Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 16


__ADS_3

Jam makan malam...


Vian, Putri dan Nenek sedang makan malam bertiga. Mereka hanya berkonsentrasi pada makanan di piring mereka masing-masing. Baik Putri ataupun Vian, keduanya tidak ada yang membuka suara, bahkan mereka tidak sadar, nenek tengah memperhatikan keduanya.


"Putri, bagaimana kesan pertama di kantor Vian? Dia memperlakukan kamu dengan baik, kan?" nenek memulai pembicaraan karena lelah menunggu mereka yang lebih dulu bicara.


"Cukup menyenangkan, Nek. Vian baik, kok. Aku suka kerja di kantornya." Putri bersikap manis dan memberikan senyumnya saat bicara dengan nenek. Membuat perempuan tua itu merasa senang.


"Baguslah kalau begitu. Nenek harap Vian bisa memperlakukanmu dengan baik. Kalau dia macam-macam, laporkan saja pada nenek." nenek menatap Putri dengan lembut, tidak tahu mengapa, ia sangat menyukai Putri.


Gadis itu mendapatkan tempat tersendiri di hati nenek Vian. Beliau yakin pada cucu menantunya itu mampu membuat Vian jadi lebih baik. Meskipun ia mendapatkan laporan tentang semuanya tentang Vian dan Putri, nenek tetap berpura-pura tidak mengetahui semuanya.


"Nenek tampaknya sangat sayang pada istriku, aku tidak salah kan, memilih dia, Nek?" Vian berusaha menyembunyikan rasa kesalnya. Ia tidak ingin membuat neneknya sedih.


Menjalani pernikahan kontrak dengan Putri tidak semudah yang Vian pernah bayangkan, apalagi ia dan Putri ada di bawah pengawasan nenek. Mau tidak mau ia harus selalu bersikap manis di depan neneknya.


"Aku sangat menyukainya, Vian. Nenek percaya, dia akan bisa menjagamu saat nenek sudah meninggal nanti. Dia akan merawatmu dengan baik." tiba-tiba suasana menjadi haru.


"Nenek, jangan berkata seperti itu. Nenek akan terus menemani Vian. Nenek sayang Vian kan, Nek?" Vian mencium tangan neneknya yang telah keriput, tangan penuh kelembutan yang selalu membelainya sejak ia masih kecil.


"Nenekmu ini sudah tua, Vian. Melihatmu menikah adalah hal yang paling nenek impikan dan sekarang kamu sudah mewujudkannya untuk nenek. Tinggal satu lagi permintaan nenek, nenek ingin Putri segera mengandung." Nenek sengaja memasang wajah sedih. Melihat ini, tentu saja Vian merasa tidak tega pada neneknya. Tapi ia juga tidak mungkin mengabulkan permintaan neneknya karena pernikahan mereka yang hanya status saja. Vian juga tidak mencintai Putri.


Putri sebenarnya tidak tega pada nenek yang telah ia dan Vian bohongi. Ia tahu, perempuan itu berharap Vian segera memiliki keturunan, tapi jelas saja ia tidak mungkin bisa mengabulkan permintaan nenek.


"Nenek sabar, ya. Suatu hari nanti, aku dan Putri pasti memiliki anak. Nenek jangan sedih, Vian tidak ingin nenek sedih seperti ini." Vian mencoba menenangkan neneknya. Ia bingung dan tidak tahu harud berbuat apa. Bahkan, ia merasa bersalah karena sudah menjanjikan neneknya anak. Padahal, sudah jelas, ia tidak akan bisa mewujudkan itu untuk saat ini.

__ADS_1


"Sudahlah. Nenek lelah, mau istirahat. Kalian makan berdua saja." Nenek beranjak dari duduknya. ia berjalan perlahan menuju kamarnya. Tersisa Vian dan Putri di ruamg makan. Vian menatap Putri dengan tatapan tajam, begitu pula Putri, ia tidak mau kalah.


Rambut putri yang panjang tergerai dan riasannya yang hanya polesan tipis menampilkan kecantikan alami. Membuat Vian sedikit betah memandangi Putri.


"Apa, lihat-lihat?!" hardik Putri dengan jutek, ia lalu meneruskan acara makannya yang belum usai.


"Lihat doang, memangnya nggak boleh? Put, aku merasa, kita harus bahas masalah tadi, aku minta maaf kalau pernyataan nenek mungkin menekan perasaanmu." Vian tampak tenang, Putri sampai tidak percaya kalau yang ada di hadapannya itu adalah Vian, suaminya yang super sombong.


"Baik, nanti kita bahas. Aku tidak masalah dan juga tidak merasa tertekan. Lagipula, aku ini hanya istri di atas kertas. Aku tidak ambil pusing apapun. Semua ini hanya murni pekerjaan bagiku Vian. Sebentar, aku cuci piring dulu." Putri membereskan peralatan makan mereka bertiga lalu mencucinya. Tiba-tiba ia teringat keluarganya di kampung dan...


Prang!


