
Beberapa bulan telah berlalu, Rony dan Vella resmi bercerai secara negara. Vella yang tak pernah menghadiri persidangan, mempercepat proses perceraian mereka. Rony menepati janji, dia sama sekali tak mau menerima uang pemberian hasil penjualan rumah mewah mantan istrinya. Dia pun tetap tak mau bekerja di perusahaan peninggalan papanya, takut khilaf, itu salah satu alasannya.
Rony benar-benar berubah, sholat lima waktu tak pernah dia tinggalkan. Hidup sederhana dan apa adanya menjadi pilihannya. Dia juga tak pernah menghiraukan beberapa wanita yang mendekatinya. Rony hanya ingin fokus bekerja dan beribadah.
Saat ini Rony sedang libur di akhir pekan, berkeliling mengendarai kendaraan roda duanya sendirian. Menikmati senja di hari sabtu malam panjang. Sampai suara adzan maghrib sayup-sayup terdengar berkumandang.
Rony segera mencari tempat ibadah agar bisa sholat berjama'ah. Menuju mushola kecil yang bersih dan asri di sebuah kampung yang dilewatinya, Rony memarkirkan motor di tempat yang tersedia. Dia segera mengambil air wudhu lalu bergabung bersama para jama'ah.
Setelah selesai shalat, Rony duduk di teras mushola. Laki-laki tampan yang berwajah khas Timur Tengah itu pun menjadi pusat perhatian warga yang sedang lalu lalang melewatinya. Rony hanya tersenyum melihat mereka yang memandangnya. Dia memilih menunggu di mushola sampai adzan isya' berkumandang, daripada di rumah sendirian.
Terdengar olehnya, suara beberapa wanita yang belajar mengaji tilawati. Rony berdiri lalu berjalan mendekat dan melihat mereka dari balik jendela kaca. Tampak seseorang yang berwajah ayu dan manis dengan jilbab warna merah muda, sedang membimbing para wanita mengaji. Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya, membuat Rony merasakan hatinya berdebar tiba-tiba.
"Maaf, Mas. Tolong jangan mengintip para wanita yang sedang mangaji, tidak sopan." Seseorang menegur Rony yang sedang diam memperhatikan. Dia pun terkejut dan langsung merasa malu dan tak enak hati.
"Oh, iya, maaf, Pak. Saya tidak ada maksud apa-apa, saya juga ingin belajar mengaji seperti mereka. Apa ada guru laki-laki yang bisa membantu saya?" tanya Rony pada laki-laki yang telah menegurnya.
"Kita duduk di sana saja, Mas," ajak laki-laki itu dengan ramah. Rony mengikuti langkahnya. Mereka duduk di sebuah bangku kayu yang ada di halaman mushola.
"Panggil saja saya Pak Hasyim. Kalau Mas mau belajar mengaji, saya bisa bantu. Kebetulan saya juga mengajar bapak-bapak yang ingin belajar mengaji di sini. Biasanya satu minggu tiga kali setelah sholat maghrib. Untuk laki-laki, hari Senin, Rabu, dan Jumat, untuk wanitanya hari Selasa, Kamis, dan Sabtu. Kalau Mas mau, datang saja mulai hari Senin depan," ucap Pak Hasyim.
"Alhamdulillah, terima kasih, Pak Hasyim. Panggil saja saya Rony. Insyaa Allah setelah pulang kerja, saya akan langsung ke sini," sahut Rony dengan senang hati.
"Mas Rony sudah menikah?" tanya Pak Hasyim.
"Sudah, Pak, tapi kami sudah berpisah," jawab Rony sejujurnya.
"Oh, maaf, ya Mas. Saya tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja kalau memang sudah menikah, tadinya saya hanya ingin mengingatkan agar ijin dulu sama istrinya kalau dari kantor ke sini. Kasihan kalau sampai istrinya menunggu lama."
"Iya, Pak, tidak apa-apa, saya mengerti," balas Rony.
"Jangan tersinggung, ya, Mas, kalau saya bertanya hal pribadi. Saya hanya menjaga kenyamanan mushola dan kampung sini, Mas. Kebetulan saya Ketua RT dan juga takmir di mushola ini," jelas Pak Hasyim.
__ADS_1
Mereka pun berbincang sampai adzan isya' berkumandang. Rony merasa senang karena bertemu dengan orang yang tepat. Pak Hasyim, orang yang bijaksana, membuat Rony nyaman saat berbicara dengannya.
Rony melanjutkan berkeliling kampung dengan kendaraan roda duanya. Dia juga berencana mengunjungi adiknya. Sudah beberapa minggu dirinya tak ke rumah Riko, selama ini hanya menanyakan kabarnya melalui pesan saja.
Rony menghentikan kendaraan roda duanya ketika melihat seorang wanita yang diam berdiri di samping sepedanya. Suasana di jalan sangat sepi dan temaram, karena hanya mengandalkan lampu jalan yang redup.
