
Riko dan Naila saling berpandangan. Bingung apa yang harus mereka katakan. Wajah Bara pun terlihat muram, bahkan sekarang air matanya mulai berjatuhan. Naila langsung duduk bersila menghadap Bara.
"Bara, kenapa bisa bicara seperti itu? Semua mama di dunia ini pasti sayang sama anak-anaknya." Naila berkata sambil mengelus pipi halus Bara.
"Mama tak pernah mengajak Bara jalan-jalan seperti kalian, mama selalu sibuk cari uang tanpa peduli Bara sendirian. Kalau nanti di sana Bara juga sendirian lagi, bagaimana?" ucap Bara sedih.
"Di sini Bara banyak temannya, ada Kak Naila, ada Bi Marni, ada Pak Supri juga kalau ditinggal Kak Riko kerja. Kak Rony juga baik, selalu nemenin Bara main kalau lagi diajak ke rumahnya," lanjut Bara sambil mengutak-atik mobil-mobilan kecil di tangannya. Wajahnya terlihat murung, berkata pun tanpa memandang Naila.
"Bara, Kak Naila, Kak Riko, Kak Rony, sayang sekali sama Bara. Tapi mama Bara lebih sayang pada Bara. Bara jangan khawatir kalau Bara pulang dan tinggal bersama mama, pasti Bara di sana nanti ada yang menemani," bujuk Naila.
Bara menghentikan aktifitasnya, lalu ikut duduk bersila menghadap Naila. Riko diam memperhatikan adiknya, dia sendiri bingung ingin berkata apa.
"Kata mama, Bara sekarang sudah punya papa baru dan juga oma baru di sana. Tapi Bara takut, mereka nanti nggak sayang sama Bara, Kak. Bara ingin tinggal di sini saja, Bara nggak mau sama mama," ungkap Bara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Bara kemudian memeluk Naila dan menangis dalam dekapan. Naila membelai rambut Bara yang hitam legam. Riko pun akhirnya ikut duduk bersama mereka. Hatinya tak tega, tapi dia tak berhak melarang Cintya membawa putranya. Setelah tangisnya reda, Naila mencoba memberi pengertian pada Bara.
"Bara, dengarkan Kak Naila, ya. Mama Cintya sangat sayang sama Bara. Kalau dulu mama Bara sering pergi dan meninggalkan Bara sendirian di rumah, itu semua karena harus bekerja. Tapi sekarang 'kan sudah ada papa dan oma, insyaa Allah Bara nanti tidak akan sendirian. Kakak yakin papa dan oma Bara di sana pasti sayang sama Bara."
"Iya, Bara. Nanti kita semua pasti sering telepon atau video call Bara. Sekarang ikut mama dulu tinggal di sana. Kalau nanti Bara memang sudah benar-benar nggak betah, Bara boleh kembali tinggal di sini," kata Riko melanjutkan ucapan Naila.
"Benar, ya, Kak? Kalau Bara nggak betah di sana, Bara boleh kembali ke sini lagi," sahut Bara dengan wajah kembali ceria.
"Pasti dong, Bara boleh tinggal di sini lagi," jawab Naila dan tersenyum melihat tingkah Bara.
"Baiklah, Bara mau ikut sama mama besok. Terima kasih, ya, Kak."
Bara pun memeluk Naila dan juga Riko bergantian. Mereka kembali bercerita dan bercanda sampai terlelap bersama.
__ADS_1
***
Cintya akhirnya datang bersama suaminya, menjemput Bara. Naila sebenarnya sedih, tapi dirinya tak berhak mempertahankan Bara tinggal bersamanya. Bi Marni pun ikut menangis melepas kepergian majikan kecilnya. Riko dan Rony memeluk erat adik kecil mereka sebelum kepergiannya.
Setelah kepergian Bara, mereka duduk bertiga di ruang tamu. Sambil berbincang ringan mulai tingkah Bara sampai masalah pekerjaan. Riko kembali membujuk Rony untuk bergabung di perusahaan peninggalan orang tua mereka, namun Rony tetap menolaknya. Tak lama kemudian, terdengar seorang wanita mengucap salam. Naila pun menghampiri dan membukakan pintu tamu yang datang.
Seorang wanita cantik berdiri di depan Naila dengan senyum manisnya. Penampilannya yang selalu memakai rok mini atau gaun di atas lutut tanpa lengan, sekarang berbeda. Gaun bermotif bunga panjang di bawah lutut dengan lengan sepertiga, membuatnya tampak anggun dan mempesona.
"Hai, Naila, apa kabar? Boleh aku masuk?" Vella memeluk Naila dan Naila pun tanpa ragu membalasnya.
"Alhamdulillah, baik. Kakak terlihat cantik sekali hari ini. Ayo, Kak, silakan masuk. Kebetulan kita lagi berkumpul di ruang tamu," jawab Naila dengan ramah.
Vella mengikuti langkah Naila masuk ke ruang tamu. Riko dan Rony terkejut melihat Vella dengan penampilannya yang berbeda, tak lagi seperti dulu. Setelah bersalaman dengan mereka, Vella duduk lalu menyampaikan maksud kedatangannya.
