
"Sudahlah, Sayang. Istirahtlah, wajahmu masih pucat. Kita lanjutkan pembahasan Sarah nanti saja kalau aku sudah bertemu dengannya." Riko berusaha mengalihkan pembicaraan tentang Sarah.
"Baiklah, setelah kamu bertemu dengannya, pasti kamu akan sependapat denganku, Mas." Naila sangat yakin dengan penilaiannya tentang Sarah.
"Semoga saja ... aku juga ingin kakakku bahagia dan memiliki istri yang shalihah. Aku juga yakin dengan pilihanmu. Sekarang istirahatlah dulu, aku akan ke ruang perpustakaan sebentar," pamit Riko pada Naila.
"Hemm ... nanti lupa waktu kalau sudah megang laptop ...." Naila pun kembali cemberut. Akhir-akhir ini Riko selalu lupa waktu kalau sudah mengurus pekerjaan.
Riko tersenyum melihat Naila yang langsung cemberut. Dia pun mendekati Naila dan menggodanya. "Megang kamu juga belum boleh, kan?"
"Idih, apaan, sih, kamu, Mas. Sudah sana, jangan dekat-dekat." Naila tersenyum malu dengan ucapan suaminya. Dia lalu mendorong Riko yang ingin memeluknya.
Cup!
Kecupan singkat pun mendarat di bibir Naila.
"Ha ha ha ... istirahatlah, Sayang. Aku mau cek surel dulu."
Riko tertawa dan berlalu meninggalkan Naila yang tersipu. Sikap romantis Riko selalu saja membuat hatinya berbunga-bunga. Dia pun memejamkan mata lalu terlelap karena pengaruh obat.
***
Hari Minggu pagi, Sarah berkunjung ke rumah Naila. Yakub yang ingin rencananya berjalan lancar, takingin menampakkan wajahnya di depan Riko. Dia hanya mengantar adiknya di depan rumah dan beralasan pada Sarah, ada urusan penting yang harus dikerjakan. Sebelum dhuhur, Yakub berjanji akan menjemput adiknya.
Yakub berpikir, mungkin Riko tak mengenali dirinya. Namun, kalau sampai Yakub menyebut namanya saat berjabat tangan, Riko pasti akan mengingatnya. Apalagi kalau ada Rony di rumah Riko, pasti akan membuat dia emosi.
Yakub sendiri tak mengerti dengan sikapnya. Rasa bencinya pada Rony masih saja tersimpan di hati. Padahal kejadian itu sudah sangat lama, saat mereka masih berseragam putih abu-abu. Yakub pun menyadari, rencananya untuk balas dendam pada Rony salah. Namun, dendam di hati masih tersimpan rapi. Dia tak akan berhenti sebelum membalaskan sakit hatinya.
Yakub berharap semoga Sarah nanti tak bertemu dengan Rony. Seandainya bertemu pun, tak akan mengubah rencananya.
***
"Perkenalkan, Mas, ini Sarah, yang menolongku waktu itu." Naila memperkenalkan Sarah pada suaminya.
Sarah menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan Riko pun melakukan hal yang sama. Riko membenarkan ucapan Naila tentang Sarah. Wanita di hadapannya terlihat sopan dan shalihah. Wajahnya pun ayu dan manis dengan penampilan yang syar'i seperti istrinya.
"Saya sebagai suaminya Naila mengucapkan banyak terima kasih pada Mbak ...."
"Panggil saja Sarah ...."
"Baiklah, maaf, kalau di rumah sakit waktu itu, saya tidak bisa menemui kalian. Ke sini tadi naik apa?"
__ADS_1
"Saya diantar kakak tapi maaf kalau kakak saya tidak bisa ikut ke sini. Dia ada urusan penting yang harus dikerjakan."
"Sampaikan saja salam saya padanya."
"Insyaa Allah ...."
"Kak Sarah, pulangnya nanti saja setelah makan siang. Aku dan Bi Marni sudah menyiapkan khusus untuk kalian. Tapi karena Kak Sarah sendirian, jadi nanti Kak Sarah yang harus menghabiskan semua makanannya, ya."
