
Sambil menunggu taksi online datang, Naila pun memakan cemilan yang dibeli dari wanita tua tadi. Namun, tak lama kemudian kepalanya terasa pusing dan akhirnya Naila tak sadarkan diri.
♡ ♡ ♡
Di sebuah kamar hotel kelas melati, seorang laki-laki tampan dan gagah sedang gelisah. Sesekali memandang wanita yang terbaring di ranjang dengan rasa iba. Dirinya bingung harus bagaimana. Menuruti perintah orang yang membayarnya atau tak lagi mempedulikannya.
Hampir satu jam dia menunggu, namun wanita itu belum siuman dari pingsannya. Dari tadi terdengar suara ponsel dari dalam tasnya. Setelah berpikir, dia pun segera mengambil dan mengangkat telepon yang terus menerus berdering tiada hentinya.
"Assalamu'alaykum, Naila. Sudah sampai rumah 'kan, Sayang?" tanya seseorang di seberang sana.
"Maaf, Pak. Istri Anda pingsan. Silakan temui di hotel melati kamar 102 di tengah kota," jawabnya. Akhirnya dia memutuskan memberitahukan keberadaan Naila.
"Kenapa istri saya bisa pingsan dan di hotel? Siapa Anda?" tanya Riko dengan nada tinggi.
"Maaf, Pak. Sebaiknya Anda segera ke sini. Nanti saya jelaskan. Kalau bisa secepatnya, saya tak bisa berlama-lama," balasnya.
"Baiklah, tolong jaga istri saya. Dua puluh menit lagi, saya akan sampai di lokasi." Riko pun langsung menutup sambungan teleponnya dan segera berangkat menemui Naila. Mengajak seorang sopir di kantornya, dengan cepat melajukan kendaraan roda empatnya.
Naila perlahan membuka mata, kepalanya pusing dan perutnya terasa nyeri. Meskipun badannya seperti tak bertenaga, Naila berusaha untuk bangun dari tidurnya.
"Naila, akhirnya kamu siuman," ucap laki-laki itu sambil tersenyum lega.
"Bagas? Kamu Bagas 'kan?" Naila mengenali sosok laki-laki yang ada di hadapannya.
"Iya, ini aku, Naila." jawab Bagas.
"Kenapa aku bisa ada di sini? Dan kamu--?" tanya Naila heran.
"Maaf, kita tunggu suamimu dulu. Nanti aku jelaskan apa yang terjadi. Kamu masih pusing?" Laki-laki yang bernama Bagas terlihat sangat mengkhawatirkan Naila.
"Iya, kepalaku pusing. Perutku juga nyeri, rasanya sakit sekali." Naila meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
"Sabar, ya. Suamimu sebentar lagi akan menjemputmu. Kita harus segera keluar dari sini sebelum mereka datang," ucap Bagas dengan nada cemas.
"Mereka siapa?" tanya Naila tak mengerti.
__ADS_1
"Nanti saja aku ceritakan, Naila. Wajahmu pucat sekali," Bagas benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan Naila.
Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu. Bagas segera membukanya dan Riko langsung mendorong tubuh Bagas dengan emosi. Riko mencengkeram kerah baju Bagas dan bersiap melayangkan pukulan pada laki-laki di hadapannya. Pikiran buruk membuat Riko marah. Bagas hanya pasrah, tapi suara Naila berhasil meredakan emosinya. Riko pun langsung melepaskan cengkeramannya dan mendekati Naila yang terlihat lemah.
"Sayang, kamu nggak apa-apa 'kan? Dan kamu siapa? Kenapa kalian berdua bisa di kamar hotel? Tolong jelaskan!" tegas Riko pada Bagas yang masih berdiri.
"Maaf, sa--"
Sebelum Bagas menyelesaikan ucapannya, dua orang wanita masuk ke kamar mereka yang terbuka.
"Sudah jelas 'kan kalau istrimu itu selingkuh, Riko. Seorang wanita dan laki-laki di kamar hotel berduaan, mau apalagi kalau bukan ingin memadu kasih? Lihatlah kelakuannya, sudah tak cantik, tukang selingkuh lagi," jelas Vella dengan percaya diri.
"Vella! Jaga bicaramu! Semua pasti karena ulahmu! Aku lebih percaya pada istriku daripada ucapanmu! Ayo, Naila kita pergi dari sini," teriak Riko tak terima.
"Riko ... Riko ... sudah jelas-jelas istrinya terbukti berduaan dengan laki-laki, masih saja dibela," sahut Vella yang merasa usahanya kembali sia-sia.
Clara hanya diam, hatinya semakin cemburu melihat perlakuan Riko yang terlihat sayang dan percaya pada istrinya.
Riko pun tak lagi mempedulikan mereka dan membantu Naila berdiri. Wajah Naila semakin pucat dan tubuhnya sangat lemah. Terkejut dirinya, terlihat bekas duduk Naila berwarna merah.
