
"Bagaimana, Bisma?"
"Maaf, Pak Riko, kebetulan saya sedang terburu-buru. Terima kasih tawarannya, mungkin lain kali saya akan menerimanya," jawab Bisma sambil tersenyum.
Bisma sebenarnya sangat ingin menerima tawaran Riko, tetapi waktunya tidak tepat. Dia sudah ada janji dengan salah satu teman bisnisnya. Naila memandang suaminya dengan heran dan bersyukur Bisma menolaknya.
"Baiklah ... terima kasih juga telah mengembalikan dompet istri saya," sahut Riko.
"Naila, aku pamit, ya. Lain kali hati-hati, jangan ceroboh lagi," kata Bisma pada Naila. Ucapan Bisma sangat lembut dan penuh perhatian, membuat Riko tak suka tapi berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Iya, sekali lagi terima kasih," balas Naila.
Setelah berjabat tangan dengan Riko dan mengucap salam, Bisma pun pulang. Riko tersenyum, dalam hatinya pun bahagia karena Bisma menolak tawarannya.
"Tumben tadi nawarin Bisma makan malam di sini, Mas," kata Naila yang masih tak percaya.
"Hemm ... katanya nggak boleh marah, apalagi dia sudah mengembalikan dompet istri cantikku ini." Riko membalas ucapan Naila seraya mencium pipi istrinya dengan gemas.
"Terima kasih, ya, Sayang," ucap Naila sambil memeluk erat tubuh suaminya.
"Iya, sama-sama, Sayang. Ayo kita makan malam dulu, biar istri dan anakku semakin sehat."
Riko menggandeng tangan Naila sambil berjalan menuju ruang makan. Naila menghentikan langkah mereka dan menolak ajakan suaminya. Rasa mual selalu datang tiba-tiba saat mendekati ruang makan.
"Tapi aku males makan, langsung mual rasanya, Mas."
"Aku suapin, pasti nanti nggak mual." Riko berusaha membujuk Naila.
"Makan di kamar saja, ya," pinta Naila.
"Baiklah, kamu ke kamar saja dulu biar aku ambilkan makan malamnya."
"Terima kasih, Mas."
Naila kembali memeluk suaminya dan langsung berjalan menuju kamar. Riko memperhatikan istrinya dan tersenyum, kemudian melangkahkan kaki menuju ruang makan. Rasa cintanya pada Naila semakin bertambah, apalagi saat ini wanita yang dicintainya sedang mengandung buah hati mereka.
***
__ADS_1
Di sebuah mushola kecil di pinggir kota, terdengar suara beberapa laki-laki dewasa yang sedang belajar mengaji. Pak Hasyim dengan sabar mengajari mereka satu per satu.
Rony yang duduk di antara mereka, dengan serius memperhatikan pelajaran yang disampaikan Pak Hasyim. Dia benar-benar ingin mempelajari ilmu agama yang sudah lama ditinggalkannya. Setelah selesai belajar, Pak Hasyim mengajak Rony berbicara.
"Alhamdulillah, Mas Rony sudah semakin lancar mengajinya. Setelah ini terserah Mas Rony, mau lanjut membaca Al-Qur'an di sini atau mengaji sendiri di rumah, silakan saja," kata Pak Hasyim pada Rony.
"Kalau boleh, saya ingin terus belajar di sini saja sama Pak Hasyim, biar kalau bacaan saya salah, ada yang membenarkan, Pak. Saya juga masih ingin terus belajar agama pada Bapak," balas Rony.
"Masyaa Allah, tentu saja boleh, Mas. Saya hanya kasihan sama Mas Rony karena perjalanan dari kantor ke sini cukup jauh." Pak Hasyim merasa kasihan pada Rony yang sering terlihat lelah saat belajar mengaji.
"Insyaa Allah kalau sudah niat, tidak akan terasa jauh, Pak," ucap Rony dengan semangat.
"Sayang sekali Bapak nggak punya anak perempuan, kalau ada pasti saya jodohkan sama Mas Rony."
"Bapak bisa saja, saya ini bukan laki-laki yang baik, Pak. Masa lalu saya juga kelam, sangat berbeda dengan keluarga Bapak."
"Masa lalu itu tak akan ada artinya lagi kalau manusianya mau berusaha berubah dan hijrah menjadi lebih baik, Mas. Allah Maha Pengampun, yang penting Mas Rony istiqomah dalam belajar ilmu agama dan mengamalkannya." Pak Hasyim memberikan nasihat pada laki-laki tampan di hadapannya. Dia sangat kagum dengan Rony yang selalu rendah hati dan sopan.
"Insyaa Allah, Pak. Saya akan berusaha istiqomah karena saya sadar, usia saya juga sudah tak muda. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam ...."
"Sarah ... tunggu sebentar ...."
Sarah menghentikan langkahnya dan menunggu Rony yang berjalan ke arahnya.
"Kak Rony, ya?" tanya Sarah.
"Iya, maaf kalau aku mengganggu waktumu. Aku ingin minta tolong, antarkan aku ke rumah Tasya. Aku ingin bertemu dengan keluarganya dan juga anaknya." Rony menyampaikan tujuannya dan berharap Sarah mau membantunya.
