
Rony jadi serba salah, bicara jujur takut membuat masalah, kalau berbohong, dia belum siap jawabannya.
"Kak Rony jangan takut padaku. Tolong jujur saja, apa benar perubahan Kakak karena Naila?" Riko kembali bertanya pada Rony yang hanya diam saja.
"Sejujurnya, tujuanku waktu itu memang seperti itu. Tanpa sengaja aku melihat kalian terlihat mesra dan bahagia di dapur. Aku iri, aku cemburu, padahal jelas-jelas aku punya istri yang lebih cantik dan seksi daripada istrimu. Tapi aku tak pernah sebahagia kamu. Apalagi saat mendengar Naila membaca Al-Quran, tiba-tiba hatiku tersentuh. Percaya atau tidak, aku menangis melihat kalian bahagia. Aku iri ...."
Riko terharu mendengar cerita kakaknya. Wajahnya yang tadinya terlihat tegang, sekarang mulai tenang. Rony pun melanjutkan ceritanya.
"Di saat itulah aku baru sadar, punya istri yang cantik dan seksi ternyata bukan jaminan rumah tangga kita bahagia. Bersyukurlah kamu, Riko. Naila wanita yang shalihah, dia baik, sopan, ramah, pemaaf, pandai masak pula. Aku jadi iri padamu. Semoga suatu saat nanti aku bisa mendapatkan jodoh seperti Naila. Eh ... aku hanya mengagumi istrimu, tak ada maksud apa-apa." Rony segera meralat ucapannya, takut adiknya salah paham.
"Iya, Kak. Aku mengerti maksudmu. Jadi menurut Kakak, apakah Bisma, teman Naila, waktu itu benar-benar serius dengan ucapannya atau hanya berniat bercanda?" tanya Riko yang masih penasaran dengan Bisma.
"Riko, kita sama-sama laki-laki. Kita juga sama-sama pernah jadi playboy, pasti kamu tahu bedanya 'kan? Mana laki-laki yang serius dan mana yang hanya main-main saja?" Rony menjawab pertanyaan Riko dengan pertanyaan pula. Membuat Riko tak puas dengan jawaban kakaknya.
"Ya, aku mengerti. Kemarin Bisma bilang padaku, dia ingin bertemu Naila karena ingin memberikan undangan reuni, tapi aku tak mengijinkan." Riko menceritakan pesan dari Bisma.
"Kamu jangan terlalu mengekang Naila, Riko. Berikanlah kepercayaan pada istrimu. Aku sangat yakin Naila tak mungkin macam-macam. Aku tahu, ucapan dan pandangan mata Bisma memang bukan hanya candaan, aku pun merasa dia memang suka pada istrimu. Tapi jangan lantas kau sangkut pautkan dengan Naila, itu bukan kesalahannya." Rony menasihati adiknya yang terlihat masih gelisah.
"Baiklah, nanti aku akan memikirkannya," balas Riko dengan malas.
"Riko, Naila tak akan ke mana-mana. Dia istri yang shalihah dan setia. Berikanlah dia kebahagiaan. Kamu juga harus membuktikan pada Bisma, bahwa kamu juga bisa membuat Naila cantik. Apalagi kamu memiliki uang, berikanlah Naila fasilitas yang terbaik," saran Rony yang membuat Riko diam dan membenarkan ucapan kakaknya.
"Baiklah, Kak. Terima kasih atas nasihatnya. Aku pasti akan memberikan yang terbaik buat istriku. Dan benar katamu, Naila adalah wanita yang shalihah, tak mungkin dia macam-macam. Aku pamit, ya, Kak. Maaf kalau sudah mengganggumu." Riko pun berdiri dan menjabat tangan Rony.
"Aku tidak merasa terganggu. Aku senang kita bisa seperti dulu. Waktu kita masih remaja, kita masih sering bercerita dan bercanda. Sudah lama kita tak pernah seperti ini. Terima kasih, Riko. Terima kasih karena sudah menerima kembali Kakakmu yang brengsek ini," ucap Rony dengan rasa haru.
Riko tersenyum lalu memeluk tubuh tegap kakaknya. Kedua laki-laki berwajah tampan khas Timur Tengah itu pun terlihat bahagia. Riko bahagia karena sang kakak yang benar-benar sudah berubah, Rony bahagia karena sang adik sudah mulai terbuka dan mau berbagi cerita dengannya.
Riko memutuskan untuk menyusul Naila ke klinik kecantikan saja. Hari ini dia menyerahkan urusan kantor pada orang kepercayaannya. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba gelisah. Berbicara dengan kakaknya ternyata masih saja menyisakan rasa gundah.
__ADS_1
***
Setelah selesai perawatan di klinik kecantikan, Naila langsung berjalan menuju ke tempat parkir. Baru saja beberapa langkah, seseorang menyapanya.
"Naila?"
Naila terkejut dan terpaksa menghentikan langkahnya.