"Bereess ... jangan khawatir. Meskipun tubuhku mungil tapi makanku banyak kok."
Naila dan Sarah pun tertawa. Riko melihat mereka berdua sangat akrab seperti sudah berteman lama. Dia pun tak pernah melihat Naila sebahagia ini. Riko berharap Sarah benar-benar teman yang bisa dipercaya, tak seperti Eva.
"Istri saya sangat senang sekali kamu akan ke sini. Dari pagi dia sudah menyiapkan masakan untuk makan siang bersama. Nanti kamu kalau pulang biar diantar sama Pak Supri saja. Tolong temani Naila hari ini. Kamu nggak ada acara, kan, Sarah?"
"Tidak ada, Kak. Hari ini saya libur dan tidak ada acara apa-apa. Memang sengaja saya khususkan untuk bertemu Naila."
"Terima kasih, ya, Kak. Pulangnya biar diantar sama Pak Supri saja. Aku ingin Kak Sarah di sini menemaniku. Apalagi ada orang yang PHP-in aku." Naila berkata sambil melirik suaminya. Riko hanya tersenyum. Dia tahu Naila menahan kesal karena dia harus mengurus pekerjaan di hari libur.
"Maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud PHP-in kamu. Senin pagi besok ada meeting penting dengan klien dari Singapura. Aku harus ke kantor memeriksa berkas-berkasnya. Aku tak ingin ada masalah lagi seperti kemarin." Riko kembali memberi penjelasan agar Naila mengerti.
"Iya ... iya ... aku mengerti. Tolong jangan pulang malam, Mas. Kamu juga perlu istirahat." Naila pun pasrah dan tersenyum kembali.
"Insyaa Allah aku usahakan sebelum maghrib sudah pulang. Aku berangkat dulu, ya. Sebaiknya kalian mengobrol di ruang keluarga atau di taman belakang saja biar nyaman."
"Sayang, aku berangkat dulu, ya. Kasihan Irwan sudah menunggu dari tadi." Irwan adalah sopir baru yang menjemput dan mengantar Riko. Sementara Supri ditugaskan di rumah untuk menjaga dan mengantar Naila.
Semenjak kejadian di kafe itu, Riko tak membiarkan Naila pergi sendiri. Dia takingin kejadian yang sudah kedua kalinya menimpa Naila terulang lagi. Walaupun Riko belum mendapatkan bukti, tetapi Riko sangat yakin kejadian yang menimpa istrinya adalah sebuah kesengajaan. Namun, Riko tak memberitahukan pada Naila agar tak menjadi beban pikiran istrinya.
Setelah keberangkatan Riko, Naila mengajak Sarah ke ruang makan. Mereka berdua sudah berencana membuat kue dari pada mengobrol saja.
Marni pun senang melihat Naila yang hari ini terlihat sangat bahagia. Dia juga suka dengan Sarah yang sopan dan ramah saat bicara dengannya walaupun dia hanya asisten rumah tangga. Sangat berbeda dengan Clara dan Vella.
"Semoga Den Rony nanti punya istri seperti Mbak Sarah. Wajahnya ayu tapi orangnya ramah dan sopan. Mbak Naila dan Mbak Sarah seperti adik kakak saja. Sama-sama baik pula orangnya." Marni berkata dan memuji mereka berdua dalam hati.
Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang memberi salam. Karena Supri yang sedang duduk di teras depan sudah mempersilakan masuk, Rony pun langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi di belakang. Setelah mencuci kaki dan tangan, dia mendekati Naila dan Marni yang berada di dapur sekaligus ruang makan.
"Eh, Kak Rony, dari mana?" tanya Naila yang duduk di kursi ruang makan. Sementara Sarah sedang fokus di dapur mengeluarkan soft cake dari oven.
"Dari rumah teman, jadi sekalian mampir ke sini. Hemm ... maaf aku nggak tahu kalau kamu ada tamu," kata Rony seraya melirik ke arah Sarah yang sedang berdiri di dapur. Dia tak tahu wajah Sarah karena posisinya saat ini membelakangi Rony.
