Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 54


__ADS_3

Baru setengah perjalanan, Vian sudah tampak begitu lelah, hingga membuat Putri tidak tega melihatnya. Tepat seperti dugaan Putri, Vian tidak akan kuat melakukan perjalanan jauh melewati jalan yang tidak sehalus di


tempat tinggalnya yang berada di kota besar.


“Kamu lelah?” tanya Putri karena melihat Vian yang terus berusaha dia  baik-baik saja.


“Nggak, aku baik-baik aja, kamu kalau mau tidur, tidur aja. Vian meyakinkan Putri kalau dirinya tidak merasa lelah sedikitpun, padahal berulang kali Vian tertangkap basah oleh Putri memijit bahu dan dan lehernya.


“Jangan pura-pura. Aku tahu, kamu kelelahan. Sekarang kamu istirahat, tidur di sini.” Putri menepuk pahanya berulang, dia mempersilahkan Vian menjadikannya sebagai bantal.


“Tapi...,”


“Nggak ada tapi, aku maksa. Cepetan.” Putri menarik kemeja Vian supaya menuruti keinginannya. Karena rasa letih yang menyerangnya, Vian tidak lagi beralasan untuk menolak, dia merebahkan dirinya dan menjadikan paha


Putri sebagai bantalnya.


“Bangunin aku setelah kita sampai.” Pesannya, Putri tersenyum dan mengangguk. Di elusnya rambut Vian agar lelaki itu cepat terlelap.


Vian merasa sangat nyaman meskipun tidur bukan pada tempatnya. Dia memilih menghadapkan wajahnya ke perut Putri agar bisa memeluk wanitanya itu. Belaian Putri yang begitu lembut membuatnya terlelap.


Putri terus mengelus rambut Vian, wanita itu memandangi suaminya tanpa ada rasa bosan. Diam-diam dia membayangkan reaksi keluarganya saat mengetahui lelaki yang bersamanya saat ini adalah suaminya, mungkinkah ayahnya akan marah lalu mengusirnya karena menikah tanpa meminta restu terlebih dahulu? Apapun nanti yang terjadi, Putri akan membantu Vian meyakinkan keluarganya kalau dia mampu menjadi suami yang baik untuknya.


Putri sangat bersyukur, pernah bekerja di tempat pencucian baju, Putri juga senang karena membuat kemeja kesayangan Vian terkena lunturan sesuatu, jika bukan karena itu semua, Putri tidak akan bertemu dengan lelaki


sombong menyebalkan yang sekarang tidur di pangkuannya seperti kucing kecil itu.


Kehidupan percintaan mereka memang sedikit dramatis, tetapi semua itu adalah proses yang manis dan


Putri menikmati semuanya. Meskipun saat awal Vian selalu menguji kesabarannya, tetapi di balik itu semua,Vian adalah pria yang romantis, lebih dari yang di bayangkannya sebelumnya. Sejak dia menjadikan Vian sebagai sandarannya saat hatinya terluka karena Raihan, sejak itu juga Putri mulai merasakan sisi hangat Vian.


Kebersamaan yang berlangsung lama memang selalu membuahkan sebuah perasaan. Meskipun tidak sepenuhnya pernyataan itu benar, tetapi banyak yang telah membuktikannya. Begitu pula Vian dan Putri.  Awalnya semuanya baik dan sesuai jalur keprofesionalan, tetapi seiring waktu, perasaan mulai tumbuh di antara keduanya

__ADS_1


hingga menjadi seperti sekarang. Keduanya kini merasa saling memiliki dan tidak ingin terpisahkan lagi.


Takdir. Mungkin kata itu yang menyatukan mereka. Ketika kehilangan dan di tinggalkan membuat mereka tersakiti, keduanya pun menyatu dan menjadi obat bagi satu sama lain. Semuanya memang tidak ada yang abadi,


keabadian hanya milik pencipta alam dan isinya, tetapi Putri berharap, cintanya dan Vian tetap bersatu sampai akhir.


Hari semakin malam, Putri melongok dari kaca mobil Vian, mereka hampir sampai. Wanita itu sebenarnya tidak tega membangunkan suaminya yang kelelahan dan sangat pulas tidurnya. Bahkan saat Putri menggeser


kepalanya, Vian tidak terbangun.  Putri mencoba menyentuh pipi dan hidungnya, tetap saja lelaki itu tidak bergeming.


“Sayang, bangun. Kita sudah hampir sampai di rumah orangtuaku.” Bisik Putri perlahan takut membuat Vian kaget. Perlahan mata lelaki itu terbuka dan bangkit perlahan dari posisi tidur nyamannya yang


sebenarnya membuat paha Putri menjadi mati rasa.


“Masih jauh nggak, Put?”  tanyanya saat benar-benar sadar sepenuhnya.


