
"Cari sampai ketemu atau aku nggak akan mau maafin kamu!"
"Astaghfirullah ... minta yang lainnya, ya, Sayang? Apa aja ... yang penting jangan yang itu. Aku bingung mau cari di mana?" Riko mencoba merayu istrinya yang sedang marah.
"Nggak mau! Pokoknya aku mau lihat undangan pernikahannya Eva!" sahut Naila tak mau kalah.
"Baiklah, tapi besok, ya, Sayang. Aku akan cari di kantor, sepertinya aku simpan di laci meja. Aku janji besok aku bawakan undangannya." Riko akhirnya mengalah dan berharap undangan itu belum dibuangnya.
"Janji, ya?"
"Insyaa Allah, begitu undangannya ketemu, aku langsung pulang."
"Oke ... awas kalau bohong! Ya, sudah, aku mau tidur. Jangan ganggu aku!"
"Sayang ... kok begitu?"
"Aku ngantuk!"
Riko hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Naila yang di depannya bukan lagi Naila yang biasanya. Dia pun teringat pesan Hanna, agar lebih bersabar karena hormon wanita yang hamil muda akan mempengaruhi jiwanya.
"Aku pijitin, ya, Sayang."
"Hemm ...."
Riko mulai memijit kaki istrinya dengan lembut. Tak lama kemudian Naila sudah terlelap dan Riko pun berbaring sambil memeluk erat tubuh mungil istrinya. Riko berharap dirinya bisa lebih sabar menghadapi Naila yang sedang mengandung buah hati mereka.
***
"Bi ... lihat dompet aku nggak?" tanya Naila pada Bi Marni yang sedang memasak di dapur.
"Maaf, saya nggak lihat dompet Mbak dari kemarin," jawab Bi Marni.
"Aku baru sadar kalau dompetku nggak ada, Bi. Dari bangun tidur tadi pagi aku sudah cari di kamar nggak ada, di motor juga nggak ada. Ini sudah sore, dompetku belum juga ketemu," ucap Naila dengan ekspresi wajah yang kebingungan.
"Coba diingat-ingat lagi, Mbak. Siapa tahu Mbak Naila lupa naruhnya," saran Bi Marni yang juga ikut bingung, tak tahu harus mencari ke mana.
"Biar aku cari lagi di kamar aja, deh. Aku selalu mual kalau di dapur. Barangkali Bibi nanti beres-beres, tolong sekalian dicariin, ya, Bi," pinta Naila dan segera berlalu dari dapur sambil menutup mulutnya karena mual.
Naila pun berjalan menuju kamarnya dan kembali mencari dompetnya yang hilang. Naila yang dulu suka di dapur, sekarang lebih suka mengurung dirinya di kamar. Bau bumbu dan masakan selalu membuatnya ingin muntah. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka.
"Sayang, maaf, ya, aku baru pulang. Pekerjaanku tadi benar-benar nggak bisa aku tinggalkan." Riko yang baru saja pulang kerja, langsung menemui istrinya dan meminta maaf.
"Hemm ... katanya setelah menemukan undangannya langsung pulang, ini sudah sore baru pulang," sahut Naila tanpa memandang ke arah suaminya. Dia terus saja mencari dompetnya di lemari pakaian.
__ADS_1
"Iya, maafkan aku. Kamu lagi cari apa? Suaminya pulang kok nggak disambut sih, Sayang."
"Eh, Iya, maaf, Mas. Dompetku hilang, Mas. Aku dari pagi sudah usaha cari tapi belum juga ketemu."
Naila pun berjalan mendekati Riko dan langsung memeluk tubuh suaminya. Riko tersenyum lalu mencium kening dan kedua pipi istrinya. Dia sangat menyukai kebiasaan Naila beberapa hari ini, memeluknya saat pulang kerja, sebelum membersihkan diri.
"Ya, sudah, sabar dulu sambil diingat-ingat lagi di mana terakhir kali kamu meletakkannya."
Setelah dari kamar mandi, Riko mendekati Naila yang duduk di sofa sambil memandang ke arah luar jendela.
"Sudahlah, jangan sedih. Nanti aku bantu cari dompetnya. Ini undangan pernikahannya Eva waktu itu dan ini undangan pernikahan dari Clara," kata Riko sambil menyerahkan dua buah undangan pernikahan pada Naila.
"Bagus sekali, ya, Mas. Hemm ... pasti pesta pernikahannya Eva kemarin meriah." Naila memandang kedua undangan pernikahan dengan wajah yang muram. Riko bingung dengan ekspresi wajah istrinya karena baginya undangan seperti itu adalah sesuatu yang biasa saja.
"Ya ... begitulah umumnya pesta pernikahan, ramai dan berisik," sahut Riko.
"Kok berisik?" tanya Naila heran.
"Iya ... berisik suara musik. Apa kamu nggak pernah datang ke pesta pernikahan?" Ucapan Naila membuat Riko penasaran.
Naila menggelengkan kepala yang membuat Riko tak percaya.
"Benarkah?"
Riko hanya diam mendengarkan cerita Naila. Dia sama sekali tak mengira kalau istrinya tak pernah sekali pun menghadiri pesta.
"Makanya ... aku sangat sedih saat tahu kamu menyembunyikan undangan pesta pernikahan dari Eva," ucap Naila yang membuat Riko merasa bersalah.
