Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Yakub mulai beraksi


__ADS_3

"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikumussalaam ... hai, masuklah. Duduk di sini, Kak."


Naila menyambut Sarah dengan gembira. Kemarin Hanna sudah memperkenalkan mereka padanya. Yakub memilih duduk di sofa.


"Bagaimana keadaanmu hari ini, Naila?" tanya Sarah sambil duduk di kursi dekat tempat tidur Naila.


"Alhamdulillah, aku sudah lebih baik. Aku ingin pulang hari ini, semoga diijinkan," jawab Naila.


"Tapi, wajahmu masih pucat." Sarah melihat wajah Naila yang pucat dengan mata yang sembab.


"Aku ingin istirahat di rumah saja. Kasihan suamiku, dia pasti akan semakin lelah kalau aku masih di sini," jelas Naila.


"Apakah yang baru keluar dari kamar ini tadi suamimu?" Sarah memberanikan diri bertanya pada Naila tentang laki-laki yang dilihatnya.


"Benar, Kak. Dia suamiku ... namanya Riko Alamsyah Putra."


Yakub tersenyum mendengar nama yang disebutkan Naila. Sesuai dengan dugaannya, laki-laki yang menabraknya tadi adalah Riko, adik kandung Rony.


"Tampan sekali suamimu, Naila. Tapi kalau diperhatikan, usia kalian sepertinya terpaut cukup jauh." Sarah penasaran.


"Iya, Kak, dia laki-laki yang sangat tampan dan penyayang. Usia kami selisih hampir tujuh tahun." Naila membalas ucapan Sarah dan tersenyum. Dia suka dengan Sarah yang ramah dan kalau bicara apa adanya.


"Beruntung sekali dirimu, Naila, tidak sepertiku ... ah, maaf, aku jadi baper ...."


Sarah membandingkan nasib Naila dengan dirinya. Namun, segera ditepis pikiran yang mengingatkan pada masa lalu. Naila takmengerti apa yang dibicarakan Sarah tapi dia juga takingin bertanya.


"Kak ... terima kasih sudah menolongku. Hanya Allah yang bisa membalas perbuatan baik kalian. Kalau kalian bersedia, mainlah ke rumahku. Aku ingin kalian bertemu dengan suamiku." Naila berterima kasih pada Yakub dan Sarah.


"Sudah kewajiban kita saling tolong-menolong, Naila. Berikan saja nomor ponsel dan alamat rumahmu padaku. Insyaa Allah aku pasti akan main ke rumahmu," sahut Sarah.


Naila memberikan nomer ponsel dan alamat rumahnya pada Sarah. Kali ini dia memberikan tanpa menunggu persetujuan dari suaminya. Dia merasa berhutang budi pada Yakub dan Sarah. Bahkan Naila sangat bahagia karena bertemu dengan mereka.


"Suamimu ke mana?" Tiba-tiba Yakub bertanya pada Naila.


"Ada pekerjaan penting yang harus diurus di kantornya ...."

__ADS_1


"Berarti lebih penting pekerjaannya daripada istrinya?" Yakub langsung menyahuti ucapan Naila.


"Mungkin dia tidak bermaksud seperti itu, Kak. Janjinya dengan klien sudah lama dan aku tak bisa menahannya di sini."


Sarah memandang kakaknya dengan heran. "Tumben sekali Kak Yakub bicara seperti itu dengan orang yang baru dikenal. Biasanya dia juga nggak mau tahu urusan orang. Kenapa dia terlihat seperti orang yang mau adu domba Naila dengan suaminya?" Sarah bertanya dalam hati.


"Tapi tetap saja dia lebih mengutamakan pekerjaannya. Kamu dibiarkan sendirian tanpa teman. Kalau ada apa-apa denganmu, bagaimana?"


Naila diam dan membenarkan ucapan Yakub. Namun, dia tak ingin menyalahkan suaminya karena saat ini keadaannya baik-baik saja.


Sebelum Naila membalas ucapan Yakub, terdengar salam dari Hanna yang datang memeriksa keadaan Naila.


"Selamat pagi, bagaimana keadaanmu, Naila?" tanya Hanna setelah berada di dekat Naila. Dia berdiri sementara seorang perawat memeriksa tensi darah Naila.


"Alhamdulillah sudah lebih baik, Dokter. Kalau diijinkan, saya ingin pulang hari ini juga." Naila menjawab pertanyaan Hanna dan memohon agar bisa segera pulang.


"Kita lihat nanti sore, ya. Kalau kondisimu memang benar-benar sudah pulih dan tidak pusing lagi, aku akan mengijinkanmu pulang. Suamimu ke mana?" Hanna kembali memberikan Naila pertanyaan yang membuat Yakub senang.


"Hemm ... ada urusan penting yang harus dikerjakan di kantornya, Dokter." Naila berkata dengan nada yang lirih. Dalam hati dia juga merasa sedih. Sudah dua orang yang memberikan pertanyaan yang sama padanya. Namun, dia mencoba tersenyum, menyembunyikan kesedihannya.


"Riko ... Riko ... istri sakit kok malah ditinggal kerja. Masak seorang direktur nggak bisa libur sehari saja?"


"Mungkin sudah lama ada janji dengan kliennya, Dokter." Naila berusaha membela suaminya.


"Biar nanti aku tegur dia."


