Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Penyesalan


__ADS_3

Seorang wanita tiba-tiba masuk ke toilet dan terkejut melihat kakaknya yang sedang duduk dan memangku seorang wanita yang tak dikenalnya.


"Kak Yakub ... astaghfirullah ... apa yang Kakak lakukan? Siapa dia, Kak?" tanya wanita itu yang ternyata Sarah--adiknya Yakub Maulana.


Yakub dan Sarah datang ke kafe karena undangan seorang teman yang menawarkan kerja sama. Mereka hendak pulang tapi Yakub pamit terlebih dahulu pada Sarah ke toilet sebentar. Karena tak sabar, Sarah menyusul kakaknya.


"Aku nggak kenal, aku tadi melihatnya terpeleset dan jatuh terlentang. Aku ingin membantunya berdiri, ternyata dia sudah pingsan duluan." Yakub memberi penjelasan pada adiknya agar tak salah paham.


"Ayo, Kak, kita bawa saja ke rumah sakit," ajak Sarah.


"Tapi ... bagaimana caranya?" tanya Yakub kebingungan.


"Gendong saja, Kak. Ayo, cepat! Kasihan dia kalau kelamaan pingsannya, takut kenapa-kenapa." Sarah terpaksa memberi saran pada kakaknya untuk menggendong Naila. Sarah tahu kakaknya pasti bingung karena tak pernah bersentuhan dengan wanita yang bukan mahramnya.


"Ta ... tapi ...."


"Sudahlah, Kak ... ini keadaannya darurat. Suasana di sini juga sepi. Kakak juga nggak sendirian, ada aku yang mendampingi."


"Baiklah ... untung saja tubuhnya mungil kayak kamu."


Yakub segera menggendong tubuh Naila yang masih tak sadarkan diri. Namun, dia terkejut karena tangannya basah oleh sesuatu yang terasa asing baginya. Dia pun segera melihat telapak tangannya yang membuatnya ketakutan.


"Sarah ... dia ... dia berdarah!"


"Astagfirullah ... cepat, Kak! Ayo kita langsung ke rumah sakit!"


Mereka berdua langsung berjalan menuju rumah sakit yang ada di seberang kafe. Yakub yang panik, tanpa pikir panjang berjalan dengan lebih cepat sambil menggendong Naila. Sarah terpaksa membiarkan Yakub mempercepat langkahnya. Mereka tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.


Sesampainya di ruang IGD, para perawat menyambutnya dan meletakkan tubuh Naila di atas brankar. Hanna yang sedang di ruangan yang sama terkejut melihat sosok yang dikenalnya sedang tak sadarkan diri. Setelah memberikan perintah pada perawat agar segera menangani Naila, dia pun menghampiri Yakub.


"Maaf, Anda siapa? Dan kenapa Naila bisa pingsan?" tanya Hanna pada Yakub.


"Dokter kenal dengan cewek tadi?" Yakub heran karena dokter cantik di hadapannya kenal dengan wanita yang tadi digendongnya.

__ADS_1


"Ya, dia pasien saya," jawab Hanna dengan tegas.


"Maaf, Dokter. Saya melihatnya terpeleset di depan kamar mandi kafe. Waktu saya ingin membantunya, dia pingsan." Yakub memberi penjelasan karena tak ingin menjadi tersangka.


"Baiklah, terima kasih karena sudah menolongnya. Saya minta tolong dengan sangat, kalian tunggu sampai aku selesai menangani pasien. Please, jangan pulang dulu. Tunggulah di ruang tunggu, nanti saya akan menemui kalian setelah saya menangani Naila. Saya juga akan berusaha menghubungi keluarganya," pinta Hanna. Dia percaya dengan penjelasan Yakub.


"Baiklah ...."


Yakub duduk di kursi yang tersedia di ruang tunggu dengan gelisah. Tak lama kemudian Sarah menghampirinya dengan napas yang tersengal. Setelah mengatur napasnya dan normal kembali, dia lalu duduk di sebelah Yakub.


"Bagaimana, Kak? Apa kita harus mengurus administrasinya? Biasanya 'kan begitu, soalnya kita yang bawa ke sini. Rumah sakit sebesar ini pasti mahal!" ucap Sarah dengan cemas.


"Aku juga bingung, semoga saja kita nggak sampai disuruh bertanggung jawab. Dokternya tadi kenal sama dia, katanya pasiennya dan kita disuruh menunggu di sini sampai dia selesai menanganinya."


