Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Yakub Maulana


__ADS_3

"Dasar playboy! Jangan ganggu adikku!"


Rony yang tak siap dengan serangan, langsung jatuh tersungkur. Sarah berteriak marah pada kakaknya.


"Kak Yakub! Apa-apaan kamu! Cepat bantu dia berdiri!"


"Kenapa kamu bawa laki-laki ini masuk ke rumah kita? Apa kamu tahu siapa dia?" Yakub tak terima dengan teriakan adiknya.


"Aku nggak tahu dan nggak mau tahu urusan Kakak dengannya! Tolong bantu dia duduk dan tenangkan dirimu!" tegas Sarah yang membuat Yakub terpaksa memenuhi permintaan adiknya.


Dengan malas Yakub membantu Rony yang meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Pukulan yang tiba-tiba dan begitu keras, membuat Rony harus menahan rasa nyeri. Rony pun duduk dan memandang wajah Yakub dengan rasa bersalah. Tak disangka dia bisa bertemu kembali dengan teman sekolahnya dulu yang ternyata kakaknya Sarah.


"Maafkan Kak Yakub, ya. Aku nggak mengerti apa permasalahan di antara kalian, bahkan aku juga nggak tahu kalau kalian berdua sudah saling mengenal," ucap Sarah pada Rony.


"Tanyakan saja padanya, apa kesalahannya? Aku yakin dia pasti akan pura-pura lupa!" sahut Yakub.


Rony hanya diam mendengarkan Yakub yang bicara sinis padanya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Dia pun teringat dengan salah satu mantan kekasihnya, yang sekaligus mantan kekasih Yakub yang bernama Tasya.


"Sebenarnya ada masalah apa di antara kalian sampai Kakak masih dendam pada Kak Rony? Tolong jelaskan padaku! Di mana kalian pernah bertemu?"


Sarah benar-benar bingung dan penasaran dengan kedua pria di hadapannya. Apalagi Rony yang dari tadi diam, hanya menundukkan kepala. Rony sama sekali tak membantah ucapan Yakub.


"A ... aku minta maaf, Yakub, aku pernah bersalah padamu tapi aku sekarang sudah tak seperti dulu." Rony meminta maaf pada Yakub atas kesalahannya dulu.


"Enak saja kamu bilang minta maaf. Jangan minta maaf padaku! Minta maaf sana di depan kuburan Tasya!" teriak Yakub yang membuat Rony sangat terkejut.


"A ... apa?? Ta ... Tasya meninggal?" tanya Rony tak percaya.


"Kamu pasti pura-pura tak tahu, kan?" Yakub tak mau percaya begitu saja pada ucapan Rony.

__ADS_1


"Aku sungguh tak tahu kabar itu! Apa yang terjadi dengan Tasya?" tanya Rony penasaran.


"Dia meninggal dunia setelah melahirkan anakmu! Puas kamu, hah?!" teriak Yakub yang membuat Rony dan Sarah terkejut.


"Innalillahi ... aku nggak tahu, Yakub. Dia juga tak pernah menemuiku," sahut Rony.


"Jadi, orang yang sudah menghamili Kak Tasya itu Kak Rony?" tanya Sarah.


"Pastinya, siapa lagi kalau bukan dia? Setelah merebut Tasya dariku dan merenggut kesuciannya sampai membuatnya hamil, seenaknya saja dia meninggalkan Tasya," jawab Yakub dengan geram.


"Astaghfirullah ...."


Sarah hanya bisa mengucap istighfar. Dia tak percaya kalau ternyata laki-laki tampan yang baru saja dikenalnya adalah seorang yang tak punya moral. Sarah juga mengenal gadis yang bernama Tasya. Namun, dalam hatinya tak percaya dengan tuduhan kakaknya terhadap Rony.


"Yakub, dengarkan aku dulu. Aku memang merebut Tasya darimu tapi kamu harus tahu satu hal. Saat kami berhubungan, Tasya sudah tak perawan!" tegas Rony.


"Jaga ucapanmu! Aku tahu siapa Tasya dan aku tak percaya dengan ceritamu!" balas Yakub tak terima.


"Aku yakin dia pasti menemuimu tapi kamu yang nggak mau tanggung jawab!" Yakub tetap tak mau menerima alasan Rony.


"Tidak! Dia sama sekali tak pernah menemuiku. Bahkan dia juga tak pernah meneleponku!" jelas Rony.


"Omong kosong! Keluar kamu dari rumahku! Aku tak sudi melihat wajahmu! Keluar!!"


