Suami Sombong Jatuh Cinta

Suami Sombong Jatuh Cinta
Chapter 25


__ADS_3

Malam hari, waktu Paris.


“Ternyata, menara Eiffel lebih indah di lihat dari dekat,


lebih indah dari yang aku lihat di televisi, ini sungguh luar biasa.”  Putri sangat takjub saat melihat keindahan


menara Eiffel di malam hari, Dion yang memilih waktu untuk berkunjung ke sana.


Menurutnya mengunjungi menara  saat  malam hari lebih bisa menikmati keindahannya.


“Tentu saja, coba kamu lihat sekeliling, lampu-lampu terang


itu hampir menyerupai  berlian yang


gemerlap, sangat indah.”  Dion mengatakan


itu sambil berjalan memutari Putri. Perempuan itu  tertawa kecil mendengar pernyataan Dion.


“Apa yang sedang kamu tertawakan?” Dion nampak  bingung,  apa yang membuat  Putri tertawa.


“Caramu mengumpamakan lampu yang bersinar dengan berlian,


menurutku itu sedikit lucu.” Putri masih saja tertawa, sementara Dion masih


bingung dan mencari dimana letak kelucuan kalimatnya. Meskipun sudah di


jelaskan, Dion masih saja tidak memahaminya dengan baik.


“Baguslah, kalau kata-kataku bisa menghiburmu. Baru kali ini


aku melihatmu tertawa sampai seperti ini. Put...  kalau misalnya Vian tidak memiliki pacar, apa


kamu tidak tertarik untuk menjadi pacarnya?” Pertanyaan Dion membuat tawa Putri


berhenti.


“Hmm.. aku tidak berani berharap lebih tinggi. Menjadi teman


saja, itu sudah lebih dari cukup. Mengapa tiba-tiba kamu menanyakan ini?”  Putri yang menghadap ke arah Dion menatap


lelaki itu lekat-lekat. Ia ingin tahu,  apa tujuan Dion menanyakan hal itu.


“Apakah itu berarti pengusaha bukan tipemu?”  tanya Dion lagi, Putri mengernyitkan dahi, mencoba


mencerna makna kalimat yang di ucapkan oleh Dion.


“Aku tidak memiliki tipe khusus dalam memilih pasangan.


Bagiku, pria baik dan juga tulus itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak suka


pada pria yang sombong apalagi suka memamerkan kekayaannya.  Lebih tepatnya, aku suka seorang pria yang


sederhana.” Cerocos Putri, Dion sangat memperhatikan kata demi kata yang di


ucapkan oleh gadis itu.


“Pria yang sederhana?” Dion mengulang kalimat terakhir yang


di ucapkan oleh Putri. Ia bingung, apa devinisi pria sederhana yang di inginkan


oleh Putri.


“Ya, pria sederhana yang selalu apa adanya, meskipun ia


berkecukupan. Lebih bisa membuat hatiku bahagia, tanpa hadiah. Bagiku, pria


seperti itu yang bisa menjadi seorang pangeran impian.” Putri nampak sangat


serius saat mengatakan ini, sementara Dion, hanya manggut-manggut tanda


mengerti.

__ADS_1


“Put, kamu pernah merasakan tiba-tiba di tinggalkan oleh


orang yang kamu sayangi? Maksudku adalah pacar.” tanya Dion sambil menyapukan


pandangannya ke  Menara Eiffel dan


sekitarnya, suasana yang cukup ramai membuat mereka harus sedikit menghindar


dari keramaian.


“Aku belum pernah pacaran. Jadi hal seperti itu belum pernah


aku rasakan sebelumnya. Apa kamu punya pengalaman patah hati karena di


tinggalkan?” Putri balik bertanya pada Dion, ia menempatkan diri sebagai


sahabat pria itu dan siap menjadi pendengarnya yang setia.


Selama ini Dion memang banyak teman, tetapi untuk


membicarakan hal pribadi, ia sangat sungkan. Obrolan yang sering ia lakukan


dengan teman-temannya tentu yang berhubungan dengan bisnis, juga beberapa hal


receh lainnya. Bertemu dengan Putri, seperti sebuah keberuntungan tersendiri. Baginya,


sosok Putri memang seorang yang sederhana, tetapi ia pantas untuk di impikan.


“Seperti yang aku ceritakan padamu kemarin, karena aku sibuk


bekerja dan tidak ada waktu untuk berkencan, pacarku diam-diam menjalin


hubungan dengan pria lain. Padahal, aku berniat untuk menikahinya, bahkan aku


sudah menuruti apa yang dia mau, hampir segala yang ia inginkan aku berikan,


tapi apalah daya, yang tulus pada akhirnya kalah dengan yang selalu ada. Itu yang


juga menjadi salah satu alasan, kenapa aku masih bertahan menyendiri sampai


meresapi apa yang pria itu ceritakan.


