
Hati Naila sebenarnya merasa was-was, apa yang akan mereka lakukan padanya. Namun, Naila tak boleh memperlihatkan kalau dirinya ketakutan. Kali ini dia harus berani melawan meskipun sendirian.
Mereka mencengkeram tubuh mungil Naila dan memaksanya berdiri. Naila pun terpaksa mengikuti kemauan mereka. Namun, di saat Clara ingin menarik jilbab yang dipakai Naila, suara Bara membuyarkan aksinya.
"Jangan sakiti Kak Naila!" teriak Bara membela Naila.
Para wanita cantik itu pun mengalihkan pandangan secara bersamaan ke arah Bara. Di saat mereka lengah, Naila melepaskan diri dari cengkeraman mereka.
Bruukk!
Clara dan Vella terjatuh, terdorong tubuh Naila. Bara pun melempari mereka dengan mainannya. Vella dan teman-temannya berteriak histeris karena sebagian mainannya mengenai wajah mereka. Melihat semua itu, Bara semakin semangat melancarkan aksinya sambil tertawa.
"Sudah, Bara. Jangan diteruskan lagi, kasihan wajah mereka terluka. Sudah, ya," bujuk Naila menghentikan Bara.
Meskipun Vella dan yang lainnya berniat jahat padanya, tapi keadaan mereka saat ini membuat Naila merasa kasihan. Bara akhirnya menghentikan lemparannya sambil tersenyum puas.
Wajah yang cantik mulus, tergores bagian pipinya. Bahkan ada juga yang terlihat berdarah di bagian kening mereka. Belum lagi rambut yang terlihat berantakan, ditambah wajah yang merah karena menahan marah.
Vella memandang wajah Bara sambil meringis kesakitan. Rasa sakitnya pun tiba-tiba hilang karena menyadari wajah Bara yang sangat mirip dengan adik iparnya. Vella tersenyum sinis, terlihat aura jahat dari sinar matanya.
"Naila, kamu pasti sudah merasa menang. Untuk kali ini kami akan mengalah. Aku mencoba memahami perasaanmu saat ini yang sebenarnya pasti sedang sedih dan terluka." Vella berkata sambil mendekati Bara.
"Apa maksudmu? Siapa yang sedih? Aku baik-baik saja, bahkan sangat baik." Naila sama sekali tak mengerti maksud Vella.
__ADS_1
"Sudahlah, kamu jangan berpura-pura di depan kami. Aku tahu saat ini kamu pasti sedang sakit hati. Selama ini kamu tak percaya dengan ucapanku. Dan sekarang rasakan sendiri akibat kesombonganmu. Ucapanku terbukti 'kan? Miris sekali nasibmu, menjadi baby sitter anak suamimu," ucap Vella dengan senyum kemenangannya. Vella yakin anak laki-laki di depannya adalah putra adik iparnya.
Naila mulai mengerti ke mana arah pembicaraan Vella. Dia pun tersenyum, yakin Vella tak tahu apa-apa tentang Bara. Pasti Rony belum sempat menceritakan tentang Bara pada Vella.
"Ooh, aku tahu maksudmu sekarang. Ke mana saja dua hari ini sampai tak tahu kabar berita mengenai keluarga suamimu? Bahkan aku yakin kamu tak tahu kalau Rony menginap di sini mulai hari sabtu. Percuma cantik tapi suaminya tak betah di rumah. Hati-hati, punya suami itu dijaga. Sekarang ini zamannya 'I love you suami orang'. Kalau nggak percaya, contohnya ada di depan mata," balas Naila sambil memandang lima orang wanita yang masih sibuk merapikan kembali penampilan mereka.
Vella merasa geram, dia sama sekali tak tahu apa-apa mengenai Bara. Jangankan bicara dengan suaminya, dia saja belum pulang ke rumah. Ucapan Naila membuatnya semakin naik darah. Dia pun mendekati Naila kemudian dengan cepat mendorong Naila sampai jatuh terlentang.
"Assalamu'alaikum ... Ya Allah, ada apa ini? Kenapa Nyonya sampai jatuh?" seorang wanita dan laki-laki paruh baya tiba-tiba datang menolong Naila. Vella terkejut melihat kedatangan mereka. Sementara Naila hanya diam, bingung karena tak mengenal mereka berdua.
"Nyonya nggak apa-apa? Kalau ada yang sakit, kita ke rumah sakit sekarang biar diantar sama Bibi."
"Hemm ... saya nggak apa-apa, Bi. Alhamdulillah kepala saya nggak sampai terbentur di lantai."
"Kakak jahat. Bara tak suka orang jahat. Pergi kalian semua! Jangan ganggu Kak Naila!" Bara berteriak kencang dan menyerang Vella yang masih duduk di lantai. Tak henti-hentinya tangan mungil Bara memukuli wajah dan menarik rambut Vella. Laki-laki paruh baya itu segera menggendong Bara dan menjauhkannya dari Vella. Bara terus saja memberontak ingin dilepaskan. Suasananya pun ramai karena Bara tak bisa dikendalikan.