Yakub menarik tangan Rony dan memaksanya berdiri dari duduknya. Dia kemudian mendorong paksa tubuh Rony agar keluar dari rumahnya. Sarah tak bisa berbuat apa-apa, hanya diam melihat kakaknya yang sedang marah. Rony kembali jatuh tersungkur di depan pintu. Yakub langsung menutup pintu rumahnya dengan kasar setelah berhasil memaksa Rony keluar.


Dengan tertatih Rony berdiri dan berjalan menuju kendaraan roda duanya. Dia pun segera pergi ke rumah Riko karena jaraknya lebih dekat daripada pulang ke rumahnya sendiri. Rony tak menyangka bertemu kembali dengan Yakub Maulana. Dia adalah teman SMA yang kekasihnya pernah direbut olehnya. Kejadian yang sudah lama tapi Yakub terlihat masih dendam padanya. Rony berjanji akan kembali lagi ke rumah Yakub untuk mencari kebenaran tentang Tasya.


Rony melajukan kendaraannya secara perlahan hingga sampai di rumah adiknya. Rumah yang sepi tapi cahaya dari lampu tiap ruangan masih menyala. Setelah mengucap salam, Bi Marni datang membukakan pintu pagar untuknya.

__ADS_1


"Rikonya pergi, Bi?" tanya Rony yang tak melihat mobilnya Riko tak ada di garasi.


"Iya, Den. Kata Mbak Naila, Den Riko lembur. Masuk saja, Den, Mbak Naila ada di ruang makan sedang ngobrol sama saya dan Pak Supri. Den Rony sakit perut?" Bi Marni melihat Rony yang sesekali meringis sambil memegang perutnya.


"Nggak apa-apa, Bi, cuma nyeri sedikit saja. Saya mau tidur di sini, ya, Bi. Saya tadi sudah kirim pesan sama Riko. Masih ada lauk, nggak, Bi? Saya lapar, tadi belum sempat makan malam."


"Masih, Den. Mbak Naila juga belum mau makan, masih menunggu Den Riko katanya."


Rony berjalan di belakang Bi Marni menuju ruang makan. Melihat Rony datang, Pak Supri segera beranjak dari duduknya, mengangguk hormat pada Naila dan Rony, lalu berjalan meninggalkan ruangan. Bi Marni mengambilkan piring untuk Rony dan menyiapkan makan malam.


Setelah mencuci tangannya, Rony duduk berhadapan dengan Naila. Sejenak Rony tertegun, melihat wajah cantik di depannya. Hampir dua bulan tak bertemu, wajah adik iparnya terlihat berbeda, lebih cantik dan cerah. Tak ada lagi Naila yang kusam dan buruk rupa. Rony menatap wajah Naila tanpa berkedip sehingga membuat Naila tak suka.


"Kak Rony ... apa kabar?" tanya Naila.


"Eh ... alhamdulillah baik, Naila. Maaf, aku mau menginap di sini, boleh? Tadi aku sudah kirim pesan sama Riko tapi belum dibaca, masih sibuk sepertinya," jawab Rony yang merasa tak enak hati, menyadari kesalahannya.


"Iya, Kak, silakan kalau mau menginap di sini. Mas Riko memang sibuk akhir-akhir ini, akhir pekan juga sering masuk. Hari ini ada meeting katanya, jadi pulang malam," balas Naila.


"Maaf, Naila, aku juga mau numpang makan malam. Maaf kalau merepotkan," ucap Rony sejujurnya.


"Silakan, makan saja dulu, Kak. Aku masih mau nunggu Mas Riko, mungkin sebentar lagi pulang. Tadi Mas Riko bilang insyaa Allah sampai rumah jam sembilan malam."


"Kalau begitu, aku akan menunggu Riko pulang saja sekalian."


Naila memandang sekeliling ruangan yang sepi, dirinya menyadari kalau mereka hanya berdua di ruang makan. Bi Marni sudah pergi menyusul Pak Supri setelah menyiapkan makan malam. Menyadari sesuatu yang tak pantas, Naila beranjak dari duduknya. Dia ingin menunggu Riko di kamar saja, begitu pikirnya.


"Maaf, Kak, aku ke kamar dulu, mau mengambil ponselku," pamit Naila pada Rony.


"Baiklah, aku juga akan ke kamar saja kalau begitu," balas Rony sambil berdiri.

__ADS_1


Naila berjalan mendahului Rony yang masih menatapnya. Tiba-tiba kepalanya pusing dan badannya lemas sehingga membuatnya hampir jatuh. Rony dengan sigap menahan tubuh Naila dan memeluknya.


"Hey, apa yang kalian berdua lakukan?"


__ADS_2