
Putri berdandan di depan cermin rias miliknya setelah acara berendamnya dengan Sang Suami selesai. Acara berendam mereka menghabiskan waktu cukup lama karena Vian tidak bisa menahan dirinya.
Sesekali Putri tersenyum saat memoles wajahnya. Ia teringat bagaimana mereka seperti pengantin baru sejak semalam. Vian selalu memperlakukannya layaknya seorang permaisuri kesayangannya.
"Kamu sangat cantik, Sayang." Vian memegang kedua bahu Putri sambil menempelkan dagunya di pundak wanita itu. Rambutnya yang masih basah dan acak-acakan terlihat jelas di cermin.
Putri menghadiahkan sebuah senyuman manis untuk suaminya. Memutar kursinya kebelakang agar ia dapat berhadapan dengan lelakinya itu. Putri mengambil sebuah sisir dan meminta Vian untuk berjongkok, agar dia mudah menyisir rambut lelaki itu.
"Vian, kamu tahu nggak, kenapa aku mencintaimu?"katanya sambil terus merapikan rambut suaminya.
"Kenapa? Sungguh, aku penasaran dan ingin tahu apa yang menjadi alasanmu itu."Vian merebahkan kepalanya di pangkuan Putri.
"Karena kamu sangat tampan, kalau kamu tidak tampan, aku mungkin tidak akan jatuh cinta." Putri terkekeh, dia bohong, bukan itu alasan sebenarnya mengapa ia jatuh hati pada pria yang awalnya hanya suami kontraknya itu.
"Ayolah, aku tahu kamu bohong, Sayang. Wajahku pasti hanya alasan ke sekian mengapa kamu mencintaiku, iya kan? Hayo ngaku!"Vian memeluk pinggang Putri dan bergelayut manja pada wanita itu.
"Ternyata kamu cukup peka. Ada banyak hal yang membuatku jatuh cinta padamu, Vian. Aku tidak mau membahasnya satu per satu karena aku lapar sekarang. Berhentilah bersikap manja seperti ini, aku mau masak sesuatu untuk kita makan." Putri berusaha menyingkirkan Vian.
"Kan ada Bi Inah, Sayang. Kamu tidak perlu repot-repot memasak." Vian tetap enggan menjauh dari Putri, meskipun rambutnya telah rapi.
"Aku mau masak makananku sendiri, Vian. Aku mau makanan pedas dan berkuah." Putri tetap ngotot, mau tidak mau vian harus membiarkan Putri pergi ke dapur.
"Masak yang enak, Sayang. Aku juga mau makan masakanmu." Vian akhirnya mengalah dan menjauh dari Putri. Wanita itu melangkah menuju dapur.
"Sayang, kamu tidak perlu bangun terlalu cepat. Ini hari libur." Nenek yang sedang menikmati secangkir teh di sofa tempatnya santai melihat Putri yang berjalan ke arah dapur.
"Selamat pagi, Nenek. Aku tidak bisa bangun siang, cukup membosankan berada di kamar sepanjang pagi." ungkap Putri.
__ADS_1
"Kamu memang anak yang rajin. Sekarang kamu mau ke dapur?" tanya nenek kemudian.
"Iya, Nek. Aku ingin makan masakan pedas yang berkuah. Nenek mau aku buatkan sesuatu?" Putri balik bertanya pada neneknya. Wanita tua itu menggeleng.
"Tidak usah, Sayang. Kamu buat saja makanan untuk kamu makan sendiri. Nenek sudah kenyang tadi Inah membeli bapao di tukang sayur langganan kita." tolak nenek halus sambil kembali menyeripit tehnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memasak untukku sendiri. Dah nenek!" Putri berjalan cepat menuju dapur. Membayangkan sesuatu yang berkuah dan pedas membuat air liurnya seperti akan segera menetes.
Putri berencana memasak mi bihun di campur bakso dan sosis yang di beri kuah pedas manis. Putri segera mencari bahan-bahan yang di perlukan di dalam lemari pendingin. Beberapa bawang-bawangan dan juga cabai.
Vian yang selalu ingin berada di samping Putri tidak tahan berdiam diri di dalam kamar sendirian. Meskipun ia sedang mengecek beberapa laporan di ponselnya, dia tetap saja gelisah. Berujung meletakkan ponselnya sembarangan lalu menyusul Putri ke dapur.