"Rony, aku tadi ke rumahmu dan kamu tak ada, makanya aku langsung datang ke sini. Maaf, aku ingin menyerahkan foto copy dokumenku yang pasti akan kamu butuhkan untuk mengurus perceraian kita. Mungkin aku tak akan datang pada saat persidangan nanti, biar lebih cepat prosesnya. Dan aku juga ingin pamit pada kalian semua. Maafkan kesalahanku selama ini." Vella kembali meminta maaf pada semuanya dengan ikhlas. Tak ada lagi ekspresi cemberut atau pun emosi di wajah cantiknya.
"Aku akan pergi ke Korea, ada temanku yang menawarkan pekerjaan di sana," jawab Vella terus terang.
"Alhamdulillah, semoga Kakak sukses, ya. Dilancarkan dan dimudahkan semua urusan."
Naila hanya bisa mendo'akan yang terbaik buat Vella. Perubahan Vella membuat hatinya ikut bahagia. Riko hanya diam memperhatikan tanpa berniat bicara. Hanya dibalas dengan anggukan kepala saja saat Vella menyebut namanya dan memandangnya.
"Aamiin ... terima kasih, Naila. Dan rumah yang aku tempati saat ini akan aku serahkan padamu, Rony. Aku merasa tidak berhak memilikinya, aku sudah membohongimu selama ini." Vella menyerahkan kunci rumahnya pada Rony, tapi Rony dengan tegas menolaknya.
"Tidak, Vella. Aku ikhlas melepas semuanya. Aku tak mau menerimanya, rumah itu untukmu saja. Kalau memang sudah tak kamu tempati lagi, jual saja. Uangnya bisa buat bekal hidup di Korea. Maafkan aku, selama ini tak bisa menjadi imam yang baik untukmu," ucap Rony yang merasa dirinya juga bersalah.
"Tidak, Rony. Aku tak ingin menjadi serakah, aku tak pantas memiliki semuanya. Kamu sudah begitu baik padaku selama ini. Aku tak ingin terbebani dengan harta yang bukan milikku ini," sahut Vella.
__ADS_1
"Itu milikmu, Vella. Anggap saja itu harta gono-gini yang memang sudah menjadi hakmu sepenuhnya," balas Rony yang sudah ikhlas memberikan semuanya pada Vella.
"Terima kasih, Rony. Baiklah, aku terima. Aku mungkin akan menjualnya. Kamu memang laki-laki yang sangat baik, Rony. Semoga suatu saat nanti kamu mendapatkan seorang istri yang shalihah, tidak sepertiku. Sekali lagi, maafkan aku, Rony, Riko, Vella, maafkan aku." Vella berulang kali mengucapkan kata maaf. Vella sangat ingin sekali memeluk mantan suaminya untuk terakhir kali, tapi dia takut Rony akan menolaknya.
"Maafkan aku juga, Vella. Terima kasih do'anya dan do'a yang sama untukmu."
Vella pun berpamitan pada mereka, berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam taksi online yang masih menunggunya. Rony, Riko, dan Naila memperhatikan mobil yang membawa Vella sampai hilang dari pandangan mereka.
Melihat penampilan Vella, hati Rony kembali rapuh, namun dia tak ingin mengubah keputusannya. Hati Rony juga sama seperti Vella, ingin memeluk mantan istrinya untuk terakhir kalinya, tapi dia menyadari status mereka sudah berbeda. Rony pun pamit pulang, membawa luka yang harus segera disembuhkan hingga sirna.
"Sepi lagi, aku akan bosan di rumah tanpa Bara." Naila mengungkapkan isi hatinya saat mereka sudah berada di kamar dan duduk di tepi ranjang.
"Sabar, Sayang. Masih ada Bi Marni yang menemani. Semoga kita secepatnya diberi amanah lagi, ya. Biar kamu nggak kesepian, saat aku bekerja," ucap Riko mencoba menenangkan Naila.
Naila pun mengaminkan do'a suaminya. Namun, tiba-tiba ada rasa takut yang menguasai dirinya. Memandang wajah tampan suami tercintanya, Naila memberanikan diri bertanya.
"Mas, kalau aku nggak hamil-hamil lagi bagaimana? Apakah kamu akan meninggalkanku dan menduakanku?"
"Hemm ... kamu itu selalu saja berpikiran buruk tentangku. Apakah aku terlihat sejahat itu, Sayang. Jangan-jangan justru kamu yang nantinya akan meninggalkanku," jawab Riko yang membuat Naila bingung.
"Kenapa bicara begitu, Mas? Nggak mungkin aku seperti itu. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu tak akan meninggalkanku kalau aku belum memberimu seorang anak."
Naila heran tiba-tiba Riko berkata seperti itu, tapi Naila merasa dirinya juga bersalah, bertanya sesuatu yang membuat Riko tak suka. Naila meminta maaf dan memeluk suaminya, takut kalau ucapannya memicu perdebatan di antara mereka.
"Maafkan aku, Mas. Aku salah telah membuatmu tersinggung dengan pertanyaanku."
"Aku juga ingin memastikan kalau kamu juga tak akan meninggalkanku, Naila. Tadi siang waktu kamu di kamarnya Bara, temanmu yang sok ganteng itu meneleponku. Dia ingin bertemu denganmu, ingin memberikan undangan reuni katanya. Dan maaf, aku tak mengijinkan."
__ADS_1