
"Bi Marni ... Bi Marni ... Bi Marni!" teriak Riko memanggil asisten rumah tangganya.
Wanita paruh baya itu tergopoh-gopoh mendatangi Riko yang berdiri di depan pintu kamarnya. Bi Marni heran, selama ini tak pernah sekali pun tuannya memanggil dengan berteriak kencang.
"I-iya, Den," jawab Bi Marni sambil mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah.
"Tolong lain kali kalau ada tukang paket, Bibi yang menemuinya. Jangan Naila!" perintah Riko dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu jawaban Bi Marni.
"Baik, Den," jawab Bi Marni yang tak peduli tuannya sudah tak ada di hadapannya.
Bi Marni kemudian mendekati Naila yang berdiri tak jauh darinya. Menepuk lembut pundak Naila, mencoba menenangkan hati majikan wanitanya. Bi Marni sudah menganggap Naila seperti putrinya sendiri. Apalagi selama ini Naila selalu memperlakukannya dengan sangat baik, tidak seperti majikan pada pembantunya.
"Sabar, ya, Mbak. Itu tandanya Den Riko sangat mencintai Mbak Naila. Sudah, nurut saja," saran Bi Marni.
"Iya, Bi. Maaf, ya, kalau Mas Riko tadi sampai berteriak pada Bibi," balas Naila.
"Iya, Mbak, nggak apa-apa. Bibi tadi cuma kaget saja karena selama ini Den Riko nggak pernah seperti itu." Bi Marni memberi penjelasan pada Naila yang terlihat tak enak hati padanya.
Naila lalu pergi menuju dapur bersama Bi Marni. Dibiarkan suaminya menenangkan diri di dalam kamar sendiri. Berkutat dengan sayuran dan bahan makanan di dapur membuat Naila bahagia, melupakan kecemburuan sang suami yang terlalu berlebihan menurutnya.
"Mbak, lebih baik saya saja yang masak. Mbak Naila nemenin Den Riko saja. Nggak baik membiarkan suami sendiri saat marah begitu," saran Bi Marni.
"Nggak apa-apa, Bi, biar aku saja yang masak. Aku hanya ingin membuatkan menu spesial buat Mas Riko, biar dia senang dan makannya bisa lahap nanti. Setelah selesai semua, aku pasti akan menemaninya," jawab Naila sambil terus menyiapkan berbagai bumbu masakan.
Bi Marni mengerti dan segera ikut membantu Naila memotong sayuran dan mencuci semua bahan yang sudah disediakan Naila. Bi Marni pun mengakui, masakan majikan wanitanya sangat lezat, berbeda dengan masakannya.
"Bi, kalau mau makan dulu silakan, nggak usah sungkan. Aku mau sholat dulu sama Mas Riko." Naila berkata pada Bi Marni setelah menyelesaikan semua masakannya.
"Iya, Mbak, terima kasih."
Setelah semua masakan siap dihidangkan, Naila segera meninggalkan dapur. Masuk ke dalam kamar, dilihatnya Riko sedang tidur. Naila segera membersihkan diri dari keringat dan bau bumbu masakan yang melekat. Setelah wangi, dirinya pun membangunkan sang suami.
"Mas, bangun, kita sholat dhuhur dulu." Naila membangunkan Riko yang terlelap dengan mengusap pipinya. Mencium aroma wangi sabun mandi, Riko pun bangun dan tersenyum melihat wajah cerah Naila.
"Astaghfirullah, aku ketiduran, Sayang. Aku ambil wudhu dulu, kita sholat berjama'ah."
Naila menyiapkan alat sholat, menggelar dua sajadah di lantai kamarnya menghadap kiblat. Setelah selesai sholat, Naila mengajak Riko makan siang bersama.
"Mas, ayo kita makan. Aku sudah masakin menu istimewa buat suamiku."
"Terima kasih, Sayang. Maaf kalau aku tadi sudah keterlaluan."
Naila hanya mengangguk dan tersenyum. Digandengnya tangan Riko dan mereka pun berjalan menuju ruang makan. Berbagai makanan yang menggugah selera yang sudah tersaji di meja, membuat perut Riko merasa lapar dengan tiba-tiba.
Istriku memang sangat pandai membuatku bahagia, kenapa aku malah membuatnya sedih dengan kemarahanku yang tanpa alasan? Maafkan aku, Naila. Aku hanya terlalu mencintaimu dan takut kehilanganmu, batin Riko dalam hati.
