
Dengan langkah gontai, Vella memasuki rumah mewahnya. Rumah bertingkat dua yang dibeli dari uang mantan suaminya. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sunyi dan sendiri, hatinya mulai merasa kesepian. Bahkan rumah yang sudah berisi perabotan kelas atas pilihannya, tak membuat dirinya nyaman.
Memasuki kamar tidurnya, tanpa berganti pakaian, Vella langsung merebahkan tubuh indahnya. Menangis, menumpahkan air mata yang tertahan, berusaha melepaskan semua rasa sakit hatinya. Sakit hati karena putus cinta. Sakit hati karena kekasih lama yang diharapkan ternyata sudah menikah. Menyesali semuanya pun tiada guna.
Hidup sendiri, tanpa orang tua, tanpa saudara, tanpa suami dan tanpa kekasih tercinta. Baru kali ini Vella merasa hidupnya benar-benar hampa. Buat apa semua kemewahan yang sudah dimilikinya kalau ternyata kekasihnya sudah menikah dan tak lagi menginginkannya.
Beranjak dari ranjangnya, membersihkan diri lalu merias wajahnya. Memandang wajah yang terlihat di cermin di hadapannya, Vella merasa wajah cantiknya tak lagi bisa dibanggakan. Vella pun berteriak meluapkan kekesalan, membuang semua peralatan make-up dan barang-barang yang ada dalam jangkauan.
Setelah puas membuat semuanya berantakan, Vella kembali merapikan pakaian dan juga riasan wajahnya. Meskipun sudah larut malam, tapi Vella tetap pergi ke diskotik untuk menenangkan pikiran. Itulah Vella, jika ada masalah, dia akan menenangkan pikirannya dengan minuman. Vella menenggak minuman haram sepuasnya, sampai dirinya tak sadarkan diri di tengah suara musik dan cahaya yang temaram.
***
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Riko yang sangat mengkhawatirkan keadaan Naila.
"Alhamdulillah, lukanya tidak terlalu dalam. Tapi minggu depan kita periksa lagi untuk memastikan keadaannya," ucap laki-laki setengah abad berjas putih dan berkaca mata dengan suara yang tenang.
"Baik, Dokter. Apa perlu opname, Dok?" Pertanyaan Riko membuat Pak Dokter itu pun tersenyum.
"Tidak perlu, rawat jalan saja. Nanti akan saya beri obat nyeri, antibiotik dan juga vitamin. Kalau beberapa hari ke depan ada keluhan, pusing yang berlebihan misalnya, langsung saja ke sini. Kita periksa semuanya lebih lanjut lagi, terutama bagian kepalanya," jelas Pak Dokter sambil menulis beberapa kata di atas selembar kertas putih.
"Baik, Dokter. Terima kasih," sahut Riko dengan sopan.
Riko bersyukur keadaan Naila tak begitu parah. Vas bunga yang dilempar Vella mengenai bagian pelipisnya, membuat luka yang memerlukan beberapa jahitan.
"Sama-sama. Ini resepnya," balas Pak Dokter dengan ramah.
Riko keluar dari ruangan dokter menuju apotik dan ruang administrasi. Setelah menyelesaikan semua urusan, Riko segera menemui Farel dan Sazia yang masih menunggu, kemudian mengajak mereka menemui Naila.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Riko pada Naila yang sudah duduk di tepi ranjang yang ada di ruangan IGD.
__ADS_1
"Kepalaku masih sedikit pusing, tapi alhamdulillah aku merasa baik-baik saja. Jangan khawatir, Mas."
"Bagaimana tidak khawatir, kami semua terkejut melihatmu pingsan dengan kepala yang berdarah. Naila, kenapa kamu melakukannya? Bahkan kita belum berkenalan tapi kamu sudah membuatku berhutang nyawa," kata Sazia sambil mendekat dan duduk di samping Naila.
Sazia menggenggam lembut tangan Naila, merasa berhutang budi pada wanita yang baru saja dikenalnya. Meskipun Farel adalah sahabat Riko, tapi mereka sama sekali belum pernah bertatap muka.
"Kakak ini ada-ada saja, hutang nyawa apa sih, Kak. Aku tadi hanya refleks aja melihat Kak Vella melempar vas bunga ke arah Kak Sazia. Aku takut Kakak dan debaynya yang di dalam kenapa-kenapa. Semoga aku segera hamil juga," balas Naila sambil mengelus lembut perut buncit Sazia.
"Aamiin ..." jawab mereka kompak, mengaminkan do'a Naila.
"Masyaa Allah, terima kasih, ya. Kamu memang wanita yang baik dan shalihah, seperti yang diceritakan Riko. Suamimu ini tak henti-hentinya memujimu kalau di telepon, bikin aku penasaran." Farel berkata dengan tulus pada Naila dan menggoda sahabatnya.
"Penasaran kok sama istri orang. Nggak malu kamu sama istrimu," sahut Riko yang membuat Farel tertawa.
