Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Naila dilema


__ADS_3

Pintu kamar Naila tiba-tiba terbuka, Rony pun terkejut karena dia masih berdiri di depan pintu kamar adik iparnya.


"Kak Rony?"


"Eh ... maaf, Naila. Aku ... aku baru saja mau ke kamarku." Rony mencari alasan untuk menutupi kegugupannya.


"Oh ...."


Hanya itu yang diucapkan Naila. Dia kemudian berjalan melewati Rony menuju teras rumah. Rony hanya memperhatikan wajah Naila yang tak seperti biasanya. Hari ini adik iparnya sangat cuek dan tidak ramah.


"Hemm ... mungkin bawaan bayi dalam kandungannya, ya. Tumben Naila jutek banget," kata Rony dalam hati.


Rony pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar dan beristirahat. Teringat pembicaraan Naila yang didengarnya, Rony segera memberitahu Riko. Dia hanya mengirim pesan, karena saat ini adiknya masih dalam perjalanan menuju kantor.


Naila menghampiri Supri yang sedang memotong rumput di taman depan. Dia kemudian menyerahkan dua lembar uang merah pada Supri yang sudah berdiri di hadapannya.


"Pak Supri, minta tolong belikan apel dan jeruk, ya. Kalau ada mangga, tolong belikan juga. Sekalian es teler di warung biasanya."


"Masih pagi, Mbak. Warung es telernya belum buka," ucap Supri sambil menerima uang pemberian Naila.


"Es telernya nunggu kalau buka saja nggak apa-apa tapi buahnya sekarang. Di kamar sudah habis, saya nggak mau buah yang di kulkas," sahut Naila.


"Baik, Mbak. Saya berangkat sekarang," balas Supri.


"Terima kasih ... Tolong cepat, ya, Pak. Nanti kalau sudah datang, minta tolong Bi Marni suruh cuci buahnya dan taruh di kamar saya." Naila yang belum sarapan, merasa lapar tapi dia hanya ingin makan buah. Perutnya langsung mual kalau makan nasi di pagi hari.


"Iya, Mbak," kata Supri dan segera berangkat menuruti perintah majikan wanitanya.


Naila berjalan kembali masuk ke kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Mood-nya sedang tidak bagus dan sangat kesal. Dia menyadari sikapnya yang cuek pada kakak iparnya.


"Astaghfirullah ... semua gara-gara Eva! Sebaiknya aku tidur saja." Naila berkata sendiri dan langsung memejamkan mata. Namun, pikirannya taktenang. Ucapan Eva terngiang-ngiang di telinganya.


"Kamu sekarang sombong, Naila. Mentang-mentang wajahmu sudah cantik dan jadi istrinya pengusaha, kamu nggak mau bertemu denganku. Kalau suamimu nggak bisa ngantar, kamu 'kan bisa naik taksi. Kalau suamimu nggak mengijinkan, kamu bisa diam-diam pergi dengan alasan belanja atau apa gitu. Bilang aja kamu sudah nggak mau berteman denganku!"

__ADS_1


Naila berusaha memejamkan matanya kembali. Dia takmungkin menceritakan ucapan Eva pada suaminya. Namun, kalau tak cerita, dia takmungkin bisa mengambil keputusan. Dia yakin suaminya pasti tak akan mengijinkannya berteman dengan Eva lagi.


Naila sebenarnya tak mempermasalahkan kalau dirinya tak berteman dengan Eva. Bahkan seandainya dia tak punya teman sekalipun, dia tak masalah. Namun, yang jadi pikirannya saat ini, ancaman Eva padanya.


"Pokoknya kamu harus datang! Kalau sampai kamu nggak datang, aku akan menyebar foto-foto jelekmu saat kuliah dulu. Aku juga punya lho fotomu saat dipeluk Daffa. Aku masih menyimpan semuanya dengan rapi di ponselku."


"Astaghfirullah ...."


Naila hanya bisa beristighfar. Dia merasa dilema. Fotonya bersama Daffa adalah suatu kesalah pahaman. Waktu itu tak sengaja dia terpeleset dan Daffa menangkap tubuhnya agar tak sampai jatuh ke tanah. Naila sangat terkejut waktu Eva mengirimkan foto itu melalui aplikasi pesan di ponselnya.


"Aku harus cerita pada Mas Riko. Apa pun yang terjadi, aku harus bercerita padanya."


Naila beranjak dari ranjangnya, menuju kamar mandi untuk berwudhu dan melakukan sholat dhuha. Setelah itu dia mengaji sehingga membuat hatinya tenang kembali.


***


Setelah pulang kerja dan membersihkan diri, Riko langsung mendekati Naila yang terbaring lemah di ranjang mereka.


