Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 9


__ADS_3

Hari pernikahan tiba. Rumah nenek Vian telah di sulap menjadi tempat pernikahan yang mewah. Meski pernikahan hanya di hadiri oleh keluarga inti,beberapa kenalan, karyawan kantor dan rekan neneknya, tapi suasana pernikahan sangat meriah.


Putri telah di dandani bak Putri Raja dengan gaun mewah berhiaskan berlian yang merupakan gaun pernikahan turun menurun tetapi gaun itu tetap indah dari waktu ke waktu.


Gaun dengan warna putih bersih itu tampak kontras dengan kulit Putri yang juga putih. Gadis itu memandang pantulan dirinya di cermin, dia takjub dengan apa yang ia lihat. Sangat di sayangkan, ini bukan pernikahannya yang sebenarnya.


"Non putri, Tuan Vian sudah menunggu di depan pintu. Anda di haruskan keluar sekarang. Pesta akan segera dimulai." Seorang asisten wanita menyampaikan perintah itu dengan sopan. Acara akad memang telah di laksanakan beberapa jam lalu, kini tinggal pesta yang akan di laksanakan.


"Baik, saya akan segera keluar," Putri bangkit dari duduknya dan berjalan keluar kamar perlahan sambil mengangkat bagian bawah gaunnya yang kepanjangan.


Saat bertemu, untuk kesekian kalinya Vian terpana dengan kecantikan yang dimiliki oleh Putri. Hal itu membuatnya tertegun beberapa saat. Ia tidak bisa membohongi dirinya, jika kenyataannya Putri jauh mempesona jika di bandingkan dengan semua pacar-pacarnya.


Mungkin, apabila profesi Putri bukan seorang tukang cuci, ia bisa dengan bangga memamerkan Putri pada sahabat-sahabatnya. Vian mulai sadar dan menepis pikiran-pikiran anehnya. Ia teringat perjanjian itu, perjanjian yang mengikat dirinya dan Putri. Semuanya hanya barter, Putri hanya ia jadikan alat untuk mendapatkan pelimpahan harta warisan orangtuanya.


Memang cara ini cukup licik, tetapi Vian tidak memiliki pilihan, jika ingin harta orangtuanya di cairkan, maka ia harus menikah terlebih dahulu. Selama ia masih sendiri, harta tersebut akan terus beku. Dengan catatan, istri Vian harus sesuai dengan pilihan neneknya.


"Baiklah, Sayang. Ini saatnya kita berpesta. Ayo gandeng tanganku dengan mesra." Vian mempersiapkan tangannya untuk di gandeng oleh Putri.


"Tidak usah sok romantis, buaya. Ingat perjanjian kita, jangan sampai kamu sembarangan menyentuhku." Ancam Putri. Ia masih ingat dengan jelas apa yang ia usulkan pada Vian. Lelaki itu harus membiarkannya utuh sampai kontrak berakhir.

__ADS_1


Putri terpaksa menggandeng tangan Vian. Ia ingat harus bekerja dengan baik untuk gajinya sepuluh juta per bulan. Keluarganya di kampung sangat bergantung padanya. Ia tidak akan membiarkan keluarganya susah lagi mulai hari ini.


"Putri, jangan kasar begitu. Aku ini bagaimanapun adalah suamimu. Mana rasa hormatmu padaku?" tuntut Vian, ia sangat tidak tahan untuk sehari saja menghindari perdebatan dengan gadis yang telah menjadi wanitanya itu.


"Jangan bicara omong kosong, Vian. Kita sudah menyepakati semuanya. Jadi, mari kita jalankan sesuai dengan peraturan yang ada." ujar Putri tegas. Ia tidak ingin lemah di hadapan Vian. Dirinya juga harus waspada, lelaki itu tidak boleh mengambil kesempatan apapun untuk menyentuhnya.


"Tentu saja. Aku tidak akan melanggar perjanjian itu. Kamu dan aku hanyalah rekan kerja. Jadi, bekerjalah yang baik." Vian tampak sangat serius kali ini, ia melangkah dengan santai dan perlahan menuju ke pelaminan. Semua mata yang memandang mereka sangat terpesona dan merasa keduanya adalah pasangan yang serasi. Tanpa mereka sadari, sebenarnya Vian dan Putri adalah musuh, seperti kucing dan tikus.


