
Farel pun berdiri dan tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan masa lalu yang pasti berujung perdebatan. Bahkan setelah beberapa tahun tak bertemu, kembali masalah itu yang dibicarakan. Masalah cinta yang tak berakhir dengan pernikahan karena harta yang belum dimilikinya seperti sekarang.
"Suamiku sudah tak sayang lagi padaku, untuk apa aku pulang cepat. Mau aku pulang pagi juga Rony tak peduli." Vella bicara dengan suara perlahan, seolah dirinya istri yang tak lagi diperhatikan.
"Mungkin dia bukan tak peduli atau tak sayang lagi. Mungkin dia sudah lelah menasihatimu. Benar "kan ucapanku?" Vella semakin kesal mendengar ucapan Farel.
"Kenapa kamu jadi membelanya?" Vella terlihat mulai marah. Bagaimana bisa laki-laki yang masih sangat dicintainya berkata seperti itu padanya.
"Bukan begitu, hanya saja sebagai laki-laki, aku tahu perasaannya. Dia pasti ingin malam minggu seperti ini ditemani istrinya," ucap Farel dengan lembut, mencoba meredakan emosi Vella.
"Apa kamu tak rindu denganku? Apa kamu tak ingin menghabiskan malam bersamaku seperti dulu?" Vella pun tersenyum dan luluh dengan kelembutan Farel. Dan dia meyakini, perasaan Farel pun masih sama. Farel selalu membujuknya dengan ucapan yang lembut saat dirinya marah.
"Maaf, aku harus cepat kembali ke hotel. Aku tak bisa mengajakmu bersamaku, aku tak sendirian. Kasihan kalau aku meninggalkannya terlalu lama. Dia pasti sekarang sedang menungguku." Vella sebenarnya tak terima mendengar jawaban sang mantan. Lagi-lagi dirinya mendapat penolakan. Namun, Vella berusaha menahan perasaan.
"Pasti kamu ke sini bersama saudaramu atau asistenmu, ya? Dan kamu takut kalau ada yang melaporkanmu pada pamanmu jika mengajakku ke hotel," ucap Vella mencoba mengerti.
"Begitulah, makanya aku harus pergi. Besok pagi aku ada meeting dan tak ingin terlambat. Aku tak ingin gagal, ini proyek pertama yang aku tangani sendiri. Kalau berhasil, paman akan memberikan sepertiga saham perusahaannya padaku," jelas Farel yang membuat wajah Vella berbinar.
"Woow, aku senang mendengarnya. Kamu benar-benar sudah sukses sekarang," sahut Vella dan kembali mencoba memeluk tubuh kekasihnya. Namun, Farel kali ini berusaha menghindar sentuhan mantan kekasihnya.
"Maaf, nggak enak dilihat orang. Takut kalau ada yang melihatmu, apalagi statusmu masih istri orang. Jadi, kamu mau aku antar pulang atau mau kembali ke diskotik?" Farel berusaha membuat Vella mengerti dan Vella pun tersenyum kembali. Vella tahu, Farel ingin menjaganya, walaupun dalam hati Vella tak pernah peduli apa kata orang tentang dirinya.
"Antarkan aku pulang saja, aku masih rindu padamu. Biarkan aku memandang wajahmu untuk mengobati kerinduanku," ucap Vella terus terang.
Farel hanya mengangguk menanggapi ucapan Vella. Mereka pun melangkahkan kaki keluar menuju tempat parkir. Vella memaksa menggandeng tangan Farel dengan mesra tanpa mempedulikan statusnya lagi. Farel pun tak kuasa menghindar kali ini. Dan Farel melirik Vella lalu tersenyum penuh arti.
♡ ♡ ♡
__ADS_1
Dua orang laki-laki tampan yang tak saling mengenal sedang duduk berhadapan. Sama-sama menunggu tuan dan nyonya rumah dengan perasaan gelisah. Tak lama kemudian, yang ditunggu pun sudah duduk berdampingan di antara mereka.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Riko pada mereka.
"Tidak," jawab mereka serempak.
"Kak Riko, bukankah aku minta Kakak datang lagi minggu depan? Kenapa hari ini datang lagi? Oh, ya, perkenalkan ini teman Naila, Bagas."
Riko mengenalkan Bagas pada Rony. Mereka pun saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing. Terlihat wajah Rony yang sedikit pucat, rasa ragu pun mulai menyelinap. Namun, niat yang sudah bulat tak boleh dia tunda.
"Aku ke sini tak berniat menjemput Bara. Aku ... aku ada perlu dengan kalian. Ini ada hubungannya dengan Naila," jawab Rony terbata.
