
“Berhenti minum, Vian!” Putri merebut gelas minuman yang ada di tangan Vian. Pria itu tampak
sudah terpengaruh alkohol. Sepertinya ia sedikit frustasi karena perubahan Vanessa.
“Aku masih kuat, kembalikan gelasku.” Vian berusaha merebut gelas yang ada di
tangan Putri. Wanita itu segela mengelak dan beranjak dari duduknya. Menjauhkan gelas dan botol minuman itu dari jangkauan Vian.
“Kamu bilang mau cerita, tetapi Kamu justru mabuk seperti ini. Sebaiknya, sekarang Kamu tidur, Vian. Biar aku bantu..” Putri berusaha membantu Vian untuk bangkit dari tempat duduknya semula menuju ranjang dengan
susah payah.
“Aku bisa jalan sendiri!” Vian menepis tangan Putri dan berusaha berjalan seorang diri, alhasil, jalannya yang sempoyongan membuatnya hampir terjatuh, beruntung Putri sigap dan segera menangkap tubuh Vian.
“Udah nggak kuat masih mengaku kuat. Dasar Vian, saat mabuk, sifat angkuhnya masih
terlihat juga.” gerutu Putri sedikit kesal.
Putri segera menghempaskan tubuh Vian ke kasur. Menaikkan kedua kaki pria itu setelah melepas sepatu yang di kenakannya terlebih dahulu. Lelaki itu masih terus menggumam tidak jelas saat Putri berusaha membenarkan letak bantal yang ada di kepala dan menutup tubuh Vian dengan selimut.
“Sok kuat, hanya karena pacar saja sampai seperti ini. Sungguh di luar dugaan. Sepertinya
sebelum tidur aku harus sedikit merapikan kekacauan ini.” Putri bergegas merapikan lantai kamarnya yang sedikit berantakan setelah yakin Vian sudah di urus olehnya dengan benar.
Hari sudah selarut itu, Putri terlalu lelah untuk terjaga lebih lama lagi. Setelah semuanya kembali seperti semula, gadis itu segera menggosok giginya, cuci muka dan merebahkan diri di samping Vian. Sejak kapan pastinya, Putri tidak menyadari, pria di sampingnya itu tertidur pulas.
Mata Putri sulit terpejam, ia terus memandangi wajah tampan pria yang berbaring di sampingnya. Ada keinginan gila yang tiba-tiba terlintas di pikiran Putri, ia ingin mencoba mencium Vian. Gadis itu mengacak rambutnya
sendiri untuk membuyarkan pikiran mesum yang ada di otaknya sekarang.
__ADS_1
Tetapi rasa penasaran yang melanda Putri membuatnya mengabaikan akal sehatnya. Diam-diam menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Vian. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati supaya pria itu tidak terjaga
dari tidurnya. Putri memandangi bibir Vian yang merah alami, semakin menatapnya, semakin besar keinginan Putri untuk merasakannya. Meskipun sebelumnya sudah pernah saat insiden di kantor Vian.
“Maaf, Vian. “ Putri menghilangkan jarak di antara wajah mereka. Gadis itu memejamkan matanya
saat merasakan kelembutan bibir mereka beradu. Tanpa ia sadari, Vian membuka matanya dan tersadar, namun ia lebih memilih untuk diam dan membiarkan sampai mana Putri akan bertindak. Anehnya, Vian tidak ingin menolak perlakuan Putri dan justru menikmatinya.
Masih dalam keadaan memejamkan mata, tanpa sadar Putri meraba wajah lelaki itu. Vian menahan dirinya sekuat mungkin agar tidak bereaksi, tetapi ia adalah lelaki normal, bagaimanapun, ia tentu saja memiliki
hasrat apalagi di goda seperti itu. perlahan, pertahanan Vian goyah, ia mendorong tubuh Putri perlahan dan beralih posisi menjadi di atas gadis itu.
Vian membalas perlakuan Putri dengan lebih intens. Sejenak, mereka melupakan status mereka saat ini. Bahkan, dengan santainya, Putri mengalungkan kedua tangannya ke leher Vian dan membiarkan waktu beralan dengan
begitu romantis. Sesaat kemudian, gadis itu tersadar dengan apa yang telah ia lakukan bersama Vian, namun ia tidak bisa menahan gejolak di hatinya, ia mulai memiliki keinginan untuk memiliki Vian, meskipun dia tahu, keinginannya hanya akan membuatnya sakit, karena pria itu berada jauh dari jangkauannya.
