Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 48


__ADS_3

Setelah melewati kisah romantis sore yang gagal, makan malam penuh kecanggungan, akhirnya Vian dan Putri dapat bernafas lega.  Mereka berdua menikmati udara malam dengan memandang langit cerah bertabur bintang dari balkon. Keduanya saling


bergandengan tangan, seolah mengabarkan pada alam semesta bahwa mereka saling mencintai.


Cinta, satu kata yang akhirnya mengikis jarak di antara mereka. Menembus dinding kebencian dan juga perbedaan. Sekarang keduanya telah saling memiliki satu sama lain. Sebagai bukti nyata, Putri memakai cincin pernikahan mereka yang dia simpan di dalam laci, begitu pula Vian. Tidak ada lagi alasan yang bisa membuat mereka harus merahasiakan semuanya.


Vian sudah siap mengatakan pada dunia bahwa dia telah menikah dan Putri adalah pelabuhan cintanya. Gadis itu adalah wanita terbaik, meskipun bukan yang pertama, Vian akan memastikan bahwa dia-lah yang terakhir. Ada banyak alasan yang membuat dirinya jatuh hati pada Putri, salah satunya karena


Putri di sukai oleh neneknya.


Putri juga merasa, tidak ada lagi alasan untuknya


merahasiakan pernikahannya dengan Vian, selain ia dan Vian sudah tidak terikat kontrak, dia juga sudah tidak memiliki harapan untuk cinta lain selain


suaminya. Baginya, Vian adalah obat yang di kirimkan Tuhan untuk mengobati lukanya.  Putri berharap, ia dan Vian akan selalu mengalami kisah manis seperti sekarang.


“Put, kamu lihat bintang yang paling terang itu, dia sama seperti kamu, diantara jutaan bintang yang bertaburan di langit, dia adalah yang paling terang, kamu juga. Di antara banyak wanita yang pernah hadir di dalam kehidupanku, kamu yang paling mampu merebut hatiku, merebut perhatian nenekku, aku beruntung bisa memiliki kamu. Aku sudah siap menerima berbagai kemungkinan, termasuk memperjuangkan restu dari orangtua kamu.” Ungkap Vian serius. Putri memandang bintang yang di tunjuk oleh Vian. Dia memang yang paling terang di antara semuanya. Putri tersanjung dengan perumpamaan Vian terhadap dirinya.


“Vian, aku masih merasa ini mimpi. Aku masih belum percaya sepenuhnya, akhirnya hubungan kita bisa seperti sekarang. Kita saling jatuh cinta dan saling ingin memiliki satu sama lain. Ada satu ketakutan yang masih aku rasakan sampai saat ini, ini tentang perbedaan di antara kita, aku dan


keluargaku benar-benar berbeda denganmu. Jangankan hidup layak, orangtuaku hanya tinggal di gubuk reot. Aku bahkan tidak yakin kamu bisa menerima keadaan kami.”  Akhirnya Putri mengungkapkan segala ketakutannya, pemikiran-pemikiran yang sejak tadi mengganggu hatinya.


Gadis itu benar-benar takut, Vian akan berubah karena statusnya.


Vian merubah posisinya berdiri, menghadap ke arah Putri, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali. Dia memandang kedua bola mata Putri dalam-dalam,” Putri, perasaanku tidak akan berubah meskipun kamu dan keluargamu tidak punya rumah sekalipun. Harta bukanlah suatu hal yang membatasi perasaan, aku mencintaimu apa adanya, sebagai Putri Si Gadis Desa. Aku tidak akan malu mengakuimu di depan semua orang. Aku janji, tidak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi.”  Janji, adalah hal yang paling Vian hindari selama dia menjalin hubungan dengan mantan-mantannya


termasuk Vanessa, tapi kali ini dia melakukan itu, karena Vian yakin tidak akan ada wanita lain di hidupnya lagi selain Putri.


“Kalimatmu terlalu manis, Vian. Aku harap kamu bisa bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu ucapkan. Bapakku galak, kamu harus terima kalau dia marah karena sudah menculik anak gadis kesayangannya tanpa izin.” Putri sengaja menakut-nakuti Vian, tetapi sepertinya lelaki itu tidak perduli


dengan apa yang di katakan oleh Putri. Dia justru merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya.


