Suami Tampan Istri Tak Rupawan

Suami Tampan Istri Tak Rupawan
Riko cemburu, Bara tak mau pisah


__ADS_3

Sepeninggal Cintya, Naila melangkahkan kaki menuju kamar tidurnya. Menghela napas panjang di depan pintu, meredakan rasa gelisah yang sudah tertahan sejak dari rumah makan. Dengan langkah berat, Naila pun masuk secara perlahan.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Naila duduk di samping Riko yang sedang memandang ponselnya di tepi ranjang. Wajah Riko sudah terlihat santai dan tak lagi marah. Memandang wajah suaminya, Naila memberanikan diri bicara.


"Mas, apakah kamu marah padaku?" tanya Naila hati-hati.


Riko menghentikan aktifitasnya yang sedang berselancar di dunia maya. Entah apa yang dilihatnya, Naila sebenarnya heran karena Riko tak pernah membuka aplikasi berlogo warna biru itu. Riko memandang wajah istrinya dan meletakkan ponsel yang ada di tangannya. Sambil memegang lembut tangan Naila, Riko pun tersenyum dan menjawab pertanyaan istrinya.


"Aku tak marah padamu, Sayang. Aku hanya kesal dengan temanmu itu. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu di depanku. Dan pancaran sinar matanya saat memandangmu, tak menghargaiku sebagai suamimu. Apakah dia dulu kekasihmu sampai berani melamarmu? Dan benarkah yang dia ceritakan itu? Berapa banyak pria yang mendekatimu dan kenapa kamu tak pernah menceritakan semuanya padaku?" Riko mengajukan banyak pertanyaan pada Naila. Rasa emosi yang sempat reda, kini kembali menguasai dirinya.


"Jangan dengarkan omongan Bisma tadi, Mas. Dia terlalu berlebihan, aku tak sepopuler itu. Memang ada beberapa pria yang terang-terangan melamarku, tapi aku yakin mereka pasti hanya berniat mempermainkanku. Aku tak pernah bercerita karena semua itu hanya masa lalu yang tak penting. Bukankah kita berdua pernah berjanji, tak akan mengungkit lagi urusan masa lalu masing-masing?" jawab Naila dengan lembut.


"Ya, tapi entah kenapa setelah aku melihat dan mendengar ucapan Bisma tadi, aku takut kamu akan meninggalkanku." Riko berkata sejujurnya karena dia sangat mencintai Naila.


"Astaghfirullah ... jangan berpikiran macam-macam, Mas. Aku tak semurah itu. Lihatlah aku, Mas! Apa yang mereka cari dariku? Bahkan aku sering di-bully wanita yang tak kukenal karena bersuamikan dirimu. Aku bukan wanita istimewa. Aku wanita yang beruntung memiliki suami tampan dan sangat mencintaiku. Aku yakin mereka dulu hanya ingin mempermainkan perasaanku. Mereka pikir aku gadis lugu dan bodoh, yang akan tunduk dengan ketampanan dan kekayaan," jelas Naila yang memang dari dulu tak percaya pada laki-laki yang mendekatinya.


"Maaf, bukan begitu maksudku. Hanya saja ... saat melihat sorot mata Bisma, aku yakin dia memang memiliki perasaan padamu sampai sekarang. Aku juga laki-laki, jadi aku tahu mana yang serius dan mana yang hanya main-main," jelas Riko pada istrinya.


"Terserahlah, Mas. Sebenarnya aku tak ingin membahasnya. Aku mau ke kamar Bara dulu, ya?" Naila hendak beranjak dari duduknya, tapi Riko langsung menahannya.

__ADS_1


"Duduklah dulu, aku ingin menunjukkan sesuatu. Aku mencari nama Bisma Mahendra di media sosial dan ternyata dia benar-benar mengagumimu. Baca saja postingannya, isinya hanya tentangmu. Meskipun dia tak menyebut namamu, tapi aku yakin yang dimaksud adalah kamu. Bahkan kamu jadi pembicaraan di kolom komentarnya. Apalagi postingan terakhirnya, beberapa menit lalu dia membuat status yang membuatku naik darah."


Riko menyerahkan ponselnya dan menunjukkan sebuah postingan yang baru beberapa menit lalu diunggah oleh Bisma.


Akhirnya aku kembali bertemu dengannya. Rasa ini masih ada, tapi ternyata dirinya benar-benar sudah menikah. Salahkah jika aku kembali meminta pada Tuhan agar kami berjodoh? Tak dapat gadisnya, dapat jandanya pun aku bersedia.


"Astaghfirullah ...."


