
Riko langsung menghubungi Farel dan mereka segera berangkat menuju rumah sakit menemui Vella. Bertepatan dengan Farel dan Sazia yang sudah tiba di tempat parkir rumah sakit, mereka langsung menuju salah satu kamar VIP di mana Vella berada.
Masuk ke dalam ruangan secara bersamaan, terlihat Vella terbaring lemah di ranjang. Wajahnya yang putih semakin terlihat pucat pasi, bahkan ada beberapa lebam di area pipi. Vella hanya melihat ke arah mereka yang datang bersamaan dengan wajah sedih. Vella berusaha duduk dibantu Clara karena tubuhnya masih sangat lemah, lalu mengucapkan kata maaf pada mereka.
"Maafkan aku, maafkan kesalahanku selama ini. Aku tahu, aku mengalami ini semua pasti karena dosa-dosaku. Riko, Rony, Naila, ma-maukah kalian memaafkanku?"
Naila pun mendekati Vella dan Clara, duduk di samping mereka. Memeluk erat tubuh lemah Vella sebagai bentuk telah memberikan maafnya. Vella pun menangis di pelukan Naila, membuat wanita sederhana yang selalu dihinanya ikut berlinang air mata.
"Sudahlah, Kak. Kami sudah memaafkanmu. Semoga Kak Vella sabar menghadapi ujian ini," ucap Naila setelah melepaskan pelukannya. Memandang wajah Vella dengan rasa iba, Naila sungguh tak tega melihat mantan kakak iparnya.
"Aku juga sudah memaafkanmu, semoga setelah semua yang terjadi padamu bisa membuatmu sadar dan kembali ke jalan yang benar." Rony pun mengucakan kata maafnya pada mantan istrinya tanpa berniat mendekat.
"Ya, aku juga sudah memaafkanmu. Semoga kamu tak lagi mengulangi kesalahanmu dan bisa menjaga sikapmu sebagai wanita. Ubahlah cara berpakaianmu. Walaupun belum berhijab, setidaknya jangan terlalu terbuka," sahut Riko yang berdiri di samping Rony.
"I-iya, terima kasih buat semuanya, sudah mau menjengukku di sini dan mau memaafkan kesalahanku selama ini. Ma-maafkan aku juga, Suamiku. Aku berjanji akan berubah dan berusaha menjadi istri yang baik," balas Vella yang membuat Rony terkejut.
Bukannya Rony tak mau lagi menerima tubuh Vella yang sudah ternoda dan terjamah banyak pria, tapi dia tak ingin lagi merasakan sakit hati karena Vella tak mencintainya. Tak ada sedikit pun niat Rony untuk rujuk dengan mantan istrinya, apalagi Rony yakin Vella ingin kembali dengannya karena terpaksa.
"Maaf, Vella. Aku sudah membebaskanmu dan aku tak ingin membuatmu terpaksa kembali padaku karena rasa sesalmu. Meskipun aku masih menyayangimu, tapi aku ingin kita intropeksi diri. Lebih baik kita berpisah saja tanpa ada hati yang merasa dipaksakan. Jika kita nantinya berjodoh kembali, semoga rasa cintamu untukku sudah benar-benar ada," jelas Riko pada mantan istrinya.
Vella hanya diam mendengar ucapan Rony, membuat dirinya pun menundukkan kepala. Bahkan Rony tak mau lagi menerima dirinya. Mungkin karena sekarang tubuhnya sudah kotor dan ternoda, begitu pikirnya.
"Baiklah, aku mengerti perasaanmu. Sekali lagi, maafkan aku selama ini yang tak bisa menjadi istri yang baik untukmu. Aku tahu, sekarang ini aku sudah kotor dan ternoda oleh banyak pria. Aku sudah tak layak lagi bersanding denganmu," balas Vella dengan suara lirihnya.
"Entah apa yang ada di pikiranmu, tapi bukan karena itu aku tak mau rujuk denganmu. Sungguh, Vella. Aku hanya ingin menjaga hatiku dan juga hatimu, aku tak ingin kamu merasa tertekan. Aku hanya tak ingin kamu hidup bersama denganku tapi kamu tak bahagia. Aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama." Meskipun kasihan dengan keadaan Vella sekarang, tapi Rony tak ingin mengubah keputusannya.
"Baiklah, sekali lagi maafkan aku. Dan untuk Farel dan Sazia, semoga kalian bahagia," ucap Vella pasrah.
__ADS_1
"Ya, maafkan aku yang tak bisa meneruskan hubungan kita. Semoga suatu saat nanti kamu mendapatkan yang lebih baik dariku dan kamu bisa mencintai pasanganmu dengan tulus," sahut Farel. Sazia pun tersenyum pada Vella.
"Terima kasih." Vella pun membalas senyuman Sazia. Rasa bersalahnya sudah berkurang karena maaf dari mereka. Meskipun tak dipungkiri, ada nyeri di lubuk hati akibat penolakan Rony.
Mereka segera pamit pulang dan keluar ruangan. Menuju ke tempat parkir dan melajukan mobil mereka ke salah satu rumah makan. Hari ini Farel akan mentraktir mereka sebelum kembali ke Kalimantan nanti malam. Duduk bersama mengelilingi satu meja, mereka berbincang sambil menunggu pesanan.
"Aku kira tadi Kak Rony akan menerima Vella kembali," kata Farel pada Rony.
"Ya, aku tadi juga berpikiran seperti itu karena yang aku tahu Kak Rony sangat mencintai Vella," sahut Riko melanjutkan ucapan Farel.
