
"Hey, apa yang kalian berdua lakukan?"
Rony dan Naila terkejut mendengar suara teriakan Riko, Naila segera melepaskan diri dari pelukan Rony. Rasa pusing di kepalanya membuat dirinya tak menyadari apa yang terjadi. Dia segera duduk di kursi yang terdekat. Naila memandang wajah suaminya yang sudah merah dan tangannya mengepal menahan marah. Rony langsung mendekati adiknya dan menenangkannya.
"Riko, tolong dengarkan dulu! Semua ini bukan seperti yang kamu bayangkan, aku hanya menolong Naila. Dia tadi hampir jatuh, mungkin karena sakit."
Riko memandang wajah pucat istrinya, membuat emosinya mereda. Dia pun berjalan mendekati Naila.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Riko pada Naila.
"Mungkin karena belum makan, kata Bi Marni tadi dia nggak mau makan sebelum kamu pulang," sahut Rony memberi penjelasan.
"Sayang, aku 'kan sudah bilang kalau aku pulang malam, kamu makan dulu sama Bi Marni. Jangan menunggu aku pulang! Kamu selalu saja begitu, tak mau mendengarkan ucapanku," ucap Riko dengan kesal.
"Kepalaku tiba-tiba pusing dan badanku lemas. Tolong, aku ingin tiduran di kamar saja."
Naila berusaha mengalihkan kekesalan Riko padanya. Dia lalu berdiri meskipun kepalanya masih terasa berat. Riko langsung menggendong istrinya dan membawanya ke kamar mereka.
"Bi Marni ... Bi Marni!"
Suara teriakan Riko sampai di kamar Bi Marni yang sedang duduk berbincang dengan Pak Supri.
"Duh, Den Riko kenapa lagi, ya? Akhir-akhir ini kok sering sekali teriak-teriak. Ini pasti ada hubungannya dengan Mbak Naila," kata Bi Marni.
"Sudah, Bune, cepat sana! Nanti Den Riko tambah marah kalau kamu nggak datang-datang," sahut Pak Supri mengingatkan istrinya.
Bi Marni segera berjalan cepat menuju ruang makan tapi hanya ada Rony yang sedang duduk sendirian. Dia langsung berjalan menuju kamar tidur Riko yang terbuka.
"Iya, Den, maaf, Bibi tadi sedang di kamar," ucap Bi Marni.
"Bi, lain kali tolong paksa Naila makan. Jangan sampai nunggu aku pulang! Kalau ada Kak Rony juga jangan dibiarkan berduaan sama Naila, Bi. Aku 'kan sudah bilang ke Bibi, jangan biarkan Naila berduaan sama laki-laki lain!" seru Riko pada Bi Marni.
"Maafkan Bibi, Den. Bibi kira kalau laki-lakinya Den Rony nggak apa-apa. Maafkan Bibi, ya, Den," balas Bi Marni yang merasa bersalah.
"Ya ... sekarang tolong ambilkan makan buat Naila, biar aku suapi."
"Baik, Den."
"Mas, jangan marah sama Bi Marni, dia nggak salah. Kalau mau marah sama aku saja, Mas," tegur Naila.
"Kalian semua salah! Aku mau ke kamar mandi dulu. Kamu tiduran saja di sini, jangan ke mana-mana!" perintah Riko yang membuat Naila diam tak berani melawan apalagi membantah. Kepalanya semakin pusing karena rasa bersalahnya.
"Astaghfirullah ... bisa-bisanya aku tadi dipeluk sama Kak Rony. Ya Allah, ampuni hamba-Mu ini." Naila berkata dengan suara lirih dan terus beristighfar atas semua yang baru saja terjadi.
"Mbak, ini nasinya ... saya buatkan teh lemon hangat juga."
"Terima kasih, ya, Bi. Duduk sini, Bi, aku mau bicara sebentar mumpung Mas Riko di kamar mandi."
__ADS_1
Bi Marni kemudian meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas. Dia pun duduk di tepi ranjang menuruti permintaan Naila.
"Maaf, ya, Bi, gara-gara aku, Bibi jadi dimarahin Mas Riko," ungkap Naila.
"Nggak apa-apa, Mbak, saya juga salah. Memangnya ada masalah apa sampai Den Riko sampai marah seperti itu?" tanya Bi Marni penasaran.
"Tadi waktu mau berjalan ke kamar, tiba-tiba badanku lemas dan kepalaku juga pusing banget, Bi. Aku hampir jatuh dan Kak Rony menolongku." Naila pun menceritakan kejadian di ruang makan pada Bi Marni.
"Mbak, besok periksa ke dokter saja, siapa tahu Mbak Naila hamil," saran Bi Marni.
"Naila hamil?" tanya Riko yang mendengar ucapan Bi Marni saat keluar dari kamar mandi.
"Eh ... itu ... maksud saya mungkin, Den. Soalnya Mbak Naila akhir-akhir ini sering seperti itu, tiba-tiba pusing dan lemas. Malah waktu itu beberapa kali muntah-muntah."
Bi Marni memberi penjelasan pada majikannya dengan rasa takut. Dia merasa kasihan pada Naila yang akan kembali disalahkan jika salah bicara.
"Benarkah, Sayang? Besok kita ke dokter, ya. Sekarang makan dulu, sini aku suapi!" Mata Riko berbinar, berharap istrinya benar-benar sedang berbadan dua.
