Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 68


__ADS_3

"Selamat datang kembali ke rumah, Sayang." Putri memeluk Vian saat lelaki itu melangkahkan kakinya masuk. Putri telah menunggunya begitu lama. Wanita itu mengeratkan pelukannya hingga menitikkan air mata. Nenek yang melihat kemesraan mereka sangat senang. Tanpa sadar, nenek juga menitikkan air mata.


"Terima kasih sudah menyambutku, Sayang. aku senang sekali kamu menyambutku dengan romantis. Kamu sehat, kan? Makin cabi aja pipinya." Vian menarik pipi Putri. Wanita itu beringsut, mengambil tas yang di tenteng Vian dan membawanya ke atas, di ikuti oleh Bimo yang mengangkat koper Vian.


Vian segera mencium tangan neneknya sebagai bentuk rasa hormat. Mereka berdua kemudian berjalan menuju ruang keluarga untuk membicarakan hasil perjalanannya ke Malaysia.


"Bagaimana, Vian? Apakah semuanya sudah beres? Aku merasa tidak tenang beberapa hari ini. Aku gelisah memikirkan masa depan perusahaan peninggalan kakekmu itu." ungkap Nek Dewi.


"Nenek tenang saja. Semuanya aman terkendali. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku dan Bimo sudah mengurus semuanya. Aku dengar dari Bimo, katanya nenek sudah menyuruh orang untuk membersihkan rumahku, apa itu benar, Nek?" tanya Vian serius. Nenek tersenyum.

__ADS_1


" Iya, aku menyuruh beberapa orang untuk.membersihkan rumahmu, Vian. Mungkin kamu dalam waktu dekat ini sudah ingin pindah, nenek sudah mengizinkan kamu dan Putri untuk tinggal berdua." ujar nenek tampak sumringah.


"Tapi kan, Putri belum hamil, Nek." priotes Vian.


"Putri hamil atau belum, itu tidak menjadi masalah. Terpenting bagi nenek yang sebenarnya adalah kalian berdua saling mencintai." Nenek tertawa kecil sambil menyeruput tehnya yang sudah dingin karena sejak tadi tersedia di sana.


"Jadi, sebenarnya itu yang Nenek tunggu selama ini?" koreksi Vian.


"Oh, jadi nenek selama ini curang, ya? Sengaja membuat alasan supaya kami tetap tinggal?" ledek Putri yang juga ikut bergabung di antara mereka.

__ADS_1


"Bukan curang, Putri, kalau nenek membiarkan kalian pindah, Vian pasti tidak akan jatuh cinta sama kamu seperti sekarang. Dia pasti masih bersama Vanessa." nenek menjelaskan alasannya. Vian dan Putri saling berpandangan.


Lalu keduanya menatap nenek dengan wajah ceria.


"Nek, aku dan Putri sudah sepakat untuk tinggal di sini bersama nenek. Rumahku akan aku berikan pada mertua dan adik-adik. Mereka membutuhkan rumah yang layak untuk tinggal. Apakah nenek keberatan kalau kami tinggal di sini selamanya?" tanya Vian, mata nenek berkaca-kaca.


"Kalian serius, mau tinggal bersama nenek?" nenek Dewi meminta kepastian dari ucapan Vian. Vian dan Putri kembali saling pandang.


"Kami serius Nenek. Kami akan tinggal di sini selamanya, menemani nenek." sekarang Putri yang memberikan keterangan. Nenek beranjak dari duduknya, lalu duduk di tengah-tengah Vian dan Putri. Nenek memeluk mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian tahu, kalian berdua adalah sumber kebahagiaan nenek. Nenek sangat senang karena kalian mengambil keputusan yang membuat nenek lega. Nenek sempat berpikir kalau nenek akan tinggal seorang diri di rumah ini dan kesepian setelah kalian pindah. Syukurlah, ternyata itu hanya mimpi buruk." nenek menitikkan air mata. Beberapa hari ini, bahkan nenek sampai tidak selera makan.


"Putri tidak akan mungkin meninggalkan nenek kesayangan Putri." Putri mencium pipi Nek Dewi begitu pula dengan Vian. Ia melakukan hal yang sama pada nenek.


__ADS_2