
Perjalanan panjang yang mereka lalui akhirnya berakhir,setidaknya masih ada beberapa puluh menit lagi untuk tiba ke rumah. Vianmemandang iba Putri yang masih tertidur pulas dan mendekap tangannya. Perlahan
ia memberikan tepukan kecil di pipi gadis itu untuk membangunkannya. Putri sedikit terkejut mendapati dirinya yang memeluk lengan Vian. gadis itu segera beringsut menjauh dari Vian.
Setelah menyelesaikan segala urusan di bandara, Vian membawa
Putri ke hotel terdekat. Terlalu lelah baginya harus kembali ke rumah dalam
waktu yang selarut ini. Neneknya juga sudah pasti telah terlelap. Putri yang
juga telah lelah hanya mengekor pasrah di belakang pria itu.
Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ia
menyadari Vian membawanya masuk ke area sebuah hotel. Untuk apa? Toh, mereka sudah berada di
Indonesia, bukankah lebih baik segera kembali ke rumah? Pertanyaan-pertanyaan
itu mendorong Putri untuk meminta penjelasan dari Vian.
Putri segera melangkah cepat dan mendahului Vian, gadis itulalu menghalangi langkah Vian hingga pria tampan itu menghentikan langkahnyasecara tiba-tiba. Vian hanya bisa menghela nafas panjang melihat tingkah Putri
yang menurutnya sedikit aneh.
“Vian, kenapa kamu membawaku ke sini? Bukankah lebih baik
kita segera pulang saja ke rumah?” Putri tampak sekali tidak setuju dengan
keputusan yang Vian ambil, sementara lelaki itu terus berjalan tanpa
memperdulikannya. Membuat gadis itu mendengus kesal.
“Vian, kenapa kamu mengabaikanku? Apa kamu benar-benar tidak
dapat mendengar aku bicara?” tanyanya lagi. Kali ini Vian menghembuskan nafas
kasar lalu berhenti melangkah untuk kedua kalinya.
“Ini sudah menjadi kebiasaanku setelah pulang dari luar
negeri, kalau kamu keberatan, silahkan pulang sendiri ke rumah, aku benar-benar
lelah.” Vian kembali meneruskan langkahnya tanpa memberikan kesempatan kepada
Putri untuk mencerna apa yang ia katakan.
“Argh! Egios. Bagaimana bisa aku pulang sendiri, bisa-bisa
aku tersesat. Apa-apaan juga sikapnya itu, tiba-tiba saa menjadi sekaku itu.”
gerutu Putri sambil terpaksa kembali berjalan mengikuti langkah Vian.
Lelaki itu kini tengah berada di hadapa seorang resepsionis
__ADS_1
hotel.
“Maaf, Pak, kamar yang tersisa hanya tinggal satu, dan
itupun dengan ukuran ranjang yang standar, kebetulan hari ini pengunjung hotel
kami sangat ramai, apakah bapak akan mengambilnya?” tanya resepsionis hotel itu
dengan sangat sopan.
“ Oh, kebetulan sekali mbak, saya hanya datang berdua dengan
istri saya, ranjang besar atau kecil itu tidak menjadi masalah.” Vian
memutuskan dengan cepat, ia hanya ingin segera beristirahat.
Tentu saja Putri yang tertinggal jauh tidak mendengar
percakapan Vian ini. Ia baru sampai dengan wajah tidak terlalu gembira. Ia sedikit menahan kekesalan dengan sikap Vian yang mengabaikannya. Putri yang biasanya tersenyum hanya terdiam dan
murung.
Petugas hotel membawakan dua koper mereka, melihat Putri
yang terlihat tidak senang, Vian segera menghampirinya lalu menggandeng
tangannya. Putri berniat melepaskan tangannya dari genggaman tangan Vian,
tetapi lelaki itu cukup kuat sehingga tangannya tidak dapat lepas dari
“Kamu masih marah dengan sikapku tadi? Maaf, aku sudah
sangat lelah Putri. Biasanya aku memang menginap dulu, baru besok pagi-pagi
lanjut perjalanan ke rumah. Jarak dari sini ke rumah kan lumayan jauh. Jangan
marah lagi, dong.” Vian mencoba menghibur Putri, ia tidak ingin Putri
mengabaikannya seperti sekarang.
