
"Assalamu'alaikum, Sayang. Hemm ... cantik sekali istriku hari ini. Aku benar-benar rindu."
"Wa'alaikumussalaam ... aku juga rindu, Mas."
Naila langsung memeluk suaminya yang sudah sampai di rumah. Riko dan Naila menuju kamar tidur mereka karena waktu pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Riko langsung menggendong tubuh mungil istrinya, kemudian merebahkannya di ranjang. Naila mengerti apa yang diinginkan suaminya tercinta. Dia pun membalas semua sentuhan yang diberikan Riko padanya.
Akan tetapi, perlakuan Riko padanya kali ini berbeda. Naila berpikir, mungkin saat ini suaminya terlalu rindu padanya. Namun, semakin lama Riko semakin kasar dan brutal. Bahkan saat ini Naila sudah tak lagi bisa menikmati surganya. Naila merasa, yang sedang bersamanya bukanlah suami yang selama ini sangat dicintainya.
"Mas ... sakiittt ... tolong hentikan ...."
Naila merintih dan mencoba menghentikan perlakuan Riko padanya. Semakin Naila menolak, Riko semakin kasar. Naila pun berusaha memberontak, tetapi laki-laki tampan yang berstatus suaminya itu semakin bernafsu. Dia tak peduli dengan suara sang istri yang merintih kesakitan.
Akhirnya Riko pun mengerang bersamaan dengan kenikmatan yang telah didapat. Tanpa mempedulikan Naila, Riko langsung berjalan ke luar kamar dengan memakai piyama.
Naila berjalan menuju kamar mandi dengan tertatih. Setelah membersihkan diri, Naila merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang yang masih berantakan. Dia pun menangis, merasakan perih pada beberapa luka akibat perlakuan Riko padanya.
"Apa yang terjadi pada suamiku, Ya Allah. Apa salahku sampai dia tega berbuat seperti ini? Astaghfirullah ...."
Naila pun terlelap setelah lelah menangis. Tubuhnya terasa remuk redam. Namun, luka fisiknya tak sedalam luka di hati yang bisa membuatnya trauma saat bercinta.
Sementara Riko, diam termenung sendirian di ruang kerja. Memandang foto-foto Naila yang ada di galeri ponselnya. Dia pun kembali membaca pesan yang ada di aplikasi berwarna hijau itu. Pesan dari nomer yang sama sekali tak dikenal tapi berhasil membuatnya murka. Riko menyimpan nomer telepon itu dengan nama "Noname".
Noname: Lihatlah istrimu, mentang-mentang sudah cantik, kelakuannya tak bisa dijaga. Bahkan dia berani berduaan dengan laki-laki di depan umum. Aku bahkan melihatnya di sebuah bank bersama laki-laki itu. Apa mungkin istrimu kesepian lalu menjadikan laki-laki itu sebagai pemuas nafsunya? Jangan naif, istrimu tak sebaik yang kamu kira.
Riko: Siapa kamu sebenarnya?
Noname: Kamu tak perlu tahu siapa aku. Yang pasti aku tahu semua tentang wanita yang menjadi istrimu. Dia bukan wanita baik-baik. Kebaikan dan wajah lugunya hanya untuk menarik perhatian laki-laki tampan dan kaya sepertimu.
__ADS_1
Riko meletakkan ponselnya di atas meja. Rasa kesal, marah, tak percaya, bercampur menjadi satu. Dia sebenarnya tak percaya pada pesan itu. Namun, foto-foto Naila yang tersenyum dan terlihat akrab dengan laki-laki yang tak dikenal, benar-benar menutup mata hatinya. Cemburu buta kembali membuatnya menjadi manusia yang tak punya hati.
"Astaghfirullah ... apa yang sudah aku lakukan? Naila pasti sangat membenciku ...."
Riko hanya bisa menyesali dan merutuki perbuatannya. Apalagi dia sama sekali belum meminta penjelasan apapun pada Naila. Namun, dia sudah menyakiti wanita yang sudah hampir dua tahun ini menjadi istrinya. Bahkan Riko menjadikannya sebagai pelampiasan amarah yang sudah tak terkendali.
Riko berjalan keluar menuju kamar tidurnya kembali. Terlihat olehnya, Naila yang tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Riko memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum meminta maaf pada istrinya.
Riko memeluk erat tubuh mungil Naila. Dia mengecup kening dan mengusap lembut kepalanya. Namun, tubuh Naila langsung bergerak, menjauh dari pelukan Riko. Dia pun bangun dari tidurnya dan berteriak.
"Jangan mendekat!"
"Sayang, ini aku ... maafkan aku, Naila. Maafkan suamimu ...."
"Bukan! Kamu bukan suamiku! Suamiku adalah laki-laki yang sangat mencintaiku. Dia selalu bersikap lembut padaku. Tapi kamu ... bukan! Kamu bukan suamiku!"
