Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 29


__ADS_3

Vanessa pergi ke bar untuk menghilangkan kepenatan, melihat


Vian yang marah padanya membuat perasaan wanita itu merasa sedikit kacau.  Tidak biasanya Vian marah padanya seperti apapun


perlakuannya,  tetapi hari ini, Vian


marah padanya hanya arena hal yang menurutnya sepele.


“Aneh,  tiba-tiba dia


marah, padahal biasanya nggak pernah marah. Aku curiga, pasti  ada hal yang dia sembunyikan.” Gumam Vanessa


sambil meneguk cocktail yang ada di tangannya.


“Hallo, boleh kenalan?” seorang lelaki dengan penampilan


elegan datang menghampiri Vanessa.  Wanita itu terpesona, dari penampilannya sepertinya pria ini lebih kaya


di bandingkan Vian. Jiwa penggodanya muncul begitu saja. Lelaki itu menyapa


Vanessa dengan bahasa Perancis, kemudian mereka mengobrol dengan bahasa


Perancis


Mangsa baru, sepertinya, berselisih dengan Vian ada bagusnya


juga. Sementara lelaki ini bisa jadi tambang uangku yang baru. Paling tidak


selama di sini.  Hmm... tapi sepertinya


aku harus mencari hadiah untuk minta maaf sama Vian. Setidaknya sekarang aku


harus bisa dekatin dia dulu.


“Hallo,  boleh. Namaku


Vanessa, nama anda siapa?”  Vanessa  memindah tempat duduknya agar dekat dengan


pria itu. Lirikannya yang sedikit nakal di tanggapi senyuman oleh pria asing


itu.


“Namaku Darren. Sendirian?” tanyanya, kemudian Darren


mengambil segelas cocktail dan mulai meminumnya.


“Iya, aku tidak punya pacar. Kamu juga sendirian?” Vanessa


balik bertanya pada Darren.  Ia


menatap  wajah Pria itu lekat-lekat.


“Wanita cantik sepertimu tidak punya pacar? Benarkah? Aku


tidak yakin.”  Darren menggeser letak


duduknya sehingga berhadapan dengan Vanessa. Pria itu memegang dagu Vanessa


tanpa penolakan.


“Aku baru saja putus denganpacarku. Dia diam-diam memiliki


pacar baru,  sebenarnya aku datang ke bar


ini untuk menghilangkan kesedihan.” Vanessa memasang wajah memelas, agar Darren


percaya dengan karangan ceritanya.


“Kasihan, kalau begitu temani aku minum. Kita pesan ruang


karaoke VIP,  malam ini, rasa sedihmu


akan hilang.” Lelaki itu memandang Vanessa enuh arti, merasa seperti gayung


bersambut, wanita itu mengangguk setuju. Darren memberikan kode kepada


seseorang.


“Silahkan, bos.”  Orang yang merupakan kepercayaan Darren itu menunjukkan jalan dan mereka

__ADS_1


berdua mengikuti dari belakang.


“Santai saja, kamu boleh menganggapku siapa saja. Semuanya


malam ini aku yang traktir.” Darren merangkul Vanessa dan mereka berdua


memasuki sebuah ruangan karaoke kedap suara yang cukup mewah. Tampak beberapa


pelayan wanita menaruh beberapa botol minuman, setelah itu mereka semua pergi


dan meninggalkan kedua pasangan yang baru bertemu itu.


Malam itu, seolah Vanessa benar-benar melupakan Vian, lelaki


yang telah menjadi kekasihnya selama bertahun-tahun. Bicara tentang perasaan,


gadis itu menjalani hubungan  dengan Vian


sekian lama hanya karena lelaki itu dapat memenuhi kebutuhan finansialnya.  Awalnya, ia benar-benar mencintai Vian, namun


seiring waktu rasa cintanya memudar, di tambah lagi penolakan dari nenek Vian


yang membuat ia merasa hubungannya dengan Vian tidak akan berakhir indah.


Bukan hanya Darren, Vanessa juga memiliki banyak pria lain


di belakang Vian, hal itu yang membuat ia tidak merasa jenu meskipun Vian


jarang dapat menemaninya.  Seluruh lelaki


simpanan Vanessa tentu saja para pria kaya, yang dapat ia tarik isi dompetnya


dan tentu saja selalu membawanya makan di restoran berbintang. Kebiasaan hidup


mewahnya membuat wanita itu menempuh berbagai cara. Hingga tak jarang ia


menjadi simpanan para bos besar.


“Kamu cantik sekali Vanessa, bagaimana kalau kamu menjadi


kekasihku?” Darren merangkul Vanessa, keduanya sudah mulai mabuk karena banyak


minum.


lagi aku akan pulang ke Indonesia.” Vanessa  yang telah sering minum, ia masih sedikit sadar. Ini adalah salah satu


trik tarik ulurnya, seberapa tertarik Darren padanya.