"Alhamdulillah kalau begitu. Kalau dugaanku nggak salah, sepertinya cewek tadi keguguran, deh."


"Sok tahu, kamu! Emang kamu pernah hamil?"


"Ya ... 'kan aku pernah dengar dari ceritanya si Ratna yang waktu itu keguguran."


"Belum tentulah, Kak. Kalau dari penampilannya, dia cewek baik-baik. Pasti dia sudah menikah."


"Ternyata istri orang ... padahal cantik banget, masih muda lagi."


"Emang Kakak sudah lihat wajahnya sampai tahu dia cantik?" tanya Sarah yang tak menduga kakaknya memuji wanita yang ditolongnya.


"Ya tahulah, cantik dan wangi. Aku dari tadi deg-degan terus waktu gendong dia. Ha ha ha ...."


"Astaghfirullah ... nyebut, Kak. Jangan sampai jatuh cinta sama istri orang. Ingat dosa!"


"Jodoh nggak ada yang tahu, Sarah. Barangkali saja dia nggak bahagia sama suaminya. Buktinya istri secantik itu dibiarin pergi sendirian."


"Jangan suudzon. Siapa tahu dia lagi nunggu suaminya datang. Janjian mau makan malam."

__ADS_1


"Ah, cerewet kamu! Kamu tunggu aja di sini, aku mau ke kamar mandi sebentar. Sampai lupa belum bersihin tangan sama bajuku yang kotor kena noda darah."


"Iya, Kak. Jangan lama-lama, takut dokternya nanti nyariin."


"Oke ...."


Yakub pun berlalu dari hadapan Sarah. Sementara Hanna tak henti-hentinya mencoba menghubungi Riko tapi tak berhasil juga.


"Bagaimana, Dokter?" tanya seorang perawat pada Hanna.


"Biar semua ini jadi tanggung jawab saya. Kalau sampai keluarganya ada yang menuntut, saya nanti yang maju," jawab Hanna tanpa ragu lagi.


Sudah berulang kali Hanna mencoba menghubungi Riko tapi takada jawaban. Akhirnya dia sendiri yang memutuskan untuk bertanggung jawab atas tindakan yang harus dia lakukan. Keadaan Naila semakin lemah dan membutuhkan tindakan medis segera karena bayi yang dikandungnya takbisa diselamatkan.


Yakub dan Sarah akhirnya pulang setelah Hanna meminta penjelasan pada mereka. Hanna ingin mengetahui secara pasti penyebab Naila jatuh dan pingsan, yang akhirnya membuat Naila kembali kehilangan.


***


Sementara di kantor, Riko sedang sibuk mengurusi pekerjaannya. Selain itu, dia hanya ingin mengalihkan rasa marahnya pada Naila. Dia membiarkan istrinya pergi sendiri karena tak ingin rasa cemburu menguasai hatinya lagi. Pasti sekarang Naila sedang bersenang-senang dengan Eva dan beberapa teman laki-lakinya yang datang. Dia ingin memberikan Naila sedikit kebebasan, itu yang ada dalam pikirannya saat ini.


Riko menenggelamkan diri dalam pekerjaannya sampai malam. Tak dihiraukan pesan atau panggilan telepon yang ada di ponselnya. Bahkan sudah dari sore, ponselnya sengaja dimatikan. Setelah lelah dan rasa kantuknya datang, dia pun mengajak Supri pulang.


Sesampainya di teras rumah, Riko melihat Marni berdiri di depan pintu dengan gelisah. Sikapnya yang tak tenang, membuat Riko curiga.


"Ada apa, Bi?" tanya Riko.


"Anu, Den ... itu ... Mbak ... Mbak Naila belum pulang sampai sekarang," jawab Marni dengan terbata-bata. Dia sangat takut pada Riko tapi juga cemas memikirkan Naila.


"Apa, Bi? Naila belum pulang?" tanya Riko tak percaya. Selama menjadi suaminya, Naila tak pernah pulang sampai larut malam.


"I ... iya, Den."


Riko langsung duduk dan mengambil ponselnya yang ada di tas kerja. Dihidupkan ponsel yang sengaja dimatikan sejak sore tadi. Terlihat di layar ponsel beberapa panggilan tak terjawab dari Hanna.

__ADS_1


Riko segera menelepon Hanna. Setelah panggilannya terjawab, badannya langsung lemas seketika. Dia pun menyesali sikapnya yang membuatnya kembali kehilangan buah hati mereka.


__ADS_2