
Vanessa pergi ke bar untuk menghilangkan kepenatan, melihat
Vian yang marah padanya membuat perasaan wanita itu merasa sedikit kacau. Tidak biasanya Vian marah padanya seperti apapun
perlakuannya, tetapi hari ini, Vian
marah padanya hanya arena hal yang menurutnya sepele.
“Aneh, tiba-tiba dia
marah, padahal biasanya nggak pernah marah. Aku curiga, pasti ada hal yang dia sembunyikan.” Gumam Vanessa
sambil meneguk cocktail yang ada di tangannya.
“Hallo, boleh kenalan?” seorang lelaki dengan penampilan
elegan datang menghampiri Vanessa. Wanita itu terpesona, dari penampilannya sepertinya pria ini lebih kaya
di bandingkan Vian. Jiwa penggodanya muncul begitu saja. Lelaki itu menyapa
Vanessa dengan bahasa Perancis, kemudian mereka mengobrol dengan bahasa
Perancis
Mangsa baru, sepertinya, berselisih dengan Vian ada bagusnya
juga. Sementara lelaki ini bisa jadi tambang uangku yang baru. Paling tidak
selama di sini. Hmm... tapi sepertinya
aku harus mencari hadiah untuk minta maaf sama Vian. Setidaknya sekarang aku
harus bisa dekatin dia dulu.
“Hallo, boleh. Namaku
Vanessa, nama anda siapa?” Vanessa memindah tempat duduknya agar dekat dengan
pria itu. Lirikannya yang sedikit nakal di tanggapi senyuman oleh pria asing
itu.
“Namaku Darren. Sendirian?” tanyanya, kemudian Darren
mengambil segelas cocktail dan mulai meminumnya.
“Iya, aku tidak punya pacar. Kamu juga sendirian?” Vanessa
balik bertanya pada Darren. Ia
menatap wajah Pria itu lekat-lekat.
“Wanita cantik sepertimu tidak punya pacar? Benarkah? Aku
tidak yakin.” Darren menggeser letak
duduknya sehingga berhadapan dengan Vanessa. Pria itu memegang dagu Vanessa
tanpa penolakan.
“Aku baru saja putus denganpacarku. Dia diam-diam memiliki
pacar baru, sebenarnya aku datang ke bar
ini untuk menghilangkan kesedihan.” Vanessa memasang wajah memelas, agar Darren
percaya dengan karangan ceritanya.
“Kasihan, kalau begitu temani aku minum. Kita pesan ruang
karaoke VIP, malam ini, rasa sedihmu
akan hilang.” Lelaki itu memandang Vanessa enuh arti, merasa seperti gayung
bersambut, wanita itu mengangguk setuju. Darren memberikan kode kepada
seseorang.
“Silahkan, bos.” Orang yang merupakan kepercayaan Darren itu menunjukkan jalan dan mereka
__ADS_1
berdua mengikuti dari belakang.
“Santai saja, kamu boleh menganggapku siapa saja. Semuanya
malam ini aku yang traktir.” Darren merangkul Vanessa dan mereka berdua
memasuki sebuah ruangan karaoke kedap suara yang cukup mewah. Tampak beberapa
pelayan wanita menaruh beberapa botol minuman, setelah itu mereka semua pergi
dan meninggalkan kedua pasangan yang baru bertemu itu.
Malam itu, seolah Vanessa benar-benar melupakan Vian, lelaki
yang telah menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun. Bicara tentang perasaan,
gadis itu menjalani hubungan dengan Vian
sekian lama hanya karena lelaki itu dapat memenuhi kebutuhan finansialnya. Awalnya, ia benar-benar mencintai Vian, namun
seiring waktu rasa cintanya memudar, di tambah lagi penolakan dari nenek Vian
yang membuat ia merasa hubungannya dengan Vian tidak akan berakhir indah.
Bukan hanya Darren, Vanessa juga memiliki banyak pria lain
di belakang Vian, hal itu yang membuat ia tidak merasa jenu meskipun Vian
jarang dapat menemaninya. Seluruh lelaki
simpanan Vanessa tentu saja para pria kaya, yang dapat ia tarik isi dompetnya
dan tentu saja selalu membawanya makan di restoran berbintang. Kebiasaan hidup
mewahnya membuat wanita itu menempuh berbagai cara. Hingga tak jarang ia
menjadi simpanan para bos besar.
“Kamu cantik sekali Vanessa, bagaimana kalau kamu menjadi
kekasihku?” Darren merangkul Vanessa, keduanya sudah mulai mabuk karena banyak
minum.
lagi aku akan pulang ke Indonesia.” Vanessa yang telah sering minum, ia masih sedikit sadar. Ini adalah salah satu
trik tarik ulurnya, seberapa tertarik Darren padanya.
