
Vella tersenyum, sebentar lagi dia akan melancarkan aksinya. Menyingkirkan wanita desa yang sudah menghalangi niatnya. Wanita kampung yang sudah mempengaruhi adik ipar dan suaminya.
♡ ♡ ♡
"Enak sekali masakanmu, Naila. Sudah lama aku tak pernah makan masakan rumahan seperti ini. Boleh tambah?" tanya Rony pada Naila.
Tak dipungkiri, Rony mulai mengagumi istri adiknya. Meskipun wajahnya biasa saja, tapi sikapnya sopan, rajin ibadah, masakannya enak pula. Tak salah jika adiknya terlihat sangat bahagia.
"Silakan, Kak. Alhamdulillah kalau Kak Rony suka," jawab Naila dengan ramah.
"Pantas saja masakannya enak, dia kan bekas pelayan restoran," ujar Vella dengan nada datar, tak menghiraukan perasaan lawan bicaranya.
Vella tak suka mendengar Rony memuji Naila. Rony diam, tak lagi meneruskan bicaranya. Riko memandang Vella dengan tatapan tajam. Namun, Naila menenangkan suaminya dengan mengusap lembut lengan Riko yang duduk di sampingnya.
"Alhamdulillah aku pernah bekerja sebagai pelayan. Aku jadi bisa memanjakan suamiku dengan berbagai macam menu masakan seperti di restoran. Lebih hemat, lebih higienis, dan tak harus mengeluarkan banyak uang." Naila berkata dengan santai tanpa beban.
"Dasar tak tahu malu! Jadi pelayan saja bangga." Vella mulai emosi, ingin membuat Naila menjadi rendah diri. Namun, semakin Vella merendahkannya, Naila semakin membuat dirinya tak berdaya dengan ucapannya.
__ADS_1
Rony sudah tak tahan, wajahnya mulai merah padam. Malu dan marah menjadi satu, tapi Naila memberi isyarat agar Rony tetap tenang.
"Pekerjaan pelayan itu halal, kenapa harus malu? Aku tak mencuri, aku tak merampok, aku juga tak mengemis, apalagi menipu. Bahkan karena bekerja sebagai pelayan, aku bisa menghidupi diriku sendiri dan banyak ilmu yang bisa aku pelajari," sahut Naila dengan senyuman di bibirnya. Dia tahu Vella akan semakin kesal padanya.
"Aku sudah tak berselera makan lagi. Aku mau ke kamar saja." Vella berdiri, berjalan meninggalkan mereka menuju kamarnya. Niatnya yang ingin membuat Naila malu, malah dirinya yang merasa dipermalukan. Rasa bencinya pada Naila pun semakin bertambah.
"Maafkan istriku, ya. Maaf, suasana makan kita jadi seperti ini. Maafkan kami, Naila," ucap Rony merasa tak enak hati. Bahkan Rony semakin mengagumi Naila yang tetap tenang menghadapi istrinya.
"Jangan khawatir, Kak. Aku baik-baik saja," ujar Naila. Dia mulai memahami karakter Vella. Hanya saja, Naila masih belum sepenuhnya memahami Rony. Selama ini yang terlihat di depannya, semua ucapan dan cara bicara kakak iparnya tampak tulus dan tak ada kebohongan di matanya.
"Sudahlah, Kak. Aku sudah tahu sifat istrimu. Nikmati saja makanannya. Ayo, Kak, jangan sungkan kalau mau tambah. Masakan istriku ini memang tiada duanya," kata Riko pada Rony yang terlihat sedih karena ulah istrinya.
Setelah makan siang, Riko mengantar kakaknya menuju rumah yang dia tawarkan. Vella mau tak mau mengikuti aturan suaminya. Kali ini Naila pun terpaksa ikut, walaupun sebenarnya dia ingin tinggal di rumah saja.
Taksi online berhenti di depan rumah berwarna coklat muda kombinasi putih. Rumah berukuran standar perumahan yang terlihat asri dan bersih. Sangat terawat walau sudah lama tak berpenghuni. Ada orang yang ditugaskan Riko membersihkan rumahnya setiap dua hari sekali. Suami istri yang berusia setengah abad yang selalu setia dan menuruti semua perintahnya, Pak Supri dan Bi Marni.
