Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 14


__ADS_3

Ting!


Tanda pesan masuk di ponsel Putri berbunyi. Atika meninggalkannya seorang diri di ruangan Vian. gadis itu sedikit bosan, menunggu Vian kembali ke ruangannya setelah ngopi dengan temannya.


"Pesan? Dari siapa? Paling-paling dari si buaya laut sombong itu. Ada apalagi? Apa ada barangnya yang belum aku bawa masuk?" tebak Putri sebelum membuka pesan di ponselnya.


+628225902xxx


Hai, Putri, ya? Kenalin, aku Dion, temennya Vian. Salam kenal. Aku tadi pagi memperhatikanmu saat kamu keluar dari mobil Vian. Katanya, kamu sekertarisnya.


Putri membaca berulang pesan dari nomor tidak di kenal itu. Ia sedikit kesal karena Vian membagikan nomor ponselnya tanpa izin. Tetapi, mendadak ia memiliki sebuah ide.


Dion, ia ingat sekilas wajah pria itu. Dia cukup tampan dan sepertinya lembut. Putri ingin memanfaatkan situasi ini untuk melihat seperti apa reaksi Vian jika melihat dia jalan bersama temannya sendiri. Toh, Vian sendiri yang tidak mengakuinya dan itu memang kesepakatan mereka.


Balas ke +628225902xxx


Hai, Kak Dion. Benar, aku Putri. Salam kenal balik. Aku memang sekertarisnya.


Balas Putri. Dia pikir itu sudah cukup menyatakan kalau ia menerima kehadiran Dion. Meskipun belum mengakuinya, tetapi Putri sudah menangkap perasaan Vian mulai goyah di hari pertama mereka menikah. Gadis itu ingin memastikan, apakah Vian mulai jatuh cinta padanya atau hanya prasangkanya saja.


+628225902xxx


Jam makan siang, mau makan bareng? Sebagai tanda perkenalan, aku traktir, deh.


Putri tersenyum. Menerima ajakan Dion sepertinya tidak buruk. Di banding dengan Vian, mungkin Dion lebih apa adanya. Vian bahkan hanya memilih wanita yang di bilangnya 'berkelas' sebagai pacarnya.


Balas ke +628225902xxx

__ADS_1


Boleh, Kak. Sampai ketemu nanti siang.


Setelah menekan tombol kirim, Putri kembali meneguk teh buatan Atika. Ia memandangi isi ruangan Vian yang rapi dan bersih, sesuai dengan kepribadian lelaki itu yang sepertinya perfeksionis.


Di meja kerjanya, Putri menemukan sebuah foto dalam bingkai kecil yang terpampang menghadap ke kursi kerjanya, Putri mengambilnya dan memandang sesaat. Wanita itu cantik, rambutnya panjang terurai. Dia berpose selayaknya model, itu pasti pacar Vian. Putri kemudian meletakkan kembali foto itu.


"Bagaimana? sudah puas melihat-lihat ruanganku?" suara Vian memecah konsentrasi Putri. Untung saja, pria itu tidak menangkap basah ia yang tengah melihat foto pacarnya.


"Melihat karena terpaksa. Lama sekali, ngopi saja sampai berpuluh menit seperti orang kencan." sindir Putri, membuat Vian terpancing.


Vian mendekati putri hingga jarak di antara mereka hanya beberapa senti. Lelaki itu menatap ke dalam mata putri lekat-lekat. Ia akui dari dalam hatinya, bukan perkataan putri yang paling membuatnya kesal, tetapi, ia kesal karena pesona putri telah membuat temannya tertarik.


"Vian! Apa-apaan! Jaga jarak." Putri mendorong Vian menjauh darinya. Ia merasa risih dengan cara Vian menatapnya seperti itu.


"Kamu lebih suka di dekati lelaki lain di bandingkan aku? Apa kurangnya aku di banding dia?" pertanyaan ini terdengar konyol di telinga Putri. Kenapa tiba-tiba Vian bicara tentang perasaan. Bukannya dia sendiri yang bilang kalau dia tidak akan pernah jatuh hati pada gadis itu?


"Yang tadi, lupakan. Anggap aku tidak pernah mengatakannya. Bawa ini, ikut aku ke ruang rapat sekarang!" kata Vian dengan nada jutek, ia langsung keluar ruangan dan Putri segera menyusulnya.