"Baiklah, silakan kalian berdua bicara terus terang di sini. Tak ada lagi yang perlu kalian tutupi kalau ini menyangkut istriku. Bagas, silakan kamu bicara dulu. Kak Rony juga harus mendengar penjelasanmu," tegas Riko.
Naila hanya diam, dia bingung apa yang terjadi sebenarnya. Wajah dua laki-laki di hadapannya terlihat tak tenang, bagai dua orang terdakwa.
"Apa hubunganmu dengan Vella dan Clara? Dari mana kamu mengenal mereka?" tanya Naila tak mengerti.
"Hemm ... aku sudah lama mengenal mereka. Aku ... aku bekerja dengan teman-teman mereka." Bagas mulai gugup, dirinya merasa takut mengakui pekerjaannya.
"Kamu bekerja dengan teman-teman mereka. Dan kamu juga menerima tawaran mereka untuk menjebakku. Sebenarnya apa pekerjaanmu, Bagas? Dulu aku mengenalmu sebagai seorang yang baik dan shalih. Bahkan kamu sering mengingatkanku untuk selalu sabar dan tak meninggalkan sholat. Kita pun mengaji di tempat yang sama. Kenapa kamu mau menerima pekerjaan yang ditawarkan mereka?" Naila penasaran, tak mengerti maksud sahabatnya.
"Maafkan aku, Naila. Aku manusia kotor. Aku bukanlah Bagas yang kau kenal dulu. Aku hanya ingin mendapatkan uang dengan cara yang mudah. Aku tak tahan dengan lingkungan kota yang menuntutku harus bekerja keras dengan hanya bermodalkan ijazah SMA." Bagas kembali menjelaskan.
"Pekerjaan kotor apa, Bagas? Jelaskan padaku!" Naila semakin tak mengerti maksud Bagas.
"Aku ... aku melayani wanita-wanita yang kesepian. Teman-teman Clara, mereka semua rata-rata adalah pelangganku." Akhirnya Bagas pun mengakui pekerjaannya pada Naila.
__ADS_1
"Astaghfirullah ...."
"Maafkan aku, Naila. Kamu boleh membenciku. Kalau kamu ingin menuntutku, aku siap. Setelah bertemu denganmu, sungguh aku ingin bertobat, Naila. Dan Pak Riko kemarin menawariku sebuah pekerjaan halal di luar kota," ucap Bagas yang membuat Naila senang.
"Benarkah itu, Mas? Terima kasih, kamu sudah menolong sahabatku." Naila bertanya pada suaminya dan Riko pun hanya membalas dengan senyuman.
"Kamu nggak marah, Naila?" tanya Bagas tak percaya.
"Tentu saja aku marah dan sangat kecewa, tapi aku tak pantas menghakimimu. Melihat niatmu yang ingin berubah, aku cukup bahagia. Bertobatlah dan minta ampun pada Allah. Tinggalkan dunia hitammu dan kembalilah ke jalan yang benar. Jadilah Bagas yang dulu, yang selalu sholat tepat waktu, yang selalu mengaji tiap hari, dan yang selalu bekerja keras tanpa mengeluh." Naila berkata pada Bagas sekaligus menasihati sahabatnya.
"Terima kasih, Naila. Kamu memang wanita yang paling baik yang aku kenal. Pak Riko pun sama baiknya sepertimu. Kalian adalah pasangan yang sangat serasi. Semoga kalian segera diberi amanah lagi." Bagas mendo'akan Riko dan Naila.
"Aamiin ...."
"Jadi, kamu teman Vella dan Clara? Kalau boleh tanya, apakah mereka berdua juga pernah memakai jasamu?" tanya Rony penasaran.
"Hemm ...." Bagas bingung menjawabnya.
"Jawablah, aku tak akan memukulmu jika jawabanmu iya," pinta Rony.
"Maaf, kalau Clara memang pernah, tapi Vella, aku yakin dia istri yang setia. Tak pernah aku lihat dia berdua dengan laki-laki lain di club. Jika tak bersama Clara, dia biasanya duduk sendiri sambil menghisap vapenya," jawab Bagas terus terang.
"Syukurlah, semoga saja benar apa yang kamu katakan." Rony tersenyum dan merasa bersyukur mendengar penjelasan Bagas.
"Aku tahu Vella memang bukan wanita yang baik sifatnya, tapi dia tak mau sembarangan berhubungan dengan laki-laki. Jangan khawatir, menurutku Vella wanita yang setia," ucap Bagas meyakinkan Rony.
"Dan sekarang, apa yang ingin kamu sampaikan pada Naila, Kak?"
__ADS_1
Pertanyaan Riko membuat Rony sadar seketika. Tiba-tiba rasa takut menguasai dirinya. Badannya gemetaran, lidahnya pun kelu tak berani bersuara.