"Aku tak ingin menyambung sesuatu yang sudah diputus. Apalagi Vella sudah mengakui kalau dia tak pernah mencintaiku, jadi buat apa kami kembali bersama. Aku hanya ingin hidup berumah tangga dengan orang yang tulus mencintaiku apa adanya. Apalagi aku sekarang sudah tak punya apa-apa," balas Rony.
"Ternyata Kak Rony tak sebucin yang aku kira." Rony tersenyum menanggapi ucapan Farel.
"Aku memang masih mencintainya, aku juga merasakan sakit hati, tapi aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Lebih baik kami seperti ini, saling memberikan kesempatan memperbaiki diri masing-masing," jelas Rony pada semuanya.
"Tidak, Riko. Aku sudah nyaman di perusahaan tempat aku bekerja sekarang. Biarlah aku seperti ini saja, tidak kamu usir dari rumahmu, aku sudah sangat berterima kasih." Rony tak mau mengambil kesempatan yang diberikan adiknya. Dia ingin berjuang sendiri. Membuktikan pada semua orang bahwa dia benar-benar sudah berubah.
"Kak Rony bisa menempati rumah itu selamanya. Aku dan Naila sudah nyaman tinggal di rumah peninggalan orang tua kita. Iya 'kan, Sayang?" Riko pun bertanya pada Naila, memastikan istrinya setuju dengan ucapannya.
"Iya, Mas," jawab Naila sambil tersenyum.
"Terima kasih, Riko, Naila. Dan aku juga ingin meminta bantuanmu sekali lagi, Riko. Jika kamu tak keberatan, aku minta tolong pengacaramu mengurus perceraianku," pinta Rony.
"Tentu saja, besok aku akan meminta Pak Syahrul agar datang ke kantormu mengambil berkas yang dibutuhkan. Kakak persiapkan saja semua berkasnya." Riko setuju dengan keputusan Rony.
"Terima kasih," ucap Rony. Dia sangat bersyukur memiliki adik yang pengertian.
__ADS_1
Pesanan makanan dan minuman pun datang. Mereka menikmati semua hidangan dengan sesekali bercanda. Menghabiskan waktu libur bersama, sebelum kesibukan kembali menyapa.
Sementara di salah satu ruangan, seorang laki-laki tampan dengan penampilan casualnya, memperhatikan keadaan di dalam rumah makan miliknya melalui sebuah ponsel di tangannya. Memastikan pekerjaan karyawan semuanya dilakukan dengan benar tanpa ada masalah. Memperhatikan salah satu meja yang dikelilingi beberapa orang yang sedang menikmati hidangan dengan wajah ceria mereka. Setelah memastikan bahwa dirinya tak salah, dia pun keluar ruangan dan berjalan menuju ke arah di mana Naila berada.
"Maaf, saya mengganggu waktunya sebentar. Naila, ya?" Pria itu pun menyapa dengan menyebut nama Naila.
Naila menganggukkan kepala sambil memperhatikan pria yang menyapanya. Riko hanya diam, memperhatikan Naila yang terlihat berpikir. Dirinya pun penasaran siapa pria tampan yang menyebut nama istrinya.
"Bisma? Kamu benar Bisma?" Naila pun mengingat nama salah satu teman lamanya.
"Alhamdulillah, senang sekali kamu masih mengingatku, Naila. Maaf, boleh saya ikut bergabung di sini?" tanya Bisma dengan sopan sambil menunjuk salah satu kursi yang masih kosong di samping Farel.
"Ya, silakan," jawab Farel sambil melirik sahabatnya yang hanya diam memperhatikan istrinya.
"Maaf kalau kedatangan saya mengganggu. Perkenalkan nama saya Bisma Mahendra, pemilik rumah makan ini. Saya dari tadi sudah memperhatikan kalian dan ingin memastikan kalau saya tak salah orang. Naila adalah teman satu kampus dan kami satu fakultas dulu. Bagaimana kabarmu, Naila?" Bisma memperkenalkan dirinya dengan ramah. Wajah tampannya semakin terlihat cerah dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Ditambah dengan pandangan matanya yang selalu ke arah Naila, membuat Riko tak suka.
"Alhamdulillah baik. Bukannya kamu tinggal di Malaysia bersama mamamu?" Naila pun berbicara seperti biasa tanpa memperhatikan wajah suaminya.
"Papaku meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Terpaksa aku dan mama kembali ke Indonesia dan meneruskan usaha rumah makan ini," jawab Bisma.
"Innalillahi ... aku turut berduka cita. Oh ya, perkenalkan suamiku, Mas Riko. Itu Kak Rony, kakak iparku. Dan yang ini sahabat kami, Farel dan juga istrinya, Sazia."
Bisma menjabat tangan semua pria yang diperkenalkan Naila padanya. Riko pun terlihat terpaksa membalas jabat tangan Bisma. Entah kenapa, Riko merasa senyum Bisma berbeda saat memandang istrinya. Ada pancaran kebahagiaan saat melihat Naila dan pancaran kekecewaan saat Naila memperkenalkan dirinya.
"Hemm ... benar-benar sudah menikah ternyata. Aku kira foto-fotomu yang pernah viral waktu itu hanya settingan orang iseng yang kurang kerjaan saja. Maaf, aku sempat ingin membuat perhitungan dengan orang yang meng-upload foto-fotomu waktu itu. Tapi aku sendiri juga tak tahu keberadaanmu. Aku mencarimu di desa tapi ternyata kamu sudah tak lagi tinggal di sana."
Bisma berbicara dengan terus terang tanpa ada yang ditutupi. Naila pun merasa tak enak hati. Memandang suami yang terlihat hanya diam memperhatikan dengan pandangan yang tak dimengerti. Memandang Rony yang hanya bisa menelan saliva karena rasa bersalah.
__ADS_1