"Maaf, kenapa sepedanya?" tanya Rony.
Wanita berjilbab merah muda itu pun memandang ke arah Rony. Sorot matanya yang teduh, membuat hati Rony berdesir. Wanita berparas ayu yang dilihatnya di mushola dan sekarang berdiri di hadapannya. Wajahnya semakin terlihat menarik meskipun dalam cahaya yang temaram. Bibir tipisnya tersenyum dan menjawab pertanyaan Rony dengan sopan.
"Bannya bocor, Kak. Padahal dari mushola tadi nggak apa-apa."
"Rumah kamu masih jauh?" tanya Rony.
"Lumayan, tapi nggak apa-apa sudah biasa jalan jauh. Permisi, ya, Kak, aku mau pulang dulu." Wanita itu pun segera berlalu, namun Rony segera menghalanginya.
"Tunggu! Ijinkan aku mengantarmu sampai rumah, aku akan menemanimu berjalan," pinta Rony.
"Aku bukan orang jahat, aku tak ada maksud apa-apa. Hanya saja aku tak tega melihat seorang wanita berjalan sendirian malam-malam," ucap Rony.
"Baiklah, terserah Kakak saja," balas wanita itu terpaksa.
"Oh, ya, kenalkan namaku Rony." Rony pun memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Namun, wanita itu segera menangkupkan kedua tangan di depan dadanya, membuat Rony menarik uluran tangannya kembali.
"Namaku Sarah Khairunnisa, panggil saja aku Sarah."
Sambil menuntun kendaraannya masing-masing, mereka berjalan beriringan. Sesekali Rony mengajak Sarah berbicara, menghilangkan kesunyian di antara mereka.
"Sudah lama mengajar mengaji di mushola?" tanya Rony dan memandang wanita ayu di hadapannya.
"Alhamdulillah, sudah dua tahun ini. Kak Rony tadi yang sholat di mushola, kan?" jawab Sarah dengan pandangan tetap lurus ke depan.
__ADS_1
"Iya. Kamu, kok tahu?" tanya Rony penasaran.
"Tahulah, Kak. Wajah Kak Rony berbeda dengan wajah orang-orang kampung sini. Apalagi tadi banyak ibu-ibu yang mengghibah Kakak, aku jadi kepo dan ikut melihat Kak Rony yang sedang duduk di teras. Eh ... maaf, ya, Kak, nggak berniat apa-apa, hanya penasaran saja." Sarah pun memandang wajah Rony dan tersenyum malu.
"Kamu nggak takut denganku? Kita 'kan baru pertama kali bertemu?" Rony heran, Sarah terlihat santai menanggapi semua pertanyaannya.
"Aku bukan penakut, kakakku sudah melatihku menjadi wanita yang kuat dan tak terlihat lemah. Aku punya kakak yang usianya mungkin sama dengan Kak Rony tapi galaknya setengah mati. Semua warga kampung sini takut sama dia, Kak. Makanya insyaa Allah aku aman di sini, nggak ada yang berani menggangguku," jawab Sarah menjelaskan semuanya.
"Begitu, ya? Pantas saja sikapmu biasa saja padahal kita tak pernah bertemu. Alhamdulillah, kamu punya kakak yang hebat," sahut Rony yang mulai merasa kagum pada Sarah. Seorang wanita yang terlihat lemah lembut, tapi tegas saat bicara.
"Alhamdulillah, kami hanya tinggal berdua saja. Dia adalah saudaraku satu-satunya, yang sangat sayang padaku dan juga selalu melindungiku."
Tak terasa mereka sampai di salah satu rumah yang sederhana. Rumah berpagar bambu dengan halaman yang cukup luas dan penuh tanaman bunga.
"Sudah sampai, Kak. Ini rumahku, silakan kalau mau mampir. Ada Kakakku di rumah," ucap Sarah dengan ramah.
"Bolehkah? Apa kakakmu nggak marah ada laki-laki yang mengantarmu pulang?" tanya Rony ragu.
"Nggak, paling juga Kak Rony diinterogasi." Sarah menjawab pertanyaan Rony sambil menahan tawa.
"Menarik!"
"Ayo, Kak."
Rony mengikuti langkah Sarah yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah. Sarah mempersilakan Rony duduk di kursi tamu yang terbuat dari kayu. Dia pun memanggil kakaknya yang sedang bermain ponsel di kamarnya.
Seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi dan tegap, mengikuti langkah Sarah menemui Rony yang sudah berdiri menyambutnya. Rahangnya tiba-tiba mengeras saat kedua matanya memandang wajah laki-laki di hadapannya. Dia pun segera menghampiri Rony dengan penuh emosi.
Bugh!!
"Dasar playboy! Jangan ganggu adikku!"
__ADS_1