
"Selamat siang, Pak Riko." Daffa dan Bisma berdiri dan menyapa Riko dengan ramah.
"Selamat siang," balas Riko sambil tersenyum mencoba bersikap seperti biasa. Padahal dalam hatinya ingin sekali memaki mereka.
"Maaf, ya, aku mau pulang dulu dan terima kasih sudah menemaniku." Naila pun langsung pamit tanpa ingin berlama-lama di pesta. Dia tahu, saat ini suaminya sedang menahan rasa cemburu.
"Baiklah, hati-hati, Naila," ucap Daffa.
"Kenapa cepat-cepat pulang? Kamu 'kan belum kasih aku nomer ponselmu?" tanya Reza dengan tenang. Pandangan matanya tak pernah lepas dari Naila, membuat Riko tak suka.
"Nanti sajalah, Bro. Gampang itu!" sahut Bisma sambil menepuk pundak Reza.
"Oke, dech. Hati-hati, ya, Naila. Sampai bertemu lagi." Reza pun terpaksa menyerah dan memberikan senyum terbaik pada wanita yang tiba-tiba mencuri hatinya.
Naila hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Setelah berjabat tangan dengan mereka bertiga, Riko pun menggandeng tangan istrinya lalu beranjak pergi meninggalkan pesta.
"Gila! Aku nggak nyangka Naila bisa secantik itu. Tahu gitu dari dulu sudah aku nikahin dia," seru Reza. Pandangan matanya masih tertuju pada sosok Naila yang sudah menjauh.
"Emang yakin kalau diterima?" tanya Daffa.
"Yakinlah, aku juga tampan dan kaya, nggak kalah sama suaminya." Reza menjawab pertanyaan Daffa dengan percaya diri.
"Tanya tuh sama Bisma, sudah berapa kali dia melamar Naila? Tapi ditolak terus, sampai sekarang nggak bisa move on," sahut Daffa sambil menahan tawa. Bisma langsung melempar tissue kotor yang baru diremasnya ke arah Daffa.
"Jangan ngeledek, kamu sendiri juga belum bisa move on, kan?" balas Bisma yang membuat Daffa tak berkutik.
"Hei, kalian curang! Kenapa kalian nembak Naila nggak ngajak-ngajak? Siapa tahu aku yang bakal diterima."
"Mimpi! Daffa yang dari dulu dekat sama Naila aja nggak diterima, apalagi kamu! Playboy kampus cap kadal!" Ucapan Bisma disambut tawa kedua temannya.
"Ha ha ha ...."
"Tapi ... benar-benar istri idaman. Cantik, lembut, shalihah ...." Reza kembali memuji Naila.
"Sadar, Bro, istighfar ... bini orang itu!" Daffa mengingatkan Reza.
"Ah, kalian nggak asyik," sahut Reza yang masih penasaran dengan Naila.
"Tapi ... mau nomer ponselnya, nggak?" tanya Bisma.
"Mau ...."
"Tanya Eva sana! Aku aja nggak dikasih," ucap Bisma yang membuat Reza semakin penasaran.
"Eva?"
"Iya, dia katanya punya nomer ponsel Naila. Kemarin dia ajak aku ketemuan tapi aku nggak bisa. Aku sudah terlanjur janji sama mama. Ada undangan pernikahan juga nanti malam."
__ADS_1
"Sama, aku juga waktu itu ditelepon sama Eva, ngajak ketemuan sore nanti. Aku juga nggak bisa, ada janji sama teman urusan pekerjaan," sahut Daffa.
"Kira-kira ada apa, ya?" Daffa heran karena dia sendiri sudah lama tak pernah bertemu dengan Eva.
"Sudahlah, nggak usah dipikirin. Paling juga dia pengen ngobrol-ngobrol sama kita." Bisma mencoba menenangkan Daffa walaupun dia sendiri sebenarnya penasaran.
Mereka bertiga pun akhirnya meninggalkan gedung pesta pernikahan Revan dan Clara yang semakin meriah.
***
Selama dalam perjalanan, semua hanya diam. Sesekali terdengar percakapan Rony dan Supri. Wajah Riko dan Naila yang masam, membuat Rony bertanya-tanya. Namun, dia mencoba tak ingin tahu, tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga adiknya.
"Pak Supri, nanti langsung ke rumah saja dulu. Saya mau ganti baju dan ambil berkas sebentar. Setelah ngantar Kak Rony, tolong antarkan saya ke kantor, ya, Pak," kata Riko pada Supri.
"Iya, Den."
Rony dan Naila hanya diam mendengarkan. Suara Riko terdengar tegas dengan wajah yang masih menahan emosi. Sementara Marni jadi merasa gelisah karena takut tindakannya salah. Namun, dia hanya menuruti apa yang diperintahkan tuannya. Teringat pesan Riko saat mengajaknya ke pesta waktu itu.
"Bi, tolong besok ikut saya ke pesta pernikahannya Clara. Bibi temani Naila, ya. Saya minta tolong layani dia, ambilkan makanan atau minuman yang dia inginkan. Dan yang paling penting, langsung kabari saya kalau ada laki-laki yang mendekatinya. Saya besok ada meeting sebentar bersama teman-teman di ruangan yang berbeda. Tapi kalau ada apa-apa dengan Naila, langsung temui saya, ya, Bi."
.
***
Sesampainya di kamar, Riko langsung menuju lemari pakaian. Naila mengikuti langkah suaminya dan mencoba mengajak bicara.