"Nggak apa-apa, Kak. Silakan duduk dulu, aku juga ingin memperkenalkan sahabatku."
__ADS_1
Sebelum Naila mendekat, Sarah sudah terlebih dahulu berjalan ke arahnya. Rony dan Sarah pun terkejut dan saling menyapa.
"Sarah?"
"Kak Rony?
"Ternyata kalian sudah kenal. Memang tidak ada kebetulan yang terjadi di dunia ini." Naila tersenyum penuh arti. Niatnya menjodohkan Sarah dengan Rony terasa mudah baginya.
"Makanya aku juga sudah curiga, wajah Kak Riko sangat mirip dengan Kak Rony. Aku sebenarnya ingin bertanya padamu, Naila. Tapi aku takut kalau aku salah." Sarah duduk di samping Naila.
"Apa kamu sudah lama kenal dengan Sarah, Naila?" tanya Rony heran.
"Nggak, Kak. Aku kenal Kak Sarah minggu lalu. Dia dan kakaknya yang menolongku saat aku jatuh di depan toilet kafe." Naila pun menceritakan kejadian di kafe waktu itu.
"Kamu jatuh? Bagaimana dengan kandunganmu?" Rony sangat terkejut mendengar cerita Naila.
"Aku mengalami pendarahan dan harus kehilangan lagi," ucap Naila sedih.
"Maaf, Naila. Aku tak tahu berita itu. Riko juga tidak memberitahuku," sahut Rony yang juga merasakan kesedihan Naila.
"Nggak apa-apa, Kak. Mas Riko mungkin belum sempat memberitahu. Dia akhir-akhir ini sangat sibuk. Bahkan sekarang suamiku sedang di kantor."
"Sesibuk itukah, Riko?" tanya Rony penasaran.
"Tanya saja sama Bi Marni dan Pak Supri kalau Kak Rony nggak percaya. Kenapa Kak Rony nggak pindah kerja di perusahaan peninggalan papa? Kalau Kak Rony di sana, pasti bisa membantu pekerjaan Mas Riko," jawab Naila memberi penjelasan sekaligus permohonan.
"Aku ... aku belum siap, Naila." Rony pun tak enak hati. Sarah hanya memandangi mereka berdua tanpa berniat ikut bicara.
"Pikirkan lagi, Kak. Perusahaan saat ini sedang berkembang dan sangat maju. Mas Riko menang tender beberapa proyek di luar kota dan luar pulau. Kasihan dia, Kak. Kalau Kak Rony mau bantu, pasti Mas Riko sangat senang sekali. Bahkan untuk beristirahat di rumah pun hanya sedikit waktunya."
Rony hanya diam mendengarkan penjelasan Naila. Dalam hati dia membenarkan ucapan Naila. Harusnya dia membantu adiknya bersama-sama memajukan perusahaan peninggalan papanya. Namun, dia masih trauma dan takut kembali khilaf dengan harta.
Naila memperhatikan Rony yang hanya diam. Dia tahu saat ini Rony sedang berpikir. Naila pun melanjutkan ucapannya. "Maaf, aku nggak berniat menasihati Kak Rony. Jangan salah paham, ya, Kak. Aku hanya minta tolong saja, pertimbangkan kembali permintaan Mas Riko yang berulang kali."
"Baiklah, Naila. Aku akan mempertimbangkannya," sahut Rony dengan tersenyum.
"Maaf, Kak, aku langsung bicara apa adanya sampai lupa kalau ada Kak Sarah," balas Naila. Dia baru menyadari ada Sarah di sampingnya.
"Santai saja, Naila. Anggap saja aku tak ada."
"Ya ... kok gitu?"
__ADS_1
"Aku bercanda, Naila."
Sarah dan Naila pun tertawa dan melanjutkan kegiatannya di dapur. Rony hanya memandang mereka dengan bahagia. Apalagi saat ini ada Sarah di dekatnya. Rasanya seperti mimpi. Hatinya pun kembali bergetar memandang wajah ayu yang sudah dua bulan tak dilihatnya.