
Vian tengah sibuk di ruang kerjanya. Putri datang menghampirinya dan mendekap lelaki itu dari belakang. Vian mengabaikannya, pria itu justru sibuk membalas email-email yang masuk ke akunnya. Putri sedikit kesal dengan Vian yang tidak merespon kedatangannya. Dia menarik kursi lelaki itu hingga menghadap ke arahnya.
"Ada apa, Sayang? Aku kan lagi kerja. Sebentar lagi selesai, kok." protes Vian. Putri memasang wajah cemberut karena kesal.
"Nggak ada kerja. Kamu baru pulang, terus sekarang kamu cuekin aku, jahat. Kalau gitu aku mau tidur sama Nenek." kata Putri ketus.
"Jangan dong Sayang, kalau kamu tidur sama nenek, aku tidur sama siapa? Oke, aku nggak kerja lagi. Sini duduk, manja banget, ada apa Sayang?" Vian meminta Putri duduk di pangkuannya. Wanita itu pun duduk di sana.
"Lagian kamu gitu. Nggak kangen sama aku? Sampai aku di cuekin begitu?" Putri balas memprotes Vian.
"Bukan, bukan begitu Sayang. Aku tadi niatnya juga sebentar aja, kok. Nggak ada niat mau ngabisin waktu di depan laptop. Aku kan juga kangen sama istriku yang cantik ini." Vian menoel hidung Putri.
"Beneran apa? Serius?" Putri pura-pura jutek.
__ADS_1
"Serius lah, masa bohongan. Sayang, hadap sini." Pinta Vian, Putri menuruti keinginan suaminya.
Cup!
Vian mendaratkan sebuah kecupan singkat di pipi Putri.
"I love you, honey." bisiknya, membuat pipi Putri memerah. Bella kemudian membalas perlakuan Vian dengan mengecup bibir lelaki itu.
"Oh ya? Apa itu?" tanyanya serius. Putri kemudian merogoh sesuatu dari dalam saku piyamanya.
"Ini dia, selamat Sayang!" Putri menunjukkan sebuah alat tes kehamilan dengan tanda positif, "Kamu akan segera menjadi ayah." imbuh Putri. Vian mengambil alat tes kehamilan itu dan memandanginya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku..., aku..., akan segera menjadi ayah? Luar biasa. Aku sangat bahagia. Kita akan segera mempunyai bayi. Apa kamu sudah mengabarkan berita bahagia ini pada Ayah dan Ibu?" Vian teringat kedua orangtua Putri. Wanita itu menggeleng.
__ADS_1
"Belum. Aku ingin kamu yang pertama mendengar kabar bahagia ini. Nanti kita lakukan panggilan video ke ponsel Adit. Mereka pasti juga akan merasa bahagia. Sayang, aku sangat mencintaimu."Putri memeluk Vian erat.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Mau menerima segala kekuranganku. Bersabar menghadapi segala kesombonganku. Kamu yang mampu meruntuhkan semua itu. Aku beruntung memilikimu. Teruslah berada di sisiku sampai akhir, Sayang." Vian menitikkan airmata. Dia tidak membutuhkan wanita-wanitanya yang banyak di masa lalu. Satu orang seperti Putri sudah melengkapi hidupnya.
"Hanya perlu bersabar untuk membuat bongkahan kesombonganmu meleleh, Sayang. Jangan lupa, aku gajihan besok." Putri mengingatkan Vian tentang kontrak mereka.
"Semua uangku untukmu, Sayang. Sebagai gantinya, kamu harus menemani sepanjang perjalanan hidupku. Bagaimana? Apa Kamu bersedia, Sayangku?"tanya Vian serius dengan menggenggam tangan Putri.
"Pertanyaan konyol. Aku tentu saja bersedia menemani sepanjang hidup kamu, Vian. Kamu, aku dan juga anak kita, akan hidup bahagia di masa mendatang bersama seluruh keluarga besar kita."Putri berhambur ke dalam dekapan suaminya. Memeluknya seerat mungkin seakan tidak akan pernah ia lepaskan.
"Terima kasih Vanessa, terima kasih tempat loundry, noda biru, dan juga Nenek, berkat kalian aku menemukan pelabuhan cintaku. Meskipun semuanya tidak mudah, tetapi aku senang berada di titik ini. Suami ku yang sombong, akhirnya jatuh cinta padaku." gumam Putri dalam hati.
Sebuah perjuangan dan kesabaran, telah membuat hati Vian luluh dan menjadikan Putri sebagai wanita beruntung yang akan mendampinginya hingga akhir.
__ADS_1