“Itu tidak masalah, aku akan mengunjungimu ke Indonesia jika
aku merindukanmu.” Darren tertawa-tawa
tidak karuan, sepertinya lelaki itu benar-benar mabuk. Jari-jemarinya mulai
menari di pundak Vanessa. Wanita itu
tidak menunjukkan reaksi menolak sedikitpun, ia sudah cukup biasa menghadapi
lelaki seperti Darren.
“Menjadi pacarku harus menerima kekuranganku, aku ini matre
Darren, banyak permintaan. Apa kamu bersedia memilliki pacar sepertiku?”
Vanessa membisikkan kalimatnya itu di telinga Darren, pria itu tersenyum, lalu
menyatukan kepala mereka dengan menempelkan jidat satu sama lain.
“Jangan bingung, sayangku. Aku punya banyak uang, kamu mau
apa saja pasti akan aku turuti. Mobil? Rumah? Semuanya bisa. Jadi bagaimana?
Apa kamu mau menjadi pacarku sekarang?” nada bicara Darren sedikit ngelantur karena ia sudah kehilangan
setengah dari kesadarannya.
“Baiklah, kalau begitu aku akan menerima kamu sebagai
kekasihku. Sekarang, marilah kita bersenang-senang. Aku akan menemanimu minum
__ADS_1
sampai pagi.” Vanessa mengisi lagi gelas
mereka yang telah kosong.
Sebenarnya seperti itulah kehidupan Vanessa di belakang
Vian. Ia adalah wanita yang suka hura-hura, berbeda dengan saat ia di hadapan
Vian, keliarannya berubah menjadi patuh, seperti kucing yang telah lama di
pelihara. Di depan Vian, Vanessa selalu berusaha menjadi wanita yang sempurna
tanpa cela. Meskipun ia sadar, kepura-puraannya sepertinya telah di baca oleh
nenek kekasihnya itu.
“Vanessa, maukah kamu menikah denganku?” pertanyaan Darren
seketika membuat Vanessa terdiam. Baginya, menikah saat ini bukan
merupakanimpian wanita itu. Ia masih ingin menikmati banyak waktu untuk menikmati
masa mudanya dengan bebas. Ia tidak ingin menjalani hubungan yang terikat
seperti itu.
“Tentu saja, suatu saat kita akan menikah, tetapi bukan
sekarang. Bersabarlah..” setidaknya itu adalah jawaban yang paling mudah dan
dapat meredam perasaan Darren. Menolaknya mentah-mentah hanya akan membuat lelaki itu curiga kepadanya.
“Aku akan menunggumu, Sayang.” Darren merebahkan kepalanya
di sofa tempat mereka berdua duduk. Kepalanya mulai pusing, ia ingin segera
merebahkan diri. Vanessa yang menyadari itu segera memapah Vian ke dalam
ranjang yang tersedia di dalam ruangan itu, meskipun dengan susah payah.
Lelaki itu benar-benar tidak berdaya, Vanessa yang masih
setengah sadar menyunggingkan senyum mencurigakan. Ia tidak menyangka, Darren
cepat sekali mabuk. Wanita itu mencoba mengelus pipi Darren yang di tumbuhi
bulu-bulu tipis. Pria itu cukup tampan, jika di bandingkan dengan Vian,
keduanya tidak berbeda jauh. Mereka berdua memiliki karisma masing-masing.
“Kamu tampan sekali Darren. Aku beruntung bisa memilikimu. Sejenak, mari kita lupakan semuanya. Kamu pangeranku malam ini, Sayang...” Vanessa menindih tubuh tak berdaya Darren,
dan memandangi wajah lelaki itu dengan lembut, perlahan wanita itu mendaratkan
sebuah kecupan singkat di bibir lelaki yang baru ia temui beberapa jam lalu
itu, ia sudah cukup biasa dengan bau alkohol yang menusuk hidung siapapun yang
menghirupnya. Tanpa ia sadari, kecupan-kecupan singkat itu berubah menjadi
sebuah ciuman panjang.
Vanessa selalu merasa hubungannya dengan pria lain jauh
lebih menantang. Vian baginya seorang
pria yang membosankan,seringkali ia menolak saat Vanessa mencoba mengajaknya ke
tempat-tempat hiburan malam, termasuk bar. Menurut Vian, tempat seperti itu
tidak semestinya di kunjungi.
“Maafkan aku, Vian. Biarkan aku sedikit bermain-main kali
ini. Seandainya kamu sedikit mengurangi kecupuanmu itu, aku pasti akan mencoba
menjadikanmu satu-satunya dalam hidupku, meskipun aku tahu, itu tak akan pernah
mungkin... “ gumam Vanessa pelan.
__ADS_1
Kira-kira, apa yang akan di lakukan Vanessa dan Darren?
Bagaiman kalau Vian tahu kelakuan Vanessa?