Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 38


__ADS_3

Perjalanan panjang yang mereka lalui akhirnya berakhir,setidaknya masih ada beberapa puluh menit lagi untuk tiba ke rumah. Vianmemandang iba Putri yang masih tertidur pulas dan mendekap tangannya. Perlahan


ia memberikan tepukan kecil di pipi gadis itu untuk membangunkannya.  Putri sedikit terkejut mendapati dirinya yang memeluk lengan Vian. gadis itu segera beringsut menjauh dari Vian.


Setelah menyelesaikan segala urusan di bandara, Vian membawa


Putri ke hotel terdekat. Terlalu lelah baginya harus kembali ke rumah dalam


waktu yang selarut ini. Neneknya juga sudah pasti telah terlelap. Putri yang


juga telah lelah hanya mengekor pasrah di belakang pria itu.


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia


menyadari Vian membawanya masuk ke area sebuah hotel.  Untuk apa? Toh, mereka sudah berada di


Indonesia, bukankah lebih baik segera kembali ke rumah? Pertanyaan-pertanyaan


itu mendorong Putri untuk meminta penjelasan dari Vian.


Putri segera melangkah cepat dan mendahului Vian, gadis itulalu menghalangi langkah Vian hingga pria tampan itu menghentikan langkahnyasecara tiba-tiba. Vian hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah Putri


yang menurutnya sedikit aneh.


“Vian, kenapa kamu membawaku ke sini? Bukankah lebih baik


kita segera pulang saja ke rumah?” Putri tampak sekali tidak setuju dengan


keputusan yang Vian ambil, sementara lelaki itu terus berjalan tanpa


memperdulikannya. Membuat gadis itu mendengus kesal.


“Vian, kenapa kamu mengabaikanku? Apa kamu benar-benar tidak


dapat mendengar aku bicara?” tanyanya lagi. Kali ini Vian menghembuskan nafas


kasar lalu berhenti melangkah untuk kedua kalinya.


“Ini sudah menjadi kebiasaanku setelah pulang dari luar


negeri, kalau kamu keberatan, silahkan pulang sendiri ke rumah, aku benar-benar


lelah.” Vian kembali meneruskan langkahnya tanpa memberikan kesempatan kepada


Putri untuk mencerna apa yang ia katakan.


“Argh! Egios. Bagaimana bisa aku pulang sendiri, bisa-bisa


aku tersesat. Apa-apaan juga sikapnya itu, tiba-tiba saa menjadi sekaku itu.”


gerutu Putri sambil terpaksa kembali berjalan mengikuti langkah Vian.


Lelaki itu kini tengah berada di hadapa seorang resepsionis

__ADS_1


hotel.


“Maaf, Pak, kamar yang tersisa hanya tinggal satu, dan


itupun dengan ukuran ranjang yang standar, kebetulan hari ini pengunjung hotel


kami sangat ramai, apakah bapak akan mengambilnya?” tanya resepsionis hotel itu


dengan sangat sopan.


“ Oh, kebetulan sekali mbak, saya hanya datang berdua dengan


istri saya, ranjang besar atau kecil itu tidak menjadi masalah.” Vian


memutuskan dengan cepat, ia hanya ingin segera beristirahat.


Tentu saja Putri yang tertinggal jauh tidak mendengar


percakapan Vian ini. Ia baru sampai dengan wajah tidak terlalu gembira.  Ia sedikit menahan kekesalan dengan sikap Vian yang mengabaikannya. Putri yang biasanya tersenyum hanya terdiam dan


murung.


Petugas hotel membawakan dua koper mereka, melihat Putri


yang terlihat tidak senang, Vian segera menghampirinya lalu menggandeng


tangannya. Putri berniat melepaskan tangannya dari genggaman tangan Vian,


tetapi lelaki itu cukup kuat sehingga tangannya tidak dapat lepas dari


“Kamu masih marah dengan sikapku tadi? Maaf, aku sudah


sangat lelah Putri. Biasanya aku memang menginap dulu, baru besok pagi-pagi


lanjut perjalanan ke rumah. Jarak dari sini ke rumah kan lumayan jauh. Jangan


marah lagi, dong.” Vian mencoba menghibur Putri, ia tidak ingin Putri


mengabaikannya seperti sekarang.