"Maaf, Kak, kalau mau ke rumah Kak Tasya jangan malam, lebih baik siang hari kita ke sana. Aku juga sedang ditunggu Kak Yakub sekarang. Kalau aku pulang terlambat, nanti dia marah." Sarah terpaksa menolak dan memberi penjelasan pada Rony.
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita pergi hari sabtu pagi? Sabtu dan minggu, aku libur kerja. Aku akan menjemputmu," balas Rony.
"Jangan! Maksudku ... Kak Rony jangan menjemputku ke rumah, Kak Yakub pasti nggak akan mengijinkan kita pergi bersama. Aku juga nggak mau kita menjadi bahan pembicaraan orang dan menimbulkan fitnah. Aku akan mengajak temanku yang punya motor, Kak Rony tunggu di mushola saja," ucap Sarah.
"Baiklah, terima kasih, ya, Sarah," sahut Rony setuju.
__ADS_1
"Iya, Kak ... kalau begitu, aku permisi dulu. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam ...."
Rony memperhatikan Sarah yang mengayuh sepedanya sampai hilang dari pandangan. Sudah hampir dua bulan mereka tidak bertemu karena Rony sendiri sibuk dengan pekerjaan dan fokus mengaji. Saat ini rasa penasaran dengan anaknya Tasya kembali membuat Rony ingin mencari tahu kebenarannya. Dia merasa harus bertanggung jawab apabila yang dilahirkan Tasya adalah anak kandungnya.
"Mas Rony, suka sama Mbak Sarah, ya?" tanya Pak Hasyim yang sudah berdiri di belakang Rony.
"Eh ... Pak Hasyim, saya jadi malu."
Rony tersenyum mendengar ucapan Pak Hasyim. Tak dipungkiri, wajah Sarah yang ayu dan sikapnya yang tegas, membuat Rony jatuh hati. Dia juga ingin mempunyai istri yang shalihah seperti adik iparnya. Bagi Rony sekarang mencari pasangan yang shalihah dan mengerti ilmu agama lebih baik daripada seorang wanita yang cantik penampilan luarnya saja.
"Nggak usah malu, saya perhatikan dari tadi Mas Rony memandang Mbak Sarah lama sekali sampai orangnya nggak kelihatan kok masih saja dipandang," balas Pak Hasyim yang membuat Rony semakin salah tingkah.
"Hati-hati dengan kakaknya, Mas Rony. Dia sangat menjaga adiknya, apalagi semenjak Sarah berpisah dengan mantan suaminya." Pak Hasyim melanjutkan ucapannya dan Rony terkejut mengetahui status Sarah.
"Ooh ... jadi Sarah itu janda, Pak?" tanya Rony.
"Iya ... janda tapi masih perawan. Dia terpaksa bercerai setelah ijab kabul. Suaminya ternyata sudah menghamili seorang gadis, tetangganya sendiri. Orang tua gadis itu datang ke acara pernikahan mereka dan menuntut suami Sarah bertanggung jawab. Akhirnya terpaksa Sarah meminta talak pada suaminya saat itu juga."
"Astaghfirullah ... kasihan sekali nasib Sarah." Rony merasa iba mendengar cerita tentang Sarah.
"Sejak saat itu, Yakub selalu menjaga adiknya dengan sangat ketat. Dia nggak pernah mengijinkan laki-laki sembarangan dekat dengan Sarah. Apalagi laki-laki itu sama sekali belum dikenalnya. Warga kampung sini takut sama dia, padahal dia sebenarnya anak yang baik. Sampai sekarang dia nggak mau menikah sebelum melihat adiknya bahagia."
"Sebenarnya ... Yakub itu teman sekolah saya, Pak," ucap Rony. Dia ingin berterus terang pada Pak Hasyim dan meminta pendapat mengenai masalahnya.
"Benarkah?" tanya Pak Hasyim tak percaya.
"Iya, Pak. Waktu pertama kali saya ke mushola ini, saya sempat menemani Sarah pulang ke rumahnya karena ban sepedanya bocor. Saya nggak tega melihat seorang wanita berjalan sendiri malam-malam. Saat itulah saya tahu kalau Sarah ternyata adiknya Yakub," jawab Rony.
"Oh begitu ... Yakub itu anak yang baik, tetapi sayangnya dia pemarah walaupun dulu dia tidak seperti itu. Semenjak putus dengan pacarnya dan ditinggal kedua orang tuanya, dia menjadi orang yang tertutup dan pemarah. Setelah Yakub lulus SMA, ibunya meninggal dunia karena sudah lama menderita sakit jantung. Satu tahun kemudian, ayahnya meninggal dunia karena kecelakaan." Pak Hasyim pun menceritakan semuanya pada Rony.
"Kalau boleh tahu, Yakub bekerja di mana, ya, Pak?" tanya Rony penasaran.
"Dia meneruskan usaha bengkel ayahnya," jawab Pak Hasyim.
Terdengar suara motor berhenti di depan mushola, membuat Rony dan Pak Hasyim diam dan mengalihkan pandangan mereka. Seorang laki-laki yang tampan dan bertubuh tegap berjalan menghampiri mereka dan tersenyum pada Pak Hasyim. Namun, saat melihat Rony, ekspresi wajahnya langsung berubah marah.
__ADS_1
"Ngapain kamu di sini??"