"Lihat deh, pengantinnya serasi banget. pengantin prianya ganteng dan istrinya juga sangat cantik." komentar salah satu pengunjung.


"Benar, pasti nantinya anak mereka juga tampan atau cantik. Menggemaskan sekali. Mereka sangat cocok." Komentar pengunjung lainnya.


Begitulah beberapa komentar dari para tamu undangan terhadap kedua mempelai yang saat ini duduk anggun di hadapan mereka.


"Kamu harus bangga menjadi pendampingku, lihatlah, semua mata memandang ketampananku yang abadi." bisik Vian.


"Dasar sombong. Belum tentu juga mereka memandangmu karena kamu tampan, siapa tahu karena lipstikmu yang terlalu tebal." ledek Putri sambil sedikit menahan tawa.


"Jaga bicaramu, Putri. Kamu pikir aku wanita? Aku sama sekali tidak memakai lipstik, bibirku ini merah alami, kau tahu?!" ucapnya sedikit ketus. Putri justru puas melihat Vian terpancing amarah seperti itu.

__ADS_1


"Ingat ini dimana, Vian. Jangan asal marah. Kamu bilang harus bermain peran dengan baik, lalu kamu sendiri seperti apa? Apakah kamu ingin nenek tahu kalau kita saling berseteru?"hardik Putri pelan. Ia ingin mengingatkan Vian tentang misi mereka berdua.


"Ini semua gara-gara kamu. Kamu selalu memancing emosiku, Putri. Bisa tidak, sehari saja kamu menjadi cewek yang manis?" Bisik Vian lagi.


"Bisa, tetapi selain di depan lelaki buaya dan sombong sepertimu. Kalau aku melemah, bisa-bisa kau diam-diam akan menerkamku." balas Putri setengah berbisik pula sambil pura-pura tersenyum agar tampak mengobrol mesra dengan suaminya.


"Menerkammu? Jangan mimpi. Aku tidak akan mau menerkam kelinci bau sepertimu." ledek Vian masih sambil setengah berbisik pada Putri.


"Maaf, aku juga tidak sudi di terkam buaya buntung sepertimu. Jangan harap kau bisa melakukan itu padaku." ujar Putri ketus dan kemudian memandang ke arah lain. Ia cukup kesal pada Vian yang tidak pernah mau mengalah dan memilih untuk terus berdebat dengannya.


"Jangan lupa, malam ini kamu tidur sekamar denganku. Kamu juga tidak boleh tergoda dengan tubuh indahku."lagi-lagi Vian memulai perdebatan.


"Vian,tubuh indah yang mana yang sedang kamu katakan? Kau begitu mencintai dirimu sendiri, sampai melebih-lebihkan seperti itu. Sungguh menyedihkan." cibir Putri. Sungguh, ia ingin segera berakhir hari ini. Supaya ia tidak lagi bersanding dengan lelaki konyol dan sombong di sampingnya itu. Sampai Putri lupa, ia akan selalu melihat wajahnya setiap hari selama satu tahun ke depan.


"Harus. Aku harus mencintai setiap apa yang aku miliki. Uang, jabatan, wajah tampan dan tubuh atletis, aku punya segalanya yang para wanita impikan. Kecuali Kau, karena mungkin Kamu adalah wanita jadi-jadian." ledek Vian dengan bangga. Dia sangat puas mengata-ngatai Putri kali ini.


"Sombong sekali anda Tuan Vian, untung saja kamu bukan suamiku yang sesungguhnya. Bukan aku yang wanita jadi-jadian, sepertinya kamu yang harus di ragukan sebagai laki-laki karena terlalu narsis." Putri tertawa kecil. Entah apa yang para tamu undangan tangkap dari prilaku pasangan pengantin itu. Yang jelas keduanya terus saja berdebat sampai sesi foto di mulai.


Beberapa jam kemudian pesta itu berakhir dan mereka dapat bernafas lega. Vian membawa Putri ke kamarnya yang terletak di kamar utama.

__ADS_1


"Duduklah disana. Nanti akan datang orang-orang yang membantumu mengurus riasanmu. Aku mau mandi dulu. Jangan pernah berpikir untuk mengintip." Vian segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Putri tidak menyahut, ia kelelahan tidak berapa lama perias khusus keluarga datang untuk mencopot baju dan membersihkan riasan di wajah Putri.


__ADS_2