“Baiklah, aku tidak akan marah lagi. Aku juga minta maaf,ya. Aku sudah marah-marah tidak jelas terhadapmu.” Putri akhirnya luluh dengan permintaan maafdari Vian, sementara lelaki itu merasa sangat bahagia karena Putri maumemberinya kesempatan.
Petugas hotel telah membukakan pintu kamar mereka berdua,
lalu memasukkan koper mereka, sementara Putri memainkan matanya, meminta
penjelasan kenapa mereka harus berada dalam satu kamar yang sama. Vian segera
menyeret Putri masuk ke dalam kamar dan menguncinya setelah petugas hotel berlalu.
“Tidak ada lagi kamar, jadi kita akan tidur berdua di kamar
ini.” ucap Vian dengan entengnya seperti tanpa beban, berbeda dengan Putri yang
__ADS_1
tampak tidak berdaya harus berada dalam satu ruangan lagi bersama Vian.
meskipun di rumah nenek merek berdua tidur bersama, tetapi menurut Putri itu
berbeda dengan suasana saat ini. Putri takut terjadi hal yang tidak di inginkan.
“Tidur se-ka-mar? “ Putri tampak sangat gugup, ini aneh, padahal ini bukan pertama kalinya
Vian dan Putri tidur bersama.
“Bukankah kita sudah sering melakukannya? Lalu, kenapa kamu harus terlihat aneh seperti sekarang? Jangan-jangan kamu mulai tertarik padaku, Kan? Takut tidak bisa....” saat menoleh Putri
sudah tidak ada di sampingnya, tetapi tidur di atas ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Vian hanya mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak mengerti mengapa Putri berbuat seperti itu. Ia
hanya berjalan menyusul Putri dan langsung merebahkan diri di samping Putri dan
terlelap. Sebaliknya, Putri yang saat di perjalanan terlelap justru tidak bisa
memejamkan matanya sekarang. Ia seperti merasakan dejavu di hotel tempatnya
menginap di Paris hari itu.
Karena selimutnya ia pakai, Vian hanya tidur meringkuk tanpa
selimut, ia tampak kedinginan, menyilangkan tangannya. Putri merasa tidak tega
melihatnya, lalu ia bangun dan menyelimuti Vian. putri memandangi wajah tampan Vian yang saat
itu memang mengarah padanya.
Beruntung banget Vanessa, bisa di sayangi dan di cintai oleh seorang pria sesempurna Vian, tidak hanya karir, tetapi wajahnya juga. Putri ingin menjadi egois sekali saja, ia ingin memiliki Vian sebentar saja.
“Maaf, Vian. biarkan aku memelukmu sebentar saja.” Putri tahu, apa yang ia lakukan adalah salah. Di sini bukan
Vian yang menyalahi kontrak, tetapi orang itu adalah dirinya. Berada di sisi Vian seperti candu, ia mau lagi dan lagi. Meskipun saat ini ia hanya bisa melakukannya secara diam-diam.
Putri mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Vian, Pria itu tidak bergeming sama sekali, Vian yang sangat kelelahan tertidur dengan pulas. Putri menggeser posisinya lalu kembali merebahkan diri dan memeluk Vian,
barulah ia bisa tidur terlelap.
Keesokan paginya, Vian terbangun terlebih dahulu, melihat Putri yang masih terlelap memeluknya, ia lebih memilih balas memeluk Putri dan kembali tidur. Sama seperti Putri, Vian juga selalu ingin menyentuh Putri saat
berada dekat di samping wanita itu. sekarang ia sedang berusaha keras untuk
tidak melakukan apapun, memeluk Putri itu sudah cukup.
Jika kamu selalu bersikap manja seperti ini, aku mungkin akan semakin susah untuk menjauh dari kamu, Put. Aku sudah merasa sangat nyaman berada di dekatmu. Kalau saja, ku tidak berada di posisi ini, aku pasti menjadikanmu istriku yang sebenarnya. Ujarnya dalam hati.
Vian mulai merasakan perasaan yang lain di hatinya. Ada rasa
ingin memiliki Vanessa, tetapi ia tidak ingin terlihat egois, ia tidak mungkin
__ADS_1
menjalin hubungan dengan Putri, sementara Vanessa masih ada di dalam hatinya.