Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 45


__ADS_3

Rasa gelisah menghantui perasaan Putri sepanjang hari. Sejak ia mendengar kabar kepulangan Vanessa tadi pagi, rasanya  segala kisah manisnya bersama Vian beberapa hari ini luntur begitu saja. Seperti seseorang yang hanya menyewa barang, Putri merasa hari ini adalah masanya yang habis untuk memiliki Vian.


Meskipun ada harapan, tetapi harapan itu masih sangat samar-samar, Putri yakin, Vanessa tidak akan dengan mudah mau melepaskan Vian.  mendadak Putri mengingat kembali kejadian beberapa saat lalu, saat dimana Vanessa datang dan menyerangnya di kantor Vian, bisa jadi kali ini kejadian yang sama akan menimpanya.


Putri menjadikan kedua tangannya sebagai tumpuan, gadis itu menunduk dan merenungi kesalahannya. Dia memang tidak seharusnya jatuh cinta pada Vian, ia telah merusak hubungan profesionalnya dengan si bos.


Tetapi cinta tumbuh tidak mengenal tempat, di tambah lagi semua sikap manis yang di tunjukka n oleh Vian semenjak dirinya mengakhiri hubungan dengan Raihan membuat Putri semakin terjebak dalam perasaannya


terhadap Vian. Rasa yang awalnya hanya samar terlihat berubah menjadi nyata.


Saat ia berniat mengalihkan pandangan ke arah Vian, pria itu sudah tidak ada di tempatnya. Padahal satu menit yang lalu, pria itu masih duduk manis di kurdi kebesarannya. Putri hanya bisa berpikir, mungkin kepergiannya ada hubungannya dengan Vanessa.  Putri kembali mengerjakan pekerjaannya setelah susah payah membuang


segala pikiran yang mengganggu kepalanya.


“Untukmu, semoga bunga ini dapat membuat kegundahan hati kamu membaik.” Putri menatap buket bunga mawar putih itu kemudian mendongak ke atas dan melihat senyum Vian yang merekah. Pipi Putri memerah, ia telah menuduh Vian pergi karena Vanessa, ternyata dia pergi untuk menghiburnya. Putri menghentikan pekerjaannya dan menerima bunga dari Vian.


“Masih galau? Aku  lihat kamu stress semenjak tadi mendengar Vanessa pulang. Kamu pasti berpikir, saat dia kembali, aku akan kembali seperti semula dan mengabaikan kamu, iya kan?  Memangnya aku sejahat


itu? Aku tidak akan melakukan itu, kamu tahu kan, tujuan hidupku sekarang  adalah kamu, kamu istriku. Aku juga sudah bilang mau membuktikan kalau aku serius sama kamu. Kamu jangan takut lagi,


oke?”  Vian mengusap puncak kepala Putri dan mengecupnya sedikit lebih lama dan hal ini membuat perasaan Putri sedikit lebih tenang.

__ADS_1


“Aku boleh, kan... merasa takut? Aku sudah pernah gagal, dan entah sejak kapan aku mulai menyukai kamu, tetapi kamu yang kedua di dalam hidupku, Vian. Terlalu menyakitkan, kalau aku juga harus patah di cintaku yang


kedua.” Putri memberanikan diri menatap Vian, lelaki itu balas menatapnya. Vian tahu, ucapan Putri sangat tulus.


“Boleh, kamu berhak merasa takut. Aku memang tidak sebaik Raihan yang kamu ceritakan itu, tetapi aku akan berusaha yang terbaik untuk kita. Apapun yang terjadi ke depan, kita hadapi bersama, oke?”  Vian menyelipkan rambut Putri ke belakang telinganya. Gadis itu mengangguk tanda setuju dengan apa yang Vian katakan.


Putri menyentuh punggung tangan Vian lembut, “Aku percaya, kamu bisa aku andalkan, Vian.”


Putri telah menahan sekuat tenga agar ia tidak masuk ke dalam kehidupan Vian, tetapi ia telah tersedot masuk ke sana melalui perhatian-perhatian kecil yang di berikan oleh pria itu. berulang kali ia mencoba menghianati perasaannya, tetapi kenyataannya tidak semudah itu. Kebersamaannya bersama Vian membuatnya semakin jatuh dan tenggelam dalam lembah cintanya.


