
"Sekarang tolong kirim foto-fotonya ke ponselku," perintah Clara pada Bagas.
"Maaf, kali ini tak ada foto," sahut Bagas.
"Apa? Sudah hampir dua jam di kamar ini dan tak ada foto satu pun? Apa maksudmu?" tanya Vella mulai marah.
"Ya, aku sama sekali tak melakukan apa-apa padanya. Naila adalah sahabatku, aku tak ingin menyakitinya." Bagas berkata sejujurnya pada mereka.
Bagaimana Bagas bisa menyakiti Naila? Baginya Naila adalah malaikat penolongnya. Bagas yang waktu itu hampir saja putus sekolah karena tak ada biaya, Naila membantu membayarnya. Belum lagi saat ibunya sakit dan harus opname, lagi-lagi Naila yang menanggung biaya rumah sakitnya.
Bagas dan Naila sudah bersahabat dari SMP. Namun, setelah lulus SMA, Bagas langsung ke kota mencari kerja. Sementara Naila melanjutkan kuliah di sebuah universitas yang tak jauh dari desanya. Dan di kamar hotel inilah mereka bertemu kembali tanpa sengaja. Karena terburu-buru, Bagas tak tahu kalau wanita yang dibawanya ke kamar hotel adalah sahabatnya.
"Bukankah kamu sudah biasa melakukan pekerjaan seperti ini? Apa kamu tak berselera melihat wanita kampung itu sampai kamu tak mau melakukannya?" tanya Vella.
"Jaga ucapanmu! Aku tak terima kalian menghina sahabatku. Meskipun Naila tak secantik kalian, tapi dia seperti malaikat bagiku. Jika dia mau, dari dulu aku sudah menikahinya. Tapi aku tahu diri, aku manusia kotor, tak pantas bersanding dengan Naila," ucap Bagas tak terima.
"Tapi kamu sudah melanggar perjanjian kita. Aku juga sudah membayarmu," sahut Clara.
"Kirim saja nomer rekeningmu dan uang dari kalian akan kukembalikan," tegas Bagas yang membuat Clara geram.
"Sialan kamu, Bagas! Tahu begini aku lebih baik cari orang lain saja." Clara merasa kecewa pada Bagas.
"Jangan sakiti Naila! Kalau kalian nekat, aku akan masukkan kalian ke penjara," teriak Bagas mengancam Vella dan Clara.
"Kamu lupa kamu siapa? Jika kami masuk penjara, aku pastikan kamu juga akan ikut." Clara tak terima Bagas mengancamnya.
"Aku tak takut. Biar saja aku masuk penjara, aku juga sudah tak punya siapa-siapa. Bagiku keselamatan Naila lebih utama. Maaf, aku harus pergi. Dan jangan lupa, aku akan mengawasi kalian," ucap Bagas dan berlalu tanpa mempedulikan mereka.
__ADS_1
Vella dan Clara hanya diam, mau marah juga percuma. Bagas terlihat sangat emosi, membuat kedua wanita cantik itu tak berani melawan. Rasa kesal, kecewa, marah, membuat Vella dan Clara putus asa. Begitu banyak yang menyayangi Naila, bahkan orang yang mereka bayar pun sekarang ikut melindunginya.
Bagas langsung saja meninggalkan Vella dan Clara yang terlihat kesal. Tak lupa Bagas membawa tas Naila yang tertinggal. Beruntung kedua wanita tadi belum melihatnya dan Bagas saat ini berusaha mengamankannya.
Pergi ke kafe yang ada di hotel, memesan kopi hitam tanpa gula. Duduk terdiam menenangkan diri dan memikirkan apa yang harus disampaikan pada Naila. Haruskah dia berkata sejujurnya? Malu rasanya jika Naila sampai mengetahui pekerjaannya. Bagaimanapun juga, dirinya harus berkata apa adanya, meskipun Naila pasti akan kecewa padanya.
Melajukan kendaraannya menuju rumah sakit terdekat, begitu rencana Bagas. Suami Naila tak mungkin membawanya ke rumah sakit yang jauh karena kondisi Naila yang mengkhawatirkan. Apalagi Bagas melihat dengan jelas, laki-laki yang bernama Riko begitu sayang pada Naila. Berhenti di parkiran sebuah rumah sakit besar, turun dan menuju bagian informasi. Berjalan dengan tenang, menemui Naila yang sudah berada di kamar VIP.
Bagas menghela napas panjang, mengembuskannya perlahan agar hatinya tenang. Sebelum dirinya mengetuk pintu, ternyata Riko sudah membukanya karena hendak menemui Hanna di ruang prakteknya.
"Kamu?" Riko terkejut melihat Bagas sudah berdiri di depan kamar.