"Saya permisi dulu, ya, Den." Bi Marni merasa tenang melihat Riko tak marah.
"Iya, Bi. Bibi istirahat saja, maaf sudah mengganggu. Kak Rony suruh makan saja dulu, nanti aku menyusul."
"Baik, Den."
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu sakit?" tanya Riko pada Naila setelah Bi Marni keluar dari kamar mereka.
"Maaf, Sayang, maafkan aku. Mulai besok, aku berjanji akan mengurangi kesibukanku. Sekarang makan dulu, ya."
Naila tersenyum dan menganggukkan kepala. Sambil menerima suapan dari Riko, Naila mengajak bicara suaminya, mencoba menghilangkan rasa mual di perutnya.
"Aku tadi nggak mendengar suara mobilmu, Mas. Kamu tiba-tiba saja sudah berdiri di ruang makan."
"Aku merasa lelah dan mengantuk, jadi aku naik taksi online."
"Aku makan sedikit saja, ya, Mas, perutku rasanya mual."
"Kalau aku suapi, pasti mualnya hilang. Ayo dipaksakan, kamu harus sehat, Sayang."
"Sedikit-sedikit saja, ya, Mas."
Dengan sabar, Riko menyuapi Naila sampai habis tak bersisa. Setelah mengecup kening istrinya, Riko meninggalkan Naila menuju ruang makan dan langsung duduk di hadapan kakaknya.
"Sudah makan, Kak?" tanya Riko.
"Aku menunggumu," jawab Rony.
Mereka berdua makan bersama dalam diam. Rasa canggung membuat Rony tak berani bicara. Rasa lapar pun hilang seketika. Makanan yang masuk ke dalam mulutnya, ditelan dengan terpaksa.
__ADS_1
"Maafkan aku, Kak. Bukannya aku menuduhmu yang bukan-bukan tapi aku tak suka kalau Kak Rony menyentuh istriku." Riko mulai pembicaraan mereka dan menyampaikan apa yang ada di pikirannya.
"Ya, aku juga minta maaf. Kejadian tadi hanya refleks saja, hanya berniat menolong. Aku sangat menghormati Naila, Riko," sahut Rony.
"Ya ... aku mengerti," balas Riko dan mencoba mengerti.
Mereka kembali diam dalam waktu yang cukup lama sampai makan malam selesai. Riko melanjutkan pembicaraan mereka dengan tema yang berbeda. Dia sangat ingin kakaknya membantu mengurus perusahaan. Riko merasa semakin tak ada waktu dengan Naila karena kesibukannya.
"Kapan Kakak mau bergabung di perusahaan kita? Banyak investor baru yang membuatku sangat sibuk. Tolong bantu aku, Kak. Kita majukan usaha peninggalan papa bersama-sama."
"Beri aku waktu tiga bulan lagi, ada urusan pribadi yang harus aku selesaikan. Kamu ingat Yakub Maulana?"
"Yakub ... Yakub yang kekasihnya bernama Tasya?"
"Ya, aku tadi bertemu dengannya. Dia masih marah padaku dan langsung memukulku. Dia juga bercerita kalau Tasya meninggal dunia setelah melahirkan anakku."
"Innalillahi ... jadi Kak Rony punya anak dengan Tasya?"
"Aku nggak tahu, Riko. Aku akan mencari tahu kebenarannya. Kalau memang dia anakku, aku akan bertanggung jawab dan mengajaknya tinggal bersamaku."
"Apa Tasya pernah menemui Kak Rony dan meminta pertanggungjawaban pada Kakak?"
"Itulah yang membuatku ragu dengan ucapan Yakub. Kalau benar Tasya mengandung anakku, dia dan keluarganya pasti akan menemuiku."
"Semoga lancar semua urusanmu, Kak. Bila butuh bantuan, bilang saja padaku. Kalau perlu, lakukan Tes DNA pada anak itu."
"Terima kasih karena sudah mendukungku."
Mereka berdua saling melempar senyuman dan berusaha melupakan kejadian yang hampir membuat kesalahpahaman.
***
Sementara di rumah sederhana yang sempat terjadi keributan, Sarah meminta penjelasan pada kakaknya. Dalam hatinya, dia sama sekali tak percaya dengan tuduhan Yakub pada Rony. Sarah juga pernah bertemu dengan putranya Tasya yang sudah beranjak remaja.
"Kak, apa benar anak Tasya itu anaknya Kak Rony? Aku nggak percaya!" ucap Sarah pada Yakub.
"Memang bukan," jawab Yakub dengan tenang.
"Astaghfirullah ... kenapa kamu jahat sekali pada Kak Rony? Orang yang pernah melihat anaknya Kak Tasya, pasti nggak percaya kalau dia anaknya Kak Rony. Jelas-jelas wajah mereka nggak ada mirip-miripnya."
"Biarkan saja, biar dia merasa bersalah. Aku hanya ingin melampiaskan dendamku padanya."
"Kamu nggak boleh begitu, Kak. Itu sama saja kamu sudah menyebar fitnah!"
"Hey, ada hubungan apa kamu dengan playboy itu? Kenapa kamu membelanya? Jangan-jangan kamu sudah terpesona dengan wajah tampannya! Sampai kapan pun, aku tak akan merestui hubungan kalian!"
Yakub segera keluar rumah meninggalkan Sarah yang terdiam mendengar ancamannya. Tak dipungkiri, wajah tampan Rony membuat hati Sarah berbunga.
__ADS_1