"Sayang, kamu sakit?" tanya Riko sambil memegang kening Naila. Wajah istrinya pucat dan matanya sembab.


"Badanmu hangat, sepertinya kamu demam, Sayang." Riko mengusap punggung Nayla dengan lembut.


"Biarkan saja, dibuat tidur juga insyaa Allah nanti sudah enakan. Mas sudah makan?" Naila beranjak dari tidurnya lalu duduk di tepi ranjang.


"Sudah tadi sama klien di rumah makan. Apa ada yang kamu inginkan? Makanan atau minuman? Biar aku belikan sekarang." Riko mencoba membuat istrinya senang. Hatinya ikut sedih melihat Naila seperi ini, terlihat tak bersemangat.


"Nggak, Mas. Kita tidur aja, yuk!"


"Kangen, ya ...."


"Apaan, sih!"


Riko tertawa melihat Naila yang langsung cemberut. Dia yakin, istrinya pasti sedang ada masalah. Apalagi Rony sudah mengirim pesan padanya mengenai Naila yang sikapnya tak seperti biasanya.

__ADS_1


"Kalau ada masalah, cerita saja, Sayang. Aku janji nggak akan marah. Kasihan anak kita kalau mamanya sedih." Riko memeluk tubuh Naila dan membelai rambutnya.


"Aku takut, Mas. Aku takut kamu akan marah dan tak percaya padaku. Kamu juga baru pulang kerja, kasihan kalau harus mendengar ceritaku," ucap Naila seraya memandang wajah suaminya.


"Kamu istriku, aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu. Nggak ada kata capek kalau sudah melihatmu. Ceritalah, aku akan mendengarkan. Aku janji tak akan marah." Riko membalas ucapan Naila dengan lembut dan mengecup kening istrinya.


Riko berusaha memberi rasa nyaman pada Naila sebelum bercerita. Istrinya saat ini sedang hamil muda dan Riko berusaha menjaganya.


"Eva, Mas ...."


Bukannya langsung cerita, Naila malah menangis di pelukan Riko. Hatinya sangat sedih dengan perlakuan Eva padanya. Naila berpikir, kalau sampai foto-foto itu tersebar, luka lama yang sudah tertutup akan kembali terbuka. Foto-foto dirinya akan menjadi santapan netizen yang hanya pandai berkomentar.


Riko membelai rambut Naila dan membiarkannya menangis sepuasnya. Riko pun membenarkan ucapan kakaknya yang mengatakan kalau Naila saat ini sedang tertekan.


Setelah lelah menangis, Naila mengambil ponselnya di atas meja rias. Dia kembali mendekati suaminya dan menunjukkan foto-foto yang dikirim Eva padanya. Naila pun menceritakan semua ucapan dan ancaman Eva padanya.


Riko geram melihatnya, apalagi saat melihat foto istrinya berpelukan dengan Daffa. Walaupun Naila sudah menjelaskan kejadian sebenarnya tapi hatinya tetap diselimuti rasa cemburu. Naila tahu perubahan wajah laki-laki tampan di hadapannya.. Dia pun memeluk erat tubuh Riko dan mencoba membuat tenang suaminya.


"Tolong jangan marah, ini yang aku khawatirkan. Tahu gitu lebih baik aku nggak cerita."


Ucapan Naila membuat Riko sadar seketika. Dia pun segera menepis rasa cemburunya. Riko tersenyum, mencoba meyakinkan istrinya kalau dia tak lagi marah.


"Maaf, Sayang. Aku minta maaf, ya. Aku hanya tak menyangka kalau temanmu ini benar-benar tak punya adab."


"Aku juga nggak tahu, Mas. Dari tadi aku sampai berpikir, kesalahan apa yang sudah aku lakukan padanya? Kenapa dia tega berbuat seperti ini padaku? Selama ini hubungan kami juga baik-baik saja meskipun nggak terlalu akrab." Naila berkata dengan nada sedih dan matanya sudah berkaca-kaca ingin menangis.


"Mungkin dia iri padamu, Sayang." Riko kembali memeluk tubuh Naila dan mengecup pucuk kepalanya.


"Ketemu lagi juga baru satu kali kemarin, nggak mungkin kalau dia iri," ucap Naila.


"Kalian 'kan tidak akrab, bisa jadi kamu belum mengenal sifatnya selama ini," sahut Riko.


"Lalu bagaimana keputusanmu, Mas?" tanya Naila sambil memandang wajah laki-laki yang sangat dicintainya.

__ADS_1


"Datanglah, aku akan mengantarmu. Kita lihat apa sebenarnya yang diinginkan temanmu itu!"


__ADS_2