"Eh ... nggak usah, Dokter. Biarkan saja, saya sudah terbiasa seperti ini." Naila panik, dia takingin memperkeruh suasana.


"Naila, kamu kalau ada masalah, cerita saja pada suamimu. Jangan kamu pendam sendiri. Kalau kamu mau, kamu juga bisa cerita padaku. Riko itu orangnya sangat baik dan sayang sama kamu. Aku nggak pernah melihat dia sebucin ini pada wanita. Ya ... walaupun dia juga sangat sibuk dengan pekerjaannya." Hanna duduk di samping Naila dan memberikan nasihat seperti seorang kakak pada adiknya. Dia mengerti Naila pasti kesepian.


"Iya, saya tahu. Terima kasih tawarannya, Dokter Hanna," balas Naila sambil tersenyum.


"Nggak usah sungkan dan jangan cemburu sama aku, ya, Naila. Aku dan Riko sudah bersahabat sejak lama dan kedua orang tua kami sudah seperti saudara." Hanna memberi penjelasan pada Naila. Sarah memandang kagum pada Hanna.


"Iya, Dokter. Saya percaya dengan Mas Riko. Saya tahu, dia sangat setia."


"Baiklah, aku tinggal dulu. Nanti sore biar perawat memeriksa keadaanmu lagi sebelum kamu pulang."

__ADS_1


"Terima kasih, Dokter Hanna."


Naila sangat bahagia karena Hanna mengijinkannya pulang hari ini. Hanna pun pamit pada Naila dan melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu sepertinya sudah akrab dengan dokter cantik itu, ya. Apakah kalian sudah berteman lama?" tanya Sarah penasaran.


"Iya, Kak Sarah dengar sendiri 'kan kalau dia adalah sahabat suamiku. Dia sangat cantik, baik dan sopan." Naila juga kagum pada Hanna.


"Kamu yakin kalau suamimu dengan dokter itu nggak ada hubungan apa-apa?" tanya Yakub pada Naila. Sarah pun kembali mengerutkan keningnya karena heran dengan pertanyaan kakaknya.


"Aku yakin sekali, Kak. Dokter Hanna sudah berkeluarga dan sudah memiliki dua orang putri," sahut Naila meyakinkan Yakub.


"Zaman sekarang banyak yang sudah memiliki keluarga tapi menjalin hubungan spesial. Pelakor dan pebinor ada di mana-mana. Jangan terlalu naif jadi wanita." Yakub terus berusaha membuat Naila berubah pikiran.


"Insyaa Allah, aku yakin dia bukan wanita seperti itu dan Mas Riko sudah terbukti setia padaku." Naila takingin terpengaruh ucapan Yakub.


"Kamu masih sangat muda, Naila. Aku yakin kamu pasti belum tahu masa lalu suamimu bagaimana. Laki-laki tampan seperti itu pasti dulunya seorang playboy. Aku juga yakin sampai sekarang masih banyak wanita yang mengejarnya."


"Aku sudah tahu semuanya, Kak. Mas Riko sudah menceritakan masa lalunya padaku. Memang dia dulu seorang playboy tapi sekarang dia sudah berubah."


Sarah hanya memandang Yakub dengan bingung. Sikap kakaknya benar-benar tak seperti biasanya. Yakub pun menyerah untuk kali ini. Takingin Naila membenci dirinya karena ucapannya.


"Aku hanya mengingatkan saja, jangan sampai hatimu terluka. Aku tidak bermaksud apa-apa, anggap saja aku ini kakakmu yang ingin melindungi adiknya."


"Terima kasih, Kak, atas perhatiannya. Kalian berdua orang yang sangat baik. Aku seperti memiliki saudara." Ucapan Naila membuat Yakub senang. Dia pasti akan mempunyai banyak kesempatan untuk dekat dengan Naila dan melancarkan rencananya.


"Aku juga sangat senang bertemu denganmu. Baru kali ini aku mengenal seorang istri pengusaha yang ramah dan tidak sombong." Sarah berkata seraya memegang tangan Naila dengan lembut. Sejak pertama kali bertemu dengan Naila, dia merasa sangat dekat dan akrab.


"Harta hanya titipan, apa yang perlu disombongkan?"


"Tapi nggak semua orang kaya berpikiran sepertimu. Maaf, Naila, kami harus segera pamit. Kami harus segera ke bengkel. Sebenarnya kami ingin menunggu sampai suamimu datang tapi kami sudah ada janji." Sarah dan Yakub terpaksa pamit pulang.


"Tidak masalah, Kak. Aku sangat berterima kasih pada kalian karena sudah menemaniku. Insyaa Allah sebentar lagi suamiku pasti datang," balas Naila. Dia mencoba meyakinkan diri sendiri kalau Riko akan segera menemaninya.


"Insyaa Allah hari Minggu depan, akan kami usahakan berkunjung ke rumahmu," janji Sarah yang membuat Naila tersenyum senang.


Yakub sangat menyukai senyum Naila yang polos dan sangat manis baginya. Baru kali ini dia merasa tertarik pada wanita selain Tasya. "Sayang sekali, kamu istri orang," kata Yakub dalam hati.

__ADS_1


Setelah Yakub dan Sarah pergi, Naila kembali sendiri. Dia berusaha memejamkan mata agar terlelap dan tak merasa kesepian. Bahkan sampai seorang petugas mengantarkan makan siang, Riko masih belum juga datang.


__ADS_2