"Kakak-kakak yang cantik, tolong jangan mencari keributan. Apa kalian tak malu bersikap seperti ini di depan seorang balita? Aku tak pernah mengganggu kalian, bahkan aku juga sama sekali tak mengenal kalian semua. Tolong pergilah sekarang juga dari rumahku. Kalau kalian tak mau pergi, aku akan memanggil keamanan agar mengusir kalian," perintah Naila pada para tamunya.
Vella dan yang lainnya terpaksa berdiri dan berjalan meninggalkan rumah Naila. Mereka tak berkutik, apalagi Naila sekarang tak lagi sendirian. Naila segera menenangkan Bara yang masih berteriak dan ingin lepas dari gendongan. Akhirnya Bara tenang setelah Naila bicara dengannya. Naila segera mengajak Bara ke kamar tidurnya. Wanita paruh baya itu pun mengikutinya, kemudian duduk di dekat pintu kamar Bara.
"Maaf, Nyonya. Perkenalkan saya Bi Marni dan laki-laki tadi suami saya. Nyonya bisa memanggilnya Pak Supri. Kami diutus sama Pak Riko untuk membantu Nyonya mulai sekarang. Mohon maaf kalau saya tadi lancang langsung masuk karena mendengar keributan." Bi Marni menyampaikan maksud kedatangannya.
"Iya, Bi. Nggak apa-apa. Maaf kalau aku nggak tahu, Mas Riko juga nggak kasih kabar apa-apa soal Bi Marni dan Pak Supri. Terima kasih ya, Bi. Alhamdulillah kalian datang tepat waktu." Naila berkata pada Bi Marni dan Bara duduk di pangkuannya.
__ADS_1
"Bi, tolong berdiri, jangan duduk di situ. Duduk di sini saja dekat saya. Dan tolong jangan panggil saya Nyonya, saya kurang suka. Panggil saja saya Mbak Naila, lebih enak didengar di telinga," ucap Naila dengan ramah.
"Baik, Mbak. Saya mau membereskan ruang tamu dulu. Mbak Naila nemenin Den Bara saja di kamar sambil istirahat. Permisi ya, Mbak." Naila pun menganggukkan kepalanya. Bi Marni dan Pak Supri membersihkan ruang tamu yang tampak berantakan penuh dengan mainan Bara yang berserakan.
Bara sudah terlelap dalam dekapannya. Naila menidurkan Bara ke ranjangnya dengan hati-hati. Menghela napas panjang, menenangkan pikiran. Melihat wajah Bara yang tampan dan menggemaskan membuat Naila semakin menyayanginya. Apalagi Bara begitu membela dirinya dari serangan Vella dan teman-temannya. Bara, Bi Marni, dan Pak Supri, semuanya datang tepat pada waktunya. Dan Naila meyakini, Allah melindungi dirinya melalui mereka.
♡ ♡ ♡
"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" tanya Riko sambil mendekati Naila setelah sampai di dalam kamarnya.
"Ya Allah, Mas. Kamu ngagetin aku aja. Aku nggak apa-apa, Sayang," jawab Naila dan meraih punggung tangan Riko dan menciumnya.
"Pak Supri baru saja cerita. Vella benar-benar keterlaluan," ucap Riko lalu mengecup kening istrinya.
"Dari mana Mas tahu kalau yang ke sini tadi Vella?" tanya Naila heran.
"Pak Supri dan Bi Marni itu dulu asisten rumah tangga di sini. Jadi mereka sudah kenal dengan Vella dan juga Clara. Maaf, ya. Aku menyuruh mereka bekerja kembali di rumah ini tanpa meminta pendapatmu. Tapi mereka nggak menginap, pulangnya menunggu aku pulang kerja," ucap Riko menjelaskan keberadaan Pak Supri dan Bi Marni.
"Kenapa, Mas? Aku seperti tahanan pakai dijaga segala," kata Naila sambil tersenyum. Rasanya dia ingin sekali tertawa karena menganggap suaminya sangat berlebihan menjaganya.
"Demi kebaikanmu dan Bara. Tolong kali ini biarkan mereka membantu di sini. Aku takut Vella dan Clara sewaktu-waktu akan datang dan lebih nekat lagi. Aku tak ingin terjadi apa-apa pada kalian. Kamu tak tahu Vella seperti apa. Bahkan dia sangat licik dan berbahaya, hanya saja Kak Rony belum mengetahui semua kebusukannya," sahut Riko yang membuat Naila diam.
Terlihat oleh Naila, tangan Riko mengepal menahan marah. Pandangan matanya pun lurus dan tajam seolah ada musuh di depannya. Apa sebenarnya yang sudah dilakukan Vella? Naila merasa ada rahasia yang disembunyikan oleh suaminya. Dan Rony pun tak mengetahuinya.
__ADS_1