“Sekitar lima puluh meter lagi. Kamu sudah siap kan?” Putri menatap Vian, salah satu tangannya menggenggam erat tangan pria itu.


“Siap ataupun nggak siap, aku harus siap. Ini adalah perjuangan yang mendebarkan, semoga orangtua kamu menerimaku, kalau nggak terima pokoknya harus terima.” Vian menyemangati dirinya sendiri, membuat Putri


“Semangat, Sayangku. Kamu pasti bisa, kok. Buktikan sama aku kalau kamu benar-benar lelaki sejati.” Bisik Putri.


“Jadi setelah apa yang kita lakukan, kamu masih menganggap aku bukan lelaki?” Vian balas berbisik, mendengar itu, Putri mendaratkan cubitan kecil di pinggang Vian.


“Bukan itu maksudku, dasar mesum!” umpat Putri sambil tertawa. Candaan mereka sebenarnya bertujuan untuk mengurangi ketegangan dan kegugupan yang sedang melanda keduanya.


“Cubitan kamu memang super pedas. Kalau di misalkan sambel, udah level dua puluh.” Ledek Vian sambil merapikan bajunya agar tidak terlalu terlihat berantakan di hadapan mertuanya.


“Sudah tahu super pedas, tetapi kamu masih selalu ingin merasakannya, iya kan?”Putri menaikkan alisnya berkali-kali.


“Habisnya itu cubitan cinta, bagaimana bisa menolaknya?” Vian terkekeh.

__ADS_1


“Gombal. Nah, itu rumahku di depan sana, sebelah kiri. Pak Bimo, kiri Pak, rumah papan yang di depannya ada bangku kayu.” Putri mengingatkan Bimo.


“Baik, Nyonya.” Sahut Bimo patuh.


Rasanya dada Vian sedikit sesak. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya kembali agar sedikit tenang. Saatnya telah tiba, sekarang sudah tiba waktunya dia berjuang untuk mendapatkan restu dari orangtua wanita yang dia cintai. Saat mobil berhenti, Vian dapat melihat dari dalam mobil, orangtua dan adik-adik Putri sudah menyambut mereka di halaman depan rumah.


Putri turun terlebih dahulu dan langsung di sambut dengan pelukan oleh ayah dan ibunya, jua Adit, adiknya yang telah remaja. Sementara Vian masih diam membatu, bahkan Bimo sudah menurunkan koper mereka. Beruntung, Vian segera tersadar, dia tidak bisa seperti ini. Jika mau kembali pun sudah terlambat, dia sudah berada di depan rumah Putri sekarang.


Perlahan, Vian turun dari mobil. Kedua orangtua Putri menatapnya dari ujung kaki, hingga ujung kepala. Keberanian yang sudah Vian kumpulkan mendadak luntur, kakinya sedikit gemetar. Ini tidak semudah yang dia


bayangkan sebelumnyaa.


“Pak, Putri benar-benar membawa seorang lelaki dari kota. Ganteng banget ya, Pak. Pasti anak orang kaya. Lihat bajunya, sepertinya semuanya serba mahal.” Bisik Marni pada suaminya tetapi terdengar samar-samar di


telinga Vian.


Putri tahu kesulitan yang sedang di rasakan oleh Vian, ia segera menghampiri lelaki itu dan menggandeng tangannya tanpa malu-malu. Dia ingin memberikan Vian keberanian di hadapan orangtuanya.


“Dia siapa, Put?” tanya Parman dengan tatapan mencurigai.


“Bagaimana kalau kita bicaranya di dalam rumah? Nggak enak nanti di lihat tetangga.” Putri mengingatkan kedua orangtuanya.


“Baiklah, mari masuk. Silahkan, silahkan, maaf rumah kami sedikit sempit.” Kata Marni Ramah, dia memberikan senyuman kepada Vian yang belum berbicara sepatah katapun.


“Pak, tolong koper kami di bawa masuk juga, ya.” Pesan Putri dengan sopan pada Bimo.


“Baik, Nyonya.” Seperti biasa, Bimo selalu patuh.


Semuanya sudah berkumpul, termasuk Bimo.  Vian dan Putri duduk bersebelahan di hadapan Parman dan Marni.


“Jadi, siapa lelaki yang ada di samping kamu, Put? Apakah tidak ada rencana untuk mengenalkannya pada kami berdua?” tanya Marni sambil  tersenyum, beliau mencoba mencairkan suasana yang sedikit membeku.

__ADS_1


“Maf, pak, Bu. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya, Vian Wirayudha, saya adalah..., suami Putri.” Kalimat yang di ucapkan Vian membuat semua yang hadir kecuali Bimo dan Putri terkejut.


“Apa? Suami?!” seru Parman dan Marni hampir bersamaan.


__ADS_2