“Aku siap memperjuangkan kamu, Put. Meskipun hujan badai, hujan kerikil, hujan es batu, aku tidak akan menyerah, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkan restu dari Bapak Mertua.” Ungkapnnya tegas, setelah itu Vian mengecup puncak kepala Putri dengan sangat lama.


“Dasar tukang gombal. Mana ada hujan kerikil sama hujan es batu.” cibir Putri, Vian tersenyum geli mengingat perkataannya sendiri.


“Hanya perumpamaan, Sayang. Intinya, aku akan memperjuangkan kamu apapun keadaannya, paham?” Vian memberikan penekanan pada kalimat


terakhirnya, Vian tidak ingin Putri meragukan kesungguhannya.


“Baik, aku akan melihat sekuat apa perjuanganmu untuk mendapatkan restu dari kedua orangtuaku. Semuanya tidak semudah yang kamu bayangkan, jadi persiapkan dirimu, suamiku.” Bisik Putri begitu halus hingga memicu bagian tubuh Vian bereaksi. Vian segera beringsut menjauh dan melepaskan


pelukannya, dia takut Putri menyadari reaksi bagian tubuhnya itu.


“A-aku pasti bisa melewati semuanya.” Katanya dengan suara sedikit bergetar.


“Tidak perlu kamu sembunyikan, aku sudah menyadarinya. Aku juga tahu, kamu sudah susah payah menahannya. Jika kamu ingin melakukannya, ayo kita lakukan, aku sudah siap.” pernyataan Putri membuat Vian sedikit terkejut. Dia tidak percaya, Putri benar-benar mengatakan itu padanya.


“Kamu serius? Tidak perlu memaksakan diri, aku masih bisa untuk menahannya lebih lama lagi sampai kamu siap.” Vian masih di posisinya, dia tidak bergeming sedikitpun. Kalimat yang di ucapkan Putri membuatnya berpikir lebih jauh hingga bagian tubuhnya semakin menegang.


Putri mendekati Vian, perlahan di tariknya lengan Vian agar kembali menghadap dirinya. Gadis itu menenggelamkan dirinya dalam dekapan Vian.


dia dapat merasakan lelaki itu sedang tersiksa sekarang, “Jadi kamu menolakku?” bisik Putri, semakin  mengacaukan pikiran Vian, dia tidak bisa untuk menyangkal bahwa kenyataannya dia memang


menginginkannya.

__ADS_1


Vian segera menangkup kedua belah pipi istrinya itu,


menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman panjang dan panas. Pria itu membawa Putri masuk ke kamar merek tanpa menghentikan kegiatan mereka. Tidak ada penundaan lagi. Malam itu menjadi malam penyatuan mereka. Sepanjang malam,


keduanya menghabiskan waktu dengan penuh keromantisan, ruang kamar yang luas itu menjadi saksi bisu pergulatan mereka berdua.


***


Cahaya matahari menembus masuk melalui sela-sela tirai jendela di kamar Vian dan Putri. Membuat Vian menyipitkan matanya dan terbangun dari tidurnya. Ia menoleh ke sampingnya, di mana Putri masih tertidur pulas dengan beberapa bercak kemerahan di lehernya. Pria itu mengenang kembali kegilaan mereka semalam. Rasanya sangat bahagia, pada akhirnya dia dapat memiliki wanita itu sepenuhnya.


Pemandangan di sekitar ranjang mereka pun tidak kalah menarik. Baju mereka berserakan tak tentu arah, Vian tidak ingat, mengapa sampai seberantakan itu. Semuanya karena dia terlalu fokus pada kegiatan lain yang ia lakukan dengan istrinya. Vian kembali memandangi wajah Putri, di ulurkannya tangannya untuk menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik itu. Perlahan ia menggeser posisi tidurnya lebih dekat, mendekap


Putri dan menghadiahkan kecupan selamat pagi di dahinya. Membuat wanita itu membuka matanya dan tersenyum.


“Selamat pagi, Suami.” Sapanya seraya menyentuh pipi Vian lembut.


“Selamat pagi, Cintaku. Untuk semalam, terima kasih.” Ucap Vian seraya membalas sentuhan tangan Putri di pipinya dengan menyentuh balik pipi wanitanya itu.


