Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 34


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, tiba waktunya Putri , Vian dan yang lainnya kembali ke Indonesia. Tetapi, Dion sempat menemui Putri dan Vian malam sebelumnya kalau ia belum bisa kembali ke Indonesia, begitu pula dengan Vanessa


yang mendadak mendapatkan tawaran pemotretan di Paris. Akhirnya, Vian dan Putri pulang berdua.


Kedekatan mereka beberapa hari selama di Paris membuat banyak perubahan, salah satunya mereka jadi terlihat lebih akrab, bahkan saat di bandara, Vian yang membawakan koper Putri.  Putri tersenyum geli saat melihat Vian menarik dua koper sekaligus, apalagi koper miliknya berwarna merah muda. Habisnya lelaki itu bersikeras


untuk tetap membawa koper Putri. Sepertinya, hubungan atasan dan bos sudah tidak terlalu tampak di antara mereka berdua.


Keduanya kompak memakai baju serba putih, Vian tampak sangat menawan dengan setelan jas putih dengan celana warna senada, sementara Putri, memakai dress selutut dengan aksen bunga-bunga kecil juga berwarna dasar Putih, tampak begitu anggun. Meskipun udara di Paris cukup rendah dan menusuk tulang.


“Putri, kamu nggak takut masuk angin?” goda Vian, sejujurnya dia senang dengan penampilan Putri hari ini,  bajunya membuat Putri semakin cantik, lebih cantik dari biasanya.  Polesan lipgloss di bibir Putri semakin


menambah kesan segar di wajah wanita itu, hingga membuat Vian ingin sekali mengecupnya, tentu saja itu tidak dapat ia lakukan.


“Hanya sebentar saja, kita akan segera terbang ke Indonesia,  jadi aku tidak akan membeku


hanya menunggu beberapa jam saja,”  sahut Putri dengan sangat ceria. Ia gembira, karena hanya akan berdua pulang dengan Vian. bahkan, Vian mengatur tempat duduk mereka bersebelahan. Ia cukup sadar


diri, siapa Vian dan Vian milik siapa, tetapi Putri ingin bahagia meskipun hanya sebentar saja di samping Vian. Berkali-kali, Putri memandangi wajah yang nyaris sempurna dari bos sekaligus suaminya itu, semakin di pandang, Putri semakin ingin melihatnya lagi dan lagi. Jantungnya seperti  bekerja lebih keras setiap berada di samping


Vian. gadis itu hanya bisa berharap dapat menyimpan perasaannya dengan Rapi.


“Kamu tidak akan beku selama ada aku di samping kamu.” Vian mencoba melontarkan gombalan pada Putri, membuat pipi gadis itu menampilkan semburat merah dan bibirnya melukiskan senyum yang begitu manis.


“Sejak kapan bos aku ini suka gombal!” Putri memukul pelan bahu Vian, membuat empunya meringis sedikit kesakitan. Kalau saja Vian bisa menghentikan waktu, ia ingin momen ini di perpanjang. Vian yang sudah hampir


berumur kepala tiga merasakan jiwa mudanya kembali bergelora saat berada di samping Putri. Meskipun, perasaannya ini hanya akan menjadi sekedar hiasan di dalam hubungannya dengan Vanessa. Meskipun sejujurnya, Vian ingin sekali memiliki Putri, tetapi wanita itu bukanlah perempuan sembarangan yang bisa ia


permainkan seperti pacar-pacarnya yang lain.

__ADS_1


Putri wanita yang cukup berprinsip, apa yang ia lakukan juga tampak sangat tulus, terlebih dia juga perempuan yang di sukai oleh neneknya. Semenjak mengenal Putri lebih jauh, ia juga menyadari perbedaan besar dari wanita


itu di bandingkan pacar-pacarnya, Putri tidak matre, ia mengambil pekerjaan darinya karena dia memang tulang punggung keluarga. Selama beberapa hari yang lalu, Putri sempat menceritakan bagaimana kehidupan keluarganya di kampung.


“Sepertinya semenjak dekat sama kamu deh, Put.  Oh ya, jangan lupa tunjukin foto-foto liburan


kita berdua  ke nenek, supaya beliau percaya kita benar-benar bulan madu.”  Vian mengingatkan Putri dengan beberapa momen romantisnya dengan Vian selama beberapa hari terakhir, Vian bilang, semuanya hanya untuk keperluan dokumentasi agar bisa di tunjukkan pada nenek dan setelah itu Putri boleh


menghapusnya, tetapi sepertinya Putri tidak akan melakukan itu. Bahkan, ia berencana untuk mencetak beberapa foto.


