
Malam hari, waktu Paris.
“Ternyata, menara Eiffel lebih indah di lihat dari dekat,
lebih indah dari yang aku lihat di televisi, ini sungguh luar biasa.” Putri sangat takjub saat melihat keindahan
menara Eiffel di malam hari, Dion yang memilih waktu untuk berkunjung ke sana.
Menurutnya mengunjungi menara saat malam hari lebih bisa menikmati keindahannya.
“Tentu saja, coba kamu lihat sekeliling, lampu-lampu terang
itu hampir menyerupai berlian yang
gemerlap, sangat indah.” Dion mengatakan
itu sambil berjalan memutari Putri. Perempuan itu tertawa kecil mendengar pernyataan Dion.
“Apa yang sedang kamu tertawakan?” Dion nampak bingung, apa yang membuat Putri tertawa.
“Caramu mengumpamakan lampu yang bersinar dengan berlian,
menurutku itu sedikit lucu.” Putri masih saja tertawa, sementara Dion masih
bingung dan mencari dimana letak kelucuan kalimatnya. Meskipun sudah di
jelaskan, Dion masih saja tidak memahaminya dengan baik.
“Baguslah, kalau kata-kataku bisa menghiburmu. Baru kali ini
aku melihatmu tertawa sampai seperti ini. Put... kalau misalnya Vian tidak memiliki pacar, apa
kamu tidak tertarik untuk menjadi pacarnya?” Pertanyaan Dion membuat tawa Putri
berhenti.
“Hmm.. aku tidak berani berharap lebih tinggi. Menjadi teman
saja, itu sudah lebih dari cukup. Mengapa tiba-tiba kamu menanyakan ini?” Putri yang menghadap ke arah Dion menatap
lelaki itu lekat-lekat. Ia ingin tahu, apa tujuan Dion menanyakan hal itu.
“Apakah itu berarti pengusaha bukan tipemu?” tanya Dion lagi, Putri mengernyitkan dahi, mencoba
mencerna makna kalimat yang di ucapkan oleh Dion.
“Aku tidak memiliki tipe khusus dalam memilih pasangan.
Bagiku, pria baik dan juga tulus itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak suka
pada pria yang sombong apalagi suka memamerkan kekayaannya. Lebih tepatnya, aku suka seorang pria yang
sederhana.” Cerocos Putri, Dion sangat memperhatikan kata demi kata yang di
ucapkan oleh gadis itu.
“Pria yang sederhana?” Dion mengulang kalimat terakhir yang
di ucapkan oleh Putri. Ia bingung, apa devinisi pria sederhana yang di inginkan
oleh Putri.
“Ya, pria sederhana yang selalu apa adanya, meskipun ia
berkecukupan. Lebih bisa membuat hatiku bahagia, tanpa hadiah. Bagiku, pria
seperti itu yang bisa menjadi seorang pangeran impian.” Putri nampak sangat
serius saat mengatakan ini, sementara Dion, hanya manggut-manggut tanda
mengerti.
__ADS_1
“Put, kamu pernah merasakan tiba-tiba di tinggalkan oleh
orang yang kamu sayangi? Maksudku adalah pacar.” tanya Dion sambil menyapukan
pandangannya ke Menara Eiffel dan
sekitarnya, suasana yang cukup ramai membuat mereka harus sedikit menghindar
dari keramaian.
“Aku belum pernah pacaran. Jadi hal seperti itu belum pernah
aku rasakan sebelumnya. Apa kamu punya pengalaman patah hati karena di
tinggalkan?” Putri balik bertanya pada Dion, ia menempatkan diri sebagai
sahabat pria itu dan siap menjadi pendengarnya yang setia.
Selama ini Dion memang banyak teman, tetapi untuk
membicarakan hal pribadi, ia sangat sungkan. Obrolan yang sering ia lakukan
dengan teman-temannya tentu yang berhubungan dengan bisnis, juga beberapa hal
receh lainnya. Bertemu dengan Putri, seperti sebuah keberuntungan tersendiri. Baginya,
sosok Putri memang seorang yang sederhana, tetapi ia pantas untuk di impikan.
“Seperti yang aku ceritakan padamu kemarin, karena aku sibuk
bekerja dan tidak ada waktu untuk berkencan, pacarku diam-diam menjalin
hubungan dengan pria lain. Padahal, aku berniat untuk menikahinya, bahkan aku
sudah menuruti apa yang dia mau, hampir segala yang ia inginkan aku berikan,
tapi apalah daya, yang tulus pada akhirnya kalah dengan yang selalu ada. Itu yang
juga menjadi salah satu alasan, kenapa aku masih bertahan menyendiri sampai
meresapi apa yang pria itu ceritakan.
