
Riko pun mengerti yang dimaksud Hanna dan dia meminta Bagas agar tak bercerita apapun mengenai peristiwa yang sebenarnya. Sesampainya di kamar, Riko melihat Naila yang sudah duduk dan menangis.
"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Riko sambil memeluk tubuh Naila.
"Mas, maafkan aku. Semua karena kecerobohanku. Aku bahkan tak tahu kalau aku hamil. Aku yang salah. Seandainya aku tak menuruti keinginanku untuk pergi, pasti dia masih ada. Ini semua salahku, semua salahku ..." ungkap Naila sedih.
Naila menumpahkan air mata di dada bidang suaminya. Riko pun semakin mempererat pelukannya. Bagas memandang mereka dengan rasa iba. Tak tega melihat Naila menderita karena kehilangan bayinya. Dalam hati dia berjanji, tak akan membiarkan Vella dan Clara menyakiti Naila lagi.
"Sayang, semua yang terjadi sudah menjadi kehendak Allah. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, tak baik buat kesehatanmu. Insyaa Allah, beberapa bulan lagi kamu bisa hamil kembali. Sudah, jangan menangis lagi, ya. Lihatlah, ada yang ingin bertemu denganmu."
Riko menghibur Naila agar tak menangis lagi. Setelah melepas pelukannya, Naila pun mengusap jejak air matanya dan melihat sosok laki-laki yang berdiri tak jauh dari mereka. Bagas tersenyum dan mendekati Naila.
"Hai, Naila. Maaf, aku ke sini ingin mengembalikan tas kamu yang ketinggalan di kamar hotel tadi," sapa Bagas dan dibalas Naila dengan senyumannya.
"Terima kasih, ya. Tak disangka kita bisa bertemu lagi. Tapi aku heran, kenapa aku bisa pingsan dan di kamar hotel denganmu?" tanya Naila penasaran yang membuat Bagas kebingungan.
"Dia tadi cerita kalau menemukanmu pingsan di taman dekat pertokoan. Karena dia sedang menginap di hotel, terpaksa dia membawamu ke sana," sahut Riko yang melihat Bagas diam saja.
"Iya, Naila. Aku tahu kamu 'kan nggak mau ke rumah sakit. Jadinya aku bawa saja ke kamar hotel tempatku menginap. Karena ponselmu terus berbunyi, terpaksa aku ambil dari tasmu dan memberitahu suamimu agar menjemputmu," kata Bagas melanjutkan ucapan Riko.
"Alhamdulillah, terima kasih. Allah mengirimmu untuk menolongku," ucap Naila.
Bagas hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Oh, ya, ada acara apa kamu ke kota ini? Bukannya kamu waktu itu bilang padaku mau ke luar pulau?" tanya Naila.
"A-aku nggak jadi ke luar pulau. A-ada tawaran kerja di kota ini." Bagas kembali gugup menjawab pertanyaan Naila. Dia tahu Naila tak akan berhenti bertanya.
"Tapi ... kenapa Vella ada di kamar hotel tadi? Dan dia menuduh kita--"
__ADS_1
"Naila, sudahlah. Aku lebih percaya pada istriku daripada wanita ular itu. Bagas juga sudah menjelaskan padaku tadi. Sudah, ya. Tak usah membicarakan kejadian di kamar hotel lagi." Riko pun memotong ucapan Naila. Tak ingin istrinya meminta penjelasan lebih banyak lagi.
"Terima kasih, Mas. Aku takut kalau kamu percaya dengan Vella. Tapi aku masih heran, kenapa mereka bisa masuk ke kamar hotel kamu, Bagas. Apa kamu mengenal mereka?" tanya Naila yang masih penasaran.
"Naila, sudah dong. Kasihan Bagas kalau kamu tanya-tanya terus. Dia ke sini 'kan ingin bertemu dengan teman lamanya, bukannya mau diinterogasi," sahut Riko yang membuat Bagas lega.
Bagas hanya tersenyum melihat Naila yang merajuk karena tak mendapatkan jawaban sesuai yang diinginkannya.
"Iya, Naila. Lain kali kalau aku diijinkan, aku akan main ke rumah kalian. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu," ucap Bagas kemudian.
"Mas, apa boleh kapan-kapan Bagas ke rumah?" tanya Naila pada Riko yang masih setia duduk di sampingnya.
"Boleh, aku akan ijinkan. Tapi kalau hari minggu saja, ya," jawab Riko.
"Ya, pastinya Bagas kalau ke rumah hari minggu. Hari biasa dia 'kan juga kerja," sahut Naila yang membuat Bagas merasa tak nyaman.
Bagas pun terpaksa menganggukkan kepalanya dan mencoba tersenyum. Hari ini mungkin dia selamat dari pertanyaan Naila, entah untuk pertemuan selanjutnya. Tapi Bagas harus segera jujur pada Naila. Dirinya tak ingin Naila sampai membencinya kalau Vella atau Clara yang bicara.
"Riko, kalau kamu sibuk, aku bisa bantu menjaga Naila," ucap Bagas menawarkan bantuan.
