Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 13


__ADS_3

Dion dan Vian menikmati secangkir kopi di kedai kopi yang terletak tepat di samping kantor Vian. Keduanya sama-sama memesan kopi ekspreso. Mereka tampak akrab dan saling bertukar pikiran satu sama lain.


Vian mengenal Dion saat pertama kali ia masuk bangku kuliah, saat itu Vian kuliah di kota Dion, sebagai orang baru, bertemu Dion adalah suatu keberuntungan tersendiri untuk Vian.


"Aku pikir, kamu udah nikah, Bro. Masih pacaran sama si Vanessa?" Dion sedikit penasaran dengan kisah asmara sahabatnya itu.


"Belum, aku sama Vanessa belum ada kepikiran mau nikah. Dia masih banyak tawaran pemotretan di beberapa agensi, menurutnya menikah itu harus perlu persiapan mental, aku bisa apa selain mengikuti keinginannya, aku tidak mau kehilangannya, Bro." Vian mencurahkan isi hatinya pada sahabatnya itu.


"Apalagi yang kalian tunggu. Sudah sama-sama dewasa, mau nunggu kamu kakek-kakek?" Dion menertawakan Vian, pria itu hanya tersenyum kecut. Sebenarnya, lelaki itu memang belum menginginkan sebuah pernikahan meskipun usianya tidak muda lagi.


"Mungkin beberapa tahun lagi, kamu sendiri serius lagi cari calon istri?" Vian masih penasaran dengan ucapan sahabatnya, serius atau hanya bercanda.


"Aku serius, Vian. Mamaku ingin aku segera menikah. Aku sendiri juga sudah lelah hidup sebatang kara. Setiap hari, seorang diri di rumah besarku itu terasa membosankan." ungkap Dion mengutarakan apa yang ia rasakan saat ini. Ia merasa membutuhkan seorang pendamping hidup.


Vian berpikir sejenak. Dia memang kesepian saat di rumahnya, semenjak ada Putri, hidupnya menjadi sedikit berbeda dari biasanya. Ia menyadari ada hal yang tidak biasa semenjak ia mengenal gadis itu.


"Wah, baguslah. Semoga segera ketemu jodoh." sahut Vian cepat. Ia menyeruput kopinya perlahan.


"Mana nomor ponsel sekertarismu? Dia sudah punya pacar belum?" Dion nampak antusias saat membahas putri, entah mengapa Vian sedikit merasa tidak senang, padahal jelas-jelas dia tidak ada perasaan apa-apa dengan putri dan mereka berdua seperti kucing dan tikus.


"Oh, ini dia nomornya. Soal dia punya pacar apa belum, aku tidak tahu. Kamu bisa menanyakannnya sendiri padanya." Vian menyodorkan ponselnya pada Dion dengan kontak Putri terpampang di sana.

__ADS_1


"Thank you, Bro. Dapet nemu dimana tuh sekertaris kamu, cantiknya nggak ngebosenin. Kamu beneran nggak ada rasa tertarik sama dia?" selidik Dion, membaca gerak-gerik Vian yang sedikit aneh.


"Nggaklah. Kamu kan tahu, aku udah sama Vanessa dan Putri bukan tipe aku. Mana mungkin aku bisa suka sama dia." sahut Vian sambil menyeruput kopinya lagi. Kalau masalah cantik, Vian sependapat dengan Dion, Putri memang cantiknya beda.


Sementara itu...


Putri sedikit kerepotan karena membawa banyak berkas juga tas kerja Vian. Daripada seperti sekertaris, Putri lebih mirip pesuruh pria sombong itu.


"Kak Putri! Sini Atika bantu. Apa-apaan sih, Bang Vian nyuruh Kakak bawa barang sebanyak ini." Atika, adik sepupu Vian yang mengetahui kerepotan Putri segera membantu.


"Sssst, Atika, jangan keras-keras, jangan mencolok dan jangan sampai orang lain tahu kalau aku ini istri Vian. Dia bisa marah nanti. Kalau di kantor, hubunganku dan dia hanya sebatas bos dan karyawan." Putri mengatakan itu pada Atika dengan berbisik. Tentu saja Vian tidak akan senang, kalau sampai rahasia hubungan mereka tersebar di kantor.


"Kenapa, Kak?" Atika balas berbisik.


"Oh, baiklah. Dasar Bang Vian, ada-ada saja maunya. Rasakan aja nanti, kalau Kak Putri ada yang naksir, baru deh, nyesel dia." oceh Atika sedikit kesal karena sikap Vian yang menurutnya sedikit aneh.