Vella dengan malas mengikuti langkah orang-orang di depannya. Wajahnya terlihat menahan emosi, tak suka dengan keputusan suaminya. Apalagi melihat Riko yang selalu menggandeng tangan istrinya, rasa cemburu semakin membuat hatinya benci pada Naila. Namun, tiba-tiba dia tersenyum, tersirat sebuah ide yang akan membuat Naila berpikiran buruk pada Riko.
__ADS_1
Setelah masuk rumah, mereka duduk di sofa minimalis yang tersedia di ruang tamu. Rumahnya memang tak besar, tapi perabotannya sangat lengkap. Mulai dari sofa, tempat tidur, lemari pakaian, televisi, kulkas, bahkan peralatan dapur. Naila hanya diam, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Diamnya Naila, membuat Riko sedikit cemas. Riko pun tahu apa yang dipikirkan istrinya. Sebelum Riko sempat berbicara, Vella sudah mendahuluinya.
"Terima kasih, ya. Kamu memang adik yang sangat baik. Bahkan kamu mengijinkan kami tinggal di salah satu rumahmu. Lihatlah rumah ini, bahkan perabotannya pun lengkap, kita tinggal menempatinya tanpa harus repot-repot membeli."
Vella duduk di hadapan Riko dan berbicara sambil melirik ke arah Naila. Vella ingin membuktikan pada Naila bahwa ucapannya mengenai harta kekayaan Riko adalah nyata. Riko pun terdiam, memperhatikan sikap Vella dan melihat tanggapan istrinya. Namun, Naila sama sekali tak berniat menanggapi kakak iparnya, walaupun Naila mengerti maksud ucapan wanita yang duduk di hadapannya.
"Riko, apakah uang yang kau janjikan pada kami sudah kamu transfer? Sekali lagi terima kasih atas bantuannya selama ini. Meskipun usahamu di mana-mana, kaya raya, dan sekarang sudah punya istri, tapi kamu tak pernah berubah. Kami sangat beruntung memiliki adik sepertimu," lanjut Vella seakan sengaja membuat Naila sakit hati. Naila terlihat tak acuh, tak terpengaruh sama sekali dengan ucapannya, membuat Vella semakin geram.
"Baiklah, Kak, aku langsung pulang saja. Tugasku sudah selesai di sini. Taksinya juga masih menunggu," sahut Riko tak mempedulikan ucapan Vella.
"Baiklah, sekali lagi terima kasih, Riko. Naila, terima kasih juga mau ikut mengantar kami."
Riko dan Naila menjawab dengan senyuman. Rony pun mengantar mereka sampai masuk ke dalam taksi. Sementara Vella hanya diam dengan hati yang sangat kesal. Mereka semua tak ada yang mempedulikannya, perhatian mereka hanya ditujukan pada Naila. Kebenciannya pun semakin menjadi.
Rony masuk ke dalam rumah dan duduk di samping istrinya. Dia tahu saat ini Vella kesal dengan dirinya. Walaupun dia sendiri juga sangat tak suka dengan sikap istrinya, namun dia mencoba bersabar dan mengalah.
"Sayang, kenapa sikap kamu seperti itu pada Naila? Dia bahkan tak marah dengan semua ucapanmu yang jelas-jelas menyinggung perasaannya." Rony berkata dengan memegang lembut tangan istrinya.
__ADS_1
"Kamu sekarang nggak sayang lagi sama aku. Kamu mulai perhatian sama istri adik iparmu itu. Bukankah kita sudah sepakat membuat mereka berpisah? Kenapa kamu sekarang berubah? Kenapa?" teriak Vella.
Vella berdiri dan meluapkan emosinya pada Rony. Kekesalan hatinya dilampiaskan pada suaminya. Dia sudah tak tahan lagi menahan rasa benci dan marah. Rony terdiam, dirinya bingung harus berkata apa. Bahkan untuk menjelaskan, dia tak lagi punya kata-kata.