Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Vella datang membawa rombongan


__ADS_3

Setelah mengambil barang-barang milik Bara dan meletakkan di kamar tamu, Cintya langsung berpamitan. Bahkan Cintya tak menunggu Bara dan Rony pulang. Riko dan Naila terpaksa mengiakan saja, apalagi alasan Cintya agar Bara tak menangis saat melihat dirinya pergi meninggalkannya.


Rony dan Bara akhirnya pulang dengan membawa satu kantong plastik putih berisi es krim dan cemilan. Bara duduk lalu menikmati es krimnya dengan ceria. Bahkan dia sama sekali tak menanyakan keberadaan mamanya. Riko, Rony, dan juga Naila heran, anak sekecil itu bersikap biasa saja tanpa takut dengan orang-orang yang tak dikenalnya.


"Sepertinya Bara sudah terbiasa tanpa mamanya. Lihatlah, dia makan dengan tenang tanpa peduli di mana dan dengan siapa." Naila berkata sambil terus memandang Bara dengan rasa iba.


"Iya, perkiraanku juga seperti itu. Sewaktu berangkat, dia memang hanya diam. Tapi waktu pulang, dia terus bertanya ini itu dan terlihat sangat senang," sahut Rony.


"Aku tak menduga kita punya adik yang usianya lebih pantas menjadi putra kita. Lalu selanjutnya bagaimana?" tanya Riko.


Mereka bertiga diam, memperhatikan Bara yang makan cemilan tanpa henti. Menyadari sesuatu, Naila berjalan mendekati Bara dan duduk di sampingnya.


"Bara sudah makan apa belum?" tanya Naila yang dibalas Bara dengan gelengan kepala.


"Ayo makan dulu, ya. Kak Naila memasak sayur sop tadi, mau?"


Bara tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia pun menyambut uluran tangan Naila dan berjalan bersama menuju ruang makan. Naila mengambilkan nasi, sayur sop, dan juga ayam goreng yang baru dimasaknya sebelum Cintya datang.


"Mau disuapi?" tanya Naila.


"Maem sendiri," jawab Bara singkat.


Bara makan sendiri dengan lahapnya. Naila merasa heran melihat Bara yang makan dengan rapi dan bersih. Tak seperti biasa, anak seusianya pasti makannya berantakan. Terlihat sekali kalau Bara adalah anak balita yang mandiri. Dalam hati Naila ada rasa sedih dan juga bahagia. Sedih karena Bara harus jauh dari mamanya. Bahagia karena mulai saat ini Naila ada teman dan tak kesepian saat Riko bekerja.


Riko menyiapkan kamar untuk Bara. Kamar yang letaknya di sebelah kamarnya menjadi pilihannya. Rony pun membantu Riko merapikan pakaian dan juga mainan yang dibawakan Cintya. Rony sangat bersyukur adik iparnya memiliki sifat yang mulia. Seandainya istri Riko sama seperti Vella, tak mungkin Bara bisa tinggal bersama mereka.


Dalam hati kecilnya, dia berjanji akan berusaha membantu Riko dan Naila. Setiap akhir pekan, dia akan mengajak Bara menginap di rumahnya. Hanya itu yang bisa dilakukannya untuk membantu Naila. Bergantian merawat Bara walaupun hanya seminggu sekali karena Vella tak mungkin bersedia merawat adiknya yang masih balita.


"Boleh aku menginap di sini? Nanti malam biar aku yang menjaganya. Besok 'kan masih hari minggu, aku akan membantu kalian merawat Bara." Rony menyampaikan keinginannya. Tak tega dirinya melihat Bara harus tidur sendirian di hari pertamanya.


"Alhamdulillah, terima kasih, Kak. Tapi, apa Vella tak mencarimu?" tanya Riko.

__ADS_1


"Dia tadi pagi bilang kalau malam ini tak pulang. Ada temannya yang berulang tahun dan mengajaknya pesta di luar kota," jawab Rony dengan sejujurnya. Mulai sekarang dia tak akan menutupi keadaan rumah tangganya pada adiknya.


Naila mengajak Bara ke kamar yang terlihat sudah rapi.


"Bara nanti tidur di kamar ini, ya. Bara nggak apa-apa 'kan tidur sendiri?" tanya Naila pada anak laki-laki yang terlihat takjub dengan kamarnya.


"Bara suka kamarnya?" Riko melihat Bara yang hanya diam sambil memandang sekeliling kamarnya.


"Suka sekali, ini beneran kamar Bara?" tanya Bara tak percaya.


"Iya, Sayang. Ini kamar Bara. Berani tidur sendiri?" Naila bertanya lagi.


"Di rumah Bara juga tidur sendiri, tapi kamar ini bagus sekali," jawab Bara dengan mata yang berbinar dan terlihat sangat menggemaskan.


"Oh, ya, kami semua kakaknya Bara. Ini Kak Rony dan ini Kak Riko. Mulai sekarang Bara tinggal di sini, ya." Naila pun mengenalkan Bara nama kedua kakaknya.