"Siapa yang akan naksir aku? Kamu bisa saja, Atika. Oh ya, ruangan Vian di sebelah mana?" selidik Putri yang penasaran, dimana ruangan Vian berada.


"Ikuti saja aku, Kak. Kakak dan Bang Vian tidak ada rencana bulan madu?" mendadak terpikir oleh Atika untuk menanyakan rencana bulan madu Vian dan Putri.


"Mmm... itu? Kami belum memikirkannya. Lagipula, kasihan nenek kalau harus tinggal sendiri dan kami justru asik jalan-jalan." Putri mencoba memberikan jawaban yang ia sendiri bingung, apakah jawabannya itu sudah benar. Untuk pernikahan pura-pura seperti ini, Putri bahkan tidak pernah memikirkan malam pengantin bersama Vian. Semuanya hanya bentuk profesional pekerjaan.

__ADS_1


"Tenang saja. Masalah nenek, kami semua bisa menemaninya. Kalian tidak perlu khawatir. Kakak bisa meminta pergi ke tempat bulan madu yang kakak sukai, lalu kakak juga bisa pergi selama mungkin. Cepat di pikirkan, Kak. Nenek sudah menginginkan seorang bayi dari pernikahan kalian." Atika terus menyerocos panjang seperti rel kereta api, sementara Putri hanya tersenyum tipis dan menahan tawa. Bulan madu? Jelas ia dan Vian tidak akan melakukan itu.


"Vian belum ingin punya bayi. Jadi mungkin kami akan menunda bulan madu kami sampai waktu yang tidak di tentukan. Apalagi sekarang pekerjaan Vian sedang sibuk-sibuknya." Putri menjawab asal, ia hanya berharap semoga jawabannya tepat.


"Apa?! Bang Vian bilang begitu?!" tanpa sadar Atika setengah berteriak, beruntung saat itu belum terlalu banyak yang datang, jadi masih sedikit terkendali.


"Kamu kenapa teriak-teriak, Atika." Putri menegur Atika yang sedikit lepas kontrol.


"Maaf, maaf. Aku sedikit histeris saat mengetahui Bang Vian belum ingin punya anak. Dia nunggu apalagi, Sih? Padahal umurnya sudah cukup dewasa." gerutu Atika, ia tidak setuju dengan sikap Vian yang menurutnya salah mengambil keputusan.


"Mungkin dia belum ingin di panggil ayah." Putri mencoba membuat lelucon, ia tertawa meski ia tahu itu cukup garing. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan berharap obrolannya dengan Atika ini segera berakhir.


"Dasar. Sudah menikah masih ingin tetap tampak muda saja si abang. Asal tidak balik jadi playboy lagi saja. Kalau dia masih seperti itu, pastilah nenek akan sangat marah padanya." Atika kembali menyerocos, menceritakan tentang kebiasaan Vian mengoleksi para wanita.


"Eh, maaf. Kakak sudah tahu kan kebiasaan Bang Vian? Tapi itu dulu, kok. Aku yakin sekarang abangku tidak seperti itu." Atika mengklarifikasi karena merasa bersalah pada Putri. Ia tidak ingin wanita itu salah paham tentang kakaknya.


"Aku sudah tahu semuanya, jadi tidak perlu sungkan, Atika. Aku tidak masalah dengan masalalu Vian, aku mencintainya apa adanya. Aku juga sangat menyayanginya." perut Putri terasa mual saat harus mengucapkan kalimat ini. Sungguh, bermain drama ternyata cukup melelahkan untuk gadis itu.


"Terima kasih, Kak. Kak Putri sudah mencintai Abangku dengan apa adanya. Mmm.. oh ya, ini ruangan Bang Vian, silahkan masuk, Kak." Atika membukakan pintu untuk masuk mereka berdua.


Atika dan Putri segera meletakkan barang-barang yang mereka bawa ke atas meja Vian.

__ADS_1


"Kakak mau minum teh dulu, sambil menunggu Bang Vian datang?" Atika berinisiatif menawarkan teh pada Putri. Gadis itu sebenarnya tidak suka teh, tetapi ia tidak ingin mengecewakan sepupu Vian begitu saja.


"Boleh, Atika. Sebelumnya terima kasih." Putri berusaha bersikap sebaik mungkin. Putri senang, ada Atika yang bisa menjadi temannya di kantor Vian.


__ADS_2