Satu gelas pecah karena tanpa sengaja jatuh dari genggaman tangannya. Putri berusaha membereskan pecahan gelas itu dan...


Putri tertegun dan tidak menyangka Vian akan melakukan ini padanya. Ia memperhatikan Vian begitu sibuk menyesap darah dan membuangnya berkali-kali ke tong sampah. Luka di jari Putri nampaknya sedikit dalam.


"Duduk dulu. Biar aku nanti yang selesaikan mencuci piringnya." perintah Vian yang dilaksanakan Putri tanpa penolakan. Pria itu lalu mencari kotak P3K, membersihkan luka Putri dan membalutnya dengan kain kasa dan plester.


Setelah selesai dan mengembalikan kembali kotak obat ke tempatnya,Vian segera membereskan serpihan gelas itu lalu mencuci peralatan makan yang tadi telah mereka gunakan.


Putri masih tidak percaya Vian memiliki sisi lembut seperti itu. Selama ini dia mengenal Vian sebagai sosok yang sombong dan tidak mau mengalah. Ia bahkan tidak punya kepedulian sedikitpun kecuali pada nenek.


"Ayo ke kamar." ajak Vian saat acara cuci piringnya selesai. Lagi-lagi Putri menurut saja, berjalan mengikuti Vian. Gadis itu mengakui, pesona Vian tampak sangat jelas di saat yang seperti sekarang ini.


Vian lebih dulu membuka pintu kamar mereka, membiarkan Putri masuk lebih dulu, lalu menutupnya.

__ADS_1


Putri duduk di pinggiran ranjang, Vian menyusulnya. Mereka harus membicarakan masalah anak yang di inginkan oleh nenek Vian.


"Bagaimana kalau kamu pura-pura hamil saja, nanti? Dengan begitu, kita bisa segera pindah dari rumah nenek." Vian mengusulkan idenya. Dia merasa itu adalah jalan terbaik dari permasalahannya dengan Putri.


"Aku tidak akan tega, Vian. Aku tidak bisa. Membohongi nenek seperti ini saja sudah membuatku sangat bersalah, apalagi harus pura-pura hamil. Maaf, aku tidak bisa melakukannya." Putri menolak usulan Vian tanpa basa-basi. Ia tidak tega harus membohongi nenek renta itu sekali lagi.


"Ya, aku paham, kamu pasti merasa ini sangat beban. Kita sepertinya salah ambil strategi." Vian melangkah ke arah sofa panjangnya lalu, ia duduk di sana. Wajahnya tampak sangat gusar, bayangan wajah kecewa dan sedih neneknya membayang di pelupuk matanya.


"Bukan salah kita, tapi salahmu. Sejak awal kamu tidak pernah memikirkan akibat dari pernikahan pura-pura ini. Seharusnya, kamu jujur saja sama nenek kalau kamu mau menikahi pacarmu itu. Siapa tahu nenekmu mau mendengarkanmu, iya kan?" ujar Putri tenang, sambil mencari baju tidur di lemarinya dan berniat ganti di kmar mandi.


Apaan sih, kenapa baju tidurnya semua terbuka? Ck, kalau begini tidak akan bagus, tetapi kalau tidak ganti, mana mungkin tidur pakai baju begini. Ah, nenek sengaja melakukan ini.


"Masalahnya, nenek sudah pernah menolak Vanessa. Dari ketiga pacarku, hanya dia yang paling aku sayangi, aku tidak serius pada yang lainnya." Vian tampak serius. Putri yang sudah tahu tentang hubungan Vian dan Vanessa tidak terkejut lagi.


"Susah juga kalau begini. Kalau aku tidak hamil juga, kita akan tetap di rumah nenek selama setahun, sampai kontrak kita habis." Putri berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Gadis itu menghela nafas berulang kali. Baru saja sehari menjalani pernikahan kontrak dengan Vian, ia sudah di hadapkan pada masalah pelik.


"Sudahlah, kita bahas lain kali. Aku lelah sekali. Selamat tidur, Putri" Vian merebahkan dirinya ke sofa. Badannya yang sangat letih membuatnya mengantuk.


Putri sedikit merasa kikuk pada Vian. Pria itu rela memberikan kasurnya untuk ia tiduri, sementara dirinya lebih memilih untuk tidur di sofa.


Putri merebahkan tubuhnya ke ranjang. Pikiran gadis itu sefikit kacau dan ia pun gagal memejamkan matanya. Hingga beberapa jam berlalu, matanya masih tetap enggan di pejamkan. Dia diam-diam memperhatikan Vian, sepertinya lelaki itu kedinginan.


Dia teringat selimut cadangan yang ada di lemari, lalu mengambilnya dan menyelimutkan ke badan Vian. Melihatnya kedinginan seperti itu membuat Putri tidak tega. Entah dorongan darimana, Putri memberanikan diri memegang pipi Vian, pria itu sensitif terhadap sentuhan sehingga ia menangkap tangan Putri.


"Putri kamu ngapain?"

__ADS_1


__ADS_2