"Maafkan aku, Sayang. Aku nggak bermaksud seperti itu, aku hanya nggak ingin kamu bertemu dengan Bisma."
"Tolong kali ini ijinkan aku ikut denganmu pergi ke pesta pernikahannya Clara, ya, Mas. Aku ingin merasakan sekali saja datang ke pesta," pinta Naila sambil bergelayut manja pada lengan suaminya.
Riko merengkuh tubuh Naila ke dalam dekapan. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Tak disangka Naila sangat polos dan lugu, dirinya saja yang terlalu dikuasai rasa cemburu.
"Tentu, Sayang ... aku akan mengajakmu pergi ke pesta pernikahannya Clara. Kita akan datang berdua atau bertiga dengan Kak Rony."
"Terima kasih, ya, Mas. Maafkan aku tadi malam yang nggak peduli sama kamu karena aku benar-benar tersinggung dengan tuduhanmu."
"Maafkan aku juga, ya. Semoga setelah ini aku bisa meredam emosiku saat melihat Bisma."
"Hemm ... Bisma lagi ... Bisma lagi. Kenapa sih, Mas, kamu cemburu sama dia? Aku ini sudah jadi istrimu, bukan pacarmu! Apalagi sekarang aku sudah mengandung anakmu, apa yang kamu takutkan?" tanya Naila yang membuat Riko bingung mencari jawaban.
"Entahlah, aku sendiri juga nggak tahu kenapa. Setiap aku melihat kamu berdua dengannya, rasanya aku ingin marah," jawab Riko apa adanya.
__ADS_1
"Mulai sekarang, cobalah jangan seperti itu lagi, Mas. Percayalah padaku, aku nggak ada perasaan sama sekali padanya," ucap Naila meyakinkan hati suaminya.
"Insyaa Allah, aku akan mencobanya. Oh, ya, Sayang ... mulai bulan depan, kita langsung kontrol ke rumahnya Hanna saja, ya. Dia juga buka praktek di rumahnya jadi kamu nggak akan capek menunggu antrian."
"Apa ini juga ada hubungannya dengan Bisma?" tanya Naila yang membuat Riko berpikir mencari sebuah alasan yang tepat. Tak dipungkiri, ucapan Eva waktu itu masih mengganggu pikirannya.
"Kenapa kamu bisa bicara begitu?" tanya Riko pura-pura tak mengerti.
"Aku tahu kamu pasti mendengar ucapan Eva waktu itu. Dia akan mengundang Bisma dan Daffa saat kita bertemu lagi."
"Tidak, Sayang. Aku hanya nggak tega kalau kamu harus antri menunggu, belum lagi antri di apoteknya." Riko menjawab pertanyaan Naila dengan tersenyum, mencoba menyembunyikan alasan yang sebenarnya.
"Baiklah ... terserah kamu saja, Mas. Meskipun jawabannya iya, kamu pasti nggak mau mengakuinya."
Suara ketukan pintu menghentikan perdebatan mereka. Riko dan Naila mendekati Bi Marni yang sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Permisi, Den ... maaf, ada tamu," ucap Bi Marni.
"Siapa, Bi?" tanya Riko.
"Itu, Den ... anu ... tamunya ... temannya Mbak Naila yang waktu itu pernah ke sini. Cari Mbak Naila katanya ada perlu penting," jawab Bi Marni dengan gugup karena takut berita yang disampaikan akan membuat marah tuannya.
"Ngapain lagi orang itu ke sini?" Riko heran, orang yang baru saja mereka bicarakan, saat ini datang ke rumahnya.
"Mas ... kamu 'kan sudah janji nggak akan marah," sahut Naila mengingatkan.
"Iya ... aku nggak marah kok, Sayang. Hanya penasaran saja, ada perlu apa dia datang ke rumah kita. Biar aku temui saja sendiri, kamu di kamar saja."
"Terserah deh, aku males debat terus sama kamu, Mas," balas Naila dengan wajah cemberut.
"Eh ... maaf ... maaf ... ayo kita temui dia sama-sama."
Riko pun mengalah dan mengajak Naila menemui Bisma yang sudah duduk di ruang tamu.
"Maaf, Naila, aku hanya ingin mengembalikan ini," kata Bisma sambil menyerahkan sebuah paper bag. Naila pun menerimanya dan matanya berbinar setelah melihat isinya.
"Alhamdulillah, terima kasih, ya, Bisma. Seharian aku mencari, ternyata ada di kamu. Pasti jatuh waktu aku di warung kemarin," ucap Naila yang tak menyangka Bisma menemukan dompet yang seharian ini dicarinya.
"Iya, aku menemukannya waktu kamu sudah pergi, sepertinya jatuh tepat di bawah motormu. Maaf kalau aku kemarin nggak bisa langsung mengantarnya ke sini. Ada urusan pekerjaan penting yang harus aku selesaikan." Bisma menjelaskan pada Naila yang masih tersenyum. Wajah Naila sangatlah cantik dan ceria, membuat Bisma tak berkedip memandang pujaan hatinya.
Riko memperhatikan wajah laki-laki yang ada di hadapannya. Dia pun tersenyum, mencoba menghadapi Bisma dengan tenang dan mengucapkan sesuatu yang membuat Naila tercengang.
"Hemm ... Bisma, sebagai ucapan terima kasih, bagaimana kalau sekarang aku mengundangmu makan malam di sini?"
__ADS_1