Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 67


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Putri sedang makan siang bersama Atika, saat nada pesan di ponselnya berbunyi. Tidak mungkin dari Vian, karena suaminya itu sudah bilang, hari ini rapat terakhirnya sebelum pulang dan mungkin akan agak sulit di hubungi. Putri melirik ke arah layar ponselnya yang berkedip. Nomor baru.


Setelah meminta izin pada Atika, Putri membuka pesan yang di tujukan kepadanya itu.


+08950908xxx


Putri. Ini aku, Vanessa. Aku dapat nomor kamu dari Dion. Ada hal penting yang aku ingin bicarakan denganmu. Aku tunggu jam tiga sore di Pine Kafe.


Melihat perubahan di wajah Putri, Atika pun penasaran. Siapa orang yang telah menghubunginya, sehingga membuatnya seperti cemas.


"Siapa yang kirim pesan, Kak?" tanyanya, membuyarkan lamunan Putri.


"Oh, itu. Temen di kampus. Ngasih kabar kurang bagus. Ayo di lanjut lagi makannya."Putri sengaja tidak mengatakan pada Atika kalau yang menghubunginya adalah Vanessa. Dia tidak ingin neneknya khawatir. Bagaimanapun, Putri paham betul, neneknya tidak menyukai wanita itu.


"Oh, aku pikir siapa. Omong-omong, kapan Bang Vian pulang?" Putri bersyukur Atika mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Sepertinya besok, kalau tidak ada halangan. Kamu ada mau pesan sesuatu? Segera telpon abangmu." Putri masih menyelesaikan makannya.


"Ah, tidak. Aku hanya penasaran kapan Abang pulang. Kak Putri tumben makannya banyak akhir-akhir ini, terus juga gemukan." rupanya Atika baru menyadari perubahan dalam tubuh Putri. Wanita itu tersenyum, seperti tidak merasa terganggu dengan komentar Atika.

__ADS_1


"Ya, aku memang makan banyak akhir-akhir ini. Makanya aku gemukan. Apakah aku terlihat jelek sekarang?" Putri meminta pendapat dari Atika.


"Tidak, kakak justru semakin montok sekarang. Saat Abang pulang nanti, pasti dia semakin nempel dengan Kakak." celetuk Atika, berhasil membuat Putri tertawa kecil.


Putri sudah lega setelah memeriksakan dirinya ke dokter. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Justru dia bisa memberikan kejutan nanti saat suaminya kembali dari perjalanan bisnisnya.


"Kamu bisa saja, Atika. Kali ini, aku tidak keberatan untuk gemuk sama sekali. Aku malah berencana untuk menambah porsi makanku."kata Putri dengan penuh semangat. Atika merasa aneh dengan sikap Putri. Dimana-mana, wanita pasti akan panik saat dirinya gemuk, tapi dia malah senang.


Jam tiga sore.


Sesuai kesepakatan, Putri datang menemui Vanessa.Dia sebenarnya tidak ingin kembali berurusan dengan wanita itu. Hanya saja, dia bilang penting, jadi mau tidak mau Putri memutuskan untuk menemuinya.


Dia memilih tempat duduk di pojok. Sengaja memilih di sana agar pembicaraannya dengan Vanessa lebih leluasa. Setelah memberitahu nomor mejanya, Putri menunggu kedatangan Vanesa sambil berbalas pesan dengan suaminya. Vian mengatakan, dia sedang membeli oleh-oleh yang akan di bawanya pulang. Putri tersenyum membaca pesan Vian, dia sudah membayangkan lelakinya itu akan segera pulang.


"Tidak masalah. Aku juga sedang santai. Langsung pada poinnya saja, apa yang ingin kamu katakan padaku?" Putri tidak ingin membuang waktunya berlama-lama berbincang dengan Vanessa.


"Jadi gini, Put. Aku hamil." ungkap Vanessa.


"Lalu?" sahut Putri santai.


"Aku mengandung anak Vian." kata Vanessa. Putri meletakkan ponselnya ke atas meja.

__ADS_1


"Jadi ini tujuan kamu? Kamu mau memprovokasi aku, supaya aku percaya kalau kamu hamil anak suamiku? Apa buktinya kalau itu anaknya?" Putri menghadapi Vanessa denga tenang. Dia percaya Vian, dia tahu, suaminya itu tidak akan membohonginya.


"Kamu terlalu percaya pada Vian, Put. Kamu bahkan tidak panik sedikitpun saat mendengar berita ini.Vian pasti sudah mencuci otakmu." ejek Vanessa, Putri tentu saja tidak terima mendengar ucapan mantan kekasih suaminya itu.


"Dalam hubungan rumah tangga memang di perlukan saling percaya. Aku bukan orang yang mudah terpengaruh. Kalau memang bayi yang ada di perutmu itu anak Vian, kita adakan pertemuan bertiga. Biar Vian yang memutuskan kebenarannya." Putri mengambil keputusan. Vanessa geram, caranya untuk menghancurkan pernikahan Putri dan Vian gagal.


"Terserah saja kalau kamu tidak percaya. Aku ada urusan lain, aku harus pergi." Vanessa bangkit dari duduknya lalu pergi begitu saja.


Putri tahu, Vanessa pasti hanya berniat untuk menghancurkan kebahagiaannya dan Vian. Dia percaya pada suaminya. Meskipun dia dulunya suka menjalin hubungan dengan beberapa wanita, tapi Vian tidak senakal itu. Vian juga pernah bilang kalau hanya dirinyalah yang di sentuhnya tidak ada yang lain.


Putri memutuskan untuk kembali ke rumah. Dia tidak menyangka harus menemui Vanessa untuk mendengarkan omong kosongnya. Dia masuk ke dalam mobil, Pak Joko memang di mintanya untuk menunggu. Putri segera melakukan video telepon dengan Vian.


"Ada apa, Sayang...?" tanyanya saat menerima telepon dari Putri.


"Kangen...," kata putri manja, melemparkan senyumannya yang membuat Vian semakin merindukannya.


"Tiba-tiba manja. Ada apa, sih?" Vian penasaran karena Putri bersikap manja padanya.


"Nggak ada apa-apa, Sayang. Nanti aja, kalau kamu sudah kembali ke sini, aku akan menceritakan semuanya sama kamu, yang pasti aku kangen." kata Putri, membuat Vian tersenyum lebar.


"Sabar ya, Sayangku. Sebentar lagi aku pulang, kok. Kamu lagi di mobil? Dari mana sore-sore begini?" tanya Vian yang menyadari keberadaan Putri di dalam mobil..

__ADS_1


"Tadi aku ketemu temen di kafe deket sini sebentar. ya udah, kalau kamu sibuk. Selesaikan pekerjaan dan besok bisa pulang. Aku tunggu. Udah dulu ya,,Sayang." Putri menutup panggilannya setelah Vian mengiyakan. Ia menghembuskan nafas panjang. Putri tidak sabar untuk bertemu kembali dengan Vian.


Putri mengelus perut datarnya tanpa sadar lalu tersenyum tipis dan memandang ke luar jendela.


__ADS_2