“Kejadian itu pasti membuatmu sangat terpukul. Pantas saja,


kamu memilih sendiri. Jika aku memiliki seorang kekasih yang sudah mengorbankan


banyak hal untukku sepertimu, aku pasti akan mempertimbangkan berulang kali


untuk menghianatinya, karena menemukan sebuah cinta yang tulus itu tidaklah


mudah. Terkadang cinta tulus dan modus itu sangat tipis perbedaannya, begitu


pula dengan Vian..”  tanpa sadar Putri


menyebut nama Vian, meskipun sebenarnya intonasi ucapannya sangat rendah, Dion


dapat mendengarnya.


“Ada apa dengan Vian? Apa kamu mengetahui sesuatu


tentangnya? “  ternyata perkataan Putri menarik


perhatian Dion, seketika Putri merasa sangat ceroboh karena harus menyebut nama


Vian saat melakukan obrolan dengan Dion.


Meskipun belum cukup bukti, Putri memang merasa kalau Vian


juga di manfaatkan para wanitanya. Gaya hidupnya yang selalu menyelesaikan


segalanya dengan uang membuat wanita-wanita itu enggan untuk melepaskannya. Terlebih,

__ADS_1


Vian uga gila pujian, sedikit saja wanita memuji, ia pasti akan menyerahkan isi


dompetnya.


“Ah, itu... tidak apa-apa, anggap saja aku salah bicara. Bagaimana


kalau kita melanjutkan jalan-jalan lalu segera kembali ke hotel? Sudah cukup


malam dan udara juga semakin dingin.” Putri nampak sedikit kedingingan, ia


tidak membawa jaket dan tidak menyangka kalau  udaranya akan sedingin ini sampai menembus baju hangatnya.


“Kamu kedinginan? Kalau begitu, pakai saja jaketku...” Dion


melepas jaketnya dan memakaikan ke punggung Putri. Perilaku sederhana Dion ini


membuat Putri sedikit terkesan.


“Terima kasih, tetapi sebaiknya tidak usah. Bagaimana kamu


bisa membiarkan dirimu kedinginan sementara kamu justru memberikan jaketmu


untuk melindungiku dari udara dingin yang cukup menusuk ini?” Putri mengambil


jaket Dion dan menyodorkannya kembali pada Dion.


“Sudahlah, tidak perlu sungkan. Bukankah, kita ini teman? Lagipula,


aku ini seorang lelaki. Bagaimana bisa aku biarkan seorang wanita kedinginan?”


Dion menolak jaketnya dan tetap bersikeras untuk meminta Putri memakainya.


“Dasar keras kepala, baiklah, aku akan pakai jaket ini. Nanti,


kalau kamu sampai demam, jangan salahkan aku.”  Putri segera memakai jaket Dion karen udaranya


memang semakin menusuk. Pria itu  cukup senang,  Putri mau memakai jaketnya, meskipun


sebagai konsekuensi, sekarang ia yang merasakan dingin yang seperti merasuk ke


dalam tubuhnya melalui pori-pori.


“Aku tidak akan sakit hanya karena udara dingin. Sudah, ayo


kita jalan-jalan sebentar lagi sebelum pulang. Apa kamu mau makan lagi? Mau beli


sesuatu untuk di makan di hotel?”  Dion


berinisiatif jalan terlebih dahulu di ikuti oleh Putri. Bagi Dion, gadis di


sampingnya itu sangatlah menarik, semakin hari, rasanya ingin memberikannya


perhatian lebih.


“Jangan terlalu memanjakan aku, takutnya, aku menjadi gemuk,


nanti aku tidak akan kuat lagi menemanimu jalan jauh seperti sekarang.”  Mendengar ucapan Putri, Dion terpanggil untuk


tertawa, bagaimana tidak, gadis yang ada di sampingnya itu justru menghubungkan


antara makan, kegemukan dan juga dirinya. Meskipun bagi orang lain itu hal


biasa, entah mengapa bagi Dion, segala yang di lakukan Putri terasa istimewa.


“Aku paham, wanita memang selalu sibuk memikirkan hal-hal


sepele, terkadang rela tidak makan hanya karena takut gemuk, padahal itu belum


tentu terjadi.” Dion menyatakan pendapatnya, Putri tersenyum, apa yang di


katakan Dion ada benarnya juga.

__ADS_1


“Wanita memang rumit, jadi jangan heran, jika wanita juga


banyak menuntut...”


__ADS_2