Kebersamaan mereka selalu menyebabkan percikan-percikan api cinta yang kian membesar seiring waktu, membuat keduanya nyaman satu sama lain.  Putri juga menyadari, menjalani hubungan bersama Vian bukanlah hal yang mudah, belum lagi Vanessa sudah jelas tidak menyukai kehadirannya. Hal itu terlihat ketika tatapan sinis selalu Vanessa layangkan padanya saat Putri ada di sekitar mereka.


Vian menuntun Putri untuk berdiri dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, Putri tidak menolaknya. Gadis itu bahkan membalas pelukan Vian dengan erat, Putri harap keputusannya untuk menyambut pelukan


“Aku tahu, ada beban berat di pundakmu saat mulai memasuki kehidupanku yang sebenarnya. Yang perlu kamu lakukan hanya satu, percaya padaku apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah mengecewakanmu.” Vian membuat jarak di antara mereka, lalu mencium kening Putri beberapa saat, merasa gemas, Vian juga mendaratkan kecupannya di bibir Putri. Perlakuan Vian yang tiba-tiba itu sukses membuat Putri membeku.


“Vian, kamu mulai nakal. Kenapa sih, selalu saja menghadiahkan ciuman tiba-tiba seperti itu?” Putri pura-pura kesal, Vian hanya tersenyum jahil dan kembali menarik Putri ke dalam pelukannya.


“Kamu tahu, beberapa  waktu terakhir aku sampai harus menahan diri untuk tidak menyentuhmu sama sekali. Kamu seperti candu bagiku, Put. Sekali aku memulainya denganmu, aku ingin lagi dan lagi. Setelah semuanya selesai nanti, aku ingin segera melakukan itu denganmu.” Pernyataan Vian membuat pipi Putri kembali memerah.


Apa yang Vian katakan membuat Putri menjadi gugup. Ia belum pernah membayangkan akan menjadi istri sebenarnya apalagi mengandung anak dari pria yang masih mendekapnya itu.

__ADS_1


“Kenapa kamu diam? Biar aku tebak, pipi kamu pasti memerah seperti udang rebus, kan? Tidak perlu malu, Putri. Pada akhirnya setiap pria dan wanita dewasa menikah, pasti akan melakukannya. Aku sangat menantikan saat


itu bersamamu.” Vian kembali melakukan hal jahil, dia membisikkan kalimat akhirnya pada telinga Putri yang mengakibatkan wanita itu menghadiahkan cubitan di pinggangnya.


“Kamu kebiasaan, selalu memberiku cubitan, sekali-sekali hadiahkan aku cium, dong.” Protesnya sambil mengacak rambut Putri, membuat gadis itu sedikit kesal karenanya.


“Vian, kamu ya... selalu ngacak rambut aku, aku bales nih.” Putri balas mengacak rambut Vian, bukannya menghindar, lelaki itu justru menunduk untuk memudahkan Putri melakukan itu.


“Sudah puas?” Vian menangkap kedua tangan Putri dan menguncinya ke atas kepalanya. Dia maju ke depan dan Putri mundur secara otomatis, hingga tubuh Putri bersandar ke tembok. Kedua mata mereka saling berpandangan


seiring detak jantung mereka yang tidak beraturan.


Vian mendaratkan kecupannya ke bibir tipis milik Putri dan kedua tangannya merengkuh tubuh wanita itu agar tidak menjauh darinya. Semua itu Vian lakukan seolah ia tidak ingin melepaskan Putri lagi dan menjadikan


wanita itu benar-benar menjadi miliknya. Perlahan, Vian melepaskan kecupannya.


“Putri, aku benar-benar menginginkanmu menjadi milikku. Terima kasih atas semuanya, maaf kalau hari ini perlakuanku membuatmu tidak nyaman.” Vian kembali menatap kedua bola mata Putri, sementara wanita itu


membalas dengan memegangi kedua pipi Vian dan mendadak menghadiahkan sebuah ciuman di pipi kanan pria itu.


“Vian, berdekatan denganmu membuatku berubah menjadi gila. Aku tidak bisa terus begini, cepatlah kembali ke mejamu dan bekerja. Bos tidak boleh mengajari karyawannya berbuat mesum.” Ledek Putri sambil membenarkan

__ADS_1


letak dasi Vian yang sedikit miring.


__ADS_2