
"Silakan diminum tehnya, Kak." Sarah meletakkan dua buah cangkir teh hangat di atas meja untuk Riko dan Rony.
"Terima kasih, Sarah." Rony membalas ucapan Sarah sambil tersenyum. Yakub hanya memandang kedua kakak beradik itu dengan penuh tanda tanya, apalagi Naila tak ikut bersama mereka.
"Maaf, Yakub, kedatangan kami ke sini, untuk meminta penjelasan dari kalian soal foto-foto ini. Naila sedang difitnah seseorang dan sekarang dia sedang sedih sampai selalu mengurung diri di kamarnya."
Rony menyerahkan ponsel milik Riko pada Yakub. Sarah yang penasaran akhirnya mendekati kakaknya dan ikut melihat foto-foto yang ada di galeri ponsel milik Riko.
"Ini kan foto-foto kita saat sedang di food court? Ini kita lagi di bank dan ini foto kita lagi di warung nasi rawon. Banyak sekali foto-fotonya tapi di situ kok cuma ada Naila dan Kak Yakub saja?"
Sarah langsung memberi komentar mengenai foto-foto yang dilihatnya. Yakub pun langsung mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan adiknya.
"Benar, apa maksudnya di foto-foto itu hanya ada aku dan Naila? Itu fitnah, kami berempat, ada Sarah dan juga Pak Supri."
Riko pun mengambil kembali ponselnya dan membuka aplikasi pesan berwarna hijau. Dia mencari pesan dari nomer orang yang tak dikenal itu dan menunjukkan pada Yakub dan Sarah.
"Kurang ajar!! Siapa yang berani mengirim pesan seperti ini pada wanita sebaik Naila? Kalau sampai aku tahu orangnya, aku akan memberinya pelajaran!" Yakub sangat marah membaca pesan -pesan yang ada di ponsel Riko.
"Astaghfirullah ... ini semua fitnah, Kak Riko. Naila adalah wanita terbaik yang pernah aku kenal. Dia bahkan membantu melunasi hutang kami ...." Sarah langsung menutup mulutnya. Tanpa sadar dia keceplosan karena ikut emosi membaca pesan-pesan itu.
"Apa maksudmu, Sarah?" Riko bertanya pada Sarah karena penasaran. Naila sama sekali belum bercerita apa-apa padanya.
"Maaf, Kak, aku keceplosan." Sarah menunduk karena takut pada Yakub dan juga Riko.
"Sudah terlanjur, lebih baik kita ceritakan saja semuanya pada mereka. Aku juga kasihan sama Naila. Dia wanita yang baik, setia, dermawan, yang pasti dia adalah istri idaman. Kamu bersyukur sekali mendapatkan wanita seperti Naila, Riko. Aku iri padamu." Ucapan Yakub membuat Riko semakin merasa bersalah pada Naila. Dia pun menyadari banyak yang terpesona dengan kepribadian istrinya.
"Iya, aku tahu, aku sangat beruntung mendapatkan istri seperti Naila. Tapi apa maksud ucapan Sarah tadi? Ceritakanlah, aku nggak akan marah. Aku hanya ingin tahu saja penjelasan dari kalian." Riko pun membalas ucapan Yakub agar mereka mau berterus terang padanya.
"Rumah kami hampir disita bank dua bulan lalu. Kami terpaksa pindah dari sini dan menyewa rumah di dekat bengkel. Saat Naila berkunjung ke sini, akhirnya dia tahu semuanya dari para tetangga. Dia lalu menawarkan bantuan tapi kami sudah berusaha menolaknya. Naila tetap saja memaksa memberikan bantuannya dan mengatakan kalau yang dipakai untuk membayar hutang-hutang kami adalah uangnya sendiri dari orang tuanya."
"Ya, dia memang punya tabungan cukup banyak dari hasil penjualan rumah dan tanah orang tuanya di desa. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan kalau Naila membantu kalian. Itu semua haknya Naila. Maaf kalau aku sempat curiga padamu, Yakub, apalagi kamu sangat membenci ...."