Naila pun menangis. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Riko tak menduga istrinya akan bersikap histeris seperti itu. Dia pun menyesali perbuatan buruknya pada wanita yang sangat dicintainya.
Naila diam, berusaha menghentikan tangisnya. Dia pun memandang wajah tampan di hadapannya dengan tatapan yang tajam.
"Apa salahku, Mas? Apa salahku sampai kamu tega berbuat seperti ini padaku? Lihatlah hasil perbuatanmu! Lihatlah!"
Seketika itu juga, Naila membuka piyama tidur yang sedang dipakainya. Riko terkejut dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Tubuh Naila penuh dengan jejak merah di mana-mana. Mulai dari pipi, leher, dada, bahkan hampir seluruh tubuh istrinya penuh dengan tanda merah dan sebagian terlihat memar, hasil dari perbuatannya.
"Astaghfirullah ... maafkan aku, Sayang. Maafkan aku ...."
Riko mencoba memeluk Naila, tetapi Naila dengan tegas menolak.
__ADS_1
"Aku bilang jangan mendekat! Aku tak mau kamu sentuh lagi! Pergilah dari kamar ini! Pergi!"
Riko pasrah, dia pun mengalah meninggalkan kamar mereka. Dia tak ingin Naila semakin marah dan berbuat sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri. Dia pun berjalan menuju taman yang ada di belakang. Merenung dan menyesali perbuatannya yang sudah mendzolimi istri tercinta.
Supri yang baru saja keluar dari kamarnya yang berada di dekat taman, melihat sang majikan sedang duduk termenung sendiri. Supri mengerti, jika seperti ini, pasti Riko sedang menyesali sesuatu. Supri sudah hafal dengan sifat tuannya karena dia juga ikut menjaga dan merawat Riko dari remaja.
Supri menuju dapur, membuat dua buah cangkir kopi susu, kemudian membawa minuman itu ke hadapan tuannya yang masih melamun.
"Saya buatkan kopi susu, Den. Semoga bisa membuat Den Riko sedikit tenang." Riko pun terkejut dan sadar dari lamunan.
"Terima kasih, Pak Supri masih saja mengerti keadaan saya."
"Saya sudah lama ikut dengan Den Riko. Ini semua juga karena dulu nyonya yang selalu mengingatkan. Supri, Riko itu anaknya pendiam. Kalau dia lagi sedih karena ada masalah, biasanya dia akan pergi ke perpustakaan. Kalau dia sedang merasa bersalah atau menyesali sesuatu, dia akan duduk sendiri di taman. Buatkan saja kopi susu, biar sedikit menenangkan pikirannya. Begitu pesan dari nyonya waktu itu, Den."
Riko tersenyum mendengar ucapan Supri yang mengingatkan tentang mendiang mamanya. Namun, seketika hatinya menjadi sedih, rasa sesak pun memenuhi dada, menyesali perbuatan pada wanita yang sangat dicintainya. Dia yang seharusnya melindungi, sekarang ini membuat istrinya terluka fisik dan jiwanya.
Riko pun teringat dengan foto-foto yang dia terima. "Kenapa aku tak konfirmasi dulu sama Pak Supri? Bukannya selama ini Pak Supri yang selalu mengantar dan mendampingi Naila ke mana-mana? Astaghfirullah ... bodohnya aku! Stupid!" Riko mengumpat dirinya sendiri dalam hati.
"Pak Supri ... terima kasih selalu mendampingi kami. Pak Supri dan Bi Marni adalah pengganti orang tua kami. Aku dan Kak Rony sangat berterima kasih pada kalian. Maafkan saya, kalau selama ini saya sering marah dan bertindak seenaknya."
"Sama-sama, Den. Berkat Den Riko, kami masih mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang sangat cukup. Mbak Naila juga sangat baik pada kami. Kalau membelikan sesuatu, selalu tak pernah membeda-bedakan dari segi harga dan kualitas. Kami merasa tak pantas menerima pemberiannya. Den Riko harus bersyukur mempunyai istri seperti Mbak Naila."
Riko tertunduk malu. Ucapan Supri membuatnya semakin merasa bersalah dan berdosa pada istri tercintanya.
Riko mengambil ponsel yang ada di saku piyamanya. Dia segera mencari foto Naila dan menunjukkan pada asisten rumah tangganya yang sangat setia.
"Pak Supri, saya ingin bertanya. Apa Bapak mengenal laki-laki yang ada di foto ini?"
__ADS_1
Riko memberikan ponselnya pada Supri. Laki-laki itu pun menerima lalu memperhatikan foto yang ditunjukkan padanya.
"Ini 'kan Mas Yakub, kakaknya Mbak Sarah? Kenapa foto ini ... maaf, Den. Apa Den Riko memata-matai Mbak Naila? Apa Den Riko tak percaya lagi dengan Supri yang sudah tua ini?"