Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Trauma Naila


__ADS_3

"Aku nggak tahu, Sayang. Aku sudah menyuruh seseorang mengecek nomer ponsel itu tapi sepertinya kartunya langsung dibuang atau mungkin dihancurkan oleh pemiliknya.


" Mas, apakah penampilanku seperti seorang pezina, sampai kamu percaya dengan tuduhannya?"


"Astaghfirullah ... maafkan aku, Sayang. Terserah kamu mau bilang apa saja padaku, yang pasti aku menyesal. Sekali lagi, maafkan aku, Naila. Maafkan suamimu yang bodoh ini."


"Aku berjanji padamu, Mas. Setelah ini, aku tak akan pergi ke mana pun sendirian, kecuali kamu yang mengajakku."


"Naila ...."


"Tolong hargai keputusanku ini, Mas. Aku lelah dengan manusia-manusia yang terlalu mencampuri urusanku."


Setelah menyampaikan keputusannya pada Riko, Naila beranjak pergi ke kamar mandi. Riko akhirnya diam dan menyesali perbuatannya. Untuk sementara, biarlah Riko menerima keputusan Naila. Mungkin lebih baik seperti ini, Naila tak akan pergi keluar rumah tanpa dirinya.


Riko tahu dia egois, tetapi dia juga tak ingin Naila menjadi bahan fitnah seseorang yang sampai sekarang belum diketahui identitasnya. Namun, Riko tiba-tiba memikirkan sebuah nama, karena dialah yang pertama kali meng-upload foto-foto Naila ke dunia maya.


"Apa mungkin Kak Rony, ya, yang mengirim foto dan pesan-pesan itu? Tapi buat apa? Kak Rony juga sudah berubah. Apa perubahannya punya tujuan tertentu? Astaghfirullah ... kenapa aku jadi suudzon pada kakakku sendiri?"


Riko berjalan ke luar kamar lalu pergi ke dapur menemui Marni. Dia akan membawa makan pagi mereka di kamar saja. Tak mungkin juga Naila ke luar dari kamar beberapa hari ini. Istrinya masih terlihat lemah karena perbuatannya tadi malam.


"Bi, tolong siapin sarapan buat kami berdua, ya. Biar saya dan Naila makan di kamar saja. Saya tunggu, ya, Bi."


"Baik, Den."


Riko kembali masuk kamar sambil membawa nampan yang di atasnya sudah ada dua buah piring nasi goreng dengan telur mata sapi dan udang goreng tepung. Naila sedang duduk di sofa sambil memandang ke arah luar jendela.


"Sayang, makan dulu, ya. Sudah aku bawakan ini. Bi Marni bikin nasi goreng spesial buat kamu."


"Aku nggak lapar, Mas."


Naila membalas ucapan suaminya tanpa memandang ke arah Riko. Laki-laki tampan itu pun segera meletakkan nampan di atas meja yang ada di depan sofa. Riko kemudian duduk bersimpuh di hadapan Naila. Dia tahu istrinya sudah memaafkannya tapi hatinya masih terluka.


"Sayang, maafkan aku ... tolong jangan seperti ini. Aku suapi, ya, Sayang. Kamu harus makan, Naila. Aku nggak ingin kamu sakit ...."

__ADS_1


"Tapi kamu sudah menyakitiku, Mas."


"Naila, please, aku memang salah. Aku minta maaf padamu. Tapi kamu harus tetap sehat, jangan sampai karena perbuatanku tadi malam kamu sampai nggak makan. Kalau kamu nggak makan, aku juga nggak akan makan."


Naila menghela napas berat, berharap luka hatinya sirna seiring hembusan napasnya. Dia pun memandang suaminya yang masih bersimpuh di hadapannya. Naila langsung memeluk tubuh Riko dan kembali menangis.


Riko mengecup pucuk kepala Naila dengan penuh cinta dan penyesalan yang mendalam. Istrinya yang berhati mulia, mau memaafkan dirinya yang bodoh.


"Sayang, pukullah aku sampai kamu puas atau tendang aku agar kamu lega. Tapi tolong, jangan siksa dirimu seperti ini. Aku yang salah, aku yang harusnya menghakimi diriku sendiri, bukan kamu!"


"Aku sedih, Mas. Siapa yang tega memfitnahku?"


"Suatu saat nanti, pasti kita akan tahu. Sekarang makan dulu, ya? Ayo, aku suapin."