"Gitu aja cemburu. Hahaha ...."
"Eh, iya, sampai lupa." Farel langsung menutup mulutnya menahan tawa.
"Kalau sudah nggak pusing, kita bisa langsung pulang," kata Riko pada istrinya yang masih terlihat pucat.
"Alhamdulillah, ya sudah pulang sekarang saja, Mas. Istirahatnya lanjut di rumah," sahut Naila senang.
"Baiklah, aku ambilkan kursi roda, ya, biar kamu nggak terlalu lelah berjalan. Masih pucat gitu wajahnya," saran Riko.
"Nggak mau, Mas. Aku masih bisa jalan, masih kuat juga. Sudah seperti orang lumpuh saja pakai kursi roda. Ayo, kita pulang sekarang, Mas."
Naila langsung menolak saran Riko, merasa sikap suaminya berlebihan. Naila secepatnya berdiri sebelum Riko memaksakan kehendaknya. Farel tersenyum melihat sahabatnya yang sangat mencintai istrinya. Bahkan Riko tak pernah sebucin itu pada wanita di masa lalunya.
Mereka pun pulang dan meneruskan obrolan di dalam mobil sambil bercanda. Tak henti-hentinya Farel menggoda Riko selama dalam perjalanan. Kejadian yang sempat membuat Naila terluka pun terlupakan.
__ADS_1
***
"Riko, Naila, aku minta maaf pada kalian semua. Walaupun aku tahu kesalahanku tak pantas dimaafkan. Aku berjanji tak akan mengganggu kalian, aku hanya ingin hidup tenang. Tolong, maafkan aku. Insyaa Allah aku akan menikah bulan depan."
Clara, hari ini datang ke rumah Riko, meminta maaf pada Riko dan Naila atas kesalahannya selama ini. Rony pun ikut duduk bersama mereka, mendengarkan permintaan maaf Clara yang terdengar tulus dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
"Selamat, Kak. Semoga lancar semua urusan sampai hari pernikahan nanti. Insyaa Allah kami memaafkan semua kesalahan Kak Clara." Naila yang pemaaf berkata pada Clara dengan ramah. Sementara Riko hanya diam dan memandang Clara tak percaya.
"Sekali lagi, maafkan kesalahanku dan juga Vella. Tolong, maafkan kami. Rony, aku tak tahu apa yang sudah terjadi pada kalian. Sudah satu minggu lebih aku tak pernah bertemu Vella. Rony, Riko, Naila ... tolong temui Vella sekarang, aku mohon pada kalian," ucap Clara dengan pandangan mengiba.
"Vella sudah aku bebaskan, dia bukan lagi istriku sekarang. Kenapa aku harus menemuinya?" tanya Rony heran.
"Urusanku dengan kalian juga belum selesai, dengan Vella apalagi. Dia sudah membuat celaka istriku untuk yang kedua kali," sahut Riko yang masih belum ikhlas memaafkan Clara dan Vella.
Clara tiba-tiba bersimpuh di hadapan mereka. Air matanya pun mengalir deras tanpa bisa dicegah. Setelah berusaha menghentikan tangisannya, dengan suara lirih Clara berbicara.
"Vella tadi pagi ditemukan di salah satu kamar karaoke di dalam diskotik. Keadaannya sangat menyedihkan. Aku membawanya ke rumah sakit dan sekarang dia masih ada di sana. Aku tak tahu pasti penyebabnya. Tapi dari cerita pemilik diskotik yang tadi menghubungiku, sepertinya dia mengalami pelecehan saat tak sadarkan diri karena mabuk berat. Tolong maafkan kesalahan kami, aku juga tak ingin mengalami kejadian seperti Vella. Aku sungguh-sungguh minta maaf, aku ingin bertobat."
"Innalillahi ...."
"Astaghfirullah ...."
Berita yang disampaikan Clara sangat mengejutkan mereka. Hanya kalimat istirja dan istighfar yang mereka ucapkan berulang kali, tak menyangka Vella akan mengalami kejadian yang mengerikan bagi kaum hawa. Rony pun sangat terpukul mendengarnya, bagaimanapun dia masih mencintai wanita yang tadi malam baru ditalaknya.
"Terus sekarang bagaimana kondisinya, Clara? Apa dia sudah sadar?" tanya Rony dengan suara yang bergetar. Dia pun berusaha menenangkan diri.
"Dia sudah sadar dan dia juga yang memintaku ke sini. Dia ingin minta maaf pada kalian semua. Tolong, maafkan Vella, maafkan aku, maafkan kami."
Naila mendekati Clara, meminta Clara berdiri. Naila langsung memeluk pemilik tubuh indah yang pernah menyakitinya. Clara membalas pelukan Naila dan mereka menangis bersama. Riko langsung menghubungi Farel dan mereka segera berangkat menuju rumah sakit menemui Vella.
__ADS_1