Naila terkejut membacanya dan tak mengerti apa maksud status Bisma. Naila memandang Riko lalu memeluk erat tubuh suaminya, meredakan amarah yang mulai dirasakannya. Bahkan dia tak menyangka kalau Bisma sampai seperti itu di dunia maya.


"Jangan dihiraukan, ya Mas. Biarkan saja dia mau berbuat apa di media sosial. Dia juga nggak menyebut namaku juga 'kan," ucap Naila lembut mencoba meredakan emosi laki-laki yang dicintainya.


"Ya Allah, Mas, sudahlah. Kamu 'kan selama ini sudah menjadikan aku wanita istimewa. Jangan diingat-ingat lagi ucapan Bisma tadi, Mas. Janganlah karena ucapan temanku, kita jadi bertengkar. Tolonglah, Sayang ...."


Naila kembali memeluk Riko, memohon agar tak melanjutkan obrolan yang semakin tak menyehatkan menurutnya. Ditambah postingan Bisma di salah satu media sosial, semakin membuat Naila resah. Riko pun akhirnya membalas pelukan Naila, menyadari kesalahannya.


"Maafkan aku, Sayang. Maaf, mungkin aku terlalu cemburu. Semoga aku tak lagi bertemu dengan temanmu itu. Untung saja tadi kamu nggak aku ijinkan memberikan nomer ponselmu padanya," ucap Riko lalu mengecup kening Naila.


"Mas, sudah, ya. Nggak usah dibahas lagi. Kamu juga tahu 'kan aku seperti apa? Tak mungkin aku memberikan nomer ponselku pada laki-laki lain tanpa ijinmu. Bagaimana kalau setelah ini kita ajak Bara ke mall, aku ingin menghabiskan waktu terakhir bersamanya dengan bersenang-senang. Boleh, ya?" tanya Naila mengalihkan pembicaraan agar Riko tak lagi membicarakan Bisma.

__ADS_1


"Astaghfirullah, aku sampai lupa. Cintya juga, seenaknya saja menjemput Bara tanpa mengabari kita terlebih dahulu. Aku sebenarnya kasihan lihat adikku itu, apalagi dia sudah merasa nyaman di sini," ucap Riko sedih.


"Ya, aku juga merasa begitu, Mas. Tapi kita bukanlah orang tuanya meskipun kamu adalah kakaknya. Kita tidak berhak melarang Cintya membawa kembali Bara untuk tinggal bersamanya. Kita gunakan saja waktu bersama Bara sebaik mungkin, aku ingin menyenangkan hatinya," sahut Naila yang berusaha membesarkan hatinya dan hati suaminya.


"Baiklah, kita istirahat sebentar, ya. Nanti setelah maghrib kita berangkat. Kamu juga butuh istirahat biar jahitan di pelipismu cepat mengering, jangan lupa diminum obatnya," balas Riko setuju dan mengingatkan Naila agar beristirahat dahulu.


"Iya, Mas, tapi aku mau melihat Bara dulu, ya," pamit Naila, namun Riko kembali menahannya.


"Nggak usah, Bara sudah diurus sama Bi Marni. Kita tidur saja, yuk. Kita sudah lama nggak menikmati hari libur berdua seperti ini." Naila pun tersenyum dan memahami apa yang diinginkan sang suami.


***


Riko dan Naila benar-benar menghabiskan waktu bersama dengan Bara. Pak Supri dan Bi Marni pun turut serta. Dibiarkannya Bara bermain di permainan anak-anak di salah satu pusat perbelanjaan di tengah kota. Naila membelikan mainan dan pakaian yang diinginkan Bara, makan bersama sesuai keinginan Bara juga.


Apa yang diinginkan Bara, Riko dan Naila berusaha menurutinya. Sampai di rumah pun, Naila mengajak Bara tidur bersama di kamarnya. Dipuaskan waktu bersama Bara. Riko pun tak keberatan karena dia tahu Naila sangat menyayangi adiknya, apalagi mereka besok akan berpisah.


Tidur bertiga dengan posisi Bara di tengah antara Riko dan Naila, bercerita dan bercanda bersama. Hingga tiba-tiba semuanya diam karena Bara mengucapkan sesuatu yang tak terduga.


"Kak, sebenarnya ... sebenarnya ... Bara nggak mau ikut mama. Bara sayang sama Kak Naila dan Kak Riko, juga Kak Rony. Mama nggak seperti kakak-kakak yang di sini. Mama nggak pernah sayang sama Bara."

__ADS_1


Riko dan Naila saling berpandangan. Bingung apa yang harus mereka katakan. Wajah Bara pun terlihat muram, bahkan sekarang air matanya mulai berjatuhan.


__ADS_2