Naila pun mengangguk dan mencoba tersenyum. Riko berulang kali bersimpuh di hadapannya dan meminta maaf tanpa henti. Dia tahu, suaminya benar-benar menyesali perbuatannya. Naila berharap, kejadian tadi malam tak akan terulang lagi hanya karena rasa cemburu yang tak dikonfirmasi.


"Aku bisa makan sendiri, Mas. Kamu juga belum makan. Ayo kita makan sama-sama."


"Baiklah, terima kasih sudah mau memaafkanku dan tersenyum lagi."


Riko kembali masuk ke dalam. kamar dan melihat Naila yang terlelap. Namun, saat mengecup kening Naila, Riko merasakan panas di tubuh istrinya. Naila demam tinggi.


Tanpa bicara, Riko langsung berganti pakaian lalu mengganti pakaian Naila dengan gamis dan khimar panjang. Bahkan saat Riko mengganti pakaiannya, istrinya diam saja seperti orang pingsan. Riko semakin takut dengan keadaan Naila saat ini. Dia segera berlari ke luar kamar dan berteriak memanggil Supri.


"Pak Supri! Pak Supri!"


Supri dari arah teras depan rumah langsung berlari mendekati tuannya. Dia mengerti, jika Riko sudah berteriak, pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Iya, Den."


"Tolong siapkan mobil sekarang juga. Kita ke rumah sakit yang biasanya."


"Baik, Den."

__ADS_1


Riko segera menggendong tubuh mungil Naila dengan tergesa. Dalam perjalanan dia pun menelepon Hanna. Dia tak ingin dokter lain yang menangani Naila. Hanya Hanna saja yang bisa dia percaya.


"Pak Supri, tolong agak cepat sedikit. Sepertinya Naila pingsan. Ya Allah, apa yang terjadi? Semoga istriku baik-baik saja."


"Iya, Den, ini sudah cepat. Insyaa Allah Mbak Naila baik-baik saja."


Riko tak henti-hentinya berdo'a dan mengucap istighfar. Rasa sesal, takut bercampur panik sudah menguasai hatinya saat ini. Setelah sampai di rumah sakit, Riko langsung menggendong istrinya dan membawanya ke ruang IGD. Hanna pun sudah menunggu. Untung saja Hanna baru saja ke luar dari ruang operasi saat Riko menghubunginya.


Hanna memandang Riko dengan tatapan tajam setelah memeriksa keadaan Naila. Mereka saat ini di ruang IGD khusus yang tertutup.


"Ulah siapa ini, Riko? Ulah kamu?"


"Please, Hanna, jangan dibahas sekarang. Bagaimana dengan keadaan istriku?"


"Ayo, kita duduk dulu di situ. Aku ingin bicara padamu. Sus, tolong diawasi dulu, ya."


Perawat yang juga asisten Hanna mengganggukkan kepala. Riko berjalan mengikuti langkah Hanna kemudian mereka duduk saling berhadapan di ujung ruangan. Hanna menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Dia memandang ke arah sahabatnya yang menunggu penjelasan darinya.


"Riko, kamu tahu sendiri 'kan kalau istrimu baru beberapa bulan ini keluar dari rumah sakit? Aku pernah bilang padamu, mungkin secara fisik Naila sudah sehat tapi psikisnya belum tentu. Kamu mau aku laporkan ke polisi karena kasus KDRT?"


"Aku nggak bermaksud begitu, Hanna. Aku ... aku nggak sengaja."


"Astaghfirullah ... Riko, kamu kalau sudah nggak cinta, lepaskan istrimu. Jangan malah kamu siksa. Aku nggak tahu juga apa masalah kalian tapi aku perhatikan Naila wanita baik dan nggak macam-macam. Aku malah yang curiga sama kamu."


"Terus bagaimana, Hanna? Kenapa Naila belum siuman?"


"Kita tunggu saja beberapa menit lagi."


"Baiklah. Hanna, aku minta tolong, rahasiakan semua tanda merah yang ada di tubuh Naila. Aku malu, Hanna, aku menyesal. Tolong, sembuhkan istriku."


"Sekali lagi aku bilang, Riko. Naila secara fisik insyaa Allah pasti sembuh tapi entah psikisnya. Semoga dia wanita yang kuat."


"Dokter, pasiennya mengigau."

__ADS_1


Riko dan Hanna langsung mendekat dan memperhatikan Naila.


"Mas, jangan ... tolong hentikan ... sakit, Mas ...."


__ADS_2