Melihat darah yang ada di sprei ranjang hotel, Riko langsung menggendong Naila. Menuju tempat parkir dan menyuruh sang sopir langsung ke rumah sakit terdekat.
"Mas, perutku sakit. Aku tak tahan lagi, nyeri sekali, Mas." Naila meringis kesakitan menahan nyeri.
"Sabar, Sayang. Kita langsung ke rumah sakit. Tolong, jangan membantah," pinta Riko sambil memeluk tubuh istrinya. Dia tahu Naila akan menyuruhnya membawa ke bidan saja. Riko tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.
Naila pun hanya pasrah, meskipun dia sebenarnya ingin sekali menolak. Rasa nyeri di perutnya membuatnya tak berdaya.
Sesampainya di rumah sakit, Riko kembali menggendong tubuh Naila dan membawanya ke ruang IGD. Para perawat segera membawa Naila ke ruang tertutup dan menyuruh Riko menunggu.
"Riko?" sapa seorang wanita cantik yang memakai jas berwarna putih.
"Hanna?" tanya Riko tak percaya.
Hanna adalah teman SMAnya yang sudah menjadi seorang dokter specialis kandungan. Hanna selama ini mengikuti suaminya tinggal di Kalimantan.
__ADS_1
"Apa kabar?" tanya Hanna.
"Maaf, aku sedang tidak baik, istriku tadi pingsan dan sepertinya mengalami pendarahan. Dia sedang di ruang itu sekarang," jawab Riko sambil menunjukkan ruangan yang tertutup di hadapannya.
"Baiklah, tenangkan dirimu, ya. Aku akan menanganinya." Hanna pun mengerti.
"Tolong, lakukan yang terbaik buat istriku. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya," pinta Riko pada Hanna.
"Baiklah, aku masuk dulu." Hanna langsung melangkah menuju ruangan di mana Naila berada.
Riko menunggu dengan gelisah. Tak hentinya bibirnya mengucap do'a untuk istri tercintanya. Apa yang terjadi di kamar hotel masih belum ada kejelasan, sekarang Naila mengalami pendarahan. Namun, Riko tak ingin berprasangka, saat ini yang paling penting adalah keselamatan istrinya.
Hanna keluar dari ruangan dan meminta Riko untuk mengikutinya. Setelah sampai di ruang prakteknya, Hanna pun menjelaskan pada Riko apa yang terjadi pada Naila.
"Istrimu mengalami keguguran. Janinnya tak bisa diselamatkan. Apa dia tadi jatuh?" tanya Hanna yang membuat Riko terkejut.
"Istriku keguguran? Tapi dia tidak hamil. Apa mungkin dia tak tahu kalau sedang hamil?" Riko bingung karena Naila tak pernah mengatakan apa-apa padanya.
"Bisa jadi seperti itu, istrimu belum tahu kalau dia sedang hamil. Perkiraanku mungkin baru empat atau lima minggu," jelas Hanna.
"Innalillahi ... " ucap Riko dengan sedih.
"Maaf Riko, mungkin dia tadi jatuh atau mungkin kecapekan, hingga membuatnya pendarahan." Hanna kembali menyampaikan kemungkinan penyebab Naila keguguran.
"Aku bingung, aku tak tahu apa yang terjadi. Seseorang meneleponku dan mengatakan kalau Naila pingsan. Setelah dia sadar dan aku akan mengajaknya pulang, aku melihat darah di bekas tempat duduknya." Riko mengatakan yang sejujurnya pada Hanna, kecuali masalah hotel. Dirinya tak ingin Hanna berpikiran yang tidak-tidak tentang istrinya.
"Baiklah, kami akan memeriksanya secara keseluruhan, bila perlu test darah untuk memastikan penyebabnya. Jika dari hasil pemeriksaan menemukan keguguran lengkap dan rahim sudah bersih dari bakal janin, maka tidak diperlukan tindakan apapun. Kami hanya perlu melakukan pemantauan lebih lanjut. Aku sarankan istrimu dirawat satu atau dua hari di sini." Hanna menjelaskan secara detail pada Riko.
"Baiklah, lakukan saja yang terbaik buat istriku." Riko pun mengerti dan menyetujui apa yang disampaikan Hanna.
"Yang sabar, ya. Istrimu masih muda, insyaa Allah dia pasti akan segera hamil beberapa bulan lagi," ucap Hanna mencoba menenangkan hati Riko.
"Aamiin, terima kasih, Hanna. Aku akan ke ruang administrasi dulu," pamit Riko.
Riko pun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju ruang administrasi. Hatinya sebenarnya sangat sedih mendengar kondisi Naila dari Hanna. Dia berjanji akan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan Riko meyakini semua kejadian yang menimpa istrinya pasti ada kaitannya dengan Vella dan Clara.
__ADS_1