Masa sih, Vian cemburu? Mana mungkin? Dia kenapa cemburu? Bukannya semua ini hanya murni kerjaan? Ah, mungkin hanya pikiran Vian yang kacau karena sesuatu. Mungkin dia sedamg ada masalah dengan pacarnya. Siapa tahu? Banyak pertanyaan bermunculan di pikiran Putri, tapi ia segera menepisnya. Dia tahu, Vian tidak mungkin jatuh cinta padanya, tidak akan pernah.


Di ruang rapat, Putri sempat memperhatikan Vian saat memberikan penjelasan mengenai bidang-bidang bisnis mereka. Gadis itu mengakui, Vian cukup keren dan berbeda dengan kepribadian dia biasanya saat hanya berdua. Vian justru menangkap tatapan Dion yang selalu tertuju pada Putri.


Jam makan siang...


Sesuai dengan isi pesan Dion, jam makan siang ia benar-benar mengajak Putri makan siang bersama. Vian tampak cuek saat Putri meminta izin padanya untuk makan di luar.


"Sudah lama menjadi sekertaris Vian?" tanya Dion di sela-sela acara makan siang mereka.

__ADS_1


"Belum, Kak. Aku sekertaris barunya dan baru mulai kerja hari ini." Putri menanggapinya dengan santai.


"Wah, ternyata sekertaris baru. Coba pas kirim surat lamaran nyasar ke perusahaanku." Putri tersenyum menanggapi candaan Dion, ia bahkan tidak pernah melamar ke perusahaan Vian. Dia menjadi sekertaris dadakan karena permintaan nenek.


"Memangnya kenapa gitu, kalau nyasar ke tempat Kak Dion?" Putri berusaha menjaga suasana makan siang mereka tetap santai.


"Akan aku terima tanpa tes. Haha. Bercanda, maaf. Kamu sudah punya pacar?" pertanyaan Dion membuat Putri menghentikan acara makannya sebentar. Ia bisa membaca dari pertanyaannya, Dion kemungkinan memiliki sebuah rasa padanya.


"Kalau sudah kenapa, dan kalau belum kenapa? Putri sengaja ingin membuat Dion memberikan alasan akan jawaban dari pertanyaannya.


"Kalau belum, bagus dong, aku ada kesempatan. Kalau sudah, aku akan cari kesempatan buat rebut kamu, haha, sekali lagi aku bercanda. Maaf, jangan di ambil hati, Put." Dion berhasil membuat putri tertawa kecil. Ya, dia memang beda dengan Vian. Vian selalu membuatnya kesal setiap bertemu, tetapi Dion bisa membuat suasana menjadi asik, meskipun mereka baru saja kenal.


"Kakak bisa saja. Kak Dion sudah lama temenan sama Bos Vian?" Putri balik bertanya, bukan tentang Dion, ia justru lebih tertarik menanyakan hubungannya dengan Vian.


"Aku dan Vian sudah lama kenal. Sejak kami masih di bangku kuliah. Dulu, dia populer sekali di kampus kami. Meskipun terlihat gonta-ganti pacar, sebenarnya dia hanya mencintai satu dari mereka. Namanya Vanessa, katanya sampai sekarang mereka masih pacaran, aku pikir Vian sudah menikah."


"Uhuk!" tiba-tiba Putri tersedak mendengar kalimat akhir Dion.


"Put, kamu kenapa? Minum nih," Dion menyodorkan segelas air putih pada Putri.


"Maaf, Kak Dion, aku terlalu serius mendengarkan cerita Kakak sampai tersedak. Apa Vanessa itu model dengan rambut panjang?" Putri mencoba mencari tahu, ia teringat foto wanita yang ada di meja Vian.


"Kamu tahu darimana, Put?" Dion balik penasaran, darimana Putri tahu tentang itu.


"Aku melihat wanita itu di foto yang ada di meja kerja Vian." jawab Putri jujur.


"Cantik kan? Vanessa itu kembang kampus kami, dia juga mahasiswa yang cerdas dan selalu juara umum, itu yang membuat Vian cinta mati padanya." cerocos Dion yang secara tidak langsung memberikan informasi tentang awal mula kisah cinta Vian dan Vanessa.

__ADS_1


"Hatchii! Siapa yang sedang membicarakan aku?" Vian uring-uringan sendiri.


__ADS_2