“Itu hak kamu, Vian. Aku bahagia telah memberikannya padamu, lelaki yang aku cintai dan juga suamiku.” Ucapnya pelan, tetapi terdengar jelas


di telinga Vian, pria itu tersenyum.


Hari ini seperti mimpi bagi mereka berdua, dimana mereka benar-benar telah menghapus jarak di antara mereka berdua, memulai kehidupan layaknya suami –isteri yang sebenarnya, mulai menatap ke depan, dimana perjalanan mereka masih panjang. Apa yang terjadi hari ini adalah awal, awal dimana perjalanan rumah tangga Vian dan Putri di mulai.


Vian segera menelepon Bimo, mengatakan pada pria tangan kanan neneknya itu kalau hari ini dia dan Putri mengambil cuti.  Sebagai orang kepercayaan keluarganya, Bimo di wajibkan untuk merangkap berbagai tugas dan hari itu, Vian meminta lelaki


itu mewakilinya dalam segala kegiatan di kantornya. Tentu saja, Bimo langsung menyetujui permintaan Vian tanpa banyak pertanyaan.


Pria itu lalu mengajak istrinya untuk berendam bersama,  merilekskan tubuh mereka yang terasa luluh


Hari itu, Vian yang memilih baju yang akan di pakai Putri, sebuah dress mini cantik berwarna merah. Dia berencana untuk membawa Putri jalan-jalan ke luar. Ia ingin wanitanya itu tampil sempurna tanpa cela. Pada dasarnya, Putri adalah gadis yang cantik, meskipun hanya berpenampilan apa


adanya dan Vian mengakui itu sejak pertemuan awal mereka.


“Sempurna.” Bisik Vian saat ikut memandang pantulan penampilan Putri di cermin besar di meja riasnya. Kepiawaian Putri saat menggunakan peralatan dandannya membuat Vian kagum. Tidak kalah dari para perias profesional.


Mendengar pujian Vian, Putri tersenyum puas. Hal yang berharga baginya ketika mendapatkan pujian dari Vian. Itu membuatnya merasa spesial. Dia bangkit dari duduknya, membenarkan kerah baju Vian yang terlihat kurang rapi lalu menghadiahkan pria itu sebuah kecupan singkat di pipinya, “Kamu juga sempurna, Sayang.” Ucapnya dengan sangat manis.  Membuat Vian sedikit terbuai pada kalimat yang baru saja di ucapkan Putri.


Vian segera menggandeng Putri untuk turun dan menikmati sarapan, meskipun mungkin tanpa nenek. Sudah terlalu siang, kemungkinan nenek sarapan seorang diri. Semuanya karena ulah mereka yang bangun kesiangan dan mengulur waktu hingga hari menjadi lebih siang lagi tanpa merasa bersalah.


Saat sampai di ruang makan, mereka berdua benar-benar tidak bertemu dengan nenek. Hanya ada Bi Inah, Asisten Rumah Tangga neneknya yang


tengah menyiapkan hidangan di atas meja.


“Kemana nenek, Bi? “  tanya Putri penasaran.


“Beliau bilang mau berjalan-jalan sebentar di antar oleh Pak Anton, Non.”


 Anton juga salah satu orang kepercayaan nenek, tetapi kedudukannya masih di bawah Bimo,  karena dari pengalaman dan ketangkasan, Bimo jauh lebih unggul darinya.


“Oh, begitu. Bi, maaf, aku bangun kesiangan sampai tidak membantu Bibi memasak.”  Ujar Putri


dengan sopan. Bi Inah tentu saja tersanjung, istri majikannya itu memang selalu memperlakukannya dengan baik.


Bi Inah sendiri telah lama bekerja untuk keluarga Vian, lebih dari lima tahun. Nenek telah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga,

__ADS_1


begitu pula dengan keluarga Bi Inah yang ada di kampung. Beberapa kali, Vian dan neneknya mengunjunginya, atau sekedar mengantar jemput Bi Inah jika wanita itu merindukan anak dan suaminya.


“Tidak masalah, Non. Lagipula ini kewajiban saya untuk melakukan segalanya.  Maaf, apa Tuan Vian


ingin saya buatkan teh?” tanya Bi Inah kemudian, saat melihat Vian duduk dan menyimak pembicaraan istrinya dan wanita paruh baya itu berlangsung.