Vian memandangi tubuh Putri dari belakang dengan seksama. Ia bisa melihat istrinya lebih berisi dari biasanya. Vian mengendap-endap, supaya Putri tidak menyadari kehadirannya lalu memeluk istrinya itu erat-erat.
"Lama banget, sih masaknya. Aku kan jadinya kangen sama kamu." Vian mengendus wangi sampo di rambut Putri. Vian mengecup kepala Putri berulang.
"Siapa yang mau melarang aku manja sama istriku sendiri? Sini biar aku getok kepalanya." Vian mengatakan itu dengan gemas. Di giginya pelan pundak Putri.
"Bayi pandaku mau tumbuh gigi, ya? Sakit tau, di gigitin gitu." keluh Putri kesal.
"Semalam juga ada yang gigit leherku sampai terluka. Bekas giginya juga masih ada, nih." sindir Vian. Putri yang merasa tersindir langsung mendaratkan cubitan andalannya di perut Vian.
"Jangan bahas lagi. Aku malu. Nanti kalau di dengar nenek gimana?" Putri setengah berbisik.
"Meskipun tidak di bahas, tapi luka di leherku ini tetap bisa di lihat." Putri mendongak dan Vian tidak menutup luka bekas gigitannya dengan apapun. Wajahnya bersemu merah, lagi-lagi ia teringat kejadian semalam.
"Kenapa kamu tidak menutupinya dengan sesuatu? Kalau nanti ada yang lihat, bagaimana?" Putri panik.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan panik. Lanjutkan memasak. Kalau ketahuan memangnya kenapa? Bukankah kita sudah menikah? Jadi apa masalahnya?" tanyanya acuh. Vian tidak peduli, apa yang akan di katakan orang tentang dirinya nanti.
"Kamu bandel. Terserah kamu aja. Kamu daripada gangguin aku, mendingan bantuin potong sosis dan baksonya." Putri sedikit kesal karena Vian menempel terus padanya.
Putri kembali konsentrasi memasak. Melihat Putri yang sibuk, Vian tidak tega dan memutuskan untuk memberikan bantuannya.
"Aku lihat, badan kamu gemukan, Sayang. Kamu ngemil terus ya di kampus?" pertanyaan Vian membuat Putri berhenti memotong bawang dan melihat ke badannya sekenanya.
Putri baru menyadari badannya sedikit mengembang di beberapa bagian. Dadanya pun lebih berisi di banding biasanya.
"Sepertinya aku memang harus diet, nih. Belakangan nafsu makanku memang naik. Pasti jelek banget, ya?" mendadak Putri menjadi kurang pede dengan penampilannya.
"Siapa bilang jelek? Aku tidak masalah kok, kamu gemukan malah makin gemesin. Jangan diet, aku nggak mau kamu malah nanti jadi nggak nyaman. Sedikit lebih berisi itu nggak buruk, kok." Vian tidak sedang menghibur Putri. Dia senang melihat istrinya lebih berisi sekarang.
"Serius kamu nggak masalah? Kalau memang jelek bilang aja, aku nggak apa-apaa, kok." Putri mendesak Vian.
"Di balik kata nggak apa-apanya cewek, ada sesuatu yang tersembunyi. Tapi, aku serius, kamu malah makin cantik dan...," Vian sengaja menggantung kalimatnya.
"Dan apa? Kamu ngeselin ya, ngomong setengah-setengah." Putri melotot dan memancungkan bibirnya.
"Ada deh, itu rahasia. Kalau aku bilang, pasti kamu nyubit aku. Cubitanmu itu pedesnya nagih loh, Sayang. Kayak mi goreng pedas level sepuluh." goda Vian.
"Heh! Berani kamu ya, ngatain aku. Sini aku cubit!" Putri bergeser dan mengulurkan tangannya ke pinggang Vian, tapi lelaki itu dengan cepat beringsut.
"Jangan sayang, kalau mau nanti malam saja. Kamu boleh kok, gigit leherku yang sebelah kanan." ledek Vian, Putri semakin geregetan.
"Vian! Ih..., dasar kamu ya!" Putri melempar lelaki itu dengan bawang bombai.
__ADS_1