
"Maaf, Mas ... aku hanya terlalu bahagia mendengar kabar ini. Aku baik-baik saja."
Setelah siuman, Naila tersenyum sambil memandang kedua orang di hadapannya. Riko masih memegang erat tangannya. Sementara Sarah memijit kedua kakinya dengan lembut. Marni membawakan air madu hangat dan sepiring nasi untuk Naila.
"Makan dulu, Mbak. Dari kemarin Mbak Naila belum makan. Bibi masakin sayur sop daging kesukaan Mbak Naila. Jangan menyiksa diri sendiri, Mbak. Kasihan Den Riko juga, jadi ikut-ikutan nggak mau makan."
Mendengar ucapan Marni, Naila langsung memandang suaminya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Riko mengecup lembut jemari Naila dan tersenyum.
"Maafkan aku, Mas. Aku sudah keterlaluan," ucap Naila penuh penyesalan.
"Tidak, Sayang ... aku memang salah. Aku pantas mendapatkan hukuman darimu, bahkan mungkin harusnya hukumannya lebih berat dari ini. Selama kamu nggak mau makan, maka selama itu pula aku juga nggak akan makan."
"Ya Allah ... lihat Naila, suamimu ini so sweet banget lho," sahut Sarah membuat Naila tersipu malu.
"Bagaimana kalau kita makan bersama-sama. Dengan Kak Sarah, Kak Yakub dan juga Kak Rony?" saran Naila pada suaminya.
"Di kamar ini?" Pertanyaan Riko membuat Naila kembali tersenyum.
"Di ruang makanlah, Mas ...." Jawaban Naila membuat semua orang bahagia.
"Alhamdulillah ...." Riko, Sarah, dan Marni serempak mengucapkan kata syukur.
"Kalau begitu biar saya siapkan semuanya, ya, Mbak. Terus makanannya Mbak Naila?"
Marni ikut bahagia melihat Naila yang ingin makan di ruang makan bersama. Dia pun berharap suasana rumah tuannya kembali ceria.
"Taruh saja di meja makan, Bi. Sekarang juga kita semua ke sana. Tenang saja, nanti aku bantu, Bi."
"Nggak usah, Mbak. Mbak Naila mau keluar dari kamar ini saja, Bibi sudah senang."
__ADS_1
"Lihatlah, semua orang sayang padamu, Naila. Bahkan Bi Marni dan Pak Supri saja merasa sedih melihatmu seperti ini."
Riko pun mengusap lembut pipi Naila yang sudah duduk dan bersiap untuk berdiri. Semangat hidup Naila bangkit kembali. Dia pun menyadari masih banyak orang-orang yang menyayanginya. Setiap manusia tak akan lepas dari khilaf dan dosa, begitu pun suaminya.
"Iya ... maafkan aku, Mas." Naila kembali berkata pada Riko dengan penuh penyesalan.
"Maafkan aku juga, Sayang. Setelah ini aku berjanji tak akan cemburu lagi padamu. Aku juga berjanji tak akan mudah terhasut dengan gosip murahan seperti ini lagi. Kita kembali seperti dulu lagi, ya, Sayang. Aku rindu dengan Nailaku yang lembut tapi ceria. Aku rindu dengan masakanmu. Aku rindu dengan istriku yang dulu ...."
"Sudah, ya, rayuannya. Kalian berdua ini dari tadi bikin aku iri, sadar nggak, sih?" Sarah langsung memotong ucapan Riko. Mereka pun tertawa bersama.
"Ha ha ha ...."
Riko dan Sarah bahagia melihat Naila bisa tertawa lepas. Mereka berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Rony dan Yakub pun sudah menunggu di sana.
Melihat keadaan Naila saat ini, Rony dan Yakub sangat terkejut. Namun, Sarah langsung memberi isyarat pada kedua laki-laki itu agar diam dan tak bertanya apa pun pada Naila.
Sementara Naila langsung menundukkan kepala, dia menyadari perubahan wajahnya yang kusam dan tak rupawan. Semua orang yang pernah melihatnya beberapa bulan yang lalu, pasti terkejut dengan perubahan wajahnya saat ini. Riko mengerti, dia menggenggam erat tangan Naila, menguatkan hati dan memberi rasa nyaman pada istrinya.
