
Putri menghapus make-up yang menempel di wajahnya. Meskipun tipis, ia tidak akan membiarkan wajahnya kotor saat tidur. Ia sedikit tertegun saat membaca pesan dari Vian yang
mengatakan akan datang ke kamarnya. Jika
untuk urusan nenek, dia bisa berkata apa, selain mengiyakan.
Mengingat dirinya yang hanya di jadikan tameng oleh Vian untuk liburan bersama Vanessa, sebenarnya ia merasa cukup kesal. Kalau saja mereka tidak bertemu Dion, pasti Putri akan benar-benar terlantar karena Vian tidak ada waktu untuk menemaninya atau
sekedar membelikan makanan. Pria itu justru sibuk mengurusi pacar kesayangannya.
Tok...tok..
Suara ketukan di pintu kamar Putri itu sudah di pastikan dari Vian, Putri berlari kecil dan membukanya lalu membiarkan lelaki itu masuk. Saat putri berjalan pelan terlebih dahulu, mendadak Vian memeluknya dari belakang, secara otomatis Putri berontak, ia merasa Vian sudah melanggar kesepakatan kontrak.
“Aku mohon Put, sebentar saja. Aku janji, tidak lebih dari ini, Please..” Vian tetap mendekap Putri, gadis itu sedikit bingung, mengapa tiba-tiba Vian bersikap aneh seperti ini.
“Kamu sebenarnya kenapa? Mendadak datang lalu bersikap seperti ini? Kamu tidak sedang mabuk kan?” kalimat yang di ucapkan Putri menyadarkan Vian dan membuat pria itu segera menjauh darinya, seakan apa yang telah di lakukannya tidak sesuai dengan yang ada di pikirannya.
“Put, maafkan aku.. maaf... aku sudah keterlaluan, maaf...” Vian sangat merasa bersalah dan tentu saja ia sangat khawatir Putri akan menganggapnya pria mesum dan mengacaukan semuanya.
“Sudahlah, anggap saja aku sedang berbaik hati. Ada apa denganmu, kenapa bersikap seolah itu buka kamu, bukan Vian yang ku kenal. Kamu sedang
ada masalah? Duduklah, bicarakan padaku...” Putri duduk di pinggir ranjangnya, Vian mengikuti
apa yang Putri lakukan.
“Sebenarnya aku...”
Mana mungkin aku mengatakan padanya kalau aku merindukannya, Ck, itu sama saja menjatuhkan harga diriku di matanya. Putri akan besar kepala
kalau mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Lagipula, mengapa tiba-tiba aku merasa rindu padanya. Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya kan?
“Sebenarnya apa? “ Putri menyelidik, pandangannya menggambarkan kecurigaan pada Vian.
“Itu... aku melakukan itu karena... aku... aku... aku kangen sama nenek. Aku merasa kamu mengingatkanku pada nenek, jadi tolong jangan
__ADS_1
salah paham.” Menurut Vian, saat ini tidak ada alasan terbaik selain nenek yang dapat menyelamatkannya dari masalah ini.
“Oh, nenek. Baiklah. Aku paham. Mengingat kedekatanmu dengan nenek, pastinya sangat sulit berjauhan darinya. Apa kamu sudah makan?” melihat wajah Vian yang sedikit kusut, Putri
merasa harus memperhatikannya , meskipun Putri sadar, itu tidak akan merubah cara pandang Vian terhadapnya.
Vian mengingat kembali acara makannya yang batal karena ia sedikit mengabaikan Vanessa yang berakhir dengan keributan kecil akibat pikirannya yang justru melayang memikirkan Putri. Sekarang perutnya terasa lapar. Terpikir olehnya untuk mengajak Putri makan di luar.
“Aku belum makan, kamu udah makan, ya? Mau nggak nemenin aku? ” agak aneh, saat mengajak makan pun, Vian merasa sedikit canggung pada Putri, biasanya ia ceplas-ceplos.
“Aku memang sudah makan, tapi kalau butuh teman makan, baiklah, aku bisa menemani kamu.” Putri
menyatakan bersedia menemani Vian makan karena dia tidak tega.
“Jangan ge-er, aku cuma terpaksa mengajakmu makan karena sedang marahan dengan Vanessa.” Vian tetap harus mencari alasan supaya Putri
tidak dapat membaca apa yang sebenarnya ada di pikirannya.