“Kejadian itu pasti membuatmu sangat terpukul. Pantas saja,
kamu memilih sendiri. Jika aku memiliki seorang kekasih yang sudah mengorbankan
banyak hal untukku sepertimu, aku pasti akan mempertimbangkan berulang kali
untuk menghianatinya, karena menemukan sebuah cinta yang tulus itu tidaklah
mudah. Terkadang cinta tulus dan modus itu sangat tipis perbedaannya, begitu
pula dengan Vian..” tanpa sadar Putri
menyebut nama Vian, meskipun sebenarnya intonasi ucapannya sangat rendah, Dion
dapat mendengarnya.
“Ada apa dengan Vian? Apa kamu mengetahui sesuatu
tentangnya? “ ternyata perkataan Putri menarik
perhatian Dion, seketika Putri merasa sangat ceroboh karena harus menyebut nama
Vian saat melakukan obrolan dengan Dion.
Meskipun belum cukup bukti, Putri memang merasa kalau Vian
juga di manfaatkan para wanitanya. Gaya hidupnya yang selalu menyelesaikan
segalanya dengan uang membuat wanita-wanita itu enggan untuk melepaskannya. Terlebih,
__ADS_1
Vian uga gila pujian, sedikit saja wanita memuji, ia pasti akan menyerahkan isi
dompetnya.
“Ah, itu... tidak apa-apa, anggap saja aku salah bicara. Bagaimana
kalau kita melanjutkan jalan-jalan lalu segera kembali ke hotel? Sudah cukup
malam dan udara juga semakin dingin.” Putri nampak sedikit kedingingan, ia
tidak membawa jaket dan tidak menyangka kalau udaranya akan sedingin ini sampai menembus baju hangatnya.
“Kamu kedinginan? Kalau begitu, pakai saja jaketku...” Dion
melepas jaketnya dan memakaikan ke punggung Putri. Perilaku sederhana Dion ini
membuat Putri sedikit terkesan.
“Terima kasih, tetapi sebaiknya tidak usah. Bagaimana kamu
bisa membiarkan dirimu kedinginan sementara kamu justru memberikan jaketmu
untuk melindungiku dari udara dingin yang cukup menusuk ini?” Putri mengambil
jaket Dion dan menyodorkannya kembali pada Dion.
“Sudahlah, tidak perlu sungkan. Bukankah, kita ini teman? Lagipula,
aku ini seorang lelaki. Bagaimana bisa aku biarkan seorang wanita kedinginan?”
Dion menolak jaketnya dan tetap bersikeras untuk meminta Putri memakainya.
“Dasar keras kepala, baiklah, aku akan pakai jaket ini. Nanti,
kalau kamu sampai demam, jangan salahkan aku.” Putri segera memakai jaket Dion karen udaranya
memang semakin menusuk. Pria itu cukup senang, Putri mau memakai jaketnya, meskipun
sebagai konsekuensi, sekarang ia yang merasakan dingin yang seperti merasuk ke
dalam tubuhnya melalui pori-pori.
“Aku tidak akan sakit hanya karena udara dingin. Sudah, ayo
kita jalan-jalan sebentar lagi sebelum pulang. Apa kamu mau makan lagi? Mau beli
sesuatu untuk di makan di hotel?” Dion
berinisiatif jalan terlebih dahulu di ikuti oleh Putri. Bagi Dion, gadis di
sampingnya itu sangatlah menarik, semakin hari, rasanya ingin memberikannya
perhatian lebih.
“Jangan terlalu memanjakan aku, takutnya, aku menjadi gemuk,
nanti aku tidak akan kuat lagi menemanimu jalan jauh seperti sekarang.” Mendengar ucapan Putri, Dion terpanggil untuk
tertawa, bagaimana tidak, gadis yang ada di sampingnya itu justru menghubungkan
antara makan, kegemukan dan juga dirinya. Meskipun bagi orang lain itu hal
biasa, entah mengapa bagi Dion, segala yang di lakukan Putri terasa istimewa.
“Aku paham, wanita memang selalu sibuk memikirkan hal-hal
sepele, terkadang rela tidak makan hanya karena takut gemuk, padahal itu belum
tentu terjadi.” Dion menyatakan pendapatnya, Putri tersenyum, apa yang di
katakan Dion ada benarnya juga.
__ADS_1
“Wanita memang rumit, jadi jangan heran, jika wanita juga
banyak menuntut...”