"Maaf, aku buru-buru. Aku mau ganti baju dulu. Kalau kamu mau menemui Eva, nanti biar diantar Pak Supri saja. Aku pulang malam." Riko memotong ucapan Naila sambil mengganti pakaiannya dengan tergesa.
"Kalau kamu butuh Pak Supri di kantor, aku nggak apa-apa, kok. Aku bisa naik taksi." Naila pun akhirnya mengalah. Dia mengerti, mengajak bicara suaminya hanya sia-sia. Dia tak ingin membuat keributan.
"Oke."
Riko pun langsung berangkat tanpa berpamitan lagi pada Naila. Dari sikap dan cara bicaranya, Naila tahu suaminya sedang marah. Tak ingin memperkeruh suasana, Naila langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri dan berwudhu. Setelah berganti pakaian, dia pun melaksanakan sholat dhuhur terlebih dahulu sebelum istirahat.
Air mata Naila mengalir dengan sendirinya, merasa sedih dengan sikap suaminya. Meskipun marah, biasanya Riko tetap pamit dan mencium keningnya ketika hendak pergi. Namun kali ini, sikapnya sangat tak acuh, bahkan tak memandang wajahnya sama sekali.
Suara ketukan pintu menyadarkan Naila dari lamunan. Dia pun menyuruh masuk Marni sambil mengusap sisa air mata di pipi. Marni berjalan mendekati Naila yang duduk di pinggir ranjang. Dia langsung duduk bersimpuh di bawah kaki Naila.
"Mbak, saya minta maaf. Ini semua salah saya, maaf, Mbak," ucap Marni dengan sedih.
"Bi, jangan begitu. Berdirilah dan duduk di sini, aku mohon, Bi." Naila beranjak dari duduknya lalu memegang pundak Marni agar berdiri dan duduk di sebelahnya.
"Maafkan, saya, ya, Mbak. Saya hanya menuruti perintah Den Riko. Tolong, jangan marah sama saya, Mbak." Marni merasa bersalah pada Naila.
"Saya nggak marah, Bi. Bibi juga nggak salah, itu sudah menjadi kewajiban Bibi melaksanakan perintahnya Mas Riko. Sudahlah, Bi, nggak usah dipikirkan. Saya baik-baik saja, kok," balas Naila sambil tersenyum menyembunyikan kesedihan.
***
__ADS_1
Sore hari, Naila datang sendiri ke kafe depan rumah sakit tempat Eva bekerja. Dia pun sudah mengirim pesan pada suaminya. Meskipun belum mendapat balasan, Naila tetap berangkat karena siang tadi Riko sudah mengijinkan.
"Hai, Naila ... aku kira kamu nggak datang. Mau pesan apa?" sapa Eva yang sudah duduk menunggu di salah satu meja di sudut ruangan.
"Ancamanmu yang membuat aku datang!" balas Naila.
"Hei ... jangan dibuat serius. Aku kemarin hanya bercanda." Eva berkata sambil tertawa melihat Naila yang cemberut.
"Bercandamu nggak lucu!"
"Maaf, jangan marah, dong. Sebagai permintaan maafku, aku akan mentraktirmu. Makanan di sini enak-enak lho," rayu Eva.
"Aku pesan jus jeruk saja. Aku sedang tak ingin makan." Naila pun menyebutkan minuman yang diinginkan agar bisa cepat pulang.
"Baiklah ...."
Eva memanggil seorang pelayan dan memesan dua minuman yang sama.
"Sekarang tolong bilang ada perlu apa sampai aku harus ke sini!"
"Santai saja kenapa, sih! Kita tunggu dulu sampai minumannya datang."
Naila hanya diam tak berniat berdebat. Sesekali melihat aplikasi pesan di ponselnya. Sampai sekarang, tak ada tanda-tanda Riko membalas pesannya. Naila pun menyerah dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang selalu dibawanya.
Seorang pelayan mengantarkan minuman mereka. Eva berdiri lalu membantu mengambilkan minuman dari nampan untuk Naila. Namun sayang, minuman itu tumpah mengenai jilbab dan baju Naila.
"Astaghfirullah ...." Naila sangat terkejut dengan kejadian yang tiba-tiba menimpanya.
"Maaf, Naila, aku nggak sengaja. Aku hanya ingin meletakkan minuman ini biar lebih dekat denganmu. Maaf ...." kata Eva sambil mencoba membantu membersihkan tumpahan di jilbab Naila dengan tisu.
"Iya, nggak apa-apa. Aku ke toilet dulu membersihkan jilbab dan bajuku yang terkena tumpahan jus."
Naila segera beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar mandi yang letaknya agak jauh di belakang. Kafe yang didatangi Naila sangat luas dan bersih. Pengunjungnya ramai pada saat istirahat siang dan malam hari.
Bruuukk!!
Naila tiba-tiba jatuh karena terpeleset sebelum sampai di pintu kamar mandi. Dia pun mencoba berdiri tapi tiba-tiba perutnya terasa nyeri.
"Ya, Allah ... sakit ...."
Seorang laki-laki yang keluar dari kamar mandi tak jauh darinya, melihat Naila dan berusaha menolong.
"Astagfirullah ... Mbak nggak apa-apa?"
"Tolong aku ... perutku sakit sekali. Tolong aku, Mas ...." kata Naila dengan nada lemah.
Naila terpaksa meminta pertolongan pada laki-laki yang bukan mahramnya. Apalagi saat ini kepalanya tiba-tiba pusing sekali. Beberapa detik kemudian pandangannya pun gelap lalu tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Mbak ... Mbak ... astaghfirullah ... dia pingsan. Bagaimana ini?"