“Baiklah, aku tidak akan marah lagi. Aku juga minta maaf,ya. Aku sudah marah-marah tidak jelas terhadapmu.”  Putri akhirnya luluh dengan permintaan maafdari Vian, sementara lelaki itu merasa sangat bahagia karena Putri maumemberinya kesempatan.


Petugas hotel telah membukakan pintu kamar mereka berdua,


lalu memasukkan koper mereka, sementara Putri memainkan matanya, meminta


penjelasan kenapa mereka harus berada dalam satu kamar yang sama. Vian segera


menyeret Putri masuk ke dalam kamar  dan menguncinya setelah petugas hotel berlalu.


“Tidak ada lagi kamar, jadi kita akan tidur berdua di kamar


ini.” ucap Vian dengan entengnya seperti tanpa beban, berbeda dengan Putri yang

__ADS_1


tampak tidak berdaya harus berada dalam satu ruangan lagi bersama Vian.


meskipun di rumah nenek merek berdua tidur bersama, tetapi menurut Putri itu


berbeda dengan suasana saat ini. Putri takut terjadi hal yang tidak di inginkan.


“Tidur se-ka-mar? “ Putri tampak sangat gugup, ini aneh,  padahal ini bukan pertama kalinya


Vian dan Putri tidur bersama.


“Bukankah kita sudah sering melakukannya? Lalu, kenapa kamu harus terlihat aneh seperti sekarang?  Jangan-jangan kamu mulai tertarik padaku, Kan? Takut tidak bisa....”  saat menoleh Putri


sudah tidak ada di sampingnya, tetapi tidur di atas ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Vian hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak mengerti mengapa Putri berbuat seperti itu.  Ia


hanya berjalan menyusul Putri dan langsung merebahkan diri di samping Putri dan


terlelap. Sebaliknya, Putri yang saat di perjalanan terlelap justru tidak bisa


memejamkan matanya sekarang. Ia seperti merasakan dejavu di hotel tempatnya


menginap di Paris hari itu.


Karena selimutnya ia pakai, Vian hanya tidur meringkuk tanpa


selimut, ia tampak kedinginan, menyilangkan tangannya. Putri merasa tidak tega


melihatnya, lalu ia bangun dan menyelimuti Vian.  putri memandangi wajah tampan Vian yang saat


itu memang mengarah padanya.


Beruntung banget Vanessa, bisa di sayangi dan di cintai oleh seorang pria sesempurna Vian, tidak hanya karir, tetapi wajahnya juga.  Putri ingin menjadi egois sekali saja, ia ingin memiliki Vian sebentar saja.


“Maaf, Vian. biarkan aku memelukmu sebentar saja.”  Putri tahu, apa  yang ia lakukan adalah salah. Di sini bukan


Vian yang menyalahi kontrak, tetapi orang itu adalah dirinya. Berada di sisi Vian seperti candu, ia mau lagi dan lagi. Meskipun saat ini ia hanya bisa melakukannya secara diam-diam.


Putri mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Vian, Pria itu tidak bergeming sama sekali, Vian yang sangat kelelahan tertidur dengan pulas. Putri menggeser posisinya lalu kembali merebahkan diri dan memeluk Vian,


barulah ia bisa tidur terlelap.


Keesokan paginya, Vian terbangun terlebih dahulu, melihat Putri yang masih terlelap memeluknya, ia lebih memilih balas memeluk Putri dan kembali tidur. Sama seperti Putri, Vian juga selalu ingin menyentuh Putri saat


berada dekat di samping wanita itu. sekarang ia sedang berusaha keras untuk


tidak melakukan apapun, memeluk Putri itu sudah cukup.


Jika kamu selalu bersikap manja seperti ini, aku mungkin akan semakin susah untuk menjauh dari kamu, Put. Aku sudah merasa sangat nyaman berada di dekatmu.  Kalau saja, ku tidak berada di posisi ini, aku pasti menjadikanmu istriku yang sebenarnya. Ujarnya dalam hati.


Vian mulai merasakan perasaan yang lain di hatinya. Ada rasa


ingin memiliki Vanessa, tetapi ia tidak ingin terlihat egois, ia tidak mungkin

__ADS_1


menjalin hubungan dengan Putri, sementara Vanessa masih ada di dalam hatinya.


__ADS_2