"Meskipun aku percaya padamu, aku tak akan mengijinkanmu menjaga istriku. Bagaimanapun kalian hanya teman, bukan mahram. Maaf Bagas, aku menghargai niat baikmu," balas Riko yang membuat Bagas merasa rendah diri.
Naila tersenyum bahagia, Riko sangat menjaganya. Sementara Bagas semakin mengagumi sosok laki-laki yang menjadi suami sahabatnya. Tampan, mapan, shalih pula. Tak seperti dirinya yang penuh dengan dosa. Mengandalkan wajah tampan dan tubuh atletisnya untuk mendapatkan materi. Bergelimang dengan dosa setiap hari demi nafsu duniawi.
"Bagas, kamu mikirin apa?" Naila melihat perubahan di wajah sahabatnya.
"Eh, maaf. Aku hanya iri dengan kalian. Semoga suatu saat aku mendapatkan istri yang shalihah dan bisa menjadi suami sepertimu, Pak Riko," jawab Bagas terus terang.
"Aamiin. Kamu jangan berlebihan. Kalau kamu nanti menemukan wanita yang sangat kamu sayangi dan menikah dengannya, kamu pasti akan sepertiku." Riko tersenyum, memahami maksud Bagas. Terlihat dari wajahnya jika laki-laki di hadapannya memendam rasa pada istrinya.
__ADS_1
"Semoga saja, saya sangat bersyukur Naila mendapatkan suami yang sangat menyayanginya. Saya juga berterima kasih, Pak Riko sudah mengijinkan saya bertemu dengan Naila. Saya pulang dulu. Kapan-kapan, saya akan berkunjung ke rumah jika Pak Riko libur. Naila, aku permisi, ya. Jangan lupa diminum obatnya, demi kesehatanmu," pamit Bagas pada Riko dan Naila.
"Terima kasih, ya. Aku tunggu di rumah. Kamu punya hutang penjelasan padaku," balas Naila yang membuat Bagas cemas.
"Iya, aku pasti segera menemuimu. Aku pulang dulu." Bagas pun mengiakan permintaan Naila. Dia berjanji akan mengatakan yang sejujurnya pada Naila.
Riko mengantar Bagas keluar dari kamar. Riko tahu Bagas menyembunyikan sesuatu dari Naila.
"Bagas, kalau ada waktu aku ingin bicara denganmu. Insyaa Allah Naila besok sudah boleh pulang. Bagaimana kalau besok malam kita bertemu di kafe depan kantorku?" tanya Riko.
"Baik, Pak. Ini nomor ponsel saya. Kapan saja Pak Riko ingin bertemu, saya pasti datang," jawab Bagas sambil menyebutkan nomor ponselnya.
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih," ucap Riko.
Bagas menganggukkan kepala dan berjalan meninggalkan Riko. Tak lama kemudian, Bi Marni dan Bara datang. Setelah berganti pakaian yang sudah dibawakan Bi Marni, Riko pun meninggalkan kamar Naila. Pak sopir yang sudah menjemputnya, segera melajukan kendaraannya menuju salah satu gedung perkantoran yang megah.
♡ ♡ ♡
Setelah pulang kerja, mandi dan berganti pakaian, Rony mendekati Vella yang sedang duduk di taman belakang.
"Vella, tadi sore Riko meneleponku. Dia bilang kalau Naila masuk rumah sakit karena keguguran. Dan kata Riko, ada yang sengaja membuatnya pingsan dan akhirnya membuat Naila pendarahan. Apa kamu ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Naila?" tanya Rony pada istrinya.
"Kamu menuduhku?" tanya Vella dengan kesal.
"Aku tidak menuduhmu. Tapi aku tahu di kota ini Naila tidak punya teman apalagi musuh. Aku berharap sikapmu yang sudah berubah selama dua bulan ini bukanlah pura-pura," jawab Rony.
"Jahat salah, jadi baik juga masih saja dicurigai. Lalu aku harus bagaimana? Buat apa juga aku berpura-pura. Aku 'kan pernah bilang padamu kalau aku sudah tak ingin lagi berhubungan dengan Naila. Aku juga selama ini sudah tak peduli lagi, apalagi mengusiknya," ucap Vella sambil meraih ponsel dan memainkannya. Vella berusaha menjawab pertanyaan Rony setenang mungkin.
"Ya, semoga saja ucapanmu benar. Jika ternyata kamu terbukti bersalah, aku tak akan lagi membelamu. Kita berdua sudah sangat berdosa pada Naila dan kita belum minta maaf padanya. Entah apa yang akan dilakukan Riko jika dia mengetahui semuanya," balas Rony terpaksa walaupun dalam hati dia tak mempercayai ucapan istrinya.
__ADS_1
"Sudahlah, untuk masalah itu nggak usah diungkit lagi dan jangan sampai adikmu tahu. Kamu siap kalau Riko mengusirmu?" Vella pun tak mau kalah yang membuat Rony terpaksa diam.