Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Terpaksa meminta maaf


__ADS_3

Tanpa basa-basi, Clara dan Vella langsung bicara setelah duduk di hadapan Bagas. Mereka terpaksa menawarkan sejumlah uang pada Bagas daripada masuk penjara. Bagas pun tersenyum, mulai memainkan perannya.


"Hemm ... berapa, ya? Kalau aku mau, apa kalian sanggup membayarku?" Bagas balik bertanya pada dua wanita cantik di hadapannya.


"Pasti aku usahakan. Tapi terus terang saja aku ragu kamu mau di pihak kami. Kemarin kamu bilang Naila sahabatmu, bahkan kamu mengancam kami. Rasanya tak mungkin kalau kamu mau mengkhianati Naila," jawab Clara terus terang.


"Maaf kalau aku kemarin sempat emosi. Tapi aku sekarang berubah pikiran, aku butuh uang. Seminggu yang lalu aku kalah judi, uang tabunganku tak tersisa malah aku punya hutang. Dan tadi malam dia datang menagih uangnya, aku bingung mau cari ke mana. Terpaksa uang dari kalian yang rencananya aku kembalikan, terpakai juga buat membayar sebagian hutangku," sahut Bagas.


"Bukankah biasanya kamu porotin tante-tante yang kamu layani?" tanya Vella tak percaya.


"Sepertinya satu bulan ke depan aku nggak ada job. Tante Rosi harus di rumah karena suaminya pulang. Tante Retta suaminya opname jadi nggak mungkin dia hubungi aku. Tante Manda lagi ke luar negeri karena anaknya minta ditemani setelah melahirkan. Yang lainnya mungkin lagi bosan. Makanya aku benar-benar bokek sekarang," jawab Bagas meyakinkan.


Vella dan Clara saling berpandangan. Antara percaya dan tidak dengan ucapan laki-laki di hadapannya. Namun, mereka berdua tak punya pilihan.


"Kalau boleh aku tanya, kenapa kalian berdua sangat benci pada Naila? Bukankah kalian juga baru mengenalnya?" tanya Bagas penasaran.


"Gara-gara dia Rony sekarang berubah. Aku nggak ada niat membuatnya celaka, hanya ingin melihatnya diusir suaminya. Bahkan aku juga tak tahu kalau dia sedang hamil. Dan Rony dari tadi malam sudah mencurigaiku kalau akulah yang membuat Naila keguguran." Vella berkata dengan geram, terlihat ekspresi kebencian pada wajahnya.


"Dan tadi Riko bilang kalau dia akan menyerahkan semua buktinya ke kantor polisi. Aku sebagai saksi," sahut Bagas.


"Bagas, tolonglah kami. Uang yang sudah kami transfer kemarin tak usah kamu ganti. Kalau kamu mau ada di pihak kami, akan kami tambah dua kali lipat. Bagaimana?" Vella pun kembali memberikan penawaran pada Bagas.


"Sebenarnya kalau kalian mau, ada cara yang lebih mudah dan kalian tak perlu mengeluarkan uang." Tiba-tiba saja Bagas memiliki ide untuk membuat kedua wanita itu bersimpuh di hadapan Naila.


"Bagaimana caranya?" tanya Clara. Sebenarnya dia pun sudah malas mengeluarkan uang lagi.

__ADS_1


"Minta maaf saja sama Riko dan Naila. Mereka orang baik, pasti mau memaafkan kalian. Itu kalau kalian mau. Atau minta tolong saja sama suamimu. Siapa tahu dia bisa membujuk Riko dan Naila untuk memaafkan kalian," saran Bagas.


"Sebenarnya saranmu boleh juga. Tapi terus terang saja aku takut sama Riko. Aku akan coba bicara sama Rony dulu, siapa tahu bisa bantu. Kenapa kamu tiba-tiba kasih saran agar kami minta maaf? Bukannya kamu lagi butuh uang?" Vella harus memastikan jika ini bukanlah rencana Bagas yang tersembunyi.


"Aku memang butuh uang. Tapi kalau setelah dapat uang, aku dipenjara juga, jelas aku nggak mau. Makanya coba kalian minta maaf. Kalau memang nantinya Riko tetap mengadukan kalian ke polisi, baru aku bantu rencana kalian selanjutnya," jelas Bagas yang membuat Clara dan Vella yakin dengan ucapannya.


"Baiklah, aku akan coba saranmu dulu. Semoga saja Riko dan Naila mau memaafkan kami."


Meskipun berat hati, Vella dan Clara terpaksa harus menuruti saran Bagas. Mereka berdua merasa frustasi jika harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi. Apalagi jika Bagas benar-benar meminta sesuai yang mereka janjikan. Membayar dua kali lipat, rasanya bergidik ngeri melihat isi tabungan mereka yang tak seberapa.


♡ ♡ ♡


"Dari mana saja kamu selarut ini baru pulang?" tanya Rony pada Vella yang baru saja sampai di rumah.