__ADS_1
"Rony?" Yakub langsung memotong ucapan Riko. Dia pun menghela napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya.
"Ya, aku memang sempat membenci kakakmu. Bahkan aku juga sempat berniat merebut Naila darimu. Apalagi semakin aku mengenal Naila, aku semakin kagum dengan kepribadiannya. Dan semakin aku mengenal istrimu itu, aku yang justru terpengaruh dengan semua yang dia katakan padaku. Bahkan ...." Yakub menghentikan ucapannya lalu memandang wajah Rony yang dari tadi diam mendengarkan.
"Bahkan apa?" Riko tak sabar.
"Bahkan, Naila berterus terang padaku kalau dia ingin menjodohkan Rony dengan Sarah. Dia ingin kami berdua menjadi saudaranya. Aku melihat ketulusan di mata istrimu dan aku pun luluh dengan permintaannya."
Rony, Riko, dan Sarah terkejut dengan ucapan Yakub. Apalagi Yakub mengatakan semuanya dengan ikhlas, tanpa beban dan tanpa emosi. Rony tersenyum bahagia, sementara Sarah menundukkan kepala karena pipinya merona.
"Tapi kamu jangan khawatir, kami tetap menganggap bantuan Naila sebagai hutang dan membuat surat perjanjian bermaterai. Meskipun Naila tidak setuju, kami tetap memaksa. Tolong, Sarah, ambilkan surat perjanjian itu dan tunjukkan pada Riko."
"Tidak perlu ... aku percaya pada kalian." Riko percaya dengan Yakub dan Sarah. Dia tak ingin terlalu ikut campur masalah hutang piutang antara mereka dan istrinya.
"Kami tidak bisa menerima bantuan dengan percuma, kami membayar setiap bulan hutang kami pada Naila sesuai kemampuan kami. Rumah peninggalan orang tua kami bisa terselamatkan dari sitaan bank saja, kami sudah sangat bersyukur."
Penjelasan Yakub membuat Riko tersenyum. Dia pun yakin mereka berdua orang yang amanah dan bertanggung jawab. Meskipun Naila selalu berbuat baik dan sering memberi sesuatu, mereka tak pernah memanfaatkan kebaikan Naila.
"Dan aku akhirnya ingin mewujudkan keinginannya." Ucapan Yakub kembali membuat Riko penasaran.
"Keinginan yang mana?"
"Keinginannya untuk menjodohkan adikmu dengan adikku. Naila sangat ingin Sarah menjadi kakak iparnya." Yakub dan Riko pun memandang Rony sambil tersenyum.
"Alhamdulillah ... aku juga setuju. Akhirnya impian kakakku akan menjadi kenyataan. Mumpung di sini, kenapa Kak Rony nggak langsung melamar Sarah saja?" Riko menepuk bahu Rony yang duduk di sampingnya.
"Kamu bisa saja, Riko. Tujuan kita ke sini 'kan untuk meminta penjelasan tentang masalah Naila. Kenapa jadi acara lamaran?" Wajah Rony yang putih bersih pun merona, begitu pun Sarah yang kembali tertunduk malu.
"Nggak masalah, Kak. Semua masalah tentang istriku juga sudah jelas, kan? Ayolah, Kak, mumpung dapat restu lho." Ucapan Riko membuat Rony akhirnya bersemangat. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada di depannya.
"Naila itu memang sangat pengertian. Dia sangat tahu apa yang aku inginkan. Tapi ... bagaimana denganmu, Yakub? Apakah kamu setuju dan ikhlas menerimaku sebagai adik iparmu?" Rony bertanya pada Yakub tanpa rasa takut lagi.
__ADS_1
"Naila telah menyadarkanku. Tapi apakah kamu sekarang memang benar-benar sudah insyaf? Apa kamu sudah nggak pernah mempermainkan perasaan wanita lagi? Apakah kamu sudah berubah seperti yang dikatakan Naila?"
"Insyaa Allah, karena Naila juga aku bisa berubah. Aku sudah bukan Rony yang dulu lagi. Yakinlah!"