“Siap. Pak Bos!”  Putri meletakkan tangannya di pelipis, seolah-olah sedang memberi hormat kepada Vian dan sontak prilakunya itu membuat Vian menjadi gemas.  Putri semakin tampak menarik bagi pria berkulit putih itu.


“Put, terima kasih...”  ucap Vian sambil menatap Putri penuh arti,


“Terima kasih untuk apa?”Putri balik menatap Vian dengan tatapan penasaran.


“Kamu sudah


“Kamu juga sudah membantuku, pekerjaan ini sangat berarti buatku. Aku berharap, suatu hari


dapat membuatkan tempat tinggal yang layak untuk keluargaku.” Mata Putri tampak


berkaca-kaca saat mengingat kembali kondisi rumahnya yang sangat memprihatinkan.


“Cita-cita kamu sangat mulia, kamu pasti bisa, Put. Aku mendukungmu. Mmm... aku punya


permintaan, boleh?” pertanyaan Vian menyedot perhatian Putri,  gadis itu menerka-nerka, apa yang menjadi


permintaan Vian.

__ADS_1


“Tentu saja boleh,  kalau aku bisa mengabulkannya, pasti aku kabulkan. Asal jangan tiga permintaan, kalau tiga permintaan, mintanya jangan sama aku, tapi sama jin lampu ajaibnya Aladin.” Putri terkekeh


karena candaannya sendiri. Vian juga tidak mampu untuk menahan diri agar tidak tersenyum, hingga mata sipitnya nyaris tertutup.


“Bisa aja kamu, Put. Aku hanya mau satu permintaan, tetapi kamu wajib mengabulkannya.”


Vian  memasang muka serius, ia bahkan menghentikan langkahnya sejenak.


“Apaan, sih? Aku jadi makin penasaran dengan permintaan kamu. Jangan aneh-aneh, ya...”


Putri sedikit curiga pada Vian, pria itu hanya tersenyum mendengar pernyataan gadis di hadapannya.


“Aku nggak akan macam-macam kok, biasanya aku yang di apa-apain.” Sindir Vian, membuat


Putri kembali teringat kejadian malam itu. Seketika pipinya memerah seperti tomat.


“Jangan di ingetin lagi, aku malu.”  Putri menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia berusaha menyembunyikan pipi merah yang sebenarnya sudah di ketahui oleh Vian.


“Kan hanya kita berdua yang tahu, kenapa harus malu? Santai saja. Tentang permintaanku,


aku ingin ikut kamu pulang ke kampung, boleh, kan?” Putri cukup terkejut mendengar keinginan Vian.  Bagaimana pria yang biasa hidup mewah itu akan bisa bertahan di gubuk reot milik orangtuanya?


“Tapi, apa kamu yakin? Rumah orangtuaku sangat buruk, aku tidak yakin kamu akan betah saat


tinggal di sana.” Rasa khawatir menyelimuti hati Putri, ia tidak bisa membayangkan Vian tidur di atas kasur tipis yang hanya beralaskan tikar usang untuk membatasinya dengan lantai rumahnya yang masih tanah.


“ Aku janji, tidak akan merepotkanmu. Tolong, Put... izinkan aku ikut kamu ke desa.”  Harapan Vian sangat besar untuk dapat ikut Putri ke area tempat tinggalnya, ia tidak bisa membayangkan harus berpisah


beberapa hari dengan wanita itu, membayangkannya saa membuat Vian merasa sedih.

__ADS_1


“Baiklah, kalau kamu memaksa,  tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain mengabulkan. Sebelumnya aku hanya bisa memperingatkan, kalau tempat tinggalku di desa sudah sangat tidak layak.” Menurut Putri, tidak ada gunanya menutupi keadaannya, ia tidak pernah malu menunjukkan keadaan keluarganya, meskipun serba kekurangan, Putri merasa keluarganya yanga paling hebat.


“Put, aku hanya ingin mengenal keluargamu. Aku ingin tahu, bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang lengkap seperti keluargamu. Darimu aku belajar, kekayaan bukanlah segalanya. Aku ingin belajar hidup apa adanya.” Perkataan Vian tampak sangat tulus.  Tentu saja dengan senang hati Putri mengabulkannya.


__ADS_2