Riko mengecup jemari Naila sebelum melahap makanan yang sudah disiapkan Naila di piringnya. Riko semakin merasa bersalah, Naila tak pernah menanggapi kemarahannya. Istrinya selalu berusaha membuat hatinya bahagia, salah satunya dengan memasak makanan favoritnya.
"Mas, kapan pernikahannya Clara? Apa dia nggak mengundang kita?"
Naila mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka. Jangan sampai masalah kecemburuan kembali menjadi topik utama.
"Kak Rony kemarin bilang, pernikahan mereka diundur karena Clara tiba-tiba sakit parah. Aku sendiri juga nggak tahu sakit apa."
"Kenapa kita tak menjenguknya?"
__ADS_1
"Katanya nggak boleh dijenguk dulu, mungkin saja dia kena covid atau entahlah. Do'akan saja cepat sembuh dan segera menikah."
"Aamiin ... iya, Mas."
"Oh, ya, aku lupa bilang kalau Bagas titip salam. Dia sudah berangkat kemarin ke Kalimantan dan bekerja di salah satu cabang perusahaan temanku."
"Alhamdulillah, terima kasih, ya, Mas. Semoga Bagas benar-benar kembali ke jalan yang benar."
"Ini semua juga berkat kamu, Naila. Bagas dan juga Kak Riko berubah karena kamu."
"Nggak boleh bicara begitu, Mas. Semua hati manusia milik Allah dan yang bisa membolak-balikkan hati mereka hanya Allah. Hidayah datangnya dari Allah, jadi mereka berubah juga karena Allah," jelas Naila yang membuat Riko menyadari ucapannya salah.
"Astaghfirullah ... kamu benar, Naila. Bahkan ilmu agamaku masih jauh dibanding istriku," ucap Riko yang semakin kagum pada wanita yang sangat dicintainya. Pikirannya pun kembali pada semua teman laki-laki Naila yang juga mengagumi istrinya. Namun, pikiran itu segera ditepisnya, tak ingin selera makannya hilang karena prasangka buruknya.
"Kita sama-sama belajar, Mas. Ayo dimakan lagi, Mas. Dihabiskan juga nggak apa-apa, semuanya spesial buat suamiku yang tampan," sahut Naila yang membuat Riko tersenyum senang.
"Aku mau tambah sayurnya. Memang enak sekali masakanmu, Sayang," balas Riko sambil memberikan piring pada istrinya.
Naila segera mengambilkan apa yang diminta Riko. Dia pun tersenyum dan bahagia melihat suaminya tak lagi marah.
***
Laraning loro ora koyo
wong kang nandhang wuyung
mangan ra doyan
ra jenak dolan
Mung kudu weruh
woting ati
duh kusumo ayu
opo ra trenyuh
sawangen iki
awakku sing kuru
Bi Marni melantunkan langgam Jawa dengan merdu. Kebiasaannya menjelang sore hari saat menyiram tanaman dan membersihkan teras depan. Pak Supri sedang duduk menikmati pisang goreng dan kopi hitam, menemani Bi Marni sambil membaca koran yang dibelinya dari pedagang asongan.
"Assalamu'alaikum ...."
Bi Marni dan Pak Supri menghentikan aktifitasnya dan menjawab salam. Wanita yang merasa tak pernah mengenal tamunya itu segera menemui laki-laki tampan yang berdiri di depan pagar.
"Naila ada, Bi?"
"Maaf, Mas. Mbak Nailanya sedang pergi sama Den Riko," jawab Bi Marni yang membuat suaminya heran.
Pak Supri berjalan mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga istrinya.
"Bune, Mbak Naila 'kan ada di kamarnya, kenapa kamu bilang nggak ada? Jangan macam-macam lho Bune, nggak enak kalau ketahuan sama Mbak Naila dan Den Riko."
__ADS_1
"Sudah, diam saja kamu, Pakne. Nanti saja aku ceritakan."
Pak Supri pun terpaksa diam, memperhatikan istrinya bicara.
"Ada perlu apa, ya, Mas? Biar nanti saya sampaikan sama Mbak Nailanya," tanya Bi Marni yang membuat laki-laki di depannya diam dan berpikir.
"Tapi mobilnya ada di rumah, Bi. Apa benar Naila pergi sama suaminya?" Bi Marni berdecih lirih, sejenak dia merasa jengkel pada tamu yang tak mau percaya pada ucapannya.
"Masnya ini dibilangin kok nggak percaya. Mbak Naila sama Den Riko tadi pergi dijemput sama kakaknya, jadi mobilnya ya ditinggal di rumah." Sebuah alasan tiba-tiba muncul di pikiran Bi Marni untuk meyakinkan tamunya.
