
Di kantor Vian...
Sebuah mobil mewah berwarna merah metalik keluaran terbaru memasuki area perkantoran Vian. Keluar dari mobil itu seorang wanita cantik dengan penampilan elegan. Dari sepatu, baju, tas, sampai kacamata semua yang dipakainya barang branded. Tatanan rambutnya juga model terkini, membuat semua
mata tertuju padanya.
Klak... klak...klak...
Suara sepatu highheels-nya begitu nyaring saat berbenturan dengan lantai kantor itu. Pandangannya lurus ke depan, menampilkan keangkuhannya. Dia adalah Vanessa, pacar kesayangan Vian. Ia sudah sangat biasa datang ke kantor Vian tanpa memperdulikan waktu. Ia juga tidak segan untuk menunggu Vian di dalam kantornya apabila lelaki itu belum juga datang.
“Kak Nessa, ada apa datang ke kantor Bang Vian?” Atika yang tanpa sengaja bertemu dengan Vanessa langsung menegur wanita itu tanpa basa-basi.
“Memangnya salah? Aku ingin menemui pacar akulah, kamu lupa, aku pacarnya Vian?!” ujar Vanessa dengan lagak sombong. Ia sangat tidak suka dengan sikap Atika yang seolah tidak menyukai kehadirannya.
“Pacar?! Hei, percaya diri sekali anda?! Bang Vian itu sudah menikah, jadi kamu itu bukan siapa-siapa dia lagi.” Atika tersenyum sinis. Ya, dia tidak menyukai Vanessa, sama seperti nenek. Dia bahkan sangat senang saat Vian akhirnya menikah dengan Putri.
“Menikah? Hah! jangan bicara omong kosong! Aku tahu, kamu tidak suka aku pacaran dengan Vian, tapi, asal kamu tahu, Vian itu sangat mencintai aku, tidak mungkin dia menikah dengan wanita lain selain aku.” Ungkap Vanessa dengan penuh percaya diri, Atika hanya tersenyum melihatnya. Ia lalu mengambil ponsel di saku blazernya.
“Kamu tidak percaya kalau Bang Vian sudah nikah, Kak? Kalau kakak sudah lihat ini, apa masih tidak percaya?” Atika memutar video akad nikah Vian dan Putri, tentu saja hal itu membuat Vanessa melongo, ia tidak menyangka kalau Vian menghianati cintanya.
“Sial! Berani sekali wanita itu bersaing denganku! aku tidak akan biarkan dia bahagia dengan Vian, aku akan merebutnya kembali.” Vanessa tampak sangat marah dan tidak terima. Ia bertekad untuk merebut Vian kembali.
“Kak Nessa tidak boleh begitu, Bang Vian sudah bahagia dengan istrinya, silahkan Kak Nessa cari pria lain saja.” Atika coba memberi saran pada Vanessa, tetapi, saran Atika hanya membuat
Vanessa semakin murka.
“Aku pacaran dengannya selama bertahun-tahun dan akhirnya aku harus merelakanya? ! tidak akan pernah! Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku!” celoteh Vanessa setengah berteriak, ia tidak terima dengan apa yang terjadi.
“Dasar perempuan tidak tahu malu. Terserahmu sajalah, aku mau melanjutkan pekerjaanku.” Atika meninggalkan Vanessa yang tengah uring-uringan, wanita itu kemudian masuk ke ruang kerja Vian untuk menunggu pria itu datang.
Cklek...
__ADS_1
Pintu ruangan Vian dibuka seseorang. Tentu saja orang itu adalah Vian yang di ikuti oleh Putri dibelakangnya. Vian terkejut saat melihat Vanessa duduk di kursinya. Wanita itu menatap Putri
tajam. Kemudian ia tersenyum pada Vian dan bangkit dari duduknya.
“Selamat pagi Sayang, aku kangen banget sama kamu...” kalimat yang di ucapkan Vanessa sangat mendayu-dayu dengan suara khasnya yang di buat-buat seperti seorang wanita penggoda. Ia memeluk dan memberi kecupan singkat di bibir Vian. Kemudian ia mendatangi Putri sebelum Vian menjawab ucapan selamat pagi darinya. Putri membeku, melihat perlakuan wanita itu pada Vian, rasanya ada sedikit rasa perih di hatinya, entah mengapa.
“Oh, jadi dia istri kamu?!” Vanessa menunjuk wajah Putri. Vian tidak suka dengan perlakuan kasar
Vanessa, meskipun wanita itu adalah orang yang di cintainya.