"Apakah kamu juga mencintai adikku?" Pertanyaan Yakub membuat Rony tersenyum. Dia pun meyakinkan Yakub dengan mengatakan semua perasaannya.
"Insyaa Allah, aku sudah jatuh cinta pada adikmu saat pertama kali bertemu. Kalau kamu memang setuju, aku akan langsung melamarnya dan menikahi Sarah secepatnya. Aku sudah tak muda lagi, aku ingin menjadikannya istri, aku ingin menghalalkannya, bukan menjadikannya kekasih." Ungkapan Rony membuat hati Sarah berbunga-bunga, kedua pipinya pun semakin merona.
"Kalau Sarah bahagia, aku juga pasti akan bahagia. Tanya saja langsung sama orangnya, apa dia mau jadi istrimu?"
Yakub memberi kesempatan pada Rony untuk berbicara langsung pada Sarah. Dia benar-benar sudah ikhlas dan merestui hubungan adiknya dengan orang yang pernah dibencinya itu. Rony pun tersenyum dan mulai merangkai kalimat untuk melamar Sarah menjadi istrinya. Sesuatu yang tidak mereka duga sebelumnya tapi membuat suasana menjadi bahagia.
"Sarah, karena aku sudah mendapat restu dari kakakmu, saat ini juga aku melamarmu. Maaf kalau acara ini mendadak sekali tapi aku tak mau membuang waktu lagi. Maafkan aku juga kalau aku melamarmu tanpa acara resmi dan tanpa membawa apa-apa. Sarah, di depan kakakmu dan juga adikku, berikanlah aku jawabanmu. Bersediakah kamu menjadi istriku?"
"Aku ... aku bersedia, Kak." Dengan malu-malu, Sarah memberikan jawaban pada laki-laki tampan yang sudah dikaguminya saat pertama kali bertemu. Baginya, Rony tak hanya tampan, tetapi sikapnya juga selalu sopan dan menghormatinya.
"Alhamdulillah ... terima kasih, Sarah, Yakub. Terima kasih kalian sudah menerimaku dengan ikhlas." Rony sangat bersyukur dan bahagia, Riko pun juga ikut merasakan kebahagiaan kakaknya.
"Tapi yang pasti, berterima kasihlah pada Naila. Oh, ya, di mana Naila? Kenapa dia tidak kalian ajak ke sini? Maaf, kalau akhir-akhir ini Sarah tak bisa berkunjung ke rumahmu Riko, bengkel kami ramai sekali. Sarah juga sempat sakit karena kecapekan." Pertanyaan Yakub membuat Riko terkejut. Dia pun bingung mencari jawaban.
"Naila ... Naila sakit ...."
"Sakit apa, Kak?" Sarah pun penasaran.
"Sudah beberapa minggu ini dia sama sekali nggak mau keluar kamar, apalagi keluar rumah. Aku ajak pergi juga nggak pernah mau. Aku bingung harus bagaimana. Kalau bisa, aku minta tolong padamu, Sarah, bujuk dia agar bisa kembali seperti dulu. Aku mohon ...."
"Astaghfirullah ... makanya selama ini kalau aku kirim pesan, jawabannya selalu singkat, tidak seperti biasanya. Baiklah, Kak, insyaa Allah besok aku akan ke rumah kalian."
"Atau sekarang saja kita ke sana, Sarah? Mumpung kita libur." Yakub langsung mengajak Sarah mengunjungi Naila saat ini juga. Dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan wanita yang sempat membuatnya jatuh cinta itu.
"Baiklah, tapi ... kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi pada Naila? Kenapa dia tiba-tiba seperti itu? Apa ada yang menyakitinya atau membuatnya trauma?"
__ADS_1
Sarah, Yakub, dan Rony pun menjadi penasaran. Mereka bertiga memandang wajah Riko yang tiba-tiba pucat karena pertanyaan Sarah padanya. "Jawaban apa yang harus aku berikan? Bagaimana kalau mereka tahu kalau istriku sakit karena perbuatanku?"