“Tenang saja, Tuan Vian, aku bukan tipe orang yang mudah baper, sudahlah, ayo berangkat, nanti kalau sampai kamu pingsan, gimana..” ledek Putri, membuat Vian sedikit kesal, tetapi hal inilah yang ia rindukan dari Putri.
yang setampan aku...” baru saja Putri
merasa Vian berubah, ternyata ia sudah kembali lagi pada sifat aslinya.
“Pede banget kamu Vian, Dion juga ganteng tapi nggak senarsis kamu, tahu nggak..” Putri segera melangkah keluar, dengan rambut tergerai dan pakaian hangat yang tadi ia pakai saat bertemu dengan Dion. Saat berjalan mengikuti Putri, ekor mata Vian menangkap ada jaket lelaki yang tersampir di kursi.
“Lain kali, kalau sedang dengaanku jangan bahas lelaki lain, aku tidak suka. Ini jaket siapa? Sepertinya ini jaket cowok.” Vian menenteng jaket
Dion dan menanyakan siapa pemilik jaket berwarna coklat itu pada Putri, gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik.
“Kenapa? Kamu cemburu kalau aku bahas lelaki lain? Itu jaket Dion, tadi dia meminjamkannya padaku.” Jawab gadis itu dengan enteng, ia merasa sikap Vian mendadak aneh saat melihat aket Dion. Sekarang lelaki itu justru melepaskan jaket hitamnya dan menyerahkannya pada Putri.
“Jangan menduga yang tidak-tidak. Sejak dulu, aku memang tidak suka ada wanita yang sedang bersamaku tapi membahas pria lain. Satu lagi,
segera kembalikan jaket Dion, jangan mudah dekat dengan lelaki yang baru saja kau kenal. Mulai besok dan seterusnya, kamu hanya boleh memakai jaketku.
__ADS_1
Ambil...” Vian tampak memaksa Putri untuk mengambil jaketnya.
Mengapa Vian melarangku memakai jaket Dion? Tidak boleh membicarakannya dan wajahnya sedikit aneh, apa jangan-jangan Vian mulai menyukaiku? Tapi itu tidak mungkin, wanita incaran Vian jelaslah berkelas, sementara aku, hanya gadis biasa yang
tidak mempunyai prestasi apapun. Mana mungkin dia akan menyukaiku.
“Bawel banget, iya-iya... nggak akan ngomongin cowok lain, nggak akan pakai barang-barang dari orang yang baru di kenal, perasaan itu nggak tertulis di dalam kontrak, lagipula bukannya kamu mengenal Dion dengan baik, jadi kenapa aku harus jaga jarak dengannya?” protes Putri, ia merasa sikap Vian padanya sangat berlebihan dan agak mencurigakan.
“Jangan membantah, ingat, kepatuhanmu mempengaruhi gajimu bulan ini. Ikuti saja apa yang aku mau, aku tidak suka di bantah. Cepat ambil
jaket ini, mau sampai kapan kamu membiarkan aku seperti ini? Lama-lama tanganku bisa kram.” Vian terus menyodorkan jaketnya, Putri segera mengambilnya, ia tidak ingin membantah lagi, gajinya adalah satu-satunya harapan agar bisa
menghidupi orangtua dan adik-adiknya, dia tidak bisa membiarkan gajinya di potong hanya karena tidak mematuhi aturan di luar kontrak yang di buat oleh Vian.
“Jalan sekarang!” Vian tampak kesal dan keluar dari kamar Putri terlebih dahulu.
Benar-benar pria yang aneh, sebentar baik, lalu sebentar lagi angkuh, maunya apa? Aku sungguh tidak dapat memahaminya. Sudahlah, lebih baik turuti saja maunya, bukankah aku memang
bekerja untuknya?
Putri segera menyusul Vian cepat-cepat. Sementara diam-diam Vian tersenyum tanpa gadis itu sadari. Bagi Vian, melihat Putri yang sangat penurut itu hiburan tersendiri baginya.
“Cepatlah, jangan lambat seperti siput.” Vian menghardik Putri. Meskipun setelahnya ia kembali tersenyum.
“Iya, sabar...” Putri segera berlari kecil menghampiri Vian hingga gadis itu dapat berjalan
sejajar dengannya.
“Mau makan apa?” tanya Vian singkat.
“Apa saja. Aku patuh padamu.”
“Memang tidak ada pilihan untukmu, hanya basa-basi.” Cibir Vian lalu kembali meninggalkan Putri
untuk tersenyum diam-diam.
__ADS_1
“Isssh!” Putri mengepalkan tinju dan memukulkan ke udara seolah-olah ia sedang memukul Vian, ia sangat kesal dengan perilaku Vian padanya.