"Hai, Bisma, kok kamu bisa ada di sini?" tanya Naila.
"Aku mau menjemput mamaku di klinik kecantikan itu. Kamu dari mana? Dari klinik juga?" tanya Bisma yang merasa senang bertemu lagi dengan Naila.
"Iya, tapi aku mau ke toko buku. Sekarang mau ambil motor di tempat parkir dulu," jawab Naila.
"Kamu naik motor, Naila?" tanya Bisma tak percaya.
"Kenapa? Ada yang salah?" Naila merasa risih dengan pertanyaan Bisma.
"Maaf, Bisma, aku tak bisa. Aku wanita yang sudah bersuami, tak pantas rasanya kalau hanya bicara berdua denganmu," tolak Naila dengan halus.
"Kalau begitu, tunggu mamaku saja. Kita ngobrol bertiga biar tak menimbulkan fitnah." Bisma masih berusaha agar Naila mau mengobrol dengannya.
"Tapi aku harus segera pulang, Bisma. Lain kali saja, ya." Naila kembali menolak ajakan Bisma.
"Lain kali kapan, Naila? Bahkan suamimu tak mengijinkanku bertemu denganmu. Sebentar saja, Naila," ucap Bisma dengan tatapan memohon.
Kesempatan yang tidak akan datang dua kali, begitu pikir Bisma. Dia sangat ingin melepas rasa rindunya walau hanya sebentar saja. Tanpa disadari, sepasang mata sedang memandang mereka dengan tatapan cemburu. Tanpa menunggu lama, dia pun keluar dari mobil dan mendekat tanpa sepengetahuan mereka.
"Maaf, Bisma. Sungguh aku tak bisa kalau sekarang. Dan soal undangan reuni itu, kamu tahu sendiri 'kan kalau aku tak suka ikut acara seperti itu?" Naila mencoba memberi pengertian pada Bisma.
__ADS_1
"Please, Naila. Sebentar saja, aku tak akan memaksamu kalau memang kamu tak mau datang ke acara itu. Paling tidak, berikan aku kesempatan mengobrol denganmu sebentar saja." Bisma pun tak mau menyerah, masih berusaha membujuk Naila.
"Hemm ... istriku sudah menolak, tolong kamu jangan memaksanya," sahut Riko yang membuat Bisma dan Naila terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Mas?" Naila merasa tak enak hati.
"Kalau begitu, kita bisa bicara bertiga, Pak Riko. Tolong, sekali ini ijinkan saya bicara sebentar dengan Naila," balas Bisma.
"Bisma, kapan-kapan saja, ya. Insyaa Allah suamiku pasti akan mengijinkan. Saat ini aku nggak bisa, aku masih ada urusan. Iya 'kan, Sayang?" Naila mencoba mencairkan suasana yang mulai terlihat tegang.
"Tadi katanya kamu bawa motor, Naila," ucap Bisma yang membuat Riko geram.
"Motormu biar dibawa Pak Supri saja, kamu ikut denganku, Naila." Riko kemudian memanggil Pak Supri yang terlihat memandang ke arah mereka.
"Maaf, ya, Bisma. Aku pulang dulu."
Naila pun pamit, Bisma terpaksa menganggukkan kepala. Riko menjabat tangan Bisma dan berlalu sambil menggandeng tangan istrinya.
Bisma hanya memandang Naila dengan hati yang patah. Rasa cintanya pada Naila benar-benar tak mau sirna. Hatinya sudah tertutup untuk wanita, cintanya hanya untuk Naila. Sebuah tangan lembut, menyentuh pundak Bisma.
"Itu yang namanya Naila?" tanya seorang wanita yang masih terlihat menawan di usianya yang beranjak senja. Setelah keluar dari klinik kecantikan, dia memperhatikan putranya dari kejauhan.
"Iya, Ma," jawab Bisma dengan suara lirih tak bersemangat.
"Lupakan dia, Bisma. Dia bukan jodohmu, dia sudah milik orang lain. Dosa kalau kamu mengganggu mereka." Bu Lidya mencoba memberi nasihat pada putranya.
"Ya, aku tahu, Ma. Aku juga selalu berusaha melupakannya."
Bisma mengajak Bu Lidya pulang dan menggandeng tangan wanita yang sangat dicintainya. Wanita lembut yang sudah melahirkannya, tak pernah marah dan bijaksana. Sifat Naila mirip sekali dengan mamanya, itulah mengapa Bisma sangat menginginkan Naila menjadi istrinya.
__ADS_1
"Suatu saat nanti, Mama yakin kamu akan mendapatkan yang lebih segalanya dari dia, Nak," ucap Bu Lidya sambil mengelus lengan putra kesayangannya.
Bisma tersenyum dan mencoba menenangkan hatinya. Tak ingin membuat mamanya sedih dan gelisah karena putra satu-satunya harus memendam rasa cinta yang salah.