
Beberapa hari setelah kepergian Vian, Putri kembali ke kantor saat tidak ada kelas. Sebenarnya baik nenek atau pun Vian, tidak meminta Putri untuk melakukan itu, hanya saja, Putri merasa harus ikut bertanggung jawab atas kantor Vian.
Saat perjalanan ke kantor, Vian melakukan panggilan Video. Hampir setiap saat senggang Vian melakukan itu. Dia ingin selalu memandangi wajah istrinya.
"Sayang, bukannya sekarang kamu nggak ada jadwal ke kampus, sepagi ini mau kemana?" tanya Vian di ujung sana, masih menggunakan kimono tidur dan bersandar di headboard. Wajahnya tampak sangat segar, sepertinya Vian telah mencuci wajahnya.
"Aku mau ke kantor, Vian. Pasti pekerjaan numpuk di sana, aku juga,sedang tidak sibuk. Kamu sudah sarapan?" tanya Putri seraya mengulas senyum tipis di wajahnya.
"Kan semalem aku udah bilang, Sayang. Kalau libur, kamu mending habisin buat santai atau ngapain kek di rumah. Kuliah kamu juga lagi banyak tugas, kan?" Vian tampak khawatir.
"Tenang, kamu tidak perlu khawatir. Aku malah bosen kalau terus-terusan di rumah. Setidaknya, kalau aku menyibukkan diri, aku nggak akan tersiksa karena kangen kamu. Cepet pulang makanya." ujar Putri manja. Ia mencebikkan bibirnya untuk mengekspresikan kekesalan karena Vian tak juga kembali, padahal belum ada satu minggu.
__ADS_1
"Sabar, Sayang. Aku akan segera pulang setelah semua urusan selesai. Kamu jangan lupa sarapan. Makan siangnya ajak Atika kalau kamu sungkan sendirian. Kamu pikir, kamu aja yang kangen, aku juga kangen, Sayang. Kangen sama gigitan kamu." ledek Vian, seketika pipi Putri memerah.
"Apaan, sih. Di ingetin lagi. Awas, ntar malam kebawa mimpi, kebangun, nggak bisa tidur, akhirnya cuma bisa meluk guling aja." Putri balas meledek.
"Dari kemarin malem aku sudah selalu mimpiin kamu, Sayang. Rasanya aku udah sebulan nggak ketemi kamu. Kangen. Kalau aku pulang nanti, kasih yang spesial ya." Vian mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum jahil.
"Oke, aku kasih yang spesial. Mi kuah, pakai telur tiga. haha." Putri justru meledek Vian.
Ternyata, terpisahnya jarak tidak membuat Vian kurang memperhatikannya. Justru karena mereka jauh, Vian lebih sering menghubunginya. Semua itu mampu meredam rasa rindu yang meletup-letup di hati Putri.
Tiba-tiba, Putri merasa ingin segera buang air kecil. Ini sudah ke sekian kalinya semenjak ia bangun tidur. Beruntung jarak antara mereka dan kantor sudah lunayan dekat.
__ADS_1
"Pak Joko, tolong lebih cepat ya. Saya harus segera ke toilet." pintanya pada Pak Joko yang juga supir keluarga Vian.
"Baik, Nyonya." Pak Joko segera mempercepat laju mobil mereka untuk mempersingkat waktu.
Jika sampai sore nanti Putri masih selalu buang air kecil dengan tempo cepat, Putri akan memeriksakan dirinya ke dokter.
Sesampainya di kantor, Putri buru-buru turun dari mobil dan berjalan cepat ke arah toilet.
"Pagi, Kak Putri." sapa Atika saat berpapasan denga Putri.
"Pagi. Sori, Atika. Aku harus ke toilet sekarang." Putri ngibrit pergi ke toilet, sementara Atika melihat punggung Putri yang menjauh darinya sambil bertanya-tanya dalam hati.
__ADS_1
"Mungkin Kak Putri mules." gumamnya lalu melanjutkan langkahnya.