"Iya Pak. Maaf, saya ingin bicara dengan Bapak dan Naila tentang kejadian di hotel tadi," ucap Bagas.
"Kamu kenal istriku?" tanya Riko dengan heran.
"Baiklah, tapi Naila sedang istirahat sekarang. Aku juga tak ingin dia terganggu dengan ceritamu. Kita bicara di kantin saja," ajak Riko.
Mereka berjalan menuju kantin dan memilih tempat yang berada di ujung ruangan. Duduk berhadapan lalu memesan minuman.
"Maaf, sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Bagas, saya adalah sahabat Naila waktu di desa. Terus terang saja, saya tadi yang membawa Naila ke hotel dalam keadaan pingsan. Tadinya mereka meminta saya memfoto kami berdua tanpa busana seolah kami sedang ... tapi percayalah, Pak. Saya sama sekali tak melakukan apa-apa pada Naila." Bagas terpaksa menceritakan semuanya pada Riko. Entah apa tindakan Riko selanjutnya, dia pun pasrah.
"Mereka siapa? Apakah Vella dan Clara? Lalu kenapa istriku bisa pingsan?" tanya Riko pada Bagas.
"Iya, Pak. Mereka yang menyuruh saya. Dan Naila pingsan karena dia makan cemilan yang sudah diberi obat bius," jawab Bagas apa adanya.
Riko mengepalkan tangannya menahan emosi. Namun, Riko menyadari saat ini bukan waktu yang tepat untuk marah. Bahkan dia harus bersyukur pada laki-laki di hadapannya. Tanpa harus mencari tahu, peristiwa yang terjadi sudah dijelaskan olehnya.
__ADS_1
"Pak, tolong ijinkan saya bertemu dengan Naila. Sudah lama saya tak bertemu, saya juga ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya," pinta Bagas.
"Baiklah, tapi tunggu sebentar. Kamu ikut saya ke ruang dokter yang menangani Naila. Saya sampai lupa kalau sudah janji dengannya dari tadi," balas Riko sambil berdiri dan ke kasir membayar minuman mereka.
Bagas hanya menganggukkan kepala lalu mengikuti langkah kaki Riko yang terburu-buru. Berhenti di depan ruang praktek dokter specialist kandungan, Bagas memilih duduk di ruang tunggu. Riko pun masuk ke ruangan Hanna yang sudah sepi. Dilihatnya Hanna sudah bersiap pergi.
"Hanna, maaf aku terlambat," kata Riko.
"Baru saja aku mau ke kamar istrimu. Kalau begitu duduklah," sahut Hanna dan kembali duduk di kursinya.
"Ada apa, Hanna? Apa ada masalah yang serius dengan Naila?" tanya Riko penasaran.
"Alhamdulillah, istrimu baik-baik saja, tak perlu tindakan kuretase. Aku hanya memberi kabar mengenai sesuatu yang bisa jadi faktor penyebab istrimu keguguran," kata Hanna sambil membuka lembaran hasil laboratorium.
"Apa sebabnya?" tanya Riko tak sabar.
"Dari hasil test darah ditemukan sejenis zat kimia. Aku pastikan sejenis obat bius jenis serbuk yang memang dijual bebas di pasaran. Obat bius ini sangatlah ampuh membuat orang pingsan atau tidur dalam beberapa detik saja. Karena kandungan Naila masih berusia beberapa minggu, akhirnya membuat janin di dalamnya tak bisa bertahan." Hanna menjelaskan semuanya.
"Aku baru saja mendapat info mengenai itu, Hanna. Seseorang telah memberikan bius dalam makanannya yang mambuat istriku langsung pingsan. Alhamdulillah yang menemukan Naila adalah teman lamanya," ucap Riko.
"Alhamdulillah, Allah melindungi istrimu. Kalau kamu mau, aku bisa buatkan laporan hasil laboratorium yang bisa kamu gunakan untuk menuntut orang yang sudah membuatnya celaka," kata Hanna merasa iba.
"Terima kasih, Hanna. Tapi mungkin untuk sementara aku masih belum perlu. Aku akan menyelesaikan urusan ini dengan caraku sendiri." Riko menolak saran Hanna.
"Baiklah kalau begitu, Riko. Kapan pun kamu membutuhkannya, aku siap membantumu. Kalau kondisi Naila stabil, besok dia boleh pulang. Aku takut psikisnya yang belum siap. Aku sarankan jaga perasaannya, jangan biarkan istrimu mendengar sesuatu yang membuatnya sedih," ucap Hanna menasihati temannya.
Riko pun mengerti yang dimaksud Hanna dan dia meminta Bagas agar tak bercerita apapun mengenai peristiwa yang sebenarnya. Sesampainya di kamar, Riko melihat Naila yang sudah duduk dan menangis.
__ADS_1