“cukup! Aku akan jelaskan semuanya Vanessa, duduk.” perintah Vian serius. Ia akan menjelaskan
semuanya pada Vanessa tentang apa yang
terjadi diantara dirinya dan Putri.
“Tidak, Vian! Aku tidak bisa menerima penjelasan apapun darimu. Jadi, kamu lebih memilih wanita seperti dia untuk kau jadikan istri?!” tangis Vanessa pecah. Ia tidak bisa menerima penghianatan kekasih yang sangat di cintainya.
“Kamu bisa dengarkan penjelasan kami dulu, Ness...” Putri bermaksud menengahi.
“Diam, kau! Aku tidak memintamu untuk bicara di sini. Aku tahu, kau pasti hanya menginginkan
harta Vian, kan?! Apalagi yang di harapkan oleh wanita sepertimu selain mendekati pria-pria kaya untuk memeras uangnya.” Vanessa tertawa berulang kali seperti orang yang tidak waras. Ia sangat puas karena telah memberikan tamparan keras di pipi
Putri.
“Vanessa! Keluar dari ruanganku!” Vian mengusir Vanessa untuk pergi dari ruangannya.
“Oh, jadi kamu berani mengusirku karena dia? Kau sudah tidak mencintaiku lagi Vian?” Vanessa kesal karena Vian mengusirnya.
“Keluar, atau aku tidak akan menjelaskan apapun padamu?!” Vian menunjuk ke arah pintu. Mau tidak mau Vanessa keluar dari ruangan Vian dengan perasaan kacau dan airmata yang belum kering.
__ADS_1
Putri duduk diam di kursinya. Rasa perih dan sakit masih terasa di pipinya. Matanya sedikit berkaca-kaca. Meskipun ia tidak merebut Vian seperti yang di tuduhkan oleh Vanessa, tetapi hatinya tidak
bisa menerima cacian dari wanita itu.
Vian mengambil kotak obat yang ada di lacinya, menelepon seorang office boy untuk membawakannnya es batu untuk mengompres wajah Putri.Bagaimanapun, kejadian ini ada sangkut pautnya dengan dirinya membuat Vian sangat merasa bersalah, apalagi Putri di sini adalah orang yang tengah membantunya.
“Putri, aku minta maaf. Semua ini menimpamu karena aku yang salah. Aku tidak membicarakannya terlebih dahulu pada Vanessa tentang sandiwara kita. Maafkan aku, aku tahu hatimu pasti terluka juga
karena perkataan Vanessa.” Vian mengamati luka memar yang di alami Putri karena amukan pacarnya. Lukanya mulai sedikit membiru dan bengkak.
“Tidak apa, Vian. Ini adalah sebagian dari resiko pekerjaan. Aku tidak masalah, luka fisik dan perasaanku akan membaik seiring waktu, sebaiknya
segera kamu kejar Vanessa dan jelaskan semuanya sebelum ia semakin salah paham.” Putri memberi dorongan pada Vian untuk segera mengejar Vanessa.
“Tidak. Biarkan aku mengobati luka di wajahmu dulu. Percaya padaku, semuanya akan baik-baik saja.” Vian tetap pada pendiriannya, ia ingin merawat luka di waah Putri.
“Tapi...”
“Aku mohon, Put... biarkan aku menebus kesalahanku. Kamu seperti ini karena membantuku, aku tidak akan membiarkanmu terluka begitu saja.” Vian memohon pada Putri agar di izinkan untuk merawat lukanya. Gadis itu menghembuskan nafas perlahan, ia tidak bisa menolak niat baik Vian.
“Baiklah, aku menuruti apa katamu saja.” Ujar Putri pasrah.
Putri semakin menyukai sisi lembut yang di miliki Vian. Meskipun banyak kenangan tidak mengenakkan yang ia dapatkan semenjak mengenal Vian, tetapi akhir-akhir ini ia mulai tertarik dengan sisi baik lelaki itu. Meskipun ia sadar, ia tidak akan pernah dapat meraih Vian yang sangat jauh dari jangkauannya.
Setelah esnya datang, Vian mengajak putri duduk di sofa untuk mengobati lukanya.
Ting!
Tanda pesan masuk di ponsel Vian
berbunyi.
__ADS_1
Vanessa
Kita harus bertemu, jam makan siang di tempat biasa.