“Maafkan aku, Putri... aku sudah...”
imut.
“Aku yang memulainya, aku yang seharusnya minta maaf padamu. Mari kita anggap segala yang sudah terjadi malam ini tidak pernah terjadi.” Putri segera membuang pandangannya ke sisi kamar yang lain, sementara Vian
dengan segera kembali ke posisi tidurnya yang semula.
“Bagaimana aku bisa lupa, apa yang Kamu lakukan membuat aku tersentuh.” Gumam Vian sangat pelan, sehingga Putri hanya mendengarnya sayup-sayup.
“Kamu bicara apa?” Putri berharap Vian mengulang apa yang ia katakan.
“Lu-lupakan saja. Put...” panggil Vian tanpa menengok sedikitpun ke arah Putri. Mendadak ia salah tingkah di hadapan wanita itu. jantungnya juga masih berdebar-debar.
__ADS_1
“Ada apa?” Putri menjawabnya juga tanpa menoleh ke arah Vian, ia justru menatap langit-langit kamar tanpa berkedip.
“Apa kamu jatuh cinta padaku?” pertanyaan Vian membuat Putri menatap cengo kearahnya.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Putri mengakui kalau ia tertarik pada Vian, tetapi ia tidak ingin di anggap menjadi orang ketiga yang memanfaatkan keretakan hubungan Vian dan Vanessa dan masuk kedalamnya secara
perlahan. Lagipula, Putri menyadari, ia tidak akan pernah mendapatkan tempat di hati Vian.
“Tidak. Jangan salah paham, apa yang aku lakukan barusan hanyalah sebagai reaksi dari rasa penasaranku. Aku tahu diri, siapa diriku, sehingga aku tidak akan membiarkan hatiku mengharapkanmu. Sudahlah, hari sudah larut, sebaiknya kita tidur.” Putri menarik selimut dan membelakangi Vian. Gadis itu tidak mampu menutup matanya,
tanpa terasa, air matanya meleleh.
Bodoh! Kenapa kamu harus memiliki perasaan pada Vian, Put. Sejak kapan perasaanmu ke Raihan pindah ke Vian? Harusnya kamu sadar, semuanya hanya akan membuat kamu terluka. Vian tidak akan pernah membalas perasaanmu. Batin Putri trenyuh, ada rasa perih di sana.
Di sisi lain, Vian pun sama. Ia menyentuh bibirnya sendiri. Sentuhan lembut yang Putri berikan masih membekas di sana. Bayangan wajah Vanessa dan Putri bergantian membayanginya. Ia masih sangat mencintai Vanessa, tetapi Vian juga tidak mampu menahan pesona Putri. Vian mengacak rambutnya sendiri, kemudian ia berusaha untuk memejamkan mata, meskipun hasilnya nihil, matanya tetap terjaga.
Keesokan harinya, Putri terbangun dari tidurnya saat sinar matahari telah menembus kaca jendela dan hordeng tipis yang menutupinya. Putri meraih ponselnya yang terletak di atas nakas, menghidupkannya dan melihat angka
sembilan terpampang di sana.
Di atas nakas juga terdapat makanan dan secarik kertas berisikan pesan...
Habiskan sarapan ini setelah kamu bangun. Awalnya aku ingin membangunkanmu, tetapi tidak tega. Aku pergi
dulu, terima kasih untuk semalam. Vian.
Putri tersenyum saat membaca pesan singkat itu, namun sejurus kemudian ia memukul-mukul kepalanya pelan. Ia berharap segera sadar dari kisah romantis dalam imajinasinya. Berusaha mengingatkan dirinya, tentang siapa
dia dan siapa Vian, juga tentang perasaan yang tidak akan mungkin terbalas.
__ADS_1
Gadis itu segera turun dari ranjangnya, menuju kamar mandi untuk menggosok gigi lalu membasuh wajahnya berulang kali, seolah berusaha membangunkan diri dari mimpi indahnya.
Mulai manis nih Vian sama Putri, author iri nih...