“Itu tidak masalah, aku akan mengunjungimu ke Indonesia jika


aku merindukanmu.”  Darren tertawa-tawa


tidak karuan, sepertinya lelaki itu benar-benar mabuk. Jari-jemarinya mulai


menari di pundak Vanessa.  Wanita itu


tidak menunjukkan reaksi menolak sedikitpun, ia sudah cukup biasa menghadapi


lelaki seperti Darren.


“Menjadi pacarku harus menerima kekuranganku, aku ini matre


Darren, banyak permintaan. Apa kamu bersedia memilliki pacar sepertiku?”


Vanessa membisikkan kalimatnya itu di telinga Darren, pria itu tersenyum, lalu


menyatukan kepala mereka dengan menempelkan jidat satu sama lain.


“Jangan bingung, sayangku. Aku punya banyak uang, kamu mau


apa saja pasti akan aku turuti. Mobil? Rumah? Semuanya bisa. Jadi bagaimana?


Apa kamu mau menjadi pacarku sekarang?” nada bicara Darren sedikit ngelantur karena ia sudah kehilangan


setengah dari kesadarannya.


“Baiklah, kalau begitu aku akan menerima kamu sebagai


kekasihku. Sekarang, marilah kita bersenang-senang. Aku akan menemanimu minum

__ADS_1


sampai  pagi.” Vanessa mengisi lagi gelas


mereka yang telah kosong.


Sebenarnya seperti itulah kehidupan Vanessa di belakang


Vian. Ia adalah wanita yang suka hura-hura, berbeda dengan saat ia di hadapan


Vian, keliarannya berubah menjadi patuh, seperti kucing yang telah lama di


pelihara. Di depan Vian, Vanessa selalu berusaha menjadi wanita yang sempurna


tanpa cela. Meskipun ia sadar, kepura-puraannya sepertinya telah di baca oleh


nenek kekasihnya itu.


“Vanessa, maukah kamu menikah denganku?” pertanyaan Darren


seketika membuat Vanessa terdiam. Baginya, menikah saat ini bukan


merupakanimpian wanita itu. Ia masih ingin menikmati banyak waktu untuk menikmati


masa mudanya dengan bebas. Ia tidak ingin menjalani hubungan yang terikat


seperti  itu.


“Tentu saja, suatu saat kita akan menikah, tetapi bukan


sekarang. Bersabarlah..” setidaknya itu adalah jawaban yang paling mudah dan


dapat meredam perasaan Darren. Menolaknya mentah-mentah hanya akan  membuat lelaki itu curiga kepadanya.


“Aku akan menunggumu, Sayang.” Darren merebahkan kepalanya


di sofa tempat mereka berdua duduk. Kepalanya mulai pusing, ia ingin segera


merebahkan diri. Vanessa yang menyadari itu segera memapah Vian ke dalam


ranjang yang tersedia di dalam ruangan itu,  meskipun dengan susah payah.


Lelaki itu benar-benar tidak berdaya, Vanessa yang masih


setengah sadar menyunggingkan senyum mencurigakan. Ia tidak menyangka, Darren


cepat sekali mabuk. Wanita itu mencoba mengelus pipi Darren yang di tumbuhi


bulu-bulu tipis. Pria itu cukup tampan, jika di bandingkan dengan Vian,


keduanya tidak berbeda jauh. Mereka berdua memiliki karisma masing-masing.


“Kamu tampan sekali Darren.  Aku beruntung bisa memilikimu. Sejenak, mari kita lupakan semuanya.  Kamu pangeranku malam ini, Sayang...”  Vanessa menindih tubuh tak berdaya Darren,


dan memandangi wajah lelaki itu dengan lembut, perlahan wanita itu mendaratkan


sebuah kecupan singkat di bibir lelaki yang baru ia temui beberapa jam lalu


itu, ia sudah cukup biasa dengan bau alkohol yang menusuk hidung siapapun yang


menghirupnya. Tanpa ia sadari, kecupan-kecupan singkat itu berubah menjadi


sebuah ciuman panjang.


Vanessa selalu merasa hubungannya dengan pria lain jauh


lebih menantang.  Vian baginya seorang


pria yang membosankan,seringkali ia menolak saat Vanessa mencoba mengajaknya ke


tempat-tempat hiburan malam, termasuk bar. Menurut Vian, tempat seperti itu


tidak semestinya di kunjungi.


“Maafkan aku, Vian. Biarkan aku sedikit bermain-main kali


ini. Seandainya kamu sedikit mengurangi kecupuanmu itu, aku pasti akan mencoba


menjadikanmu satu-satunya dalam hidupku, meskipun aku tahu, itu tak akan pernah


mungkin... “ gumam Vanessa pelan.

__ADS_1


Kira-kira, apa yang akan di lakukan Vanessa dan Darren?


Bagaiman kalau Vian tahu kelakuan  Vanessa?


__ADS_2