"Iya, nanti kalau hari sabtu, Kakak jemput dan menginap di rumah Kak Rony, mau?" Rony pun merasa iba dengan adiknya.


"Kalau mau pipis atau mandi, itu kamar mandinya, ya. Mulai besok Kak Naila yang mandiin Bara," kata Naila sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar Bara.


"Bara bisa mandi sendiri, cebok sendiri, semuanya Bara bisa sendiri. Kata Mama, Bara harus bisa kerjakan semuanya sendiri, biar nggak ngrepotin," balas Bara yang membuat mereka bertiga menghela napas panjang secara bersamaan.


"Kalau mama kerja, Bara sendirian di rumah. Jadi Bara harus bisa makan dan mandi sendiri," lanjut Bara.


"Bara boleh main mobil-mobilan?" tanya Bara sambil menunjuk mainannya yang sudah dirapikan di ujung ruangan.


"Boleh, ayo main sama Kak Rony," jawab Rony sambil menggandeng tangan Bara.


Riko dan Naila keluar kamar membiarkan mereka bermain bersama.


"Sebenarnya bagus juga anak seusianya bisa mandiri, tapi lihatlah wajahnya. Serius dan datar. Pasti dia tak pernah main bersama teman-temannya. Hidupnya sendirian dan seperti tertekan. Padahal penampilan Cintya terlihat mewah dengan pakaian dan tas branded semua." Riko berkata pada Naila setelah mereka berdua sudah ada di kamarnya.

__ADS_1


"Entahlah, Mas. Aku hanya kasihan melihat Bara. Kita tak usah membicarakan mamanya. Seandainya Bara tinggal dengan kita selamanya, aku tak masalah. Anaknya diam, penurut, mandiri pula. Kita tak akan kesulitan merawatnya, apalagi Kak Rony terlihat langsung menyayanginya," ucap Naila dengan penuh kelembutan. Hatinya tak tega mendengar cerita Bara yang selalu sendirian di saat Cintya bekerja.


"Iya, semoga Kak Rony benar-benar sudah berubah, bukan hanya akting atau sedang menyusun sebuah rencana. Terima kasih, Naila. Kamu sudah mau menerima Bara." Riko merengkuh tubuh Naila ke dalam dekapannya. Dirinya sangat bersyukur ada Naila di sisinya.


♡ ♡ ♡


Hari senin Rony mulai bekerja di perusahaan milik temannya Riko. Sementara Riko kembali bekerja seperti biasanya. Bara pun mulai nyaman bersama mereka, wajahnya juga terlihat lebih ceria. Naila sangat menyayanginya, apalagi selama ini dirinya tak pernah memiliki saudara.


Bel berbunyi di saat Naila selesai mengerjakan sholat dhuha. Naila segera menuju teras dan membukakan pintu pagar.


"Hai, apa kabar Naila?"


Beberapa wanita cantik dan seksi dengan penampilan yang modis langsung saja masuk ke dalam rumah sebelum Naila bisa mencegahnya. Mereka langsung duduk di sofa ruang tamu dan memainkan ponsel mereka. Naila hanya bisa mengelus dada dan mengucap istighfar. Dapat dipastikan jika para wanita cantik yang berkunjung ke rumahnya berniat membuat masalah. Naila pun duduk di hadapan mereka dan mencoba bersikap tenang.


"Kamu tak bertanya, ada apa aku ke sini?" tanya Vella dengan angkuh.


"Kamu adik iparnya Mas Riko, wajar jika kamu juga ingin berkunjung ke rumah ini." Naila menjawab dengan santainya.


"Apa kamu nggak minder melihat mereka? Lihatlah mereka semua, wajah dan penampilannya sangat menawan 'kan?" Vella bertanya dengan maksud menghina. Para wanita cantik itu pun memandang Naila dengan tatapan merendahkan, merasa Naila tak selevel dengan mereka.


"Lalu apa urusanku dengan mereka. Aku tak kenal dan tak peduli meskipun mereka semua cantik mempesona. Banyak wanita seperti mereka di dunia ini, bahkan lebih menawan," balas Naila yang membuat Vella mulai kesal.


"Apa kamu tahu siapa mereka?" Nada Vella semakin tinggi, dia mulai emosi melihat Naila yang selalu tenang menghadapinya.


"Aku tak peduli dan tak mau tahu," sahut Naila.


"Mereka semua mantan kekasih Riko." Vella pun tersenyum sinis.


"Kan hanya mantan, kamu nggak lupa 'kan siapa aku? Aku istri Riko Alamsyah Putra," tegas Naila dengan berani.


Rasa cemburu menguasai mereka yang mendengar ucapan Naila. Vella dan Clara serta empat orang wanita lainnya serentak berdiri dan mendekati Naila yang masih duduk dan memandang tajam mereka. Hati Naila sebenarnya merasa was-was, apa yang akan mereka lakukan padanya. Namun, Naila tak boleh memperlihatkan kalau dirinya ketakutan. Kali ini dia harus berani melawan meskipun sendirian.

__ADS_1


__ADS_2