***
Setelah makan siang dan sholat dhuhur, mereka duduk di teras belakang. Sambil menikmati minuman dan camilan, mereka berempat membicarakan rencana pernikahan Rony dan Sarah.
"Kapan rencananya kita mengadakan lamaran resmi?" tanya Riko pada Yakub.
"Sebaiknya ... ini kalau kalian setuju, kita tidak usah membuat acara lamaran, langsung saja acara pernikahan. Dari pada buang waktu dan buang uang," saran Yakub.
"Aku sih setuju saja dengan saranmu. Tapi apa nggak masalah dengan kalian berdua sebagai pihak wanita? Takutnya ada omongan tetangga yang kurang menyenangkan kalau pihak laki-laki tidak mengadakan lamaran terlebih dahulu. Kalau langsung nikah dikiranya ada apa-apa gitu dengan Sarah."
Rony mengingatkan pada Yakub sebuah kenyataan yang ada di lingkungan sekitar mereka. Apalagi Yakub dan Sarah tinggal di perkampungan yang masih kental dengan adat terutama masalah pernikahan.
__ADS_1
"Aku nggak peduli dengan omongan tetangga. Bagiku yang penting, kalian sudah menikah sah di mata hukum negara dan agama. Kalian tenang, aku sebagai wali adikku juga tenang. Dari pada pacaran malah menambah dosa. Kita sama-sama tak punya orang tua. Biasanya 'kan yang heboh masalah adat begitu para orang tua. Sudahlah ... lebih baik kalian langsung saja menikah."
.
"Benar juga kata Yakub, kalian langsung saja menikah. Baiklah kalau begitu, aku terserah kalian bagaimana acaranya nanti. Kita adakan di gedung saja biar meriah."
Riko sangat antusias dengan pernikahan kakaknya. Namun, Yakub tak setuju dengan pendapatnya. Kedua orang laki-laki tampan itu pun berdebat tanpa mempedulikan semua orang di sekitarnya. Rony hanya diam memperhatikan sambil tersenyum.
"Jangan berlebihan, aku tidak punya uang yang cukup untuk acara seperti itu."
"Tidak masalah, nanti semuanya aku yang tanggung."
"Tidak, aku tidak mau. Bagaimanapun Sarah juga adikku, aku juga ingin ....
"Sudah ... sudah ... kenapa kalian malah ribut, sih? Kenapa nggak kita tanyakan saja langsung pada Kak Sarah maunya bagaimana?" Suara Naila menghentikan perdebatan mereka. Yakub, Riko, dan Rony langsung memandang ke arah Sarah secara bersamaan. Semua orang pun diam, menunggu jawaban dari Sarah.
"Hemm ... terus terang saja ... aku ... aku nggak mau lagi acara yang mewah. Aku ... aku trauma dengan acara seperti itu. Cukup acara yang sederhana saja yang penting sah. Maaf, nggak perlu acara lamaran juga, ada yang mau menikah denganku saja, aku sudah sangat bersyukur sekali." Naila memegang tangan Sarah dengan lembut.
"Jangan bicara begitu. Kak Sarah ini ayu dan manis, shalihah lagi. Kak Sarah pasti banyak yang suka, hanya saja selama ini mereka takut pada Kak Yakub. Benar begitu, kan?"
"Ha ha ha ...."
Mereka pun kembali tertawa. Tertawa karena mendengar ucapan Naila tentang Yakub dan tertawa karena bahagia. Kebahagiaan karena Sarah dan Rony akan menikah. Kebahagiaan karena Naila kembali ceria. Namun, suara Marni membuat mereka terdiam seketika.
"Maaf, Den ... anu ...."
"Iya, Bi. Ada apa?" tanya Riko penasaran.
"Itu, Den ... ada tamu dua orang ... katanya ... katanya pengen ketemu Mbak Naila." Dengan perasaan takut, Marni berkata pada Riko. Dia sangat khawatir kedatangan teman Naila membuat keributan kembali.
__ADS_1
"Siapa, Bi?"
"Namanya Daffa, Den ...."