"Oooh begitu ...."
"Iya, Mas. Kalau mau titip pesan, nanti biar saya sampaikan. Apa pesannya dan dari siapa."
"Kalau begitu saya titip undangan ini, ya, Bi. Sampaikan pada Naila, ini undangan pernikahan dari teman kampusnya, Eva. Dan nama saya Bisma, Bi."
"Siap, Mas. Nanti saya sampaikan ke Mbak Naila."
"Terima kasih, ya, Bi. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumussalaam ...."
Tamu laki-laki tampan itu adalah Bisma. Bagi Bisma, mencari alamat rumah seorang pengusaha yang bernama Riko Alamsyah Putra adalah hal yang mudah. Teman kampus yang bernama Eva, datang ke kantornya memberikan undangan pernikahan.
Kesempatan itu langsung digunakan oleh Bisma untuk bertemu Naila dengan alasan mengantar undangan pernikahan Eva yang juga teman Naila. Ternyata kedatangannya sia-sia, dirinya tak bisa bertemu Naila. Semoga dengan memberikan undangan itu, dia bisa bertemu Naila di pesta pernikahan Eva, begitu harapannya.
Bisma pun pulang dengan rasa kecewa. Bi Marni akhirnya menjelaskan pada Pak Supri alasan dia membohongi tamunya. Tuannya sedang cemburu, Bi Marni menjaga hati majikan wanitanya. Tak ingin karena kedatangan teman laki-laki Naila akan memperkeruh suasana.
Tanpa Bi Marni sadari, Riko mendengar pembicaraan suami istri itu dari balik pintu. Riko tersenyum, Bi Marni sangat mengerti dirinya sejak dulu. Riko pun mendekati mereka dan pura-pura bertanya.
"Bi, undangan untuk siapa itu?" tanya Riko yang membuat Bi Marni tak bisa lagi menyembunyikan kartu undangan yang dibawanya.
"Eh, Den Riko ... anu Den, ini ... ini undangan untuk Mbak Naila," jawab Bi Marni terpaksa.
Bi Marni akhirnya memberikan kartu undangan di tangannya pada tuannya. Sebenarnya rencana Bi Marni akan memberikan undangan itu langsung pada Naila, tapi ternyata Riko terlebih dahulu mengetahuinya.
"Siapa yang mengantarnya tadi, Bi?" tanya Riko untuk meyakinkan siapa yang datang.
"Ehmm ... anu, Den. Namanya Mas Bisma dan maaf kalau saya tadi lancang. Saya bilang kalau Mbak Naila sedang pergi sama Den Riko. Maafkan saya, Den," jawab Bi Marni yang tiba-tiba merasa bersalah pada majikan wanitanya. Rencana yang sudah disusunnya harus gagal.
"Bibi nggak perlu minta maaf, saya malah berterima kasih pada Bibi. Lain kali kalau dia datang lagi ke sini, tolong jangan biarkan dia bertemu dengan Naila, apalagi kalau saya tak di rumah."
"I-iya, Den." Bi Marni hanya bisa mengiakan perintah tuannya.
"Pak Supri, tolong besok pagi antar saya, ya. Saya ada meeting di luar kota. Mungkin kita akan pulang malam."
"Baik, Den," jawab Pak Supri.
"Oh, ya, Bi. Tolong jangan bilang ke Naila kalau tadi temannya datang mengantar undangan. Anggap saja Bibi tak pernah menerimanya." Ucapan Riko adalah perintah yang tak mungkin dibantah. Bi Marni hanya bisa menganggukkan kepala dengan terpaksa.
Riko pun berjalan menuju kamarnya. Dilihatnya Naila yang masih terlelap setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Riko tersenyum, memandang wajah Naila yang terlihat lelah karena ulahnya.
Riko membiarkan Naila istirahat sebentar, sebelum membangunkannya untuk melaksanakan sholat ashar. Adzan baru saja berkumandang, Riko pun berjalan menuju kamar mandi dan bersiap menuju mushola.
Keluar dari kamar, menuju ruang kerja. Menyimpan kartu undangan dari Bisma ke dalam tas kerjanya, tak ada niat memberitahukannya pada Naila. Riko tak ingin istrinya bertemu dengan teman laki-laki yang mengaguminya. Riko kembali tersenyum dan melangkahkan kaki menuju mushola dengan tenang tanpa rasa bersalah.
__ADS_1
"Untuk temannya yang bernama Eva, aku akan mengirim hadiah saja sebagai bentuk ucapan selamat atas pernikahannya. Akan aku tulis atas nama Naila."