Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Riko dilema


__ADS_3

"Tadi siang waktu kamu di kamarnya Bara, temanmu yang sok ganteng itu meneleponku. Dia ingin bertemu denganmu, ingin memberikan undangan reuni katanya. Dan maaf, aku tak mengijinkan."


Naila diam, hanya menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia pun tersenyum lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Riko heran, istrinya tak berkata apa-apa, tak mengomentari apa yang dia ucapkan, juga tak terlihat marah.


"Naila, apa kamu tak marah kalau aku melarangmu bertemu dengan teman-temanmu?" tanya Riko sambil memandang wajah istrinya. Naila pun duduk, membingkai wajah tampan Riko dan tersenyum.


"Tidak, Mas. Kamu imamku, insyaa Allah aku akan menuruti apa pun yang kamu perintahkan dan apa yang kamu larang. Selama itu baik dan tak melanggar syari'at agama. Sudahlah, nggak usah dipikirkan lagi, kita tidur saja. Besok pagi kamu 'kan juga harus berangkat kerja," jawab Naila.


"Aku merasa menjadi suami yang jahat, Naila. Marahlah jika kamu ingin marah." Riko merasa heran dengan dirinya sendiri yang tak terima jika Naila hanya menurut saja.


"Tidak, sungguh aku tak marah." Naila kembali tersenyum, mencoba meyakinkan suaminya.


"Apa kamu tak ingin tahu alasanku kenapa melarangmu?" tanya Riko heran.


"Aku tak ingin tahu," jawab Naila singkat.


"Apa kamu tahu aku cemburu?" Riko kembali memberikan pertanyaan pada Naila yang terkesan cuek dengan ucapannya.


"Ya, aku tahu. Makanya aku diam saja. Mas, buat apa kita membahas hal-hal yang nggak penting seperti ini. Lagian, kenapa harus cemburu? Apa yang dicemburui dari istri sepertiku?"


Pertanyaan Naila membuat Riko terdiam. Mata Naila berembun, membuat dirinya merasa bersalah.


"Harusnya kamu tak perlu khawatir atau pun cemburu mempunyai istri sepertiku. Wajah pas-pasan, badan tak tinggi, kulit juga tak putih, apa yang dilihat dariku? Harusnya aku yang cemburu padamu, Mas!"


Tiba-tiba Naila menangis, membuat Riko semakin merasa bersalah. Niat hanya ingin membuat Naila mengerti perasaannya, malah membuat istrinya meneteskan air mata.


"Sayang, maafkan aku. Aku tak bermaksud begitu, aku hanya cemburu mendengar cerita temanmu. Apalagi dia ingin mengundangmu ke acara reuni. Aku tak ingin kamu bertemu dengan teman laki-lakimu yang seperti Bisma," jelas Riko.

__ADS_1


"Mas, aku ingin menceritakan padamu, salah satu alasan aku tak pernah percaya pada laki-laki yang melamarku." Setelah mencoba menghentikan tangisnya, Naila pun melanjutkan ceritanya.


"Tak sengaja aku mendengar beberapa teman kampus yang sedang membicarakanku. Mereka memang rata-rata berwajah tampan dan kaya raya. Mereka membuat diriku menjadi bahan taruhan. Jika ada yang bisa menjadikan aku tunangannya, dia akan mendapatkan hadiah sebuah motor sport yang fantastis harganya. Setelah itu, ya sudah! Aku akan dia campakkan begitu saja tanpa ada niat serius ke jenjang pernikahan setelah mengkhitbahku."


Riko memeluk erat tubuh mungil istrinya, rasa bersalah semakin menguasai hatinya. Tak disangka Naila mempunyai kisah sedih yang selama ini dia pendam sendiri.


"Kamu sudah membuka luka lama yang selama ini aku tutup rapi dalam hati. Rasa cemburumu padaku tak beralasan, Mas. Kalau Bisma memang tulus dengan perasaannya, aku tak mau tahu. Biarlah itu menjadi urusannya sendiri. Tolong, Mas, jangan membicarakan hal itu lagi. Sungguh, aku sedih."


"Maafkan aku, Sayang. Sungguh aku tak tahu kisahmu ini."


Riko membingkai wajah istrinya, pipi Naila basah karena air mata. Naila mencoba tersenyum, tak ingin larut dalam kesedihan kisah masa lalu. Riko mencium bibir tipis Naila dengan lembut namun penuh hasrat. Riko membuat Naila terlena dengan ciuman dan sentuhannya, membuat wanita yang sangat dicintainya bergairah, hingga Naila lupa dengan kesedihannya.


Memandang wajah Naila yang terlihat sangat lelah, Riko kembali merasa bersalah. Dirinya terlalu menggebu, bahkan sampai melampiaskan rasa cemburu dalam permainan panas mereka. Meskipun Naila tak percaya dengan teman-teman yang pernah berniat mempermainkannya, tapi dia meyakini perasaan Bisma tulus pada istrinya.