"Habis dari kafe sama Clara. Biasanya juga selalu pulang malam, kenapa baru sekarang protesnya?" jawab Vella tanpa rasa bersalah.


"Clara yang selama ini membayar semuanya. Aku hanya menemaninya saja. Kalau tak percaya, tanyakan saja padanya," sahut Vella kemudian.


"Kamu dan Clara itu sahabat, belahan jiwa, sama-sama jahat, buat apa aku tanya padanya. Jawabannya pasti settingan semua," balas Rony yang membuat Vella ingin segera menghindar. Kakinya pun mulai melangkah menuju kamarnya, namun Rony tak mengijinkan.


"Jangan pergi dulu, aku belum selesai bicara! Besok sabtu seperti biasanya kita ke rumah Riko menjemput Bara," perintah Rony.


"Kamu saja sendiri, aku lagi ma--"


"Kamu harus ikut, minta maaf sama Riko dan Naila." Rony langsung memotong ucapan Vella. Dirinya sudah mulai tak sabar menghadapi istrinya.

__ADS_1


"Kenapa aku harus minta maaf, apa salahku?" tanya Vella yang membuat Rony geram.


"Sudahlah, kamu jangan bohong lagi. Aku tahu kamu dan Clara yang merencanakan semuanya. Kamu yang sudah membuat Naila keguguran. Aku tahu kamu masih belum berubah, sikapmu dua bulan ini hanya pura-pura." Rony langsung mengungkapkan kecurigaannya pada Vella. Dia sudah tahu bagaimana sifat istrinya. Walaupun Rony sadar bahwa semua ini juga karena kesalahannya yang tak becus menjadi suami.


"Apa kamu mau masuk penjara? Kamu tahu betapa cintanya Riko pada istrinya. Apalagi kali ini sudah menyangkut buah hati mereka. Aku yakin adikku tak main-main kali ini. Seandainya dia tak melaporkan kasus ini ke polisi, itu malah lebih membahayakan kalian berdua. Kamu mau Riko menghukummu dengan caranya?" lanjut Rony.


Vella terdiam mendengar ucapan suaminya. Kembali dirinya mengingat saran Bagas. Kalau sudah seperti ini, dia pun merasa tak punya pilihan lainnya. Apalagi sekarang ini jelas-jelas Rony tak mau membelanya.


"Baiklah, aku mau ikut. Tapi ... tapi ... tolong bantu aku. Sungguh, aku tak berniat membuat Naila celaka, aku juga tak tahu kalau dia sedang hamil. Please, tolong bantu aku," pinta Vella. Akhirnya dia terpaksa mengakui perbuatannya.


"Kita lihat saja situasinya besok. Tolong ajak Clara juga, kita hadapi bersama. Jika mereka memaafkan kalian, berubahlah!" Rony terpaksa mengiakan permintaan istrinya. Vella pun tersenyum, merasa Rony masih sangat mencintainya.


♡ ♡ ♡


Keesokan harinya, Rony, Vella dan juga Clara datang ke rumah Riko. Bi Marni mempersilakan mereka semua duduk, lalu memanggil Riko dan Naila. Bara pun sudah rapi dan siap pergi dengan Rony. Namun, Riko meminta Bi Marni untuk menjaga Bara agar tak keluar dari kamarnya. Dirinya sudah merasa tak nyaman saat mengetahui Vella dan Clara ikut juga.


"Sepertinya ada yang ingin bicara penting, tumben kalian datang bertiga," sambut Riko yang membuat Vella dan Clara gugup. Sementara Naila yang duduk di samping Riko hanya diam memperhatikan keduanya.


"Hemm ... begini Riko, kami ... kami ... kami ingin minta maaf," ucap Vella dengan terbata. Clara tak berani bersuara dan menundukkan kepalanya.


"Minta maaf soal apa, ya?" tanya Riko pura-pura.


"Aku minta maaf karena ... karena sudah membuat Naila celaka. Maafkan kami." Vella terpaksa mengakui perbuatannya pada Riko dan Naila.


"Maksudnya?" tanya Riko kembali karena dirinya tahu Naila tak akan mengerti apa yang diucapkan Vella. Riko ingin Vella menjelaskan apa yang sudah dilakukannya.

__ADS_1


"Kami ... kami yang telah memberikan obat bius pada cemilan itu. Kami yang merencanakan semuanya. Tapi sungguh kami tak tahu kalau kamu sedang hamil, Naila. Maafkan kami, Riko. Maafkan kami, Naila."


Vella tiba-tiba duduk bersimpuh di hadapan Naila. Clara akhirnya terpaksa melakukan hal yang sama. Naila hanya diam, memandang sekilas kedua wanita cantik di depannya. Menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan, menenangkan perasaan. Naila berdiri, melangkahkan kaki menuju kamar tidur Bara tanpa menghiraukan dua orang wanita yang bersimpuh di depannya.


__ADS_2