“Tidak perlu, Bi. Biarkan aku saja yang membuatkan teh untuk Vian. Bibi silahkan sarapan dulu, setelah itu silahkan melakukan pekerjaan yang


lainnya.” Perintah Putri seraya berjalan menuju dapur untuk membuatkan secangkir teh untuk suaminya.


“Baik, Non.” Bi Inah segera meninggalkan Vian dan Putri.


Vian tersenyum melihat semuanya, ia sangat bangga dengan kerendahan hati istrinya. Sebagai istri seorang Vian, ia bahkan bersikap sopan pada seorang pembantu. Vian semakin merasa sangat tepat memilihnya sebagai pendamping hidupnya. Wanita sederhana dengan segudang kelebihan.


“Ini tehnya. Kamu mau sarapan apa? Biar aku siapkan.” Tanyanya seraya tersenyum.


“Aku mau kamu.” Ledek Vian.


“Aku serius , Sayang. Jangan membutku gemas. Memangnya yang semalam masih kurang?” goda Putri, kali ini Vian yang tersipu. Ya, semalam dia


cukup beringas, Vian menyadari itu.


“Baiklah, cukup, jangan menggodaku.  Aku mau sarapan roti tawar dengan selai kacang.” Kali ini Vian serius, putri segera menuruti permintaannya.


Putri merasa kegiatan barunya ini menyenangkan. Berusaha lebih memperhatikan Vian  dan menyiapkan


segala keperluan Vian ternyata sangat menarik. Wanita itu sangat menikmati perannya yang baru. Dia mencontoh semuanya dari perlakuan emaknya pada bapaknya, mereka selalu tampak romantis dari waktu ke waktu dan Putri juga ingin hubungannya dan Vian sama seperti mereka.


Vian sangat menikmati perlakuan spesial Putri padanya, semuanya sesuai dengan bayangannya selaa ini. Putri bersikap lembut dan menggemaskan. Sendainya ia bertemu dengan Putri lebih cepat, mungkin keromantisan ini datang juga lebih cepat.


Putri telah menyiapkan menu sarapan yang akan di makan oleh Vian lalu duduk di samping lelaki itu untuk menemaninya makan. Meskipun yang di


lakukan Vian bukanlah segera memakan makanannya melainkan menatap Putri tanpa berkedip, membuat Putri tersipu malu karenanya.


“Kamu mau sarapan, atau mau mandangin aku terus? Nggak ada bosen-bosennya.” tegur Putri.


“Aku mau memandangimu sepanjang hari, aku takut ini mimpi.” gombal Vian, membuat Putri mendaratkan sebuah cubitan di lengannya.


“Berhenti menggodaku, cepat makan.” perintah Putri dengan serius.


“Baik Tuan Putri.”sahut Vian seraya mulai menikmati roti selai yang Putri hidangkan.


Sarapannya pagi ini cukup sederhana, tapi bagi Vian, ini adalah sarapan terbaik di dalam hidupnya. Meskipun hampir sama dengan hari-hari kemarin, tetapi Vian merasa  kali ini jauh berbeda. Mungkin karena efek dia terlalu bahagia, segala sesuatu terasa


lebih menyenangkan.


“Hari ini temani aku jalan-jalan. Aku ingin menghabiskan seharian ini bersamamu. Kamu mau kan, Put?”


“Aku tidak akan menolakmu, Vian. Asalkan itu membuatmu merasa bahagia, mari kita lakukan bersama.”  Jawaban Putri membangkitkan semangat Vian. Dia tidak akan menyiakan kesempatan ini untuk menunjukkan rasa cintanya pada wanita itu.


“Salah, bukan membahagiakan untukku, tetapi untuk kita berdua. Di dalam pernikahan kita, aku tidak ingin hanya aku yang merasa bahagia, kamu juga harus merasakannya. Dengar?”


“Iya. Aku mendengarnya dengan baik Tuan Vian. Terima kasih untuk segalanya, aku bahagia dapat berada di posisiku yang sekarang. Aku bahagia menjadi istrimu.” Putri tidak bisa menyembunyikannya, dia harus mengakui perasaannya, bahwa ia sangat bahagia berada di samping Vian saat ini.


“Sama-sama, Sayang. Aku juga bahagia dapat memilikimu.” Vian meraih tangan Putri dan mengecup punggung tangan wanitanya itu dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2