"Lihatlah, wajahmu yang kata orang biasa saja, sudah ada yang mengagumimu sampai seperti itu. Apalagi kalau kamu cantik, Naila." Riko bergumam sendiri sambil mengelus pipi sang istri.


"Tolong jangan sia-siakan istri seperti Naila. Bahkan saya sudah berkeliling mencarinya sewaktu foto-fotonya viral waktu itu. Saya berniat menikahinya dan membuatnya menjadi cantik dan istimewa agar dunia tak lagi merendahkannya." Kata-kata Bisma selalu terngiang di telinganya.


'Aku juga ingin membuat Naila istimewa, aku juga ingin istriku terlihat menawan. Hanya saja kalau Naila terus-menerus melakukan perawatan di klinik kecantikan, dia pasti banyak yang menggoda. Apalagi usianya masih muda ... ah, apa yang aku pikirkan? Kenapa tiba-tiba aku menjadi seorang suami yang egois? Pada siapa aku harus bicara masalah Naila? Kalau pada Farel, dia pasti akan tertawa dan semakin menggodaku atau mungkin menyalahkanku,' batin Riko gelisah.


Riko mengacak rambutnya dengan kasar. Bahkan dia merasa hatinya tak pernah segalau ini. Tiba-tiba Riko mengingat nama seseorang. Dia pun tersenyum karena menemukan sebuah jawaban.


'Kak Rony, aku besok akan menanyakan padanya. Kenapa dia tiba-tiba berubah, apa benar karena Naila? Ya, aku akan meminta penjelasan dan juga sarannya. Apalagi dia pasti lebih jago urusan wanita,' kata Riko dalam hati. Akhirnya perasaannya kembali tenang. Riko pun mulai terlelap sambil memeluk erat tubuh mungil Naila.


***


"Sayang, hari ini jadwalmu ke klinik kecantikan, ya?" tanya Riko yang baru saja melihat agenda kegiatannya. Bahkan jadwal istrinya pun ada dalam catatannya. Setelah beberapa kejadian buruk menimpa Naila, Riko sangat menjaga istrinya sampai sekarang. Semua rangkaian kegiatan Naila, dia harus mengetahuinya.

__ADS_1


"Iya, Mas. Kalau diijinkan, setelah dari klinik, aku ingin pergi berbelanja dan membeli buku sebentar. Ada buku yang ingin aku beli, Mas. Boleh, ya?" pinta Naila.


"Kenapa nggak nunggu aku pulang? Atau beli online saja, ya?" sahut Riko yang tak ingin Naila pergi ke toko sendiri.


"Sekalian jalan, Mas. Aku kemarin lihat ada toko buku dekat klinik," jawab Naila yang membuat Riko tak punya alasan lagi melarangnya.


"Aku akan meminta Pak Supri mengantarmu setelah aku sampai di kantor nanti."


"Aku naik motor saja, Mas. Aku ingin menghirup udara segar," ucap Naila sambil memeluk suaminya. Naila berusaha membujuk Riko agar diijinkan pergi naik motor kesayangannya. Riko pun hanya bisa menarik napas panjang, tak bisa menolak keinginan istrinya.


"Baiklah, hati-hati di jalan. Tolong nanti langsung pulang," balas Riko sambil mencium kening Naila.


"Iya, Mas. Terima kasih, ya," kata Naila dengan gembira.


Riko pun berangkat dan langsung menemui Rony di kantornya. Rony terkejut dengan kedatangan Riko yang tiba-tiba. Mereka berdua duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Rony. Riko yang sudah tak sabar, tak lagi peduli kalau saat ini masih jam kerja. Tentunya dengan ijin pemilik perusahaan yang juga salah satu temannya. Rasa penasarannya, tak lagi bisa dikendalikan. Dia ingin segera mendapatkan jawaban agar hatinya tenang.


"Maaf, Kak, aku mengganggu waktu kerjamu sebentar saja."


"Tumben, Riko. Ada yang penting? Apakah ini ada hubungannya dengan pengacara yang mengurus perceraianku?" tanya Rony heran.


"Tidak, Kak. Kalau soal itu, insyaa Allah semuanya aman. Ini masalah ... Naila," jawab Riko.


"Ada apa dengan Naila? Apa Vella mengganggunya lagi?" Rony semakin penasaran. Tak biasanya adiknya berkunjung ke kantornya, apalagi membahas masalah pribadi.


"Bukan ... bukan seperti itu. Aku ingin Kak Rony jujur padaku. Apa yang membuat Kakak berubah? Apa benar karena Naila? Bukankah Kakak tadinya ingin menguasai semua hartaku bersama Vella?" Riko bertanya terus terang pada kakaknya.


Rony terkejut mendengar pertanyaan Riko yang tiba-tiba. Saat ini Riko seolah sedang mengintimidasi dengan pandangan yang tajam ke arahnya. Rony jadi serba salah, bicara jujur takut membuat masalah, kalau berbohong, dia belum siap jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2