing.
Vanessa menyambut kedatangan Vian dengan gembira. Saat Vian baru turun dari
taksi, Vanessa sudah bergelayut manja, Putri sedikit jengah melihat pemandangan
yang ada di depan matanya itu, sementara Vanessa melirik Putri dengan kerlingan
tidak senang. Ia juga menyunggingkan senyum, seolah menunjukkan bahwa ia menang
satu langkah di bandingkan Putri.
“Vian!” seseorang dengan suara tidak asing memanggil Vian. Putri ikut menoleh,untuk memastikan apakah tebakannya benar, dan ternyata ia benar, seorang lelaki memakai kemeja
putih menatap mereka dengan penuh semangat, di tangannya ada sebuah koper, dia
adalah Dion.
“Hei, Dion. Kebetulan kita bertemu. Kamu mau pergi kemana?” Vian menanyakan tujuan Dion pergi.
“Aku akan pergi liburan ke Paris, mengunjungi sepupuku. Kalian semua mau kemana? Wah, ternyata itu Putri? Dia ikut bersamamu juga?” seperti biasa, Dion tidak bisa mengalihkan
“Kebetulan sekali, aku dan kekasihku juga akan ke Paris. Putri tentu saja ikut, karena dia adalah asistenku.”Vian menanggapi pertanyaan
Dion dengan cepat. Putri hanya diam, ia tidak mengklarifikasi apapun.
“Jam terbang kalian setengah jam dari sekarang?” Tanya Dion lagi.
“Benar. Apakah jam terbang kita sama?” Vian balik bertanya.
“Ya. Kalau begitu, bagaimana kalau kita jadi satu tim?” Dion menatap ketiganya, dan mereka pun akhirnya sepakat untuk mempersiapkan
penerbangan bersama.
Seperti yang sudah Vian beritahukan sebelumnya, ia dan Vanessa duduk bersebelahan, beruntung Dion tanpa sengaja juga mendapatkan tempat duduk di samping Putri. Sebelum lepas landas, Putri berdo’a untuk keselamatannya, ini adalah pertama kalinya ia melakukan penerbangan.
Putri memandangi Vian dan Vanessa yang tampak sedang berbincang seru. Keduanya saling bercanda dan tertawa, berbeda sekali saat hanya
__ADS_1
berdua dengannya. Tanpa di sadari oleh Putri, Dion menelusuri arah pandangan Putri yang terius mengarah pada pasangan itu.
“Mereka romantis, ya...” Dion mencoba berkomentar dan itu menyadarkan Putri dari lamunannya.
“Ah, iya. Mereka berdua memang serasi.” Putri membenarkan komentar Dion. Vian dan Vanessa memang pasangan yang cocok.
“Omong-omong, nanti saat berada di Paris, bolehkah aku mengajakmu pergi jalan-jalan ke beberapa tempat? Aku tidak akan memaksa. Kalau kamu keberatan, kamu boleh menolaknya.” Dion menawarkan dirinya untuk membawa Putri
alan-jalan.
“Tentu saja aku tidak merasa keberatan, karena pada akhirnya aku akan jalan-jalan seorang diri, bukankah lebih baik kalau berdua?” Putri memanfaatkan ajakan Dion, ia tidak mungkin kesana-kemari seorang diri, setidaknya ada yang akan menemaninya supaya liburannya cukup menyenangkan.
“Terima kasih, sungguh aku tidak menyangka kita akan bertemu dan pergi ke tempat yang sama secara tidak sengaja. Sesampainya di sana, yang ingin kamu kunjungi pertama kali apa?” Putri berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Dion.
“Aku ingin ke menara eiffel. Orang-orang bilang, tempat itu selain romantis juga sangat indah di
malam hari.” Putri memberitahukan kemana dan apa alasannya ia ingin pergi. Ia hampir tidak percaya, menara yang biasanya hanya dapat ia lihat di dalam televisi, akan ia lihat dalam dunia nyata.
“kalau begitu, kita akan pergi kesana bersama. Aku juga penasaran dengan keindahannya. Put, maaf, apa aku boleh bertanya sesuatu?” Dion
menatap Putri, ia tampak begitu serius.
“Apa yang akan kamu tanyakan? Silahkan, tanyakan saja.” Putri memberikan izin kepada Dion untuk bertanya padanya.
“Kamu bukan asli warga kota M kan?” tebak Dion, dan itu memang benar.
“Ya, aku bukan warga asli. Aku pendatang, aku kuliah di kota M sambil bekerja di perusahaan Vian.
“Kamu masih kuliah? Bagaimana bisa kamu mendapatkan posisi sekertaris di perusahaan Vian, bukannya di sana seleksinya sangat ketat, ya?” Dion tentu sangat paham, jika karyawan di
perusahaan Vian melewati seleksi ketat. Putri berpikir sejenak untuk memberikan jawaban yang meyakinkan Dion.
“Itu karena orangtua kami saling mengenal. Aku hanya sebagai anak magang sementara ini.” Putri berharap jawabannya tidak menimbulkan
kecurigaan di benak Dion, karena ia tentu saja tidak mungkin mengatakan alasan
sebenarnya, mengapa ia bisa bekerja di perusahaan Vian.
“Oh, pantas saja. Put, perjalanan masih panjang, tidurlah dulu, aku akan membangunkanmu saat kita sampai nanti.” Dion iba, saat melihat
__ADS